MARWAN BIN HAKAM
Latar Belakang
Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, penggantinya adalah putranya bernama Muawiyah bin Yazid, atau terkenal dengan nama Muawiyah II. Namun Muawiyah bin Yazid bukan seorang yang gemar politik dan kekuasaan. Sehingga banyak pihak menilainya kurang cakap sebagai khalifah pengganti ayahnya. Alih-alih menyusun strategi perjuangan ayahnya, Muawiyah II malah berpaling menjauhkan diri dari dunia politik. Hal itu tentu saja menimbulkan kecemasan di kalangan penguasa saat itu.
Demi kestabilan politik kekuasaan, maka diangkatlah Marwan bin Hakam, salah seorang penasehat cerdik pandai dan tokoh terkemuka di istana untuk menjadi penerus khalifah yang ditinggalkan oleh Muawiyah II.
Marwan bin Hakam bukan merupakan keturunan dari Abu Sofyan, namun dia masih keturunan dari Bani Umayyah. karena Hakam ayahnya masih sepupu dari Utsman bin Affan. Marwan memerintah hanya setahun yaitu tahun 63 - 64 H (684 - 685 M).
Pada masa Utsman, Marwan bin Hakam diangkat sebagai gubernur madinah karena dianggap cakap dan piawai dalam soal tata kelola pemerintahan. Putranya sendiri Abdul Malik bin Marwan termasuk salaseorang pemuda yang taat dan zuhud serta salasatu tokoh rujukan ilmu, karena banyak berguru kepada para sahabat terkemuka yang masih banyak terdapat di Madinah. Tak heran bila di usia yang masih muda Abdul Malik mampu menggantikan ayahnya sebagai gubernur Madinah, ketika ayahnya diminta menjadi sekertaris negara oleh Utsman bin Affan.
Prestasi Marwan bin Hakam
Ketika terjadi pergolakan fitnah sehingga membuat terbunuhnya Utsman, Marwan termasuk salasatu pihak tertuduh ikut mendompleng dan memanfaatkan pemerintahan Utsman, sehingga khalifah terbunuh. Pada masa kisruh, khalifah Ali bin Abu Thalib, memberhentikan Marwan dari jabatannya.
Baru pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan berkuasa, Marwan kembali diangkat menjadi penasehat khalifah. Hingga wafatnya Muawiyah dan digantikan anaknya Yazid bin Muawiyah, Marwan masih memiliki pengaruh yang besar dikalangan istana Damaskus. Hampir seluruh kebijakan Yazid adalah kebijakannya. Marwan setia mengawal pemerintahan Bani Umayah sampai Yazid wafat.
Sekarang ketika anak Yazid, yakni Muawiyah bin Yazid tidak mampu memegang kekuasaan, istana tak memeiliki pengganti dan meminta Marwan untuk menyelamatkan kursi khalifah, tampil ke panggung politik. Meski dalam kenaikannya dan pemerintahannya itu terjadi banyak intrik internal, namun Marwan berhasil menyelesaikannya.
Selama pemerintahannya, banyak terjadi perang saudara. Diantaranya meneruskan penumpasan perlawanan Abdullah bin Zubair yang sudah menguasai Hijaz, Irak, Mesir dan sebagian Suriah.
Perlawanan Abdullah belum dapat dipadamkan sepenuhnya namun Irak dan Mesir dapat kembali direbut dari tangan Abdullah bin Zubair. Sampai wafatnya dia belum berhasil menaklukan Abdullah bin Zubair yang kian lama posisinya semakin kuat dan dukungan terhadapnya pun semakin meluas.
Gejolak Politik Internal
Selain politik eksternal, Marwan juga melakukan politik internal, yakni meredam perlawanan sesama Bani Umayah yang sama-sama berambisi ingin meraih kekuasaan Bani Umayah, dan merebut dari tangannya. Politik tersebut dimenangkan oleh Marwan. Terbukti ketika dia menunjuk Khalifah penggantinya yaitu anaknya sendiri bernama Abdul Malik bin Marwan. Dan kelak gerakan Abdul Malik ini dapat mengukuhkan kedudukannya dan menumpas seluruh penghalang kekuasaanya sebagai khalif seluruh kaum muslimin, walau harus menempuh dengan segala cara...
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar