ABDUL MALIK BIN MARWAN
Latar Belakang
Abdul Malik bin Marwan merupakan putra dari Gubernur Madinah Marwan bin Hakam, lahir pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, tahun 23 H (685 M). Sejak kecil Abdul Malik gemar mencari ilmu, bergaul dengan putra-putri kaum muhajrin dan anshar Madinah. Tidak heran bila sejak kecil Abdul Malik terkenal seorang ahli ilmu shalih dan zuhud.
Tinggal di kota Madinah, dimana para sahabat rasul masih hidup merupakan syurga dan pusat ilmu pengetahuan keislaman. Abdul Malik bahkan sempat berguru kepada beberapa sahabat terkemuka seperti Abdullah bin Umar, Abu Hurairah dan Abu Sa'id al Khudri.
Teman-teman dekatnya merupakan putra keturunan sahabat besar, bahkan seringkali Abdul Malik bercengkrama dengan para sahabatnya itu di sekitar Kaabah, seperti Abdullah bin Zubair, Mush'ab bin Zubair dan Urwah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam, putra bibi rasulullah Shafiyah binti Abdul Muthalib.
Menjadi ahli ilmu yang faqih dan zuhud
Di masa remajanya Abdul Malik sudah menuai pujian dari para tokoh ulama Madinah. Ke-faqihan ilmu agamanya membuat banyak orang yang mendengar dan menukil riwayat darinya, diantaranya Urwah bin Zubair, Amr bin Al Harits dan Az-Zuhri.
Abdullah bin Umar pernah berkata tentang Abdul Malik : "Sesungguhnya Marwan (bin Hakam, gubernur Madinah waktu itu) memiliki seorang anak (Abdul Malik) maka tanyakanlah segala persoalan kalian kepadanya." Ini menunjukan tingkat kepercayaan Abdullah bin Umar terhadap keilmuan Abdul Malik bin Marwan
Abu Zinad pernah juga berkata :"Para pemuka ulama di Madinah (saat itu) adalah Said bin Musayab, Abdul Malik bin Marwan, Urwah bin Zubair dan Qubaisyah bin Dzuaib"
Nafi' berkata pula :"Aku melihat Abdul Malik di Madinah, saat itu tidak pernah aku melihat seorang remaja yang lebih dermawan, lebih faqih dan lebih banyak ibadahnya serta lebih baik dalam membaca kitabullah daripada Abdul Malik bin Marwan."
Tampaklah bahwa selain keturunan bangsawan, putra gubernur Madinah, beliau juga merupakan tokoh agama yang diakui ilmunya, dan disegani ibadahnya. Tidak salah jika warga Madinah sepakat ketika Abdul Malik diangkat menjadi gubernur di usia 16 tahun, menggantikan bapaknya, Marwan bin Hakam, yang diangkat sebagai sekertaris negara oleh Khalifah Utsman bin Affan. Disaat itulah Abdul Malik belajar tata cara mengelola pemerintahan.
Diangkat menjadi Khalifah
Pada tahun 65 H, bertepatan dengan usianya 39 tahun, ditahun yang sama dengan wafatnya Marwan bin Hakam ayahnya, Abdul Malik bin Marwan pun diangkat menjadi Khalifah di Masjid Damaskus. Pada saat penobatan dia sempat berpidato yang terkenal dalam sejarah :"Aku bukan khalifah yang suka menyerah dan lemah, bukan juga seorang khalifah yang suka berunding, bukan juga seorang khalifah yang berakhlak rendah. Siapa yang nanti berkata begini dengan kepalanya, akan kujawab begini dengan pedangku."
Tugas Khalifah Abdul Malik cukup berat, karena waktu itu kaum muslimin sudah terpecah belah. Damaskus sendiri cuma bisa mengontrol Mesir dan Suriah. Hijaz dibawah kontrol Abdullah bin Zubair, sahabat muda-nya dulu sewaktu di Madinah. Sementara Yaman selatan dibawah komando sisa-sisa Kaum Khawarij yang dulu menolak Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah. Sedangkan Khurasan-Basrah-Kufah dibayang-bayangi oleh kaum Syi'ah yang mencoba mengambil alih kekuasaan.
Apa yang akan dilakukan khalifah untuk menjalankan kekuasaanya?
Strategi membungkam lawan demi menyatukan kaum muslimin
Langkah pertama yang dilakukannya adalah menghentikan pergerakan Abdullah bin Zubair, sehingga kaum muslimin dapat disatukan. Perlawanan Abdullah bin Zubair penguasa Hijaz belum terselesaikan sejak masa Yazid bin Muawiyah dan ayahnya Marwan bin Hakam, kini menjadi tugas dia untuk dapat menuntaskannya.
Setelah bermusyawarah, Abdul Malik bin Marwan pun mengangkat Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi sebagai pemimpin dalam menumpas gerakan perlawanan Abdullah bin Zubair dan mengembalikan seluruh kekuasaannya untuk tunduk kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan di Damaskus. Titah sudah dikeluarkan, dan harus dituntaskan, dengan berbagai cara...
Sementara itu kedudukan Abdullah bin Zubair kian lama semakin menguat. Abdullah berhasil menguasai Irak, Kufah, Basrah dan Khurasan dari tangan kaum Syi'ah, dan juga menuntaskan permasalahan kaum khawarij di Yaman Selatan. Lalu menempatkan saudaranya Mus'ab bin Zubair sebagai gubernur wilayah Irak.
Ketika sedang mulai menata pemerintahannya, datang kabar tentang serangan pasukan Damaskus ke wilayah Irak. Abdul Malik mengirim pasukan dibawah Hajaj bin Yusuf memang tidak langsung melakukan penyerbuan ke pusat pemerintahan di Hijaz, melainkan memangkas dulu penopang dan sumber dana Abdullah bin Zubair. Itu sebabnya dia memulai dengan berputar menyerang Iran, Bukhara, Khurasan, Basrah dan Kufah.
Setelah berjuang habis-habisan mempertahankan Irak, pasukan Mush'ab bin Zubair tidak mampu menahan serangan tentara Damaskus yang sebagian sudah terlatih sebagai prajurit Romawi. Hajaj akhirnya mampu menguasai Irak, dan Mush'ab bin Zubair pun dihukum mati. Penggantinya diangkat Bashir bin Marwan, saudara Abdul Malik bin Marwan yang masih muda belia. Abdul Malik memberi Bashir pendamping seorang penasehat ulung : Musa bin Nushair.
Usai menaklukan Irak dan sekitarnya, Abdul Malik menyuruh 3000 pasukannya untuk menuju Thaif. Hal yang tak pernah disangka Abdullah bin Zubair. Karena pasukan yang dipersiapkan Abdullah kebanyakan dikirim ke utara Madinah, mengantisipasi serangan dari Damaskus.
Begitu Hajaj tiba di Thaif, dengan mudah dapat dilumpuhkan, sehingga Abdullah bin Zubair segera menarik pasukannya di utara Madinah dikerahkan seluruhnya ke Thaif. Perang pun berkecamuk hebat. Kerugian menimpa kedua belah pihak. Pasukan Abdullah bin Zubair terdesak. Akhirnya Hajaj berhasil mengejar sisa-sisa pasukan Abdullah bin Zubair yang tersisa yang mundur ke kota Mekkah.
Hajaj bin Yusuf meminta tambahan bantuan ke Damaskus. Abdul Malik mengirim 5000 personil ditambah trebuchet (katepel romawi) untuk membantu Hajaj menuntaskan perang. Hajaj betul-betul tidak peduli lagi dengan kesucian Mekkah. Dia langsung mengepung kota Mekkah dan melepaskan panah berapi. Manjaniq (trebuchet) romawi dia kerahkan untuk membombardir seluruh Mekkah, yang mengakibatkan sebagian dinding bangunan Kaabah roboh.
Pasukan berkuda pun masuk kota mencari keberadaan Abdullah bin Zubair. Semua yang mendukung Abdullah bin Zubair ditigas tanpa ampun. Hajaj menemukan Abdullah bin Zubair di pelataran Kaabah. Penguasa Hijaz yang gagah perkasa - cucu Abu Bakar itu - masih gigih melawan sampai detik terakhir, sebelum pedang Hajaj menusuk dan membabat lehernya...!
Kematian Abdullah bin Zubair disaksikan oleh sang ibu yang sudah renta, Asma binti Abu Bakar. "Dialah ksatria pemberani dan perkasa, Ibu...sayang dia pemberontak!" kata Hajaj di depan Asma. Abdullah bin Zubair, bayi perrtama sejak rasulullah hijrah ke madinah, cucu Abu Bakar, penguasa Hijaz hampir 9 tahun lamanya itu, gugur pada tahun 73 H. Hajaj memenggal leher Abdullah bin Zubair, dan ditusuk tombak dipancang di dekat Kaabah sebulan lamanya, sebagai peringatan buat mereka yang berani melawan Khalifah di Damaskus. Selesailah sudah perlawanan Hijaz.
Pengembangan Wilayah Kaum Muslimin
Setelah berhasil menghentikan perlawanan Abdullah bin Zubair, tidak ada lagi yang mengganggu kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Dia kini sepenuhnya menguasai wilayah islam mulai dari Bukhara, Khurasan, Iran, Irak, Basrah, Kufah, Hijaz, Yaman, Suriah, Mesir hingga sebagian Afrika Utara. Stabilisasi politik pun dilakukan. Sehingga umat islam kembali kompak dibawah satu naungan pemimpin.
Selanjutnya Abdul Malik memfokuskan pengembangan wilayah kaum muslimin ke luar. Dimulai dengan mengirim pasukan ke bagian utara. Pada tahun 77 H Abdul Malik bin Marwan menyerang Romawi, dipimpin oleh Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan, dan berhasil merebut Asia kecil dan Armenia.
Bersamaan dengan itu, khalifah juga mengirim 40.000 pasukan berkuda ke wilayah Afrika Utara dipimpin oleh Hasan bin Nu'man. Dengan bantuan Mesir dan Libya, pasukan Hasan bin Nu'man dapat mengalahkan romawi dan menduduki benteng Kartago. Tidak cukup sampai sana, serangan kembali dilanjutkan menghalau suku barbar pimpinan Ratu Khina di Aljazair. Suku buas dan barbar itu dapat dikalahkan dan Ratu Khina di hukum mati.
Pada tahun 81 H, pasukan laut muslimin sudah disiapkan di pesisir pantai Tunisia. Rangkaian kemenangan demi kemenangan diperoleh. Namun tidak lama sampai berita dari Damaskus tentang wafatnya Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Prestasi Abdul Malik bin Marwan
Abdul Malik bin Marwan banyak melakukan terobosan prestasi dalam kemajuan dunia Islam. Diantaranya adalah membangun Mahkamah Tinggi untuk mengadili para pejabat yang menyeleweng atau bertindak semena-mena terhadap rakyat.
Selain itu Abdul Malik juga berprestasi menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara, berlaku di seluruh wilayah khilafah islam, menggantikan bahasa romawi dan persia. Para pegawai pemerintahan wajib menguasai bahasa Arab untuk bisa bekerja di pemerintahan, menyebabkan mau tidak mau seluruh penduduk wajib bisa berbahasa arab. Konsep bahasa pun dibuat, dan banyak diajarkan di seluruh madrasah. Keilmuan pun berkembang subur dan mendapat dukungan dari pemerintah.
Prestasi lainnya Abdul Malik juga membangun pabrik gudang senjata dan kapal perang yang pangkalannya dipusatkan di Tunisia. Beliau juga yang membangun Masjid Umar atau Qubatus Sakra di Yerussalem. Dan di masa Abdul Malik dilakukan perbaikan dan perluasan area Masjidil Haram. Selain itu, Abdul Malik juga membuat mata uang resmi negara bernama dinar dan dirham, dari logam emas dan perak murni.
Wafatnya Abdul Malik bin Marwan
Abdul Malik dalam sejarah dikenal juga dengan nama Abul Muluk, karena keempat putranya yakni Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam, semuanya menjadi raja-raja Bani Umayah.
Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istana…”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ “Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini,
إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ
Jika engkau menyidangku wahai Rabb-ku, maka persidangan-Mu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi
أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ
Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha Memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”
(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)
Begitulah akhir seorang pemuda sholih, ahli ilmu, yang naik menjadi khalifah, dan sukses besar dalam kepemimpinannya. Namun sunatullah, setiap yang berjiwa pasti akan sampai ke titik akhirnya. Abdul Malik meninggal pada bulan Syawwal tahun 86 H pada usia 60 tahun.(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)
Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi
Dalam mengembangkan pemerintahannya, Abdul Malik bin Marwan dibantu oleh panglimanya yang telah banyak berjasa mengatasi kestabilan pemerintahan. Dialah Hajaj bin Yusuf AtsTsaqafi. Dunia sejarah tak bisa mengabaikan perannya dalam perkembangan pemerintahan. ide dan gagasannya brilian. Hajaj adalah seorang penghafal quran dan pecinta Alquran. Kecintaannya terhadap ilmu melahirkan kefasihannya berbahasa. Bahkan orang menilai fasihnya Hajaj disejajarkan dengan ulama tabi'in terkenal Hasan AlBasri.
Namun perilakunya seringkali kontradiktif.
Dia terkenal dengan dan mudah menumpahkan darah. Bahkan terhadap ulama sekali pun, yang bertentangan dengannya.
Imam Adz Dzahabi pernah menyebutkan tentang Al Hajjaj bin Yusuf, “Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4: 343)
Ketika selesai dengan urusan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik meminta Hajaj mengurus stabilitas politik di wilayah irak. Dan ketika gubernur Bisyir bin Marwan saudara khalifah wafat, Abdul Malik mengangkat Hajaj bin Yusuf menjadi gubernur wilayah Irak dan sekitarnya.
Setelah menjadi gubernur perilaku kejam Hajaj semakin menjadi dan ini sesuai dengan iklim irak yang kurang kondusif. Dengan sikap Hajaj yang keras, maka politik pun stabil, semua merasa takut.
Hajaj adalah tokoh kontroversial. Dengan segala kekurangannya dia pun banyak menyumbangkan pemikiran dan ide-ide demi perkembangan islam, seperti pembuatan titik dan harakat dalam Alquran, termasuk ide pengembangan wilayah islam ke wilayah India, yang kelak akan melahirkan dinasti Islam disana yang disebut Dinasti Mughal.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar