Rabu, 07 November 2018

Sejarah Bani Umayah (Yazid bin Muawiyah)

SEJARAH BANI UMAYYAH


YAZID BIN MUAWIYAH



Kelahirannya

Yazid bin Muawiyah lahir di Damaskus, di dalam istana yang megah mewah, disaat ayahnya Muawiyah menjabat sebagai gubernur Syam (41-60 H). Ibunya bernama Maisun seorang arab badui yang diangkat keistana karena dinikahi Muawiyah. Sejak kecil dididik dalam kemewahan istana, sehingga jiwanya kurang kuat dan sensistif terhadap kritik. Karakternya selalu ingin dilayani dan senang berpesta pora. Namun begitu Yazid adalah seorang muslim, putra dari seorang muslim yakni Muawiyah bin Abu Sofyan, adik ipar Rasulullah SAW.

Diangkat sebagai Khalifah

Yazid bin Muawiyah naik tahta sebagai khalifah setelah ayahnya, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, meninggal dunia. Proses perpindahan khalifah dari Muawiyah ke tangan Yazid menuai banyak protes dikalangan kaum muslimin, karena perjanjian sebelumnya dari Hasan bin Ali bahwa Muawiyah akan kembali menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada kaum muslimin sepeninggalnya kelak,  untuk dilakukan pemilihan atau syuro kembali.

Rupanya Yazid tetap kukuh menegakkan diri sebagai khalifah. Ditambah dukungan dari wilayah suriah, palestina, mesir dan afrika utara, mengangkat dirinya menjadi pengganti khalifah. Namun wilayah timur, Hijaz (Mekkah-Madinah), Irak, Iran hampir sebagian besar menolaknya dan meminta Yazid agar mengembalikan kekuasaan kepada tangan kaum muslimin.

Konfrontasi Pergerakan Politik

Ketika masing-masing pihak merasa benar, dan keduanya saling berlomba mencari dukungan, suasana pun kian memanas.

Pihak-pihak yang kontra dengan kepemimpinan Yazid sebagian besar terdapat di Hijaz, karena disana masih banyak anak cucu keturunan kaum Anshar dan Muhajirin. Diantaranya ada 4 orang yang terkemuka, yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Umar bin Khattab, Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Zubair.

Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal sebelum Yazid naik menjadi khalifah. Sementara Abdullah bin Umar adalah seorang ahli hadits dan mujtahid pusat rujukan keilmuan di Madinah, disamping Abdullah bin Abbas di Mekkah dan Abdullah bin Mas'ud di Irak. Abdullah bin Umar bersikap mengikuti umat, bila umat menerima maka dia akan menerima Yazid sebagai khalifah. Sementara sikap Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair sama-sama menentang keras kepemimpinan Yazid dan meminta untuk dikembalikan kepada kaum muslimin sesuai perjanjian awal.

Gerakan paling masif adalah para pendukung Husain bin Ali bin Abu Thalib, karena beliau masih ahlul bait Rasulullah SAW, dan semua merasa tidak ada yang paling pantas memimpin umat Islam selain cucu dari sang nabi sendiri. Maka dimulailah gerakan dukungan itu oleh para penduduk hijaz dan Irak, dimana disana banyak para pendukung kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.

Gerakan dimulai ketika para penduduk Kufah meminta Husain bin Ali agar datang ke Kufah dan mereka siap untuk melakukan bai'at. Husain pun mengutus saudara sepupunya nya Muslim bin Uqail bin Abu Thalib untuk mewakilinya berangkat ke Kufah. Dan dan ternyata Muslim bin Uqail pun berhasil membai'at hampir 30.000 orang penduduk Kufah untuk mengangkat Husain bin Ali menjadi Khalifah.

Strategi Yazid menghentikan pergerakan Husain

Mendengar peristiwa baiat penduduk Kufah kepada Husain, Yazid pun murka. Dia memecat gubernur Kufah (Irak) Nu'man bin Basyir, dan segera menggabungkan wilayah tersebut di bawah kekuasaan Abdullah bin Ziyad gubernur Basrah (Iran) yang berhasil mengambil bai'at penduduknya mendukung Khalifah Yazid bin Muawiyah. Lalu menyuruh Abdullah bin Ziyad untuk segera menangani masalah "pemberontakan" penduduk Kufah.

Sementara itu Husain bin Ali, setelah mendengar kesuksesan saudaranya membaiat penduduk Kufah, ia pun bergerak membawa satu rombongan besar berikut anak istrinya menuju Kufah. Kepergian Husain ini sampai hingga ke Damaskus, Yazid pun memerintahkan agar Abdullah bin Ziyad menghadang Husain agar tidak sampai ke Kufah.

Abdullah bin Ziyad pun menjalankan titah tersebut. Pertama dia bergerak mengepung Kufah dan akhirnya dapat dikuasainya. Muslim bin Uqail bin Abu Thalib ditangkap dan dihukum mati. Seluruh penduduk Kufah dipaksa untuk melakukan bai'at kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah, yang tidak taat akan dieksekusi dan dianggap pemberontak.

Selanjutnya Abdullah bin Ziyad menyusun persiapan guna menghadang kedatangan Husain. Sekitar 2000 pasukan berkuda disiapkan, dan mengirim seorang panglima perang bernama Alhur bin Yazid at Tamimi untuk mengejar keberadaan rombongan Husain bin Ali.

Sementara itu rombongan Husain juga sudah mendengar apa yang terjadi dengan penduduk Kufah, dan akhirnya terjadi perbedaan pendapat. Sebagian meminta untuk pulang kembali ke Mekkah, namun sebagian lagi tetap meneruskan ke Kufah. Husain pun mengijinkan mereka yang hendak kembali ke Mekkah untuk pergi meninggalkan rombongan. Tinggallah sebagian kecil yang masih bertahan dan mengantar Husain sampai tiba di Kufah. Husain sendiri merasa yakin bahwa penduduk Kufah masih setia kepadanya, sehingga tekadnya pun bulat untuk bertemu langsung.

Ditengah perjalanan sekitar padang gersang bernama Karbala, rombongan kecil Husain bertemu dengan pasukan jendral Alhur bin Yazid at Tamimi. Sang jendral heran dengan rombongan Husain yang kecil, sehingga bertindak bertahan. Namun datang instruksi dari Abdullah bin Ziyad agar pasukannya langsung bertindak menyelesaikan urusan rombongan kecil tersebut. Akhirnya pasukan berkuda itu pun tanpa ampun menghajar habis rombongan kecil yang terdiri dari sebagian kecil laki-laki tak terlatih militer, wanita dan anak-anak, termasuk di dalamnya terdapat Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan adik perempuan Husain yaitu Zainab bin Ali bin Abu Thalib.

Pertempuran tak seimbang itu pun berlangsung singkat. Berakhir ketika tubuh Husain terjatuh bersimbah darah, disusul dengan melesatnya sebuah tombak menghajar mulutnya. Sebelum tubuhnya terjerembab ke tanah, sebilah pedang menebas lehernya.....!

Berakhirlah perjuangan Husain. Tubuh tanpa kepala itu pun ditinggalkan begitu saja di Padang Karbala, sementara kepalanya bersama seluruh tawanan wanita dan anak-anak dibawa pasukan kepada Abdullah bin Ziyad. Kemudian oleh Abdullah semuanya dikirim kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah di Damaskus.

Sikap Yazid setelah terbunuhnya Husain

Tatkala rombongan tiba di Istana Damaskus, Yazid pun tertegun menerima kepala Husain. Air matanya berlinang atas kejadian yang menimpa cucu rasulullah tersebut. Bagaimana pun dia tidak meminta Husain dibunuh, namun cukup dihentikan saja pergerakan politiknya. Agar tidak mengganggu dan merongrong kekuasaannya.

Rasa kemanusiaan dan keislaman Yazid rupanya masih tersisa. Terbukti bahwa dia masih bersikap baik terhadap seluruh tawanan Husain bin Ali, dan dengan santun mengantarkan mereka semuanya untuk kembali ke Madinah lengkap dengan segenap perbekalannya sebagai ungkapan permintaan maaf bagi ahlul bait dan kaum muslimin.

Reaksi kaum muslimin atas kematian Husain

Begitu mendengar terbunuhnya Husain bin Ali di Padang Karbala, Kufah oleh pasukan Abdullah bin Ziyad, seluruh emosi kaum muslimin tersulut amarah. Isu bahwa cucu rasulullah SAW telah dibunuh dan dibantai dengan sangat kejam segera tersebar. Kontan antipati terhadap Yazid pun semakin meluas, dan dianggap musuh keluarga rasulullah artinya memusuhi Islam itu sendiri.

Dukungan anti Khalifah pun meluas di daerah Hijaz, Yaman dan Arabia Selatan. Mereka kemudian mencabut baiat atas Yazid, dan memproklamirkan Abdullah bin Zubair sebagai Khalifah kaum muslimin. Abdullah bin Zubair bukan orang biasa. Ayahnya yaitu Zubair bin Awwam masih termasuk keluarga rasulullah dari Bani Hasyim dan termasuk 10 orang yang dijamin masuk syurga, sedang ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, putri sahabat terdekat rasulullah, putri mertua rasulullah, kakaknya Ummul Mukminin Aisyah, dan putri dari Khalifah Khulafaurrasyidin pertama setelah rasulullah SAW wafat.

Abdullah bin Zubair adalah seorang yang cerdas tangkas dan berambisi mulia, yaitu menegakkan keadilan kembali ke engah kaum muslimin seperti yang dia saksikan di masa rasulullah SAW. Abdullah bin Zubair seorang pembelajar dari  generasi khulafaurrasyidin sebelumnya, karena beliau menyaksikan langsung sepak terjang ayahnya dalam menegakkan islam di masa kakeknya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Semangat inilah yang kemudian memberinya kekuatan menggebu untuk membentuk kembali kekhalifahan muslimin kembali sesuai syariat.

Ibahat, taktik keji membungkam perlawanan Hijaz

Namun, ketika mendengar pembangkangan Abdullah bin Zubair di Hijaz, Yazid bin Muawiyah pun berang. Dia kemudian mengirimkan pasukan besar di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah untuk menyerang Hijaz. Ultimatumnya amat terkenal dan diabadikan dalam sejarah :

"Pergilah ke Madinah, jika mereka melakukan perlawanan, perangi!! Jika engkau menang, izinkan tentaramu berbuat sekehendak hati selama tiga hari. Setelah itu pergilah ke Mekkah, dan perangi Abdullah bin Zubair....!"

Dalam tradisi romawi (sebagian besar tentara dari Damaskus merupakan eks militer tentara Romawi) jika memenangkan peperangan maka diperbolehkan melakukan ibahat, yaitu berbuat sesuka hati sebagai tanda kemenangan dan penguasaan terhadap wilayah, harta dan orangnya...

Dan begitulah yang menimpa penduduk Madinah, kota rasulullah, tempat tinggal kaum Muhajirin dan Anshar, kota perjuangan pertahanan Islam, yang berpuluh bahkan beratus kali diguncang serangan demi serangan...

Dahulu dari serangan kaum kafir Quraisy Mekkah, kemudian di kepung oleh seluruh kabilah di jazirah Arab, lalu diserang oleh kaum Yahudi, dikhianati oleh kaum munafik Madinah sendiri, bahkan para kabilah yang murtad dan senantiasa menyimpan dendam kesumat dan terakhir menjadi incaran negara adidaya Romawi dan Persia, yang akhirnya mereka dapat ditumbangkan di masa khalifah Umar bin Khattab..

Dan sekarang, khalifahnya sendiri yang justru memerintahkan penyerbuan dan penodaan atas kesucian kota nabi. Serbuan pasukan Muslim bin Uqbah atas kota Madinah tak tertahankan. Lebih beringas daripada pasukan kafir Quraisy, lebih licik dari kaum Yahudi, dan lebih bejat daripada kaum Munafik yang seringkali berkhianat. Kali ini mereka terang-terangan menunjukan kecongkakan dan penyerangan habis seolah menumpahkan dendam kesumat atas kota Madinah. Dan walaupun Madinah tidak melakukan perlawanan yang berarti, namun tetap saja mereka bersuka ria melakukan ibahat. Jangan bayangkan apa yang terjadi selama tiga hari. Yang pasti seluruh kebanggaan, kesucian dan kehormatan Madinah semuanya direnggut. Perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi dimana-mana. Mereka tak ubahnya setan gentayangan yang siap merenggut setiap nyawa di tiap lorong kota Madinah...

Akibat peristiwa itu banyak berguguran para pemuka Madinah seperti Zubair bin Abdurrahman bin Auf, Fudhail bin Abbas bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Nufail bin Harits bin Abdul Muthalib. Peristiwa mengerikan itu terjadi pada tanggal 27 Dzulhijjah 63 H.

Setelah selesai melakukan ibahat, pasukan Muslim bin Uqbah melanjutkan penyerangan ke kota Mekkah, dimana Abdullah bin Zubair berada.

Pengepungan Kota Mekkah

Pasukan bergerak menuju Mekkah dengan maksud menghancurkan Abdullah bin Zubair dan seisinya. Namun ditengah perjalanan tiba-tiba Muslim bin Uqbah menderita sakit keras, dan akhirnya meninggal di jalan. Sebelum meninggalnya, dia menunjuk Husain bin Numair sebagai penggantinya untuk melanjutkan menyerang kota Mekkah. Muslim sendiri akhirnya dikuburkan di Abwa.

Husain bin Numair benar-benar menjalankan pesan Muslim bin Uqbah. Dia memimpin penyerangan dengan kejam dan membabi buta. Pasukannya tiba di Mekkah tanggal 24 Muharram 64 H (menurut al waqidi), dan langsung mengunci Abdullah bin Zubair di dalam kota Mekkah. Mereka menghujani seisi kota Mekkah dengan panah berapi dan catapult katepel berapi teknologi pasukan romawi jika hendak melakukan penyerbuan kota. Akibatnya tidak hanya rumah-rumah penduduk, bahkan Kaabah pun ikut terbakar, dan sebagian dindingnya hancur. Peristiwa terbakarnya Kaabah terjadi pada tanggal 03 Rabiul Awwal 64 H.

Sementara itu Abdullah bin Zubair dan pasukan perlawanan Mekkah berjuang gigih selama hampir 60 hari di bawah gempuran pasukan Damaskus. Gelombang demi gelombang bala bantuan terus didatangkan oleh khalifah di damaskus agar pertempuran bisa segera diselesaikan. Perang berkecamuk sengit. Hingga tiba-tiba datang kabar yang memberitakan tentang kematian Khalifah Yazid bin Muawiah di Damaskus. Pertempuran pun dihentikan. Dan pasukan pengepung pun segera ditarik mundur kembali ke Damaskus.

Kematian Yazid bin Muawiyah

Kabar tentang kematian sang khalifah di tengah peperangan berkecamuk tentu menimbulkan tanda tanya besar. Beberapa riwayat menyampaikan bahwa Yazid bin Muawiyah meninggal pada usia 38 tahun, ketika itu sedang berkuda terjatuh, dan lehernya patah. Wallahu a'lam. Namun yang jelas dengan meninggalnya Yazid bin Muawiyah,  memaksa Husain bin Numair menghentikan peperangan yang telah dimulainya itu dan menarik seluruh pasukan kembali pulang ke Damaskus.

Tinggallah puing-puing kota Mekkah yang hancur ditinggalkan bekas arena perang saudara. Tapi meski begitu, Mekkah belum sepenuhnya menyerah....

(bersambung)



Pustaka :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/21/ljzikd-daulah-umayyah-yazid-bin-muawiyah-680683-m-tak-lepas-dari-karbala

https://ganaislamika.com/dinasti-umayyah-10-pemberontakan-abdullah-bin-zubair-dan-wafatnya-yazid-bin-muawiyah/

https://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/15/majmu-fatawa-sikap-ahlus-sunnah-terhadap-yazid-bin-muawiyah/

wikipedia
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar