ABU JA'FAR AL MANSYUR
Latar Belakang
Abu Ja'far merupakan adik dari Khalifah Abbasiyah pertama Khalifah Abu Abbas As-Saffah. Lahir sama sama dengan sang kakak di Humaymah, pada tahun 687, selepas keluarga Abbas migrasi dari Hijaz sepeninggal Abdullah bin Abbas, sang datuk, salasatu tokoh imam terkemuka di kota Mekkah, dan termasuk sahabat yang didoakan rasulullah menjadi ahli tafsir.
Abu Ja'far masih berdarah Quraisy murni, Nama aslinya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib. Ketika keluarga Abbas memproklamirkan untuk merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah, Abu Ja'far pun masuk sebagai salasatu tokoh utama. Darah Bani Hasyim deras mengalir dalam tubuhnya. Kecerdasan dan kegagahannya tampak menonjol. Tidak heran bila As-Saffah memilih adiknya tersebut sebagai penggantinya.
Strategi Khalifah
Abu Ja'far dilantik menjadi Khalifah pada tahun 754 setelah wafat saudaranya yakni Abu Abbas AsSaffah. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengatur politik kekuasaan. Abu Ja'far membuat hubungan erat dengan daerah-daerah provinsi. Infrastruktur jalan utama dibangun megah. Jalur-jalurnya ditata dengan rapi. Beliau juga membina hubungan baik dengan para hakim, kepala polisi rahasia, kepala pajak, serta dinas-dinas yang lainnya.
Gerakan ini bukan tanpa sebab, masih ada ganjalan dihati Abu Ja'far bahwa kekuasaannya sebagai khalifah masih dibayang-bayangi beberapa sosok lain. Ada tiga kelompok yang dikuatirkan Abu Ja'far, yaitu :
- Abdullah bin Ali; paman beliau sendiri sekaligus jendral besar yang turut berjasa dalam membantu merebut kekuasaan dari Bani Umayyah dan mendirikan Bani Abbasiyah, bahkan dia lah yang berhasil menangkap khalifah Bani Umayah terakhir yakni Marwan bin Muhammad. Kegagahannya sangat kesohor dari Kufah hingga sungai Nil.
- Abu Muslim Al Khurasani; dialah panglima besar pasukan Abbasiyah yang pertama kali mengobarkan semangat perlawanan, dan berhasil menghancurleburkan pasukan Bani Umayyah di Irak. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Seluruh pasukan perlawanan bahkan sangat mengagumi dan patuh pada perintahnya.
- Pembela Ahlu Bait; yaitu para pendukung keturunan Hasan & Husain bin Ali bin Abu Thalib yang juga mendapat dukungan dan simpati dari rakyat banyak
Ganjalan tersebut ternyata juga dirasakan oleh sang paman, Abdullah bin Ali, yang diam-diam berambisi menjadi Khalifah. Namun harapannya pupus ketika AsSaffah justru mengangkat adiknya sebagai putra mahkota. Karena hubungannya kurang begitu harmonis dengan Abu Ja'far, Abdullah bin Ali pun akhirnya hengkang menjauhkan diri dari Khurasan berpindah ke Yaman.
Melihat arah angin, khlaifah segera menangkap peluang kesempatan tersebut demi melanggengkan kekuasaannya. Dia lalu mengirim Abu Muslim Al Khurasani untuk menangkap Abdullah bin Ali yang dianggap telah melakukan pemberontakan. Maka Abu Muslim pun berangkat dan bertemu Abdullah bin Ali dan pasukannya di Basrah. Setelah terjadi bentrokan, akhirnya pertempuran dimenangkan oleh Abu Muslim dan Abdullah bin Ali pun diseret dan dimasukan ke dalam penjara, hingga wafatnya disana.
Usai menuntaskan tugas dari negara, khalifah pun memanggil Abu Muslim ke dalam kemahnya. Sebagai prajurit setia, Abu Muslim pun patuh menghadap tanpa rasa curiga. Sesampainnya di dalam ternyata sebilah pisah terhunjam telak di dada panglima tersebut hingga menyebabkan kematiannya.
Selesailah sudah dua ganjalan utama, tinggal satu lagi yang akan menunggu gilirannya.....
Prestasi Khalifah
Khalifah Abu Ja'far Al Mansyur merupakan khalifah yang cerdik dan pandai menata keuangan negara. Terbukti dia mampu mengelola dan menghemat pajak negara, sehingga kekayaan negara pun melimpah. Dengan begitu dia mampu membangun sebuah kota megah di wilayah Irak dan diberi nama Kota Baghdad, sekaligus dijadikan pusat ibukota bagi pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah.
Selain membangun fisik, Abu Ja'far juga memaksimalkan pengembangan ilmu pengetahuan. Seluruh ilmu dari Yunani, Romawi, Persia diterjemahkan seluas-luasnya, sehingga khazanah keilmuan Islam semakin kaya. bahkan di Baghdad subur dengan para pelajar dan banyak tersedia perpustakaan besar.
Didalam lingkar kekuasaan pun Abu Ja'far turut banyak melibatkan non-arab, seperti Persia, Seljuk, Turki, Romawi. Namun orang-orang Persia lah yang paling banyak memegang peranan. Kelak pengaruh ini mengakibatkan lebih berkembangnya budaya persia daripada budaya arab. Ini berbeda dengan Bani Umayyah yang melarang orang-orang non Arab naik ke pusaran sekitar pemegang kekuasaan.
Sikap Terhadap Ulama
Meskipun dukungan terhadap keilmuan begitu penuh, namun tidak semua para ahli ilmu merasakan perlindungan khalifah. Contoh, di masa Abu Ja'far ada seorang tokoh ahli hadits bernama Malik bin Anas, yang dengan dorongan khalifah telah menyelesaikan sebuah kitab hadits pertama di dunia berjudul AL Muwatha'. Bahkan Abu Ja'far begitu terpesonanya oleh kharisma Imam Malik sampai berkehendak menjadikan Al Muwatha menjadi kitab dasar negara. Namun tidak mendapat izin Imam Malik.
Sikap tragis menimpa Imam Abu Hanifah. Madzhab hanafiah yang ditegakannya begitu memukau banyak pihak di masanya. Maka khalifah Al Manshur pun meminta Abu Hanifah untuk menjadi qadhi (hakim) kerajaan. Namun ternyata Abu Hanifah menolak tegas permintaan tersebut, yang mengakibatkan khalifah marah karena permintaannya ditolak, maka Imam Hanafi pun diseret ke penjara hingga wafatnya disana.
Tidak hanya Abu Hanifah, penderitaan itu juga dirasakan oleh Imam Sufyan Atssauri dan Abbad bi Katsir, yang hampir juga meninggal di penjara, jika saja ajal tidak keburu menjemput sang khalifah ketika dalam perjalannya ke Mekkah saat ibadah haji. Al Manshur wafat tahun 158 H / 775, pada usia 63 tahun. Dia memerintah selama 22 tahun, dengan berbagai prestasi plus minusnya, dan kemegahan kota Baghdad yang baru di bangunnya.
Selama kekuasaannya Al Manshur juga sempat menyebarkan islam hingga ke Byzantium, Afrika Utara, serta menjalin kerjasama dengan Raja Pepin dari Perancis, dan Andalusia yang waktu itu di bawah kekuasaan Bani Umayyah, Abdurrahman Ad -Dakhili.
Selama kekuasaannya Al Manshur juga sempat menyebarkan islam hingga ke Byzantium, Afrika Utara, serta menjalin kerjasama dengan Raja Pepin dari Perancis, dan Andalusia yang waktu itu di bawah kekuasaan Bani Umayyah, Abdurrahman Ad -Dakhili.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar