Senin, 19 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Hisyam bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


HISYAM BIN ABDUL MALIK



Naik Tahta

Hisyam bin Abdul Malik naik tahta menggantikan saudaranya yakni Yazid bin Abdul Malik, pada tahun 105 H di usia 34 tahun. Hisyam bin Abdul Malik adalah seorang ahli strategi, mewarisi bakat ayahnya dalam hal mengelola pemerintahan.

Ancaman dari berbagai penjuru

Pada masa kekuasaannya banyak pihak yang mengancam kekuasaan Daulat Islamiyah. Diantaranya sebelah timur terjadi penggantian kekaisaran Cina, sepeninggal Empress Wu, Dinasti Tang berhasil pulih dalam kemelut berkepanjangan internal mereka. Di bawah penguasa baru Kaisar Hsuan Tsung, Kerajaan Cina Tiongkok kembali berupaya merebut wilayah Sinkiang (Turkestan Timur) dari tangan kaum muslimin yang pernah ditaklukan Panglima Qutaibah bin Muslim.

Sementara itu di sebelah utara, Kaisar Romawi Leo III sudah menyiapkan ribuan balatentaranya untuk merebut kembali Asia Kecil yang sudah ditaklukan kaum muslimin sebelumnya. Dua pasukan besar sudah siap berhadapan.

Di sebelah barat terjadi pemberontakan suku Barbar di Libya dan Aljazair menolak kepemimpinan khalifah di Damaskus. Di selatan, kaum Khawarij yang bertempat di Yaman dan Irak berusaha melepaskan diri dari kekuasaan khilafah. Sementara itu kaum 'Alawi  pimpinan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib di Kufah dan Khurasan pun mengambil langkah sama. Disinyalir inilah benih-benih kebangkitan daulah Bani Abbasiah.

Namun khalifah Hisyam bin Abdul Malik mampu menangani ancaman tersebut dan menyelamatkan kaum muslimin dari kehancuran. Beliau mampu bersikap tegas dibantu saudaranya Panglima Maslamah bin Abdul Malik dan para jendral perang lainnya yang cakap, sehingga serangan-serangan dapat dipatahkan. Bahkan beliau sanggup melakukan serangan balik dan memukul mundur musuh-musuhnya.

Serbuan Andalusia ke Perancis

Bahkan di Andalusia sanggup mengembangkan wilayahnya menerobos wilayah Perancis. Ketika Panglima Sammah bin Malik Al Khaulani gubernur Andalusia gugur, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik segera mengangkat panglima Anbasa bin Suhain sebagai penggantinya. Dengan cepat panglima Anbasa menghimpun pasukan hingga ke pegunugan Pyrennes dan berhasil menaklukkan Narbonne, Perancis Selatan. Dilanjutkan dengan jatuhnya Marseilles, Avignon dan Lyon, terus menerobos wilayah Burgundy. Ketika pasukan tiba di benteng shines, menyusuri sungai Shines 100 mil dari Paris, ibukota Neustria (Perancis), mendapat perlawanah gagah perkasa dari bangsa Frank, pimpinan jendral mereka yang terkenal bernama Karel Martel. Dalam pertempuran tersebut gugurlah Panglima Anbasa bin Suhain.

Andalusia kehilangan gubernur. Tatkala Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mendengar berita tersebut, beliau langsung mengangkat Abdurrahman Al Ghafiqi sebagai gubernur Andalusia menggantikan Anbasa. Pasukan pun kembali dihimpun. Persiapan kembali dimulai.

Abdurrahman Al Ghafiqi bukan sekedar panglima biasa tapi juga seorang ulama yang shalih. Beliau banyak menghimbau agar warga Andalusia memperbanyak taat kepada Allah dan menjauhi maksiat, karena kemenangan Allah bersama orang-orang yang taat dan sabar. Selama menjabat beliau banyak memberikan motivasi moril dan spiritual. Ketika intstruksi khalifah untuk mengembangkan wilayah tiba, Abdurrahman AlGhafiqi mempersiapkan dengan hati-hati, karena cuaca wilayah Perancis teramat dingin. Beliau ahli strategi dan jeli melihat situasi. Tindakannya tersebut membuahkan hasil, pasukan Karel Martel dibuat kalangkabut kocar-kacir dan terdesak mundur. Banyak ghanimah didapat dari kemenangan tersebut. Wilayah Aquitania dan ibukotanya Toulousse dapat dikuasai pasukan Abdurrahman Al Ghafiqi. Karel Martel mundur ke benteng Aungolemme.

Nama Al Ghafiqi terasa menggetarkan seluruh Perancis, sehingga Raja Theodorick IV membuat sebuah instruksi perlawanan semesta agar seluruh warga Perancis bangkit turut serta dalam perlawanan di bawah komando Karel Martel. Maka terjadilah peperangan yang amat dahsyat. Hampir saja kaum muslimin meraih kemenangan, andai saja mereka tidak terlena ghanimah perang yang berlimpah. Di sebuah tempat bernama Tours, Karel Martel melakukan serangan ganda, sasarannya adalah kemah-kemah tempat ghanimah berada. Ketika pasukan muslimin terpecah mempertahankan ghanimah, gelombang serangan lebih besar menghajar pasukan utama pimpinan Al Ghafiqi yang sebagian besar tentaranya menjaga tenda. Dalam pertempuran tersebut Abdurrahman Al Ghafiqi gugur sebagai syuhada. Dan perjalanan pasukan kaum muslimin pun terhenti, dan dipaksa pulang kembali ke Andalusia.

Para ahli sejarah menyampaikan, andaikata kaum muslimin berhasil menguasai Perancis, tentu sejarah Eropa akan berubah tidak seperti sekarang. Di belakang Perancis masih menunggu Germania, dan Romawi Barat.

Akhir Sang Khalifah

Sementara itu kemelut di Asia Kecil berhasil dipadamkan Khalifah. Pasukan Romawi Timur yang ingin menguasai wilayah itu berhasil dihalau mundur, setelah khalifah mengirimkan Panglima Said Khuzainah dari Khurasan turut membantu Maslamah bin Abdul Malik.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat karena sakit pada usia 55 tahun, tahun 125 H, setelah kurang lebih 25 tahun berkuasa. Sebelum meninggal beliau mewasiatkan bahwa penerusnya adalah Walid bin Yazid, sesuai wasiat mendiang Yazid bin Abdul Malik.

(Bersambung)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar