UMAR BIN ABDUL AZIZ
Latar Belakang
Sejak masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, namanya sudah disebut-sebut sebagai gubernur Madinah yang adil dan pemersatu umat serta dapat diterima oleh seluruh kalangan tabiin cucu para sahabat Muhajirin Anshar di Madinah, yang sempat terluka gara-gara perlakuan para khalifah Bani Umayyah sebelumnya terhadap mereka.
Sikapnya yang lembut dan toleran itu menimbulkan kasus lain, yakni berbondong-bondongnya rakyat berpindah dari Irak ke Madinah demi mendengar gubernurnya yang sholeh dan adil serta lembut memperlakukan warganya. Berbanding terbaik dengan kelakuan gubernur Irah saat itu yakni Hajaj bin Yusuf, yang begitu keras dan kejam terhadap warganya sendiri.
Migrasi besar-besaran warga Irak ke Madinah menimbulkan perasaan gusar dan marah di hati gubernur Irak Hajaj bin Yusuf. Sebagai penguasa besar yang ditakuti semua kalangan kejadian tersebut seoloah pelecehan dan tamparan keras bagi dirinya. Lalu Hajaj berkirim surat kepada Khalifah Al Walid untuk mencopot gubernur Madinah saat itu agar diganti dengan selainnya. Hajaj sebagai orang kepercayaan istana sejak masa ayahnya yaitu Abdul Malik bin Marwan, rupanya masih disegani dan memiliki pengaruh kuat, sehingga Al Walid pun menuruti kemauan Hajaj dengan memberhentikan Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah.
Namun setelah Al Walid wafat dan digantikan saudaranya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz kembali ditarik ke istana diangkat sebagai menteri dan penasehat khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Hampir seluruh kebijakan Sulaiman adalah atas campur tangan Umar, termasuk kebijakan mengganti beberapa pejabat korup dan pejabat yang dapat menggaggu dan merongrong kekuasaan khalifah, terutama mereka yang pro Hajaj dan menentang naiknya Sulaiman sebagai khalifah. Dan diantara korban kebijakan tersebut adalah Muhammad bin Qosim, Qutaibah bin Muslim, keduanya adalah pengikut Hajaj bin Yusuf dan dianggap menentang dan memberontak terhadap khalifah yang baru. Sementara itu Musa bin Nushair penguasa Afrika dan Thariq bin Ziyad pun mengalami nasib yang sama, karena mereka disinyalir hendak melepaskan diri dari Daulah Umayyah dan mendirikan dinasti sendiri di Afrika dan Andalusia.
Pola pikir Umar yang agamis pragmatis banyak mempengaruhi khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, sehingga diakhir menjelang wafatnya dia tidak menunjuk putranya sebagai penerus tahta, namun justru menunjuk Umar bin Abdul Aziz dalam surat wasiat yang dibacakan sepeninggalnya.
Naik Tahta Khalifah
Usai prosesi penguburan jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, seluruh istana berkumpul di Masjid Umayyah Damaskus, demi mendengarkan surat wasiat khalifah tentang orang yang ditunjuk sebagai penggantinya. Diantara yang hadir terdapat para ulama dan seluruh keluarga khalifah termasuk adik-adik dari khalifah yakni Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Fatimah binti Abdul Malik dan suaminya Umar bin Abdul Aziz.
Tatkala surat dibacakan oleh seorang ulama istana bernama Raja' bin Hayyawah, terteralah nama pengganti khalifah itu : Umar bin Abdul Aziz. Seketika suasana hening. Samar terdengar seseorang mengucapkan istirja' : innalillahi wa innailaihi roojiuun..itulah suara yang keluar dari bibir khalifah terpilih yang baru.
Seolah semua orang sontak tersadar dan menunjukkan reaksi beraneka ragam. Hisyam bin Abdul Malik adik khalifah sendiri dengan geram berucap :"aku tidak akan mematuhi dia...". Ketika ucapannya terdengar Raja bin Hayawah dia berkata :"bagi siapa yang tidak mentaati wasiat ini maka lehernya akan dipenggal..!"
Maka setelah itu seluruh istana dan rakyat melakukan baiat terhadap khalifah yang baru, Umar bin Abdul Aziz, pada tahun 99 H di usia 37 tahun.
Nasab dan keluarganya
Seperti pernah disampaikan bahwa Umar bin Abdul Aziz sendiri bukanlah orang lain bagi kalangan istana Damaskus. Beliau masih putra dari Abdul Aziz bin Marwan, gubernur Mesir yang merupakan adik dari khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Lahir di Madinah pada tahun 61 H di masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab alias Ummu Ashim.Jadi Umar bin Abdul Aziz masih merupakan cicit dari Umar bin Khattab. Kisah nasab mulia ini berawal dari Abdullah bin Aslam, yang bertutur bahwa ayahnya Aslam pernah menemani khalifah Umar bin Khattab melakukan ronda malam keliling kota Madinah. Sampai disuatu tempat terdengar dialog antara seorang ibu dan anak gadisnya.
"Anakku, ambilkan air untuk mencampur susu ini biar kelihatan banyak", kata sang ibu.
"Tapi, yang demikian itu tidak dibolehkan oleh amirul mukminin ibu, dan termasuk penipuan" jawab anaknya.
"Tidak apa, yang lain juga banyak yang melakukan, lagi pula amirul mukminin tidak akan tahu." ibunya menimpal.
"Jika amirul mukminin tidak tahu, tuhannya amirul mukminin pasti melihat.."ujar anaknya.
Tatkala mendengar dialog tersebut, Umar merasa takjub dengan ucapan anak si ibu yang sholihah tersebut. Segera ketika pulang ke rumah, Umar menemui Ashim anaknya dan menyuruh agar menikahi gadis anak penjual susu tersebut. Dan Ashim pun taat, sampai terjadilah pernikahan barakah tersebut dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Laila binti Ashim. Dialah yang ketika dewasa dinikahi oleh Abdul Aziz putra Abdul Malik bin Marwan, dan menjadi ibunya Umar bin Abdul Aziz.
Sifat dan Rupa Umar bin Abdul Aziz
Sifat Umar bin Abdul Aziz berbeda dengan para khalifah pendahulunya. Rupanya darah serta didikan masa kecil turut membantu membentuk kepribadianya. Sejak lahir hidup dilingkungan agamis, dikelilingi ahli ilmu dan orang-orang sholeh dari kalangan sahabat dan tabiin. Umar sendiri tinggal dalam asuhan kakek pamannya yakni Abdullah bin Umar bin Khattab, salaseorang tokoh terkemuka ahli hadits di kota Madinah, dan menjadi pusat rujukan para tabiin. Guru-gurnya adalah para tokoh sahabat nabi dan tabiin terkemuka di Madinah, semisal Said bin Musayab, Anas bin Malik, Abdullah bin Jafar dan lain-lain. Tak heran bila Umar tumbuh menjadi pemuda yang faqih, ahli hadits, ahli ilmu, hafidz quran, dan hatinya yang lembut mudah tersentuh perasaanya ketika berbicara tentang akhirat.
Perawakan Umar bin Abdul Aziz tinggi sedang kurus dan tampan. Di dahinya ada tanda bekas luka kecelakaan kuda semasa kecil. Usai menimba ilmu di Madinah Umar mendampingi ayahnya di Mesir. Namun ketika ayahnya wafat, khalifah Abdul Malik yakni kakak ayahnya (uwak) memintanya untuk tinggal di istana Damaskus mendampingi putra-putranya. Bahkan khalifah Abdul Malik juga menikahkan Umar dengan salaseorang puterinya bernama Fatimah binti Abdul Malik.
Ketika Al Walid bin Abdul Malik naik tahta, Umar diangkat menjadi gubernur Madinah dan diminta agar memperbaiki hubungan baik dengan para keturunan ahli madinah, seusai kejadian pahit ulah para khalifah sebelumnya terhadap keluarga nabi di kota tersebut. Umar yang masih dianggap bagian keluarga Madinah dianggap berhasil menyelesaikan konflik madinah tersebut. Namun seperti sudah dituturkan, sikapnya tersebut memancing kedengkian Hajaj bin Yusuf gubernur Irak, dan mengakibatkan tersingkirnya Umar dari arus kekuasaan pada masa Al Walid.
Namun ketika Sulaiman bin Abdul Malik naik tahta, beliau justru mengangkat Umar sebagai wazir dan tangan kanannya yang mengakibatkan suhu politik berubah.
Sikap Politik Umar bin Abdul Aziz
Umar sudah menduga akan beratnya amanah sebagai pemimpin. Dia pernah mengalami itu semasa menjabat sebagai gubernur. Kini amanah tersebut kembali menimpa dirinya bahkan kali ini lebih besar lagi, yakni pucuk pimpinan tertinggi kaum muslimin, dimana segala kebijakan kekuasaan ada pada telunjuknya...
Sejak awal sudah terlihat bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini berbeda dengan para khalifah sebelumnya, yang hidup bermewah-mewah dan senang berpesta pora. Sejak dilantik menjadi khalifah, yang ada dalam pikiran Umar adalah nasib rakyat miskin, orang-orang yang terzalimi dan susah, dan tentu itu semua akibat kelalaian dan kesalahan seorang khalifah seperti dirinya. Maka sejak itu dia sedekahkan seluruh hartanya ke baitul mal, dan hidup secara sederhana. Bahkan waktu-waktunya pun banyak tersitu untuk mengurus rakyat.
Umar lebih banyak fokus terhadap pelaksanaan masalah syariat islam secara merata penyebarannya ke seluruh wilayah kekuasaannya. Banyak guru-guru didatangkan untuk mengajar agama. Zakat dimaksimalkan ke baitul mal, kaum duafa dan orang-orang miskin diprioritaskan untuk dicukupi kebutuhannya. Para pejabat yang dianggap korup dan zalim diganti. Dibentuk hakim-hakim yang adil dal menghukumi perkara.
Kebijakannya yang adil dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, kecuali oleh kalangan istana yang terbiasa hidup bermewahan, sekarang merasa dikekang dan dibatasi aturan syariat. Namun Umar sendiri tidak peduli. Semasa jabatan khalifah ada pada dirinya dia akan berusaha agar mampu memaksmalkan terlaksananya syariat Islam baik di dalam istana maupun di seluruh kawasan Islam. Keadilannya amat terkenal. Bahkan hampir tidak ada lagi ditemukan kaum dhuafa dan miskin, karena semua sudah tercukupi oleh negara.
Khalifah sendiri hidupnya membatasi diri. Pernah dikatakan seorang kerabat istana kepada istrinya agar khalifah mengganti bajunya yang itu-itu saja. Fatimah sang istri menjawab, "memang baju khalifah cuma itu satu-satunya.." Sikap zuhudnya Umar bin Abdul Aziz disebut menyamai kakek buyutnya yaitu Umar bin Khattab. Keadilan semasa kekuasaannya banyak yang menyamakan setara dengan keadilan dimasa Khulafaurrasyidin.
Kegoncangan istana dan wafatnya khalifah
Sikap politik dan kebijakan Umar bin Abdul Aziz yang dianggap aneh dan bertentangan dengan gemerlap dan mewahnya istana tentu saja menimbulkan antipati beberapa kalangan. Sebagian merasa dirugikan karena jabatannya dicopot oleh Umar, dan sebagian lagi merasa terpaksa karena harus menyerahkan sebagian besar hartanya untuk baitul mal.
Beberapa hal diatas melatar belakangi peristiwa dirancangnya rencana guna menghentikan sikap khalifah yang telah dianggap merugikan istana. Konspirasi pun dibuat untuk melenyapkan khalifah. Sebetulnya tidak susah untuk membunuh khalifah Umar, karena hidupnya sederhana, dan ketika berjalan-jalan ke pasar pun nyaris tanpa pengawalan sama sekali. Namun mereka tidak mau terlalu mencolok dan menyebabkan kehebohan.
Rencana menghabisi khalifah akhirnya diputuskan dengan cara menaburkan racun ke dalam makanan beliau. Eksekutor tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh saloaseorang budaknya yang bernama Alas.
Tatkala khalifah telah memakan makanan beracun tersebut, dan kontan racun pun bereaksi menjalar keseluruh tubuhnya, beliau memanggil seluruh penghuni istana, termasuk si tukang masak bernama Alas.
"Apa yang menyebabkan engkau meracuniku?" tanya khalifah dengan nafas tersengal
"mereka menjanjikan 1000 dirham dan kebebasanku" jawab budak bernama Alas itu jujur mengaku.
Umar pun mengambil yang 1000 dirham dan memasukannya ke baitul mal, kemudian membebaskan Alas menjadi orang merdeka sebelum detik-detik kematiannya tiba.
Begitulah, khalifah yang sholeh dan jujur serta adil dalam melayani rakyat harus berakhir dengan cara mengenaskan. Beliau hanya memerintah selama 2 tahun dan wafat pada tahun 101 H pada usia 39 tahun. Namun waktu yang 2 tahun itu dianggap sebagai puncak keadilan dan kesholehan dinasti Umayyah terhadap kaum muslimin, dimana rakyat hampir semua dapat merasakan keberkahan pemimpin mereka.
Kebesarah dan keluhuran budi khalifah Umar bin Abdul Aziz bahkan sempat sampai ke telinga seorang raja kerajaan Sriwijaya di timur jauh pulau Andalas (Sumatra). Bahkan surat Raja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman tersebut sempat diabadikan dalam sebuah catatan Abdu Rabah (860-950) dan tersimpan hingga kini di Musiem Bani Umayyah, Madrid Spanyol. Berisi tentang perimtaan raja untuk didatangkan para ulama Islam untuk mengajar di Sriwijaya. Sehingga dimungkinkan Sriwijaya pada waktu itu sudah merupakan kerajaan muslim di Nusantara.
Adapun khalifah yang sholeh itu, takdir Allah telah berlaku bahwa Allah menetapkan kematiannya sebagai syuhada, sama seperti kakek buyutnya yang juga syahid ditangan seorang kafir majusi bernama Abu Lulu.
Tidak banyak harta warisan yang beliau tinggalkan untuk keluarganya selain beberapa dirham saja. Namun keluarga Umar mendapat barakah dari kesalehan sang ayah, di beberapa tahun kemudian rezeki mereka Allah lapangkan sehingga mampu menyumbang ratusan kuda dan perbekalan peperangan dalam jihad fisabilillah mempertahankan kaum muslimin..
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar