SULAIMAN BIN ABDUL MALIK
Latar Belakang
Sulaiman bin Abdul Malik lahir pada tahun 674 di Damaskus. Sebagai putra mahkota kedua dia harus rela ketika ayahnya menunjuk sang kakak - Al Walid - sebagai penerus khalifah setelah ayah mereka wafat. Sulaiman harus puas dengan menjadi gubernur di wilayah Palestina. Kesehariannya diisi dengan mendalami ilmu agama, sehingga jiwanya lebih bersih dari pengaruh kekuasaan dan kerakusan duniawi.
Hatinya menangis ketika mendengar derita yang dialami oleh saudara-saudara muslimnya di wilayah Irak, Basrah, Kufah dan sekitarnya, yang mengalami penindasan kezaliman dari salaseorang pembantu ayahnya yaitu Hajaj bin Yusuf, sehingga timbul rasa benci kepada orang tersebut. Setiap kali diadakan pertemuan bersama ayahnya di istana, Sulaiman selalu berpaling dan menghindari pembicaraan dengan Hajaj. Baginya manusia itu bermuka dua dan musuh kaum muslimin. Namun apa daya ayahnya begitu memuja dan memberika ruang kebebasan kepadanya.
Ketika menjelang wafat kakaknya - yakni Al Walid - terdengar desas-desus untuk mencopot gelar putra mahkota pada dirinya, yang berakibat hilangnya hak kekuasaan yang seharusnya dia miliki. Terbayang rintihan dan air mata kaum muslimin olehnya, maka dia pun menunda keberangkatannya ke Damaskus ketika kakaknya memanggil. Dan nasib baik masih berpihak kepadanya, ternyata kakanya keburu wafat sebelum mengikrarkan tentang pencopotan jabatan putra mahkotanya. Sehingga otomatis selepas itu - sesuai amanat - dia lah yang harusnya memangku jabatan sebagai khalifah penerus berikutnya...
Diangkat menjadi Khalifah
Sulaiman naik sebagai khalifah pada tahun 715 (97H) pada usia 42 tahun, menggantikan sang kakak yang wafat ditahun tersebut. Sebagai pangeran mahkota putra Abdul Malik bin Marwan, tentu kemampuan taktik perang dan tata negara Sulaiman pun tidak dapat diabaikan. Terbukti cara dia menjalankan langkah-langkah dalam membungkam orang-orang yang tidak sesuai dengan prinsipnya.
Yang pertama dilakukannya adalah mengganti gubernur-gubernur yang diangkat oleh kakaknya, Al Walid. Diantara gubernur yang dipecat adalah gubernur Madinah Utsman bin Hayan, yang dulu menggantikan Umar bin Abdul Aziz atas instruksi Hajaj bin Yusuf. Juga gubernur Mekkah dan gubernur Khurasan Qutaibah bin Muslim Ats Tsaqafi, tangan kanan Hajaj di Khurasan.
Secara umum dilakukan pembersihan besar-besaran, karena tokoh-tokoh tersebut terlibat upaya penjegalan atas status putra mahkota yang hendak dialihkan oleh kakaknya kepada anaknya. Bahkan Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad pun turut terkena getah pemecatan pula. Angin politik berubah.
Yang dulu dijaman Al Walid begitu mati-matian membela, kini terkena dampaknya. Sementara yang dahulu disingkirkan Al Walid seperti halnya Umar bin Abdul Aziz, sekarang diangkat menjadi tangan kanan khalifah.
Surat Politik Qutaibah bin Muslim
Tatkala Sulaiman dinobatkan sebagai khalifah, Qutaibah yang sebelumnya bersama Hajaj bin Yusuf getol menggembosi upaya penggagalan putra mahkota sulaiman, sekarang berubah menjadi rasa cemas. Akhirnya memutuskan mengirim tiga pucuk surat kepada khalifah yang baru. Pertama isinya ucapan selamat atas penobatan khalifah dan berjanji setia, serta permohonan agar posisinya sebagai gubrnur tidak diganti. Surat kedua, mengenai ancaman bila khalifah berani menggantinya akan terjadi pergolakan. Surat ketiga, tentang ancaman kengerian yang akan dialami khalifah apabila mengganggunya dan dia akan melancarkan pemberontakan massif.
Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, selain putra dari Abdul Malik bin Marwan, adalah seorang yang fasih berpidato, ahli strategi dan juga jendral perang. Baginya ancaman Qutaibah ini tidak bisa dihentikan selain dengan strategi pula. Maka dengan menunda kepulangan utusan Khurasan membuat Qutaibah semakin gelisah, apakah khalifah menerimanya atau menolak. Qutaibah semakin dihantui perasaannya sendiri sehingga melakukan pergerakan sendiri untuk memberontak kepada khalifah. Namun ternyata masih banyak anak buahnya yang setia kepada khalifah di pusat. Perbuatan Qutaibah ini justru memancing kebencian dikalangan militernya sendiri, sehingga terjadi perlawanan, dan akhirnya Qutaibah pun tewas ditangan laskarnya sendiri. Sebagai gantinya diangkat Wakki at Tamimi. Namun tidak lama diganti oleh Yazid bin Muhallab, sebagai gubernur yang berkuasa di wilayah Irak dan Iran.
Adapun nasib Musa bin Nushair, setelah tiba di Damaskus karena berkabung dan menghadiri penobatan khalifah baru, dia langsung di pecat dan diasingkan ke Madinah. Keluarganya semua di Afrika utara dicopot dari jabatannya dan diganti dengan orang-orang yang loyal kepada Sulaiman bin Abdul Malik. Seperti Abdul Malik bin Musa gubernur Afrika dicopot dan diganti Muhammad bin Yazid. Sementara Abdul Aziz bin Musa gubernur Andalusia, yang berkedudukan di Toledo, dikudeta oleh rakyatnya sendiri hingga terbunuh. Kemudian khalifah Sulaiman mengangkat Abdurrahman Atstsaqafi sebagai penggantinya.
Prestasi Politik
Dalam bidang politik Sulaiman pernah mengirim pasukan besar untuk menaklukan Konstantinopel di bawah pimpinan saudaranya sendiri yaitu Maslamah bin Abdul Malik. Bahkan khalifah pun turut serta berperang. Setelah sekian lama mengepung benteng byzantium yang terkenal kokoh, khalifah pun sakit keras. Pengepungan akhirnya mengalami kegagalan dan banyak pahlawan muslimin yang gugur dalam peperangan.
Wafatnya Khalifah
Khalifah Sulaiman hanya 2 tahun memerintah. Diakhir hidupnya sepulang dari peperangan melawan konstantinopel beliau sakit keras, dan memwasiatkan untuk menyiapkan pengganti bila dia tak berumur panjang. Pada mulanya khalifah Sulaiman hendak mengangkat putranya sebagai khalifah, namun beberapa ulama memberinya masukan agar dipilih yang lain yang kemungkinan mampu menjadi pemimpin terbaik bagi umat.
Pilihan jatuh kepada penasehat dan tangan kanannya, yakni sepupunya sendiri, Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata pilihan ulama tidak lah meleset. Kelak berikutnya Umar bin Abdul Aziz mampu membawa Bani Umayyah kembali ke pola Khulafaurrasyidin dan menjalankan seluruh syariat islam secara adil dan sejahtera...
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar