Senin, 12 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


WALID BIN ABDUL MALIK



Kelahiran

Al Walid lahir pada tahun 48 H, merupakan anak tertua Abdul Malik bin Marwan. Masa kecilnya dihabiskan di istana bersama para adik-adiknya yang lain. Mereka pun mewarisi kecerdasan dan ketangkasan ayahnya dalam menata pemerintahan. Sehingga ketika Abdul Malik wafat, Walid pun tanpa perlu susah menggantikan, karena memang Abdul Malik telah mempersiapkan putra-putranya dengan pendidikan dan ilmu yang cukup untuk menjadi penggantinya.

Naik menjadi Khalifah

Khalifah Al Walid bin Abdul Malik naik ketika Bani Umayah dalam puncak kesuksesan tahun 86 H (705M). Suhu politik sangat stabil, ekonomi berkembang pesat. Ditambah para pembantu yang kuat dan mumpuni. Al Walid mempunyai para gubernur yang cakap. Di timur ada Hajaj bin Yusuf, gubernur Irak. Di Barat Afrika ada Musa bin Nushair, penguasa Mesir dan Afrika Utara. Di Hijaz ada Umar bin Abdul Aziz, gubernur Madinah.

Kebijakan Khalifah dan Perluasan Wilayah Islam

Al Walid meneruskan kebijakan ayahnya dalam memberi keleluasaan kepada Hajaj di Irak, sehingga Hajaj mampu mengembangkan wilayahnya dengan menunjuk beberapa panglima diantaranya Muhamad bin Qasim, untuk menaklukan Sind (Pakistan), Punjab dan Nepal di wilayah Hindustan tahun 711.

Selain mengutus Muhammad bin Qasim untuk menaklukan Hindustan, Hajaj juga mengangkat panglima Qutaibah bin Muslim sebagai gubernur Khurasan. Kelak Qutaibah bin Muslim ini yang langsung memimpin komando melakukan serangkaian penaklukan ke wilayah utara, turki, samarkand, khawarizm, mongol hingga timur jauh menembus kashgar dan kashan benteng cina tiongkok.

Di Barat, tampil Gubernur Musa bin Nushair, yang mengerahkan hampir 12.000 pasukan dibawah pimpinan maula nya bernama Thariq bin Ziyad, menyebrangi lautan lepas, dan mendarat di daratan tak dikenal, yang dikenal dengan Isbahania (Espanyola). Daratan itu dikuasai sebuah bangsa barbar bernama bangsa Visigoth, dipimpin rajanya yang zalim bernama Raja Roderick.

Bukit tempat berlabuhnya kapal Thariq dinamakan Bukit Thariq (Jabal Thariq=Gibraltar). Ketika  berlabuh, Panglima Thariq bin Ziyad langsung membakar kapal-kapal mereka sambil mengumandangkan seruan syahadah-nya yang terkenal dalam sejarah, bahwa tiada lagi kesempatan mundur karena kapal sudah dibakar, selain maju dan menang...!!

Dan dengan semangat syahid, juga balabantuan penduduk setempat yang memang sudah lama tidak menyukai kepemimpinan zalim Roderick ini turut membantu Thariq bin Ziyad meraih kemenangan di berbagai pertempuran di semenanjung Spanyol, yang kemudian berganti nama menjadi Andalusia.

Masuknya islam ke benua Eropa melalui Andalusia seolah menyibak kegelapan yang menyelimuti Eropa yang terbelenggu dalam dogma gereja dan berhala dan khurafat kemusyrikan. Ilmu keislaman dan budaya berkembang pesat di darata Andalusia sehingga melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Ibnu Al Arabi, Ibnu Rusyd, Ibnu SIna, dll

Sementara itu Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, masih merupakan sepupu Al Walid yang merupakan putra dari Abdul Aziz bin Marwan, adik dari Abdul Malik bin Marwan (seharusnya yang naik menggantikan Abdul Malik sebagai khalifah adalah adiknya yakni Abdul Aziz, namun karena Abdul Aziz meninggal lebih dulu maka akhirnya jabatan khalifah diturunkan kepada putranya), memiliki tugas yang tak kalah besarnya dengan timur dan barat.

Tugasnya adalah menetralisir kondisi Hijaz, kekakauan politik setelah tumbangnya pemerintahan Abdullah bin Zubair. Disana terdapat banyak luka yang menganga. Banyak hati para sahabat nabi yang tercabik. Membutuhkan tangan lembut untuk mengobatinya. Dan Umar bin Abdul Aziz adalah tangan yang tepat.

Tatkala diangkat oleh Al Walid sebagai gubernur Madinah di usia 25 tahun, Umar langsung membentuk dewan syuro Madinah dengan mengundang tokoh berpengaruh keturunan para sahabat Anshar dan Muhajirin di Madinah berkumpul untuk membicarakan perbaikan selanjutnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dewan syuro Madinah itu adalah : Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Bakar bin Sulaiman, Salim bin Abdullah bin Umar, Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yassar, Abdullah bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Amin bin Rabi'ah, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah.

Maka hadirlah kesepuluh orang tersebut di hadapan Umar bin Abdul Aziz. Setelah Umar mempersilahkan mereka duduk, ia lalu berpidato, setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, ia berkata, ”aku memanggil kalian untuk sesuatu yang kalian akan mendapatkan perhargaan atasnya, yaitu kalian akan membantu untuk memutuskan apa yang benar. Aku tidak akan membuat satupun keputusan tanpa meminta pendapat kalian, atau setidaknya pendapat tersebut yang akan digunakan. Apabila kalian melihat ada yang melampaui batas, atau melihat sebuah ketidakadilan dalam pemerintahan ku yang sampai pada kalian, aku mohon kalian melaporkannya kepadaku.” Mendengar ini mereka menjawab, “semoga Allah memberimu kebaikan”, dan mereka semua bubar.

Sikap Umar ini menumbuhkan citra positif penduduk Madinah terhadap Khalifah Al Walid, dan berterima kasih sudah mengirim Umar untuk mereka. Sikap lembut Umar tidak hanya ditujukan kepada ahlul bait dan penduduk Madinah, tapi juga kepada kaum Syi'ah. Sehingga banyak syi'ah yang berbondong-bondong pindah ke Madinah, karena di Irak mereka mendapat perlakuan kasar dari Hajaj bin Yusuf.

Mengetahui hal tersebut Hajaj bin Yusuf kurang senang dan menghimbau agar khalifah Al Walid segera mengganti Umar bin Abdul Aziz dengan yang lain, karena perilakunya itu dapat melemahkan pemerintahan Bani Umayyah. Dan posisi Hajaj masih istimewa di kalangan istana, pendapatnya lebih didengar, sehingga Umar pun dicopot dan diganti dengan yang lain.

Prestasi Khalifah Al Walid dalam bidang sosial

Selain upaya pengembangan wilayah kaum muslimin, Khalifah Al Walid juga membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Diantaranya adalah pembangunan rumah sakit, panti jompo, rumah penyandang cacat, rumah Alquran. Seluruh pengasuh dan guru-gurunya dibiayai oleh negara. 

Pembangunan jalan-jalan raya megah penghubung antar provinsi pun dibangun. Masjid Nabawi diperluas, areal pelataran Masjid Al Aqsha pun dibangun. Dan beliau membangun salasatu monumen kemegahan Bani Umayah, yaitu Masjid Jami Umawi, di Damaskus, yang menelan hampir 12.000.000 dinar saat proses pembangunannya. Pembangunan maha karya itu ternyata terbukti masjid tersebut hingga sekarang masih megah berdiri.

Kecamuk Perebutan Tahta

Dalam istana sendiri secara diam-diam terjadi konflik perebutan tahta. Sesuai amanat dari sang ayah yaitu Abdul Malik, bahwa setelah Al Walid seharusnya tahta beralih kepada adiknya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Namun ternyata Al Walid tengah mempersiapkan putranya untuk menjadi pewaris sepeninggalnya kelak. Al Walid juga pernah berusaha menjegal status putra mahkota dari Sulaiman. Namun upaya itu gagal karena khalifah keburu meninggal dunia.

Sebetulnya Hajaj bin Yusuf sendiri juga menginginkan tampuk kekuasaan tertinggi itu. Namun bagaimana pun dia hanyalah seorang abdi biasa. Dalam soal perebutan khalifah dia sama sekali tidak berdaya. Selain disana-sini banyak juga yang menginginkan. Belum para panglima yang lain seperti Musa bin Nushair, dan para pejabat di istana Damaskus. 

Sesungguhnya yang lebih dikuatirkan Hajaj adalah naiknya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah. Karena hubungannya dengan Sulaiman kurang begitu baik, dan Sulaiman begitu membencinya. Ternyata takdir berkehendak lain, Hajaj bin Yusuf meninggal dunia sebelum Sulaiman diangkat sebagai khalifah. Dan kematian Hajaj bin Yusuf menimbulkan efek beragam. Namun hampir semuanya merasa gembira lepas dari cengkraman penguasa zalim tersebut (lihat Hajaj bin Yusuf dalam situs ini juga). Meskipun tidak dipungkiri banyak jasanya terhadap kemajuan kaum muslimin.

Khalifah Walid meninggal dunia

Pada masa menjelang wafatnya, Khalifah Al Walid pernah menggeser posisi khalifah dari Sulaiman beralih kepada putranya yakni Abdul Aziz bi Al Walid. Namun belum sempat dibuat pengumuman resmi karena Sulaiman tidak kunjung juga datang ke Damaskus. Sebetulnya itu trik Sulaiman ketika dia sadar rencana keserakahan kakanya, maka dia sengaja menunda-nunda pertemuan yang disinyalir dapat mencabut legalitasnya sebagai putra mahkota pengganti. Dan upayanya tersebut berbuah hasil. Walid meninggal pada tanggal 23 Februari tahun 715 (96 H), sebelum rencananya menggeser putra mahkota itu berhasil.

Dan yang berlaku sebagai pengganti adalah tetap sesuai dengan amanah ayah mereka yakni Abdul Malik bin Marwan, Sulaiman bin Abdul Malik menjadi Khalifah penggantinya.

(bersambung)



Referensi :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/22/lk1jin-daulah-umayyah-walid-bin-abdul-malik-705715-m-penegak-bani-umayyah

https://ganaislamika.com/dinasti-umayyah-15-dinamika-politik-di-masa-al-walid-bin-abdul-malik/

https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Walid_bin_Abdul-Malik











Tidak ada komentar:

Posting Komentar