Senin, 10 Desember 2018

Sejarah Bani Abbasiyah (Abu Ja'far Al Mansyur)

SEJARAH BANI ABBASIYAH


ABU JA'FAR AL MANSYUR



Latar Belakang

Abu Ja'far merupakan adik dari Khalifah Abbasiyah pertama Khalifah Abu Abbas As-Saffah. Lahir sama sama dengan sang kakak di Humaymah, pada tahun 687, selepas keluarga Abbas migrasi dari Hijaz sepeninggal Abdullah bin Abbas, sang datuk, salasatu tokoh imam terkemuka di kota Mekkah, dan termasuk sahabat yang didoakan rasulullah menjadi ahli tafsir.

Abu Ja'far masih berdarah Quraisy murni, Nama aslinya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib. Ketika keluarga Abbas memproklamirkan untuk merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah, Abu Ja'far pun masuk sebagai salasatu tokoh utama. Darah Bani Hasyim deras mengalir dalam tubuhnya. Kecerdasan dan kegagahannya tampak menonjol. Tidak heran bila As-Saffah memilih adiknya tersebut sebagai penggantinya.

Strategi Khalifah

Abu Ja'far dilantik menjadi Khalifah pada tahun 754 setelah wafat saudaranya yakni Abu Abbas AsSaffah. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengatur politik kekuasaan. Abu Ja'far membuat hubungan erat dengan daerah-daerah provinsi. Infrastruktur jalan utama dibangun megah. Jalur-jalurnya ditata dengan rapi. Beliau juga membina hubungan baik dengan para hakim, kepala polisi rahasia, kepala pajak, serta dinas-dinas yang lainnya.

Gerakan ini bukan tanpa sebab, masih ada ganjalan dihati Abu Ja'far bahwa kekuasaannya sebagai khalifah masih dibayang-bayangi beberapa sosok lain. Ada tiga kelompok yang dikuatirkan Abu Ja'far, yaitu :

  1. Abdullah bin Ali; paman beliau sendiri sekaligus jendral besar yang turut berjasa dalam membantu merebut kekuasaan dari Bani Umayyah dan mendirikan Bani Abbasiyah, bahkan dia lah yang berhasil menangkap khalifah Bani Umayah terakhir yakni Marwan bin Muhammad. Kegagahannya sangat kesohor dari Kufah hingga sungai Nil.
  2. Abu Muslim Al Khurasani; dialah panglima besar pasukan Abbasiyah yang pertama kali mengobarkan semangat perlawanan, dan berhasil menghancurleburkan pasukan Bani Umayyah di Irak. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Seluruh pasukan perlawanan bahkan sangat mengagumi dan patuh pada perintahnya.
  3. Pembela Ahlu Bait; yaitu para pendukung keturunan Hasan & Husain bin Ali bin Abu Thalib yang juga mendapat dukungan dan simpati dari rakyat banyak

Ganjalan tersebut ternyata juga dirasakan oleh sang paman, Abdullah bin Ali, yang diam-diam berambisi menjadi Khalifah. Namun harapannya pupus ketika AsSaffah justru mengangkat adiknya sebagai putra mahkota. Karena hubungannya kurang begitu harmonis dengan Abu Ja'far, Abdullah bin Ali pun akhirnya hengkang menjauhkan diri dari Khurasan berpindah ke Yaman.

Melihat arah angin, khlaifah segera menangkap peluang kesempatan tersebut demi melanggengkan kekuasaannya. Dia lalu mengirim Abu Muslim Al Khurasani untuk menangkap Abdullah bin Ali yang dianggap telah melakukan pemberontakan. Maka Abu Muslim pun berangkat dan bertemu Abdullah bin Ali dan pasukannya di Basrah. Setelah terjadi bentrokan, akhirnya pertempuran dimenangkan oleh Abu Muslim dan Abdullah bin Ali pun diseret dan dimasukan ke dalam penjara, hingga wafatnya disana.

Usai menuntaskan tugas dari negara, khalifah pun memanggil Abu Muslim ke dalam kemahnya. Sebagai prajurit setia, Abu Muslim pun patuh menghadap tanpa rasa curiga. Sesampainnya di dalam ternyata sebilah pisah terhunjam telak di dada panglima tersebut hingga menyebabkan kematiannya. 

Selesailah sudah dua ganjalan utama, tinggal satu lagi yang akan menunggu gilirannya.....

Prestasi Khalifah

Khalifah Abu Ja'far Al Mansyur merupakan khalifah yang cerdik dan pandai menata keuangan negara. Terbukti dia mampu mengelola dan menghemat pajak negara, sehingga kekayaan negara pun melimpah. Dengan begitu dia mampu membangun sebuah kota megah di wilayah Irak dan diberi nama Kota Baghdad, sekaligus dijadikan pusat ibukota bagi pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah.

Selain membangun fisik, Abu Ja'far juga memaksimalkan pengembangan ilmu pengetahuan. Seluruh ilmu dari Yunani, Romawi, Persia diterjemahkan seluas-luasnya, sehingga khazanah keilmuan Islam semakin kaya. bahkan di Baghdad subur dengan para pelajar dan banyak tersedia perpustakaan besar. 

Didalam lingkar kekuasaan pun Abu Ja'far turut banyak melibatkan non-arab, seperti Persia, Seljuk, Turki, Romawi. Namun orang-orang Persia lah yang paling banyak memegang peranan. Kelak pengaruh ini mengakibatkan lebih berkembangnya budaya persia daripada budaya arab. Ini berbeda dengan Bani Umayyah yang melarang orang-orang non Arab naik ke pusaran sekitar pemegang kekuasaan.

Sikap Terhadap Ulama

Meskipun dukungan terhadap keilmuan begitu penuh, namun tidak semua para ahli ilmu merasakan perlindungan khalifah. Contoh, di masa Abu Ja'far ada seorang tokoh ahli hadits bernama Malik bin Anas, yang dengan dorongan khalifah telah menyelesaikan sebuah kitab hadits pertama di dunia berjudul AL Muwatha'. Bahkan Abu Ja'far begitu terpesonanya oleh kharisma Imam Malik sampai berkehendak menjadikan Al Muwatha menjadi kitab dasar negara. Namun tidak mendapat izin Imam Malik.

Sikap tragis menimpa Imam Abu Hanifah. Madzhab hanafiah yang ditegakannya begitu memukau banyak pihak di masanya. Maka khalifah Al Manshur pun meminta Abu Hanifah untuk menjadi qadhi (hakim) kerajaan. Namun ternyata Abu Hanifah menolak tegas permintaan tersebut, yang mengakibatkan khalifah marah karena permintaannya ditolak, maka Imam Hanafi pun diseret ke penjara hingga wafatnya disana. 

Tidak hanya Abu Hanifah, penderitaan itu juga dirasakan oleh Imam Sufyan Atssauri dan Abbad bi Katsir, yang hampir juga meninggal di penjara, jika saja ajal tidak keburu menjemput sang khalifah ketika dalam perjalannya ke Mekkah saat ibadah haji. Al Manshur wafat tahun 158 H / 775, pada usia 63 tahun. Dia memerintah selama 22 tahun, dengan berbagai prestasi plus minusnya, dan kemegahan kota Baghdad yang baru di bangunnya.

Selama kekuasaannya Al Manshur juga sempat menyebarkan islam hingga ke Byzantium, Afrika Utara, serta menjalin kerjasama dengan Raja Pepin dari Perancis, dan Andalusia yang waktu itu di bawah kekuasaan Bani Umayyah, Abdurrahman Ad -Dakhili.

(Bersambung)









Selasa, 04 Desember 2018

Sejarah Bani Abbasiah (Abdullah bin Muhammad As-Saffah)

SEJARAH BANI ABBASIYAH


ABDULLAH BIN MUHAMMAD AS-SAFFAH



Latar Belakang

Kemelut yang menerpa Daulah Islamiyah yang saat itu dikuasai oleh Bani Umayyah sudah sampai ke titik nadir. Khilafah Bani Umayyah yang berhasil "mengambil alih" kekhalifahan kaum muslimin dari KhulafauRasyidin terakhir yaitu Ali bin Abu Thalib dan putranya Hasan bin Ali, dengan Muawiyah sebagai pendiri pertama dinastinya, kini mencapai detik penghujungnya, ditangan khalifah terakhir Bani Umayah bernama Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.

Latar belakang sebenarnya adalah bibit-bibit ketidakpuasan yang sudah lama berkembang dari masyarakat terhadap model penguasa. Misalnya ketidakpuasan kelompok pengikut Ali bin Husein bin Ali bin Abu Thalib, karena bani Umayyah sering mendiskreditkan bahkan mencaci maki para ahlul bait nabi.

Selain itu berkembang pula gerakan perlawanan terhadap khalifah Bani Umayyah oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai gerakan Abbasiyah. Kelompok ini segera mendapat dukungan banyak apalagi disaat kondisi pemerintahan Bani Umayyah sedang terjadi kericuhan antar keluarga gara-gara perebutan kekuasaan.

Faktor lain yang membuat gerakan ini begitu massif adalah dengan dibawanya nama Bani Hasyim dalam perjuangan mereka. Karena pemimpin pergerakan memang berasal dari keluarga keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman rasulullah SAW, bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang bergelar Abul Abbas As-Saffah

Menegakkan Kekuasaan Bani Abbasiyah

Ketika Bani Umayyah tampak keletihan menahan serangan perlawanan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib di Irak, Abul Abbas AsSaffah pun serentak mengirim pasukan besar dibawah Jendral nya yang cakap bernama Abu Muslim Al-Khurasani langsung menuju Irak.

Pasukan yang baru saja selesai memenangkan peperangan dengan pasukan Zaid tersebut kontan terkaget-kaget, sehingga pasukan Abu Muslim Al-Khurasani dapat menguasai keadaan. Pasukan Marwan berhasil dilumpuhkan. Marwan sendiri melarikan diri ke Mesir. Namun As-Saffah memerintahkan Jendral Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yaitu pamannya sendiri untuk memburu habis Marwan dan keluarganya. Akhirnya Marwan dapat ditangkap di sungai Nil, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Khurasan, di hadapan Abu Abbas As-Saffah.

Usai kematian Marwan, As-Saffah masih terus melakukan perburuan terhadap seluruh keluarga sisa Bani Umayyah. Tanpa ampun semuanya dihabisi, seolah tidak ingi menyisakan satu pun anggota keluarga Bani Umayyah yang masih hidup dan kelak dapat merongrongnya di kelak kemudian hari.

Aksi tumpas habis dari As-Saffah menandai berakhir dan runtuhnya dinasti bani Umayyah yang telah berkuasa kurang lebih 100 tahun. Meskipun ada satu dari keturunan Bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri dari pembasmian tersebut, bernama Abdurahman Ad-Dakhili, yang berhasil melarikan diri ke wilayah Andalusia, dan kelak mendirikan kekhalifahan disana yang terlepas dari kekuasaan Bani Abbasiah.

Kebijakan Khalifah As-Saffah

Abul Abbas As-Saffah naik tahta mendirikan imperium Bani Abbasiah pada tahun 750 M. Setelah pembersihannya dari unsur-unsur Bani Umayyah, Assaffah memusatkan pemerintahannya di wilayah Khurasan, Iran. Para pendamping istana dan pasukannya diberikan secara merata kepada orang-orang non-Arab, seperti orang Persia, Turki dan Syiah. Proses penyatuan tersebut berhasil dengan munculnya orang-orang kuat disisinya yang akan memuluskan jalan tegaknnya kekuasaan Abbasiyah ditahun mendatang.

Sayang usia Abul Abbas tidak lama. Tahun 754 khalifah meninggal dunia, digantikan oleh saudaranya bernama Abu Ja'far Al Manshur.

(Bersambung)






Kamis, 22 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam)

SEJARAH BANI UMAYYAH


MARWAN BIN MUHAMMAD 



Latar Belakang

Marwan bin Muhammad lahir tahun 72 H atau 694 M, ayahnya bernama Muhammad bin Marwan bin Hakam. Sebelumnya dia adalah seorang jendral perang yang dipercaya oleh Walid II untuk menjadi gubernur Armenia. Beberapa kali berperang melawan pasukan Khazar.

Ketika memasuki Damaskus dan menemukannya dalam kondisi kosong, maka Marwan pun segera mencari putra Walid II yang diwasiatkan sebagai calon khalifah penerus. Namun ternyata ditemukan sudah tak bernyawa. Seketika itu semua kebingungan guna memutuskan siapa yang berhak menajdi pengganti khalifah. Konon yang mengusulkan Marwan menjadi khalifah adalah Abu Muhammad As-Sufyani yang bernama asli Ziyad bin Abdullah bin Yazid bin Muawiyah, atas dasar puisi karangan Hakam bin Walid sebelum meninggalnya, untuk menyerahkan urusan kepada Marwan, pamannya.

Maka Marwan pun dilantik sebagai khalifah pada tahun 126 H, dikenal dengan nama Marwan II, untuk membedakan dengan kakeknya yaitu Marwan bin Hakam.

Kebijakan Khalifah Yang Mengagetkan

Setelah diangkat sebagai khalifah Daulah Islam, Marwan ternyata membuat kebijakan yang mengagetkan. Dia menyuruh orang agar menggali kuburan Yazid III yang sudah meninggal 2 bulan sebelumnya, untuk dikeluarkan mayatnya dan disalibkan di gerbang kota Damaskus.

Ini sebagai ganti pembunuhan Yazid III kepada Walid II yang telah memenggal kepala Walid II dan diarak kepalanya di seluruh kota. Kekejian dibalas dengan kekejian, atas nama jabatan khalifah!

Huru-hara Pemberontakan

Hampir sepanjang pemerintahan Marwan dihabiskan untuk memadamkan gejolak pemberontakan dimana-mana. Sulaiman bin Hisyam melakukan penghimpunan massa dan memberontak. Namun dapat dipadamkan, Sulaiman sendiri melarikan diri ke daerah India dan wafat disana.

Kaum Khawarij di Yaman secara terang-terangan melawan khalifah, bahkan Irak, Kufah hingga Mosul sudah dikuasainya dengan pemimpinnya bernama Dahhak bin Qais. Namun khalifah Marwan berhasil menumpasnya, Dahhak sendiri terbunuh dalam peperangan melawan khalifah.

Belum lama berselang Kufah bergolak lagi. Kali ini digerakan oleh Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib dari keluarga Hasyimi. Marwan pun kembali menggempur Kufah, namun pemimpinnya dapat meloloskan diri ke Khurasan. Tiba disana berhadapan dengan Abu Muslim Al Khurasani dan dibunuhnya.

Kelahiran bibit Daulah Abbasiah

Khurasan sendiri mulai bergerak melawan khalifah. Di bawah pimpinan Abu Muslim Al Khurasani dimulailah gerakan daulah Abbasiah. Mereka bergerak dengan pasukan besar meninggalkan Khurasan menuju Irak dan berhadapan dengan pasukan khalifah Marwan II.

Pasukan Marwan hancur lebur, khalifah sendiri melarikan diri ke Suriah, lalu diteruskan ke Mesir. Tapi disana dia tertangkap oleh pasukan Jendral Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib.

Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah

Setelah tertangkap, Marwan bin Muhammad lantas dihukum mati di Mesir. Kepalanya dipancung oleh Panglima Shalih bin Ali, dan diserahkan kepada keponakannya yaitu Abu Abbas As-Shaffah penguasa khalifah di Kufah.

Marwan wafat di Mesir ketika hendak menyebrang sungai Nil, pada tahun 132 H dalam usia 62 tahun. Masa kekuasaannya hanya 5 tahun 10 bulan.

Dengan meninggalnya Marwan II maka tamat sudah khalifah penguasa dari bani umayyah. Selanjutnya digantikan oleh khalifah dari keturunan Bani Abbasiah.

(Tamat)








Sejarah Bani Umayyah (Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


IBRAHIM BIN WALID



Khalifah Pengganti

Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik bin Marwan, adalah adik dari Yazid III yang baru saja mangkat. Naiknya dia menjadi khalifah banyak mengundang tanda tanya, karena Khalifah Yazid III tidak meninggalkan wasiat pewaris. Namun sebagian ahli sejarah menangkap gejala - sejenis pemalsuan dokumen - yang diatasnamakan kepada Yazid III, demikian riwayat Imam Suyuthi dan Imam Thabari.

Diburu Musuh-musuhnya

Ketika naiknya Ibrahim bin Walid diumumkan, banyak orang yang berang dan tidak mengakuinya. Yang terang-terangan menolaknya adalah Gubernur Armenia yakni Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.

Marwan ketika mendengar wafatnya Yazid III lalu berangkat menuju Damaskus dengan membawa pasukan 80.000 orang. Marwan begitu mencintai dan setia kepada Walid II. Dia pun berangkat menuju istana dengan tujuan membela hak anak-anak Walid II yaitu hakam bin Walid dan Utsman bin Walid, untuk diangkat sebagai khalifah. Begitu tiba di Homs, dia melihat Sulaiman bin Hisyam yag sedang mengepung Homs dengan 120.000 tentara karena mereka tidak mau tunduk berbaiat kepada Ibrahim bin Walid.

Melihat hal tersebut kontan Marwan bin Muhammad marah besar, serta merta bentrokan kedua pasukan pun tak terelakkan. Ternyata pasukan Sulaiman kalah telak, mereka kocar-kacir, dan Sulaiman bin Hisyam sendiri melarikan diri ke Damaskus. Pasukan Marwan pun mengejar.

Di Damaskus telah sampai berita kedatangan Marwan dengan ribuan tentaranya. Ibrahin bin Walid menjadi panik. Kedua anak Walid II pun dibunuhnya. DIa sendiri kemudian melarikan diri keluar damaskus.

Istana ditaklukan

Saat istana kosong karena Ibrahim bin Walid dan Sulaiman bin Hisyam melarikan diri ke Tadmur, Suriah Selatan. Marwan pun sepenuhnya menguasai Damaskus dan menaklukan Daulah yang ditinggalkan tersebut.

Tak lama kemudian Ibrahim bin Walid pun pulang dan menyatakan baiatnya kepada Marwan penguasa baru, sehingga dia pun diampuni. Ibrahim bin Walid hanya berkuasa selama 70 hari saja, lebih lama sedikit daripada Muawiyah bin Yazid yang cuma 40 hari..

(Bersambung)

Sejarah Bani Umayyah (Yazid bin Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


YAZID BIN WALID (YAZID III)



Latar Belakang

Yazid bin Walid bin Abdul Malik bin Marwan, atau Yazid  III, naik tahta pada tahun 126 H atau 744 M, setelah berhasil membunuh sepupunya sendiri yakni Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan atau Walid II, dengan cara mengepung istana Damaskus dan memancung kepalanya.

Kebijakan Khalifah

Kebijakan Yazid III ketika pertama kali naik tahta adalah mengurangi gaji tentara yang sebelumnya telah dilipatgandakan oleh Walid II yang kala itu untuk meraih dukungan loyalitas pasukannya. Kebijakan tersebut memancing keresahan, dan dia dijuluki An-Naqish, si Pengurang.

Hampir sejak awal pemerintahan Yazid III selalu diguncang prahara, pemberontakan Khurasan, juga di Yamamah, bahkan salaseorang Gubernurnya di Armenia bernama Muhamad bin Marwan sempat hendak melakukan kudeta, namun akhirna dapat diselesaikan dengan cara memberikan Gubernur Marwan wilayah kekuasaan yang lebiih luas.

Masalah timbul juga dari sepupunya sendiri, Sulaiman bin Hisyam, yang di masa Walid II dia ditangkap digunduli dan dipenjara, oleh Yazid III dia dibebaskan. Namun setelah bebas, ternyata Sulaiman bin Hisyam juga merasa dia berhak atas tahta warisan ayahnya yang sekarang ditangan Yazid bin Walid. Sulaiman pun menghimpun dukungan. Namun Khalifah Yazid III begitu mengetahui hal tersebut lantas mendekati Sulaiman dan membujuknya agar menghentikan perbuatannya tersebut dan diajak untuk bersama mengelola warisan Bani Umayyah itu secara baik-baik. Sulaiman pun akhirnya mau kembali berbaiat kepada Yazid III.

Wafatnya Sang Khalifah

Khalifah Yazid III sebetulnya bermaksud mengembalikan kemuliaan dan kekuatan Bani Umayyah seperti para pendahulunya. Dia juga seorang yang sholeh dan tidak berambisi akan kekuasaan. Terbukti ketika disaat sakit kritis menjelang wafatnya beliau enggan membuat surat wasiat siapa yang menjadi penerusnya. Namun sebagian orang berpendapat, bahwa kelak Ibrahim bin Yazid putranya berhak atas tahta kekhalifahan.

Khalifah Yazid III hanya menjabat selama 6 bulan saja, dan beliau wafat dalam kondisi tertekan karena permasalahan pelik berkepanjangan. Wallau a'lam.

(Bersambung)

Sejarah Bani Umayyah (Walid bin Yazid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


WALID BIN YAZID (WALID II)


Latar Belakang

Walid bin Yazid dilahirkan sekitar tahun 90 M, di Damaskus. Ketika ayahnya naik tahta sebagai khalifah menggantikan Umar bin Abdul Aziz, usianya baru 11 tahun. Itu sebabnya Yazid bin Abdul Malik hanya berwasiat menjadikan putranya itu sebagai putra mahkota kedua guna menggantikan Hisyam bin Abdul Malik yang ditunjuknnya sebagai putra makhota pertama sepeninggalnya kelak.

Usia pemerintahan Yazid bin Abdul Malik ternyata tidak lama, dan kemudian kekuasaan beralih kepada Hisyam bin Abdul Malik, pamannya Walid. Selama masa pemerintahan khalifah Hisyam kurang begitu menyukai Walid, karena akhlaknya yang buruk, gemar minum khamr, dan sering melanggar aturan Allah.

Sebetulnya Hisyam bin Abdul Malik ingin mengangkat putranya sendiri yakni Sulaiman bin Hisyam untuk menggantikannya sebagai khalifah, menimbang gaya hidup Walid sebagai putra mahkota menurut wasiat kakakynya ternyata tidak sesuai harapan. Walid sendiri selama Hisyam pamannya memerintah tidak pernah ada di diistana, dia berhura-hura di luar damaskus. Pulang ketika bekalnya habis dan kembali keluar kota.

Meski sesak terasa di dada dengan kelakukan calon khalifah, tapi apa mau dikata, surat wasiat sudah dibacakan.Pada akhirnya yang dijalankan adalah sesuai surat wasiat Yazid bin Abdul Malik, bahwa Walid bin Yazid inilah yang akan menaiki tahta khalifah sepeninggal Hisyam bn Abdul Malik.

Kenaikan Tahta dan Kebijakan Walid bin Yazid

Walid bin Yazid menjadi khalifah berdasar surat wasiat ayahnya, pada usia 39 tahun. Para ahli sejarah memberinya gelar Walid II untuk membedakannya dengan Walid bin Abdul Malik. Banyak pihak yang kurang setuju dengan pengangkatan ini karena latar belakang perilaku Walid yang kurang bagus. Tapi ada salasatu yang juga mengagumi Walid bin Yazid, salasatunya gubernur Armenia dan kaukasus bernama Muhammad bin Marwan.

Diantara kebijakan pemerintahan Walid bin Yazid (Walid II) adalah menaikan bantuan untuk kaum panti jompo dan orang-orang terlantar dan fakir miskin. Pemerintahan Walid II banyak diisi dengan pesta hura-hura, sehingga menimbulkan banyak suara kebencian terhadapnya. Apalagi sikapnya yang arogan dan selalu memburu setiap orang yang menentangnya, walaupun dari kerabat sendiri.

Diantara yang menentang sikap Khalifah Walid II adalah sepupunya sendiri bernama Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Akibat penentangan tersebut, tak segan Walid II melakukan penangkapan besar-besaran terhadap sesama keluarga Bani Umayyah. Putra putri Walid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik menjadi sasaran. Waktu itu Yazid bin Walid bin Abdul Malik dapat meloloskan diri terhindar dari penangkapan, namun Sulaiman bin Hisyam tertangkap lalu dicambuk, digunduli dan dihinakan di depan orang banyak, serta dijebloskan dalam penjara.

Dengan kejadian tersebut timbul keretakan dan efek kebencian di dalam tubuh istana sendiri. Dan masyarakat pun sudah semakin geram dengan perilaku khalifah. Apalagi ketika  sebelumnya pernah terjadi Walid II dengan sombongnya pergi ke baitullah dengan membawa anjing dan hendak duduk diatas kaabah dengan kanopinya, dengan tujuan melecehkannya.

Kudeta terhadap Khalifah

Pelarian Yazid bin Walid akhirnya  menuai banyak dukungan. Penduduk Yaman, Suriah dan Palestina sepakat untuk mengangkat Yazid bin Walid guna menggantikan Walid II. Maka dihimpunlah pasukan perlawanan untuk mengepung istana Walid bin Yazid di Damaskus.

Ketika itu Walid II mencoba mengerahkan tentara pasukan penjaga serta menaikan gajinya berlipat-lipat. Namun ternyata pasukannya itu bukan membantu menjaganya, mereka malah membelot bergabung dengan pasukan Yazid bin Walid. Tinggalah Walid II sendirian yang berteriak histeris.

"Bukankah aku telah meringankan beban kalian? Bukankah aku telah banyak memberikan hadiah? Bukankah aku telah memberi makan orang-orang fakir kalian??"

Para pengepungnya lantas menjawab, "Kami tidak membencimu sebab lantara kami sendiri, namun karena engkau banyak melanggar batas-batas aturan Allah, meminum minuman keras, menikahi istri ayahmu dan melecehkan Allah..!!"

Meninggalnya Khalifah

Khalifah Walid bin Yazid akhirnya meninggal pada usia 40 tahun. Kepalanya dipancung. Dia hanya berkuasa selama satu tahun 22 hari saja.


(Bersambung)


Senin, 19 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Hisyam bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


HISYAM BIN ABDUL MALIK



Naik Tahta

Hisyam bin Abdul Malik naik tahta menggantikan saudaranya yakni Yazid bin Abdul Malik, pada tahun 105 H di usia 34 tahun. Hisyam bin Abdul Malik adalah seorang ahli strategi, mewarisi bakat ayahnya dalam hal mengelola pemerintahan.

Ancaman dari berbagai penjuru

Pada masa kekuasaannya banyak pihak yang mengancam kekuasaan Daulat Islamiyah. Diantaranya sebelah timur terjadi penggantian kekaisaran Cina, sepeninggal Empress Wu, Dinasti Tang berhasil pulih dalam kemelut berkepanjangan internal mereka. Di bawah penguasa baru Kaisar Hsuan Tsung, Kerajaan Cina Tiongkok kembali berupaya merebut wilayah Sinkiang (Turkestan Timur) dari tangan kaum muslimin yang pernah ditaklukan Panglima Qutaibah bin Muslim.

Sementara itu di sebelah utara, Kaisar Romawi Leo III sudah menyiapkan ribuan balatentaranya untuk merebut kembali Asia Kecil yang sudah ditaklukan kaum muslimin sebelumnya. Dua pasukan besar sudah siap berhadapan.

Di sebelah barat terjadi pemberontakan suku Barbar di Libya dan Aljazair menolak kepemimpinan khalifah di Damaskus. Di selatan, kaum Khawarij yang bertempat di Yaman dan Irak berusaha melepaskan diri dari kekuasaan khilafah. Sementara itu kaum 'Alawi  pimpinan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib di Kufah dan Khurasan pun mengambil langkah sama. Disinyalir inilah benih-benih kebangkitan daulah Bani Abbasiah.

Namun khalifah Hisyam bin Abdul Malik mampu menangani ancaman tersebut dan menyelamatkan kaum muslimin dari kehancuran. Beliau mampu bersikap tegas dibantu saudaranya Panglima Maslamah bin Abdul Malik dan para jendral perang lainnya yang cakap, sehingga serangan-serangan dapat dipatahkan. Bahkan beliau sanggup melakukan serangan balik dan memukul mundur musuh-musuhnya.

Serbuan Andalusia ke Perancis

Bahkan di Andalusia sanggup mengembangkan wilayahnya menerobos wilayah Perancis. Ketika Panglima Sammah bin Malik Al Khaulani gubernur Andalusia gugur, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik segera mengangkat panglima Anbasa bin Suhain sebagai penggantinya. Dengan cepat panglima Anbasa menghimpun pasukan hingga ke pegunugan Pyrennes dan berhasil menaklukkan Narbonne, Perancis Selatan. Dilanjutkan dengan jatuhnya Marseilles, Avignon dan Lyon, terus menerobos wilayah Burgundy. Ketika pasukan tiba di benteng shines, menyusuri sungai Shines 100 mil dari Paris, ibukota Neustria (Perancis), mendapat perlawanah gagah perkasa dari bangsa Frank, pimpinan jendral mereka yang terkenal bernama Karel Martel. Dalam pertempuran tersebut gugurlah Panglima Anbasa bin Suhain.

Andalusia kehilangan gubernur. Tatkala Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mendengar berita tersebut, beliau langsung mengangkat Abdurrahman Al Ghafiqi sebagai gubernur Andalusia menggantikan Anbasa. Pasukan pun kembali dihimpun. Persiapan kembali dimulai.

Abdurrahman Al Ghafiqi bukan sekedar panglima biasa tapi juga seorang ulama yang shalih. Beliau banyak menghimbau agar warga Andalusia memperbanyak taat kepada Allah dan menjauhi maksiat, karena kemenangan Allah bersama orang-orang yang taat dan sabar. Selama menjabat beliau banyak memberikan motivasi moril dan spiritual. Ketika intstruksi khalifah untuk mengembangkan wilayah tiba, Abdurrahman AlGhafiqi mempersiapkan dengan hati-hati, karena cuaca wilayah Perancis teramat dingin. Beliau ahli strategi dan jeli melihat situasi. Tindakannya tersebut membuahkan hasil, pasukan Karel Martel dibuat kalangkabut kocar-kacir dan terdesak mundur. Banyak ghanimah didapat dari kemenangan tersebut. Wilayah Aquitania dan ibukotanya Toulousse dapat dikuasai pasukan Abdurrahman Al Ghafiqi. Karel Martel mundur ke benteng Aungolemme.

Nama Al Ghafiqi terasa menggetarkan seluruh Perancis, sehingga Raja Theodorick IV membuat sebuah instruksi perlawanan semesta agar seluruh warga Perancis bangkit turut serta dalam perlawanan di bawah komando Karel Martel. Maka terjadilah peperangan yang amat dahsyat. Hampir saja kaum muslimin meraih kemenangan, andai saja mereka tidak terlena ghanimah perang yang berlimpah. Di sebuah tempat bernama Tours, Karel Martel melakukan serangan ganda, sasarannya adalah kemah-kemah tempat ghanimah berada. Ketika pasukan muslimin terpecah mempertahankan ghanimah, gelombang serangan lebih besar menghajar pasukan utama pimpinan Al Ghafiqi yang sebagian besar tentaranya menjaga tenda. Dalam pertempuran tersebut Abdurrahman Al Ghafiqi gugur sebagai syuhada. Dan perjalanan pasukan kaum muslimin pun terhenti, dan dipaksa pulang kembali ke Andalusia.

Para ahli sejarah menyampaikan, andaikata kaum muslimin berhasil menguasai Perancis, tentu sejarah Eropa akan berubah tidak seperti sekarang. Di belakang Perancis masih menunggu Germania, dan Romawi Barat.

Akhir Sang Khalifah

Sementara itu kemelut di Asia Kecil berhasil dipadamkan Khalifah. Pasukan Romawi Timur yang ingin menguasai wilayah itu berhasil dihalau mundur, setelah khalifah mengirimkan Panglima Said Khuzainah dari Khurasan turut membantu Maslamah bin Abdul Malik.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat karena sakit pada usia 55 tahun, tahun 125 H, setelah kurang lebih 25 tahun berkuasa. Sebelum meninggal beliau mewasiatkan bahwa penerusnya adalah Walid bin Yazid, sesuai wasiat mendiang Yazid bin Abdul Malik.

(Bersambung)








Sejarah Bani Umayyah (Yazid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


YAZID BIN ABDUL MALIK



Wasiat sepupu yang sholeh

Di saat-saat terakhir jelang wafatnya, khalifah Umar bin Abdul Aziz menunjuk sepupunya, Yazid bin Abdul Malik untuk menggantikannya sebagai khalifah. Umar berpesan agar Yazid meneruskan jejak langkahnya guna meluruskan sejarah kelam Bani Umayyah, melaksanakan negara sesuai syariat Rasulullah dan berpegang teguh kepada Alquran dan sunnah.

Yazid bin Abdul Malik pun menjalankan wasiat sepupunya khalifah yang sholeh tersebut. Di awal pemerintahaannya khalifah Yazid bin Abdul Malik banyak mencontoh kepada jejak langkah Umar bin Abdul Aziz. Ternyata hal ini membuat para penghuni istana gelisah, terutama mereka yang mengharapkan adanya perubahan status quo dan gelimang harta kembali ke pangkuan mereka.

Kembalinya Hedonisme Bani Umayyah

Mendapat tekanan sedemikian rupa, khalifah Yazid bin Abdul Malik pun menyerah. Tatanan kebijakan dan kehidupan bernegara yang sudah diprakarsai oleh Umar bin Abdul Aziz ternyata hanya mampu bertahan selama 40 hari saja. Selanjutnya khalifah membuat kebijakan baru, yaitu mengembalikan kekuasaan dan segala properti kekayaan kepada istana, segala hak para pejabat istana yang di masa Umar bin Abdul Aziz dicabut untuk mengisi baitul mal, kini diambil dan dikembalikan lagi kepada istana. Kontan mereka pun mendapatkan kembali kemewahan seperti dahulu sebelumnya.

Bahkan khalifah Yazid sendiri sudah melupakan pesan dari Umar bin Abdul Aziz tentang kesederhanaan dan kehidupan akhirat. Kini hidupnya diisi dengan sering berpesta-pora dan meminum minuman keras. Bahkan Yazid terkenal suka bermain dengan para wanita nakal. Bahkan banyak terdapat dayang-dayang yang begitu istimewa di sisinya, lebih istimewa dari urusan pemerintahan yang seharunya diurusinya.

Prestasi Yazid bin Abdul Malik

Berbicara prestasi, khalifah Yazid sama sekali kurang cakap menjalankan pemerintahan. Terbukti disana-sini banyak terjadi pemberontakan rakyat kepada pemerintah, sebagai bukti antipatinya mereka terhadap khalifah. Namun berbagai gejolak itu dapat dipadamkan oleh khalifah dengan menggunakan tangan besi.

Itu pun atas bantuan saudaranya Jendral Perang Maslamah bin Abdul Malik yang melakukan pembasmian dan pemusnahanterhadap beberapa kalangan yang dianggap pemberontak, seperti misalnya pada keluarga Yazid bin Muhallib yang ditumpas bersama seluruh keluarganya tanpa sisa. Peristiwa berdarah tersebut menyisakan luka dendam di hati rakyat dan kebencian mereka terhadap daulat Bani Umayyah, dan menimbulkan bibit-bibit perlawanan yang lebih besar lagi...

Pernah juga khalifah melakukan penaklukan ke wilayah Armenia Utara, sekitar Danau Laut Kaspia dan wilayah Khazars (Rusia). Sementara di sebelah barat, para gubernurnya mampu melakukan perluasan wilayah sampai ke Perancis Selatan, Avignon, Toulun dan Lyon.

Khalifah Meninggal

Pada akhirnya setelah 4 tahun berkuasa, khalifah Yazid bin Abdul Malik pun meninggal, dalam kondisi seperti orang linglung. Satu riwayat mengatakan beliau terkena sakit paru, namun riwayat lain mengatakan bahwa khalifah merana berkepanjangan akibat meninggalnya salasatu dayang terkasihnya yang bernama Hubabah, sehingga menyampaikan dia pada ajalnya sendiri...

Sebelum meninggalnya, Yazid bin Abdul Malik sempat menunjuk penggantinya dua orang, pertama saudaranya sendiri yaitu Hisyam bin Abdul Malik, kedua anaknya bernama Walid bin Yazid.

(Bersambung)

Sejarah Bani Umayyah (Umar bin Abdul Aziz)

SEJARAH BANI UMAYYAH


UMAR BIN ABDUL AZIZ



Latar Belakang

Sejak masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, namanya sudah disebut-sebut sebagai gubernur Madinah yang adil dan pemersatu umat serta dapat diterima oleh seluruh kalangan tabiin cucu para sahabat Muhajirin Anshar di Madinah, yang sempat terluka gara-gara perlakuan para khalifah Bani Umayyah sebelumnya terhadap mereka.

Sikapnya yang lembut dan toleran itu menimbulkan kasus lain, yakni berbondong-bondongnya rakyat berpindah dari Irak ke Madinah demi mendengar gubernurnya yang sholeh dan adil serta lembut memperlakukan warganya. Berbanding terbaik dengan kelakuan gubernur Irah saat itu yakni Hajaj bin Yusuf, yang begitu keras dan kejam terhadap warganya sendiri.

Migrasi besar-besaran warga Irak ke Madinah menimbulkan perasaan gusar dan marah di hati gubernur Irak Hajaj bin Yusuf. Sebagai penguasa besar yang ditakuti semua kalangan kejadian tersebut seoloah pelecehan dan tamparan keras bagi dirinya. Lalu Hajaj berkirim surat kepada Khalifah Al Walid untuk mencopot gubernur Madinah saat itu agar diganti dengan selainnya. Hajaj sebagai orang kepercayaan istana sejak masa ayahnya yaitu Abdul Malik bin Marwan, rupanya masih disegani dan memiliki pengaruh kuat, sehingga Al Walid pun menuruti kemauan Hajaj dengan memberhentikan Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah.

Namun setelah Al Walid wafat dan digantikan saudaranya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz kembali ditarik ke istana diangkat sebagai menteri dan penasehat khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Hampir seluruh kebijakan Sulaiman adalah atas campur tangan Umar, termasuk kebijakan mengganti beberapa pejabat korup dan pejabat yang dapat menggaggu dan merongrong kekuasaan khalifah, terutama mereka yang pro Hajaj dan menentang naiknya Sulaiman sebagai khalifah. Dan diantara korban kebijakan tersebut adalah Muhammad bin Qosim, Qutaibah bin Muslim, keduanya adalah pengikut Hajaj bin Yusuf dan dianggap menentang dan memberontak terhadap khalifah yang baru. Sementara itu Musa bin Nushair penguasa Afrika dan Thariq bin Ziyad pun mengalami nasib yang sama, karena mereka disinyalir hendak melepaskan diri dari Daulah Umayyah dan mendirikan dinasti sendiri di Afrika dan Andalusia.

Pola pikir Umar yang agamis pragmatis banyak mempengaruhi khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, sehingga diakhir menjelang wafatnya dia tidak menunjuk putranya sebagai penerus tahta, namun justru menunjuk Umar bin Abdul Aziz dalam surat wasiat yang dibacakan sepeninggalnya.

Naik Tahta Khalifah

Usai prosesi penguburan jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, seluruh istana berkumpul di Masjid Umayyah Damaskus, demi mendengarkan surat wasiat khalifah tentang orang yang ditunjuk sebagai penggantinya. Diantara yang hadir terdapat para ulama dan seluruh keluarga khalifah termasuk adik-adik dari khalifah yakni Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Fatimah binti Abdul Malik dan suaminya Umar bin Abdul Aziz.

Tatkala surat dibacakan oleh seorang ulama istana bernama Raja' bin Hayyawah, terteralah nama pengganti khalifah itu : Umar bin Abdul Aziz. Seketika suasana hening. Samar terdengar seseorang mengucapkan istirja' : innalillahi wa innailaihi roojiuun..itulah suara yang keluar dari bibir khalifah terpilih yang baru. 

Seolah semua orang sontak tersadar dan menunjukkan reaksi beraneka ragam. Hisyam bin Abdul Malik adik khalifah sendiri dengan geram berucap :"aku tidak akan mematuhi dia...". Ketika ucapannya terdengar Raja bin Hayawah dia berkata :"bagi siapa yang tidak mentaati wasiat ini maka lehernya akan dipenggal..!"

Maka setelah itu seluruh istana dan rakyat melakukan baiat terhadap khalifah yang baru, Umar bin Abdul Aziz, pada tahun 99 H di usia 37 tahun.

Nasab dan keluarganya

Seperti pernah disampaikan bahwa Umar bin Abdul Aziz sendiri bukanlah orang lain bagi kalangan istana Damaskus. Beliau masih putra dari Abdul Aziz bin Marwan, gubernur Mesir yang merupakan adik dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. 

Lahir di Madinah pada tahun 61 H di masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab alias Ummu Ashim.Jadi Umar bin Abdul Aziz masih merupakan cicit dari Umar bin Khattab. Kisah nasab mulia ini berawal dari Abdullah bin Aslam, yang bertutur bahwa ayahnya Aslam pernah menemani khalifah Umar bin Khattab melakukan ronda malam keliling kota Madinah. Sampai disuatu tempat terdengar dialog antara seorang ibu dan anak gadisnya.

"Anakku, ambilkan air untuk mencampur susu ini biar kelihatan banyak", kata sang ibu.
"Tapi, yang demikian itu tidak dibolehkan oleh amirul mukminin ibu, dan termasuk penipuan" jawab anaknya.
"Tidak apa, yang lain juga banyak yang melakukan, lagi pula amirul mukminin tidak akan tahu." ibunya menimpal.
"Jika amirul mukminin tidak tahu, tuhannya amirul mukminin pasti melihat.."ujar anaknya.

Tatkala mendengar dialog tersebut, Umar merasa takjub dengan ucapan anak si ibu yang sholihah tersebut. Segera ketika pulang ke rumah, Umar menemui Ashim anaknya dan menyuruh agar menikahi gadis anak penjual susu tersebut. Dan Ashim pun taat, sampai terjadilah pernikahan barakah tersebut dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Laila binti Ashim. Dialah yang ketika dewasa dinikahi oleh Abdul Aziz putra Abdul Malik bin Marwan, dan menjadi ibunya Umar bin Abdul Aziz.

Sifat dan Rupa Umar bin Abdul Aziz

Sifat Umar bin Abdul Aziz berbeda dengan para khalifah pendahulunya. Rupanya darah serta didikan masa kecil turut membantu membentuk kepribadianya. Sejak lahir hidup dilingkungan agamis, dikelilingi ahli ilmu dan orang-orang sholeh dari kalangan sahabat dan tabiin. Umar sendiri tinggal dalam asuhan kakek pamannya yakni Abdullah bin Umar bin Khattab, salaseorang tokoh terkemuka ahli hadits di kota Madinah, dan menjadi pusat rujukan para tabiin. Guru-gurnya adalah para tokoh sahabat nabi dan tabiin terkemuka di Madinah, semisal Said bin Musayab, Anas bin Malik, Abdullah bin Jafar dan lain-lain. Tak heran bila Umar tumbuh menjadi pemuda yang faqih, ahli hadits, ahli ilmu, hafidz quran, dan hatinya yang lembut mudah tersentuh perasaanya ketika berbicara tentang akhirat.

Perawakan Umar bin Abdul Aziz tinggi sedang kurus dan tampan. Di dahinya ada tanda bekas luka kecelakaan kuda semasa kecil. Usai menimba ilmu di Madinah Umar mendampingi ayahnya di Mesir. Namun ketika ayahnya wafat, khalifah Abdul Malik yakni kakak ayahnya (uwak) memintanya untuk tinggal di istana Damaskus mendampingi putra-putranya. Bahkan khalifah Abdul Malik juga menikahkan Umar dengan salaseorang puterinya bernama Fatimah binti Abdul Malik.

Ketika Al Walid bin Abdul Malik naik tahta, Umar diangkat menjadi gubernur Madinah dan diminta agar memperbaiki hubungan baik dengan para keturunan ahli madinah, seusai kejadian pahit ulah para khalifah sebelumnya terhadap keluarga nabi di kota tersebut. Umar yang masih dianggap bagian keluarga Madinah dianggap berhasil menyelesaikan konflik madinah tersebut. Namun seperti sudah dituturkan, sikapnya tersebut memancing kedengkian Hajaj bin Yusuf gubernur Irak, dan mengakibatkan tersingkirnya Umar dari arus kekuasaan pada masa Al Walid.

Namun ketika Sulaiman bin Abdul Malik naik tahta, beliau justru mengangkat Umar sebagai wazir dan tangan kanannya yang mengakibatkan suhu politik berubah.

Sikap Politik Umar bin Abdul Aziz

Umar sudah menduga akan beratnya amanah sebagai pemimpin. Dia pernah mengalami itu semasa menjabat sebagai gubernur. Kini amanah tersebut kembali menimpa dirinya bahkan kali ini lebih besar lagi, yakni pucuk pimpinan tertinggi kaum muslimin, dimana segala kebijakan kekuasaan ada pada telunjuknya...

Sejak awal sudah terlihat bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini berbeda dengan para khalifah sebelumnya, yang hidup bermewah-mewah dan senang berpesta pora. Sejak dilantik menjadi khalifah, yang ada dalam pikiran Umar adalah nasib rakyat miskin, orang-orang yang terzalimi dan susah, dan tentu itu semua akibat kelalaian dan kesalahan seorang khalifah seperti dirinya. Maka sejak itu dia sedekahkan seluruh hartanya ke baitul mal, dan hidup secara sederhana. Bahkan waktu-waktunya pun banyak tersitu untuk mengurus rakyat. 

Umar lebih banyak fokus terhadap pelaksanaan masalah syariat islam secara merata penyebarannya ke seluruh wilayah kekuasaannya. Banyak guru-guru didatangkan untuk mengajar agama. Zakat dimaksimalkan ke baitul mal, kaum duafa dan orang-orang miskin diprioritaskan untuk dicukupi kebutuhannya. Para pejabat yang dianggap korup dan zalim diganti. Dibentuk hakim-hakim yang adil dal menghukumi perkara.

Kebijakannya yang adil dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, kecuali oleh kalangan istana yang terbiasa hidup bermewahan, sekarang merasa dikekang dan dibatasi aturan syariat. Namun Umar sendiri tidak peduli. Semasa jabatan khalifah ada pada dirinya dia akan berusaha agar mampu memaksmalkan terlaksananya syariat Islam baik di dalam istana maupun di seluruh kawasan Islam. Keadilannya amat terkenal. Bahkan hampir tidak ada lagi ditemukan kaum dhuafa dan miskin, karena semua sudah tercukupi oleh negara.

Khalifah sendiri hidupnya membatasi diri. Pernah dikatakan seorang kerabat istana kepada istrinya agar khalifah mengganti bajunya yang itu-itu saja. Fatimah sang istri menjawab, "memang baju khalifah cuma itu satu-satunya.." Sikap zuhudnya Umar bin Abdul Aziz disebut menyamai kakek buyutnya yaitu Umar bin Khattab. Keadilan semasa kekuasaannya banyak yang menyamakan setara dengan keadilan dimasa Khulafaurrasyidin.

Kegoncangan istana dan wafatnya khalifah

Sikap politik dan kebijakan Umar bin Abdul Aziz yang dianggap aneh dan bertentangan dengan gemerlap dan mewahnya istana tentu saja menimbulkan antipati beberapa kalangan. Sebagian merasa dirugikan karena jabatannya dicopot oleh Umar, dan sebagian lagi merasa terpaksa karena harus menyerahkan sebagian besar hartanya untuk baitul mal.

Beberapa hal diatas melatar belakangi peristiwa dirancangnya rencana guna menghentikan sikap khalifah yang telah dianggap merugikan istana. Konspirasi pun dibuat untuk melenyapkan khalifah. Sebetulnya tidak susah untuk membunuh khalifah Umar, karena hidupnya sederhana, dan ketika berjalan-jalan ke pasar pun nyaris tanpa pengawalan sama sekali. Namun mereka tidak mau terlalu mencolok dan menyebabkan kehebohan.

Rencana menghabisi khalifah akhirnya diputuskan dengan cara menaburkan racun ke dalam makanan beliau. Eksekutor tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh saloaseorang budaknya yang bernama Alas.

Tatkala khalifah telah memakan makanan beracun tersebut, dan kontan racun pun bereaksi menjalar keseluruh tubuhnya, beliau memanggil seluruh penghuni istana, termasuk si tukang masak bernama Alas.

"Apa yang menyebabkan engkau meracuniku?" tanya khalifah dengan nafas tersengal
"mereka menjanjikan 1000 dirham dan kebebasanku" jawab budak bernama Alas itu jujur mengaku.

Umar pun mengambil yang 1000 dirham dan memasukannya ke baitul mal, kemudian membebaskan Alas menjadi orang merdeka sebelum detik-detik kematiannya tiba.

Begitulah, khalifah yang sholeh dan jujur serta adil dalam melayani rakyat harus berakhir dengan cara mengenaskan. Beliau hanya memerintah selama 2 tahun dan wafat pada tahun 101 H pada usia 39 tahun. Namun waktu yang 2 tahun itu dianggap sebagai puncak keadilan dan kesholehan dinasti Umayyah terhadap kaum muslimin, dimana rakyat hampir semua dapat merasakan keberkahan pemimpin mereka. 

Kebesarah dan keluhuran budi khalifah Umar bin Abdul Aziz bahkan sempat sampai ke telinga seorang raja kerajaan Sriwijaya di timur jauh pulau Andalas (Sumatra). Bahkan surat Raja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman  tersebut sempat diabadikan dalam sebuah catatan Abdu Rabah (860-950) dan tersimpan hingga kini di Musiem Bani Umayyah, Madrid Spanyol. Berisi tentang perimtaan raja untuk didatangkan para ulama Islam untuk mengajar di Sriwijaya. Sehingga dimungkinkan Sriwijaya pada waktu itu sudah merupakan kerajaan muslim di Nusantara.

Adapun khalifah yang sholeh itu, takdir Allah telah berlaku bahwa Allah menetapkan kematiannya sebagai syuhada, sama seperti kakek buyutnya yang juga syahid ditangan seorang kafir majusi bernama Abu Lulu.

Tidak banyak harta warisan yang beliau tinggalkan untuk keluarganya selain beberapa dirham saja. Namun keluarga Umar mendapat barakah dari kesalehan sang ayah, di beberapa tahun kemudian rezeki mereka Allah lapangkan sehingga mampu menyumbang ratusan kuda dan perbekalan peperangan dalam jihad fisabilillah mempertahankan kaum muslimin..

(bersambung)





Senin, 12 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Sulaiman bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


SULAIMAN BIN ABDUL MALIK



Latar Belakang

Sulaiman bin Abdul Malik lahir pada tahun 674 di Damaskus. Sebagai putra mahkota kedua dia harus rela ketika ayahnya menunjuk sang kakak - Al Walid - sebagai penerus khalifah setelah ayah mereka wafat. Sulaiman harus puas dengan menjadi gubernur di wilayah Palestina. Kesehariannya diisi dengan mendalami ilmu agama, sehingga jiwanya lebih bersih dari pengaruh kekuasaan dan kerakusan duniawi.

Hatinya menangis ketika mendengar derita yang dialami oleh saudara-saudara muslimnya di wilayah Irak, Basrah, Kufah dan sekitarnya, yang mengalami penindasan kezaliman dari salaseorang pembantu ayahnya yaitu Hajaj bin Yusuf, sehingga timbul rasa benci kepada orang tersebut. Setiap kali diadakan pertemuan bersama ayahnya di istana, Sulaiman selalu berpaling dan menghindari pembicaraan dengan Hajaj. Baginya manusia itu bermuka dua dan musuh kaum muslimin. Namun apa daya ayahnya begitu memuja dan memberika ruang kebebasan kepadanya.

Ketika menjelang wafat kakaknya - yakni Al Walid - terdengar desas-desus untuk mencopot gelar putra mahkota pada dirinya, yang berakibat hilangnya hak kekuasaan yang seharusnya dia miliki. Terbayang rintihan dan air mata kaum muslimin olehnya, maka dia pun menunda keberangkatannya ke Damaskus ketika kakaknya memanggil. Dan nasib baik masih berpihak kepadanya, ternyata kakanya keburu wafat sebelum mengikrarkan tentang pencopotan jabatan putra mahkotanya. Sehingga otomatis selepas itu - sesuai amanat - dia lah yang harusnya memangku jabatan sebagai khalifah penerus berikutnya...

Diangkat menjadi Khalifah

Sulaiman naik sebagai khalifah pada tahun 715 (97H) pada usia 42 tahun, menggantikan sang kakak yang wafat ditahun tersebut. Sebagai pangeran mahkota putra Abdul Malik bin Marwan, tentu kemampuan taktik perang dan tata negara Sulaiman pun tidak dapat diabaikan. Terbukti cara dia menjalankan langkah-langkah dalam membungkam orang-orang yang tidak sesuai dengan prinsipnya.

Yang pertama dilakukannya adalah mengganti gubernur-gubernur yang diangkat oleh kakaknya, Al Walid. Diantara gubernur yang dipecat adalah gubernur Madinah Utsman bin Hayan, yang dulu menggantikan Umar bin Abdul Aziz atas instruksi Hajaj bin Yusuf. Juga gubernur Mekkah dan gubernur Khurasan Qutaibah bin Muslim Ats Tsaqafi, tangan kanan Hajaj di Khurasan.

Secara umum dilakukan pembersihan besar-besaran, karena tokoh-tokoh tersebut terlibat upaya penjegalan atas status putra mahkota yang hendak dialihkan oleh kakaknya kepada anaknya. Bahkan Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad pun turut terkena getah pemecatan pula. Angin politik berubah.

Yang dulu dijaman Al Walid begitu mati-matian membela, kini terkena dampaknya. Sementara yang dahulu disingkirkan Al Walid seperti halnya Umar bin Abdul Aziz, sekarang diangkat menjadi tangan kanan khalifah.

Surat Politik Qutaibah bin Muslim

Tatkala Sulaiman dinobatkan sebagai khalifah, Qutaibah yang sebelumnya bersama Hajaj bin Yusuf getol menggembosi upaya penggagalan putra mahkota sulaiman, sekarang berubah menjadi rasa cemas. Akhirnya memutuskan mengirim tiga pucuk surat kepada khalifah yang baru. Pertama isinya ucapan selamat atas penobatan khalifah dan berjanji setia, serta permohonan agar posisinya sebagai gubrnur tidak diganti. Surat kedua, mengenai ancaman bila khalifah berani menggantinya akan terjadi pergolakan. Surat ketiga, tentang ancaman kengerian yang akan dialami khalifah apabila mengganggunya dan dia akan melancarkan pemberontakan massif.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, selain putra dari Abdul Malik bin Marwan, adalah seorang yang fasih berpidato, ahli strategi dan juga jendral perang. Baginya ancaman Qutaibah ini tidak bisa dihentikan selain dengan strategi pula. Maka dengan menunda kepulangan utusan Khurasan membuat Qutaibah semakin gelisah, apakah khalifah menerimanya atau menolak. Qutaibah semakin dihantui perasaannya sendiri sehingga melakukan pergerakan sendiri untuk memberontak kepada khalifah. Namun ternyata masih banyak anak buahnya yang setia kepada khalifah di pusat. Perbuatan Qutaibah ini justru memancing kebencian dikalangan militernya sendiri, sehingga terjadi perlawanan, dan akhirnya Qutaibah pun tewas ditangan laskarnya sendiri. Sebagai gantinya diangkat Wakki at Tamimi. Namun tidak lama diganti oleh Yazid bin Muhallab, sebagai gubernur yang berkuasa di wilayah Irak dan Iran.

Adapun nasib Musa bin Nushair, setelah tiba di Damaskus karena berkabung dan menghadiri penobatan khalifah baru, dia langsung di pecat dan diasingkan ke Madinah. Keluarganya semua di Afrika utara dicopot dari jabatannya dan diganti dengan orang-orang yang loyal kepada Sulaiman bin Abdul Malik. Seperti Abdul Malik bin Musa gubernur Afrika dicopot dan diganti Muhammad bin Yazid. Sementara Abdul Aziz bin Musa gubernur Andalusia, yang berkedudukan di Toledo, dikudeta oleh rakyatnya sendiri hingga terbunuh. Kemudian khalifah Sulaiman mengangkat Abdurrahman Atstsaqafi sebagai penggantinya.

Prestasi Politik

Dalam bidang politik Sulaiman pernah mengirim pasukan besar untuk menaklukan Konstantinopel di bawah pimpinan saudaranya sendiri yaitu Maslamah bin Abdul Malik. Bahkan khalifah pun turut serta berperang. Setelah sekian lama mengepung benteng byzantium yang terkenal kokoh, khalifah pun sakit keras. Pengepungan akhirnya mengalami kegagalan dan banyak pahlawan muslimin yang gugur dalam peperangan.

Wafatnya Khalifah

Khalifah Sulaiman hanya 2 tahun memerintah. Diakhir hidupnya sepulang dari peperangan melawan konstantinopel beliau sakit keras, dan memwasiatkan untuk menyiapkan pengganti bila dia tak berumur panjang. Pada mulanya khalifah Sulaiman hendak mengangkat putranya sebagai khalifah, namun beberapa ulama memberinya masukan agar dipilih yang lain yang kemungkinan mampu menjadi pemimpin terbaik bagi umat.

Pilihan jatuh kepada penasehat dan tangan kanannya, yakni sepupunya sendiri, Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata pilihan ulama tidak lah meleset. Kelak berikutnya Umar bin Abdul Aziz mampu membawa Bani Umayyah kembali ke pola Khulafaurrasyidin dan menjalankan seluruh syariat islam secara adil dan sejahtera...

(Bersambung)






Sejarah Bani Umayah (Para Penakluk Dunia)


SEJARAH BANI UMAYAH


PARA PENAKLUK DUNIA



Sejarah kali ini kita akan mengupas lebih detail tentang proses pengembangan wilayah islam di masa khalifah Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Karena kami anggap ini prestasi fenomenal dalam sejarah, terkait individu para penakluk, dan perjalanan panjang mereka...

Inilah kisah tentang para penakluk dunia di masa khalifah Al Walid bin Abdul Malik, sebelum disusul para pahlawan berikutnya. Fenomenal karena prestasi ini membuka jalan pengembangan islam yang melahirkan generasi-generasi terbaiknya...

Para penakluk yang akan kita kisahkan ini adalah Muhammad bin Qasim (Penakluk Hindustan), Qutaibah bin Muslim (Penakluk Tiongkok) dan Thariq bin Ziyad (Penakluk Andalusia/Spanyol)

Mari kita simak bersama...

---------------


PENAKLUKAN HINDUSTAN (Muhammad bin Qashim)


Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir oleh kabilah Tsaqif yang mendiami wilayah Thaif tersebut. Lalu datanglah Malaikat Jibril yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung menyapa Rasulullah dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah ‘Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga”. (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Kurang lebih satu abad kemudian, salah seorang putra dari bani Tsaqif membuat orang-orang India terkagum-kagum dengan agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra bani Tsaqif tersebut adalah Muhammad bin al-Qashim ats-Tsaqafi.

Kelahiran Muhammad bin al-Qashim

Muhammad bin al-Qashim dilahirkan di Thaif pada tahun 72 H, kakeknya Muhammad bin al-Hakam adalah pembesar bani Tsaqif. Pada tahun 75 H, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi diangkat oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan menjadi gubernur Irak, Hajjaj pun mengangkat pamannya al-Qashim, ayah dari Muhammad bin al-Qashim, menjadi wali di wilayah Bashrah. Akhirnya Muhammad yang kala itu baru berumur 3 tahun turut pindah bersama ayahnya dari Thaif (sebuah kota di dekat Mekah) menuju Bashrah di Irak.

Hajjaj yang terkenal dengan pemimpin yang menaruh perhatian sangat besar dalam kekuatan militer dan ekspansi, mempengaruhi jiwa sepupunya Muhammad bin al-Qashim. Muhammad tumbuh dalam lingkungan militer, ia berlatih menunggang kuda sejak kecil, dan turut serta dalam latihan-latihan bela diri dan peperangan, sampai akhirnya ia menjadi seorang panglima perang umat Islam.

Karakter Muhammad bin al-Qashim

Sebagaimana yang terjadi di dunia militer modern, seorang panglima memiliki leadership, keberanian, pemikiran yang matang, dan sifat-sifat lainnya yang membantunya membuat keputusan cepat dan tepat terutama saat berada di medan perang, Muhammad bin al-Qashim juga dianugerahi sifat-sifat demikian. Bisa jadi sifat-sifat ini muncul karena lingkungan masa kecilnya yang menempa dirinya. Terbukti pada usia 17 tahun ia dipilih oleh Hajjaj bin Yusuf memimpin pasukan besar menuju India.

Hajjaj bin Yusuf pernah menasihatinya agar berbuat baik terhadap musuh, memahami dan mengasihi mereka. Namun yang terpenting kata Hajjaj, tunjukkanlah keberanianmu bahwa engkau tidak takut peperangan dan kematian.

Di antara kebiasaan Muhammad al-Qashim adalah ia pasti membangun masjid di setiap daerah-daerah yang ia taklukkan. Menurutnya masjid sebagai simbol eksistensi ajaran Islam dan penyebaran keilmuan dan kebudayaan Islam.

Menaklukkan India
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Islam tidak menyebarkan ajarannya dengan pedang, akan tetapi ada latar belakang yang menjadi alasan mengapa ekspansi itu dilakukan. Pada tahun 90 H, 12 kapal laut yang memuat barang-barang dagangan, pedagang, dan wanita muslimah ditangkap oleh perompak di wilayah Sindh (Pakistan). Hajjaj bin Yusuf pun menyiapkan pasukan untuk membebaskan umat Islam dari tawanan bajak laut Hindustan ini.

Hajjaj mengutus Abdullah bin Nahban, namun ia gugur dalam misi ini. Kemudian pemberangkatan kedua dipimpin oleh Budail bin Thahfah al-Bajali, Budail pun mengalami nasib serupa dengan Abdullah bin Nahban. Hajjaj pun marah besar setelah melihat pasukan-pasukannya dikalahkan oleh orang-orang Sindh, ia bersumpah untuk menaklukkan negeri ini dan berjanji agar umat Islam bisa memasuki pusat kota negeri tersebut.

Setelah Hajjaj berdiskusi dengan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, terpilihlah Muhammad bin al-Qashim sebagai panglima perang dalam ekspansi menuju India. Hajjaj memandang, Muhammad bin al-Qashim memiliki keberanian, berjiwa komando, dan memiliki keteguhan hati.

Muhammad bin al-Qashim segera membekali pasukannya dengan alat-alat perang, termasuk alat berat seperti manjanik. Setelah persiapan di rasa cukup, berangkatlah Muhammad bin al-Qashim bersama 20.000 pasukan terbaik menuju India, pemberangkatan pasukan ini terjadi pada tahun 90 H.

Sepanjang perjalanan menuju India, kota demi kota berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim beserta pasukannya. Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, akhirnya Muhammad bin al-Qashim memasuki wilayah Sindh. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menggali parit besar dan bersiap-siap untuk menghadapi peperangan dengan pasukan Sindh yang dipimpin oleh Raja Dahir Sen.

Peperangan dahsyat pun terjadi antara kedua pasukan besar ini. Namun, orang-orang Sindh tidak bisa menyamakan Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya dengan dua pasukan terdahulu. Selain memiliki jenderal perang yang tangguh, perbekalan materi dan jumlah pasukan Islam kali ini memadai untuk meruntuhkan kesombongan para penyembah berhala ini. Pasukan Sindh berhasil ditaklukkan dan Raja Dahir Sen tewas di medan pertempuran. Ibu kota Sindh jatuh ke tangan umat Islam.

Muhammad bin al-Qashim meneruskan ekspansi militernya ke wilayah-wilayah Sindh yang lain demi membersihkan berhala-berhala dari negeri tersebut. Wilayah Sind mulai dari Dibal hingga Punjab berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya. Penaklukkan ini berakhir pada tahun 96 H. Setelah itu, umat Islam menyibukkan diri mereka dengan mendakwahi para penyembah berhala ini. Rakyat Sindh begitu antusias dengan ajaran Islam, mereka begitu tertarik dengan prinsip persamaan yang tidak mereka dapati pada ajaran Hindu. Demikian juga orang-orang Budha yang sebelumnya direndahkan oleh orang-orang Hindu mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat Sindh lainnya. Tersebarlah cahaya Islam di tanah Hindustan dan berdirilah kerajaan Islam di tanah Sindh (Pakistan).

Wafatnya

Kematian Muhammad bin al-Qashim adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, apalagi wafatnya ini bukanlah tewas di medan peperangan sebagaimana para pejuang lainnya, akan tetapi korban dari sebuah kedengkian. Ia difitnah dianggap terlibat dalam skandal politik yang terjadi antara Hajjaj bin Yusuf dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Ia pun dijebloskan ke penjara Irak dan mengalami berbagai siksaan, sampai akhirnya ia wafat di penjara pada tahun 95 H. Tidak hanya orang Arab yang menangisi kepergiannya, umat Islam di Sindh sangat terpukul mendengar kepergiannya, demikian juga orang-orang Budha dan Hindu turut berduka karena kehilangan sosok pemimpin yang mereka cintai. Orang-orang India (non muslim) menggambar sosok Muhammad bin al-Qashim di dinding-dinding mereka untuk mengenang sang pahlawan.

Muhammad bin al-Qashim wafat di usia yang masih sangat beliau, belum genap menginjak 24 tahun. Dan sampai sekarang Islam di Pakistan tetap tersebar buah dari dakwahnya. Semoga Allah merahmati Muhammad bin al-Qashim.

Note: Dulu Pakistan masih di wilayah India


Referensi

https://kisahmuslim.com/4332-muhammad-bin-al-qashim-penakluk-india.html





PENAKLUKAN ASIA TENGAH HINGGA TIONGKOK (Qutaibah bin Muslim)


Saat ini, jumlah umat Islam di Cina menembus lebih dari 22 juta jiwa. Meski dikekang oleh pemerintah komunis Cina, ternyata pertumbuhan umat Islam tetap menunjukkan pergerakan progresif di negeri Mao Zedong ini. Namun tahukah Anda, siapa yang membawa ajaran Islam ke wilayah ini? Berikut ini kisahnya.

Pembawa ajaran Islam di negeri Cina adalah Qutaibah bin Muslim bin Amr bin Husein bin al-Amir, Abu al-Hafsh al-Bahili, seorang panglima besar yang terkenal dalam sejarah Islam. Ia adalah seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Uni Soviet (sekarang Rusia) hingga sampai di daerah Cina. Banyak penduduk dari negeri-negeri yang ia taklukkan berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah ini, mereka merasakan keindahan dan cahaya Islam yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Qutaibah wafat karena terbunuh pada tahun 96 H, di umur 48 tahun.

Masa Kecil Qutaibah
Ayahnya adalah Muslim bin Amr sahabat dari Mush’ab bin Zubair gubernur Irak dari pihak Abdullah bin Zubair, ayahnya terbunuh bersama dengan Mush’ab pada peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, tahun 72 H / 692 M. Qutaibah dilahirkan di Irak pada tahun 49 H / 669 M.

Di masa kecilnya, ia mulai mempelajari ilmu fikih dan Alquran, kemudian ia juga belajar menunggang kuda dan strategi perang. Ia tumbuh bersama kuda, pedang, dan panah, ia sangat mencintai teknik-teknik menunggang kuda. Pada masa pertumbuhannya, wilayah-wilayah Irak tengah digoncang oleh pemberontakan-pemberontakan. Oleh karena itu, amir-amir di wilayah tersebut sibuk mempersiapkan jihad dan mengajak masyarakat untuk menyiapkan tenaga mereka membantu pemerintah demi tetap kokohnya Islam dan tersebarnya dakwah. Saat itulah Qutaibah muda bergabung dalam jihad di usianya yang sangat belia.

Keberanian dan keterampilan Qutaibah memang memukau banyak orang, hal itu membuatnya dilirik oleh panglima besar, Muhallab bin Abi Shafrah. Muhallab pun menyampaikan kabar tentang Qutaibah ini kepada Hajjaj bin Yusuf. Setelah itu, Qutaibah makin dikenal di kalangan kerajaan, khalifah Abdul Malik bin Marwan menunjuknya menjadi Amir di Kota Ray dan Khurasan.

Kaum muslimin mulai beranjak menaklukkan wilayah Timur, sebuah daerah yang dihuni oleh dua ras besar; orang-orang Sasaniah atau Persia dan orang-orang Turki. Dua kelompok besar ini hanya dipisahkan oleh sungai-sungai saja. Penaklukkan Persia sudah disempurnakan pada masa pemerintahan al-khulafa ar-rasyidun, adapun orang-orang Turki memiliki wilayah yang lebih luas, tersebar, dan jumlah yang lebih banyak, seperti: orang-orang Turki di wilayah Gaza, al-Qarakhta, Qawqaziyun, Bulgaria, dan Mongol.

Menaklukkan Cina
Qutaibah mulai memimpin pasukan perang pada tahun 86 H / 705 M, saat itu Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi mengangkatnya menjadi amir Khurasan atas titah khalifah.


Perjalanan menaklukkan Cina adalah perjalanan yang fenomenal dan membutuhkan waktu yang panjang dan startegi yang matang. Sebelum tiba di negeri tirai bambu ini, Qutaibah bin Muslim menaklukkan daerah-daerah strategis yang membuka jalannya untuk menuju daratan Cina. Jika diurutkan maka strategi Qutaibah dapat diklasifikasi menjadi empat tahap.

Peta Cina dan wilayah sekitarnya

Tahap pertama, ia beserta pasukannya menuju daerah Thakharistan pada tahun 86 H. Saat ini, wilayah Thakharistan adalah bagian dari wilayah Afganistan dan Pakistan.

Tahap kedua, antara tahun 87-90 H, ia menguasai wilayah Bukhara dan daerah-daerah sekitarnya di wilayah Uzbekistan. Daerah ini merupakan daerah yang sangat strategis untuk memantapkan dan melindungi daerah-daerah taklukkan lainnya dari serangan musuh.

Tahap ketiga, tahapan ini berlangsung antara tahun 91-93 H. Pada masa ini, Qutaibah mengokohkan kedudukan umat Islam di wilayah Sungai Jihun dengan sibuk berdakwah dan mengajarkan Islam di wilayah tersebut. Selain itu, pada masa ini juga umat Islam berhasil menguasai Sijistan, Khawarizm, dan Samarkand di jantung Asia.

Tahapan keempat, tahap keempat ini adalah tahapan akhir dari perjalanan Qutaibah menuju Cina, berlangsung antara tahun 94-96 H. Pasukan Islam dibawah kepemimpinan Qutaibah berhasil mengusai daerah Sungai Seihan dan kota-kota di sekitarnya. Setelah itu Qutaibah memasuki wilayah Cina tepatnya di Kota Kashgar. Orang-orang Kashgar yang sebelumnya memeluk agama Zoroaster dan Budha, akhirnya berbondong-bondong masuk ke dalam Islam tanpa paksaan sedikit pun.

Ini adalah penaklukkan terjauh yang dilakukan pasukan Islam sepanjang sejarah. Tidak ada pimpinan umat Islam yang melakukan penaklukkan lebih jauh dari apa yang dilakukan Qutaibah bin Muslim.

Wafatnya Qutaibah
Setelah tiga belas tahun bertualang ke penjuru negeri, akhirnya tibalah akhir hayat Qutaibah bin Muslim. Qutaibah wafat dalam sebuah perselisihan antara umat Islam pada tahun 96 H. Ia terbunuh di tangan Waki’ bin Hasan at-Tamimi di wilayah Ferghana (sebuah daerah di Asia Tengah yang berada di wilayah Uzbekistan, Kirgistan, dan Tajikistan sekarang). Semoga Allah merahmati Qutaibah bin Muslim.

Pelajaran
Ada sebuah pelajaran menarik dari kisah penaklukkan yang dilakukan Qutaibah bin Muslim. Di tengah buruknya nama Bani Umayyah di kalangan sebagian umat Islam lantaran sistem monarki yang mereka terapkan, hadir sosok yang gemilang di antara ratusan nama lainnya dari orang-orang Bani Umayyah yakni Qutaibah bin Muslim.

Ada kelompok-kelompok tertentu yang menisbatkan diri mereka kepada Islam menuliskan buruknya sejarah perjalanan Bani Umayyah. Seolah-olah perjalanan kerajaan ini adalah masa kegelapan yang dialami umat Islam. Beredar dan maraknya tulisan-tulisan tersebut akhirnya membentuk opini dan image bahwa Daulah ini sangat jauh sekali dari ajaran Islam.

Masjid Id Kah, Kashgar, Xinjiang. Masjid ini adalah salah satu masjid terbesar di Cina dengan daya tampung 20.000 jamaah.


Orang-orang yang membenci syariat Islam menjadikan catatan senjarah yang penuh manipulasi ini sebagai senjata mereka untuk mengatakan, “Bagaimana mungkin syariat Islam bisa diterapkan di era modern ini, sementara di era yang dekat dengan masa khulafaur rasyidin saja syariat ini tidak bisa ditegakkan?!” Inilah yang mereka inginkan dari pengkaburan sejarah Bani Umayyah. Dan ironisnya, isu picis ini diambil oleh kelompok-kelompok Islam yang sangat vokal menyerukan berdirinya kekhilafahan Islam.

Penaklukkan yang dilakukan Qutaibah menggambarkan betapa besarnya jasa Bani Umayyah. Mereka menaklukkan wilayah Bukhara sehingga lahirlah seorang laki-laki dari kalangan masyarakat Bukhara sekaliber Imam Bukhari. Ditaklukkannya kota-kota di sekitar Sungai Jihun termasuk Naisabur, dari sini lahirlah laki-laki cemerlang bernama Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi atau kita kenal dengan Imam Muslim, penulis Shahih Muslim, dll. Belum lagi penaklukkan Andalusia yang melahirkan ulama-ulama dan ilmuan-ilmuan Islam.

Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang jangan sampai membuat kita tidak bersikap adil dan melupakan lautan kebaikan yang mereka lakukan.


ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ùƒُونُوا Ù‚َÙˆَّامِينَ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ø´ُÙ‡َدَاءَ بِالْÙ‚ِسْØ·ِ ۖ ÙˆَÙ„َا ÙŠَجْرِÙ…َÙ†َّÙƒُÙ…ْ Ø´َÙ†َآنُ Ù‚َÙˆْÙ…ٍ عَÙ„َÙ‰ٰ Ø£َÙ„َّا تَعْدِÙ„ُوا ۚ اعْدِÙ„ُوا Ù‡ُÙˆَ Ø£َÙ‚ْرَبُ Ù„ِلتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ٰ ۖ ÙˆَاتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ ۚ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ø®َبِيرٌ بِÙ…َا تَعْÙ…َÙ„ُونَ


“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Referensi :

https://kisahmuslim.com/4169-qutaibah-bin-muslim-sang-penakluk-daratan-cina.html



PENAKLUKAN ANDALUASIA (Thariq bin Ziyad)
Salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan diingat orang adalah seorang panglima yang bernama Thariq bin Ziyad. Thariq adalah salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah). Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa dari sinilah sejarah bangsa Ifranji –sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.


Tulisan kali ini akan memaparkan sedikit tentang perjalanan hidup Thraiq bin Ziyad rahimahullah dan bagaimana upayanya menaklukkan Spanyol.

Jabal Thariq atau Bukit Thariq yang menjadi pintu gerbang Spanyol dari arah Maroko


Masa Kecil Thariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko. Masa kecilnya sama seperti masa kecil kebanyakan umat Islam saat itu, ia belajar membaca dan menulis, juga menghafal surat-surat Alquran dan hadis-hadis.

Tidak banyak yang dicatat oleh ahli sejarah mengenai masa kecil Thariq bin Ziyad, bahkan sejarawan seperti Imam Ibnu al-Atsir, ath-Thabari, dan Ibnu Khaldun tidak meriwayatkan masa kecil Thariq bin Ziyad dalam buku-buku mereka.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah budak dari amir Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang. Setelah beberapa generasi kemudian, status Thariq sebagai budak dibantah oleh keturunan-keturunannya.

Jihad di Afrika Utara
Salah satu daerah yang paling strategis di wilayah Afrika Utara adalah Maroko. Daerah ini telah mengenal Islam sebelum kedatangan Musa bin Nushair dan pasukannya –Thariq bin Ziyad termasuk pasukan Musa bin Nushair-. Namun penduduk di daerah ini belum menerima Islam secara utuh dan keimanan mereka belum kokoh, terbukti dengan seringnya masyarakat wilayah ini berganti agama dari Islam ke agama selainnya.

Posisi Kota Al-Hoceima yang penting dalam penaklukkan Maroko


Di antara penyebab pergantian agama ini karena penaklukan Maroko di masa Uqbah bin Nafi’, kurang memperhatikan pendidikan keagamaan. Islam belum mapan di suatu daerah, Uqbah dan pasukannya sudah berangkat ke daerah lainnya. Selain itu keadaan bangsa Barbar di Afrika Utara yang memang mewaspadai pergerakan Uqbah bin Nafi’. Keadaan demikian menyebabkan masyarakat Maroko sering murtad setelah masuk ke dalam Islam (Qishshatu al-Andalus min al-Fathi ila as-Suquth, Hal. 30).


Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian salah seorang pasukannya yang bernama Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.


Menaklukkan Andalusia


Salah satu rahasia mengapa agama Islam begitu diterima di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya karena umat Islam tidak memperbudak dan bukan bertujuan mengusai, akan tetapi tujuannya adalah membebaskan wilayah tersebut, membebaskan wilayah tersebut dari kezaliman penguasanya dan hukum-hukum yang tidak adil. Oleh karena itu, kita jumpai wilayah-wilayah yang ditaklukkan umat Islam, penduduk pribuminya berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menngulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.

Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin. Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.

Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.

Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin Nushair bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

Kembali ke Damaskus
Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad tidak hanya mengalahkan penguasa-penguasa zalim di Eropa, namun mereka berhasil menaklukkan hati masyarakat Eropa dengan memeluk Islam. Mereka berhasil menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama mulia dan memuliakan manusia. Manusia tidak lagi menghinakan diri mereka di hadapan sesama makhluk, kemuliaan hanya diukur dengan ketakwaan bukan dengan nasab, warna kulit, status sosial, dan materi. Musa dan Thariq juga berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid, memurnikan penyembahan hanya kepada Allah semata.

Memandang keberhasilan Musa dan Thariq menaklukkan Andalusia dan menanamkan nilai-nilai Islam di negeri tersebut, khalifah al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka beruda kembali ke Damaskus.

Penutup
Sekali lagi, kisah Thariq bin Ziyad merupakan buah dari kebijakan-kebijakan Kerajaan Umawiyah yang seolah-olah dilupakan para pembencinya. Mereka disibukkan dengan isu-isu yang dibuat oleh orang-orang Syiah bahwa Bani Umayyah menzalimi ahlul bait Rasulullah. Mereka juga larut dengan kalimat-kalimat orientalis yang mengatakan Kerajaan Umawiyah jauh dari syariat Islam. Mereka tenggelam dengan kabar-kabar palsu itu dan lupa dengan jasa-jasa Bani Umayyah.

Bagi bangsa Eropa, tentu saja kedatangan Islam melalui Thariq bin Ziyad membawa dampak besar terhadap perkembangan peradaban mereka, sebagaimana tergambar pada kemajuan Kota Cordoba. Ini adalah awal kebangkitan modern dan terbitnya matahari yang menerangi kegelapan benua Eropa. Kediktatoran dan hukum rimba berganti dengan norma-norma humanis yang membawa kedamaian.

Jasa-jasa Thariq dan kepahlawanannya diabadikan dengan nama selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol dengan nama Selat Gibraltar. Gibraltar adalah kata dalam bahasa Spanyol yang diartikan dalam bahasa Arab sebagai Jabal Thariq atau dalam bahasa Indonesia Bukit Thariq.

Semoga Allah membalas jasa-jasa Thariq bin Ziyad rahimahullah…


Sumber:

– Qishshatu al-Andalus min al-Fathi ila as-Suquth
– Islamstory.com

Referensi
https://kisahmuslim.com/4201-thariq-bin-ziyad-penaluk-andalusia.html







Sejarah Bani Umayyah (Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


WALID BIN ABDUL MALIK



Kelahiran

Al Walid lahir pada tahun 48 H, merupakan anak tertua Abdul Malik bin Marwan. Masa kecilnya dihabiskan di istana bersama para adik-adiknya yang lain. Mereka pun mewarisi kecerdasan dan ketangkasan ayahnya dalam menata pemerintahan. Sehingga ketika Abdul Malik wafat, Walid pun tanpa perlu susah menggantikan, karena memang Abdul Malik telah mempersiapkan putra-putranya dengan pendidikan dan ilmu yang cukup untuk menjadi penggantinya.

Naik menjadi Khalifah

Khalifah Al Walid bin Abdul Malik naik ketika Bani Umayah dalam puncak kesuksesan tahun 86 H (705M). Suhu politik sangat stabil, ekonomi berkembang pesat. Ditambah para pembantu yang kuat dan mumpuni. Al Walid mempunyai para gubernur yang cakap. Di timur ada Hajaj bin Yusuf, gubernur Irak. Di Barat Afrika ada Musa bin Nushair, penguasa Mesir dan Afrika Utara. Di Hijaz ada Umar bin Abdul Aziz, gubernur Madinah.

Kebijakan Khalifah dan Perluasan Wilayah Islam

Al Walid meneruskan kebijakan ayahnya dalam memberi keleluasaan kepada Hajaj di Irak, sehingga Hajaj mampu mengembangkan wilayahnya dengan menunjuk beberapa panglima diantaranya Muhamad bin Qasim, untuk menaklukan Sind (Pakistan), Punjab dan Nepal di wilayah Hindustan tahun 711.

Selain mengutus Muhammad bin Qasim untuk menaklukan Hindustan, Hajaj juga mengangkat panglima Qutaibah bin Muslim sebagai gubernur Khurasan. Kelak Qutaibah bin Muslim ini yang langsung memimpin komando melakukan serangkaian penaklukan ke wilayah utara, turki, samarkand, khawarizm, mongol hingga timur jauh menembus kashgar dan kashan benteng cina tiongkok.

Di Barat, tampil Gubernur Musa bin Nushair, yang mengerahkan hampir 12.000 pasukan dibawah pimpinan maula nya bernama Thariq bin Ziyad, menyebrangi lautan lepas, dan mendarat di daratan tak dikenal, yang dikenal dengan Isbahania (Espanyola). Daratan itu dikuasai sebuah bangsa barbar bernama bangsa Visigoth, dipimpin rajanya yang zalim bernama Raja Roderick.

Bukit tempat berlabuhnya kapal Thariq dinamakan Bukit Thariq (Jabal Thariq=Gibraltar). Ketika  berlabuh, Panglima Thariq bin Ziyad langsung membakar kapal-kapal mereka sambil mengumandangkan seruan syahadah-nya yang terkenal dalam sejarah, bahwa tiada lagi kesempatan mundur karena kapal sudah dibakar, selain maju dan menang...!!

Dan dengan semangat syahid, juga balabantuan penduduk setempat yang memang sudah lama tidak menyukai kepemimpinan zalim Roderick ini turut membantu Thariq bin Ziyad meraih kemenangan di berbagai pertempuran di semenanjung Spanyol, yang kemudian berganti nama menjadi Andalusia.

Masuknya islam ke benua Eropa melalui Andalusia seolah menyibak kegelapan yang menyelimuti Eropa yang terbelenggu dalam dogma gereja dan berhala dan khurafat kemusyrikan. Ilmu keislaman dan budaya berkembang pesat di darata Andalusia sehingga melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Ibnu Al Arabi, Ibnu Rusyd, Ibnu SIna, dll

Sementara itu Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, masih merupakan sepupu Al Walid yang merupakan putra dari Abdul Aziz bin Marwan, adik dari Abdul Malik bin Marwan (seharusnya yang naik menggantikan Abdul Malik sebagai khalifah adalah adiknya yakni Abdul Aziz, namun karena Abdul Aziz meninggal lebih dulu maka akhirnya jabatan khalifah diturunkan kepada putranya), memiliki tugas yang tak kalah besarnya dengan timur dan barat.

Tugasnya adalah menetralisir kondisi Hijaz, kekakauan politik setelah tumbangnya pemerintahan Abdullah bin Zubair. Disana terdapat banyak luka yang menganga. Banyak hati para sahabat nabi yang tercabik. Membutuhkan tangan lembut untuk mengobatinya. Dan Umar bin Abdul Aziz adalah tangan yang tepat.

Tatkala diangkat oleh Al Walid sebagai gubernur Madinah di usia 25 tahun, Umar langsung membentuk dewan syuro Madinah dengan mengundang tokoh berpengaruh keturunan para sahabat Anshar dan Muhajirin di Madinah berkumpul untuk membicarakan perbaikan selanjutnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dewan syuro Madinah itu adalah : Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Bakar bin Sulaiman, Salim bin Abdullah bin Umar, Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yassar, Abdullah bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Amin bin Rabi'ah, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah.

Maka hadirlah kesepuluh orang tersebut di hadapan Umar bin Abdul Aziz. Setelah Umar mempersilahkan mereka duduk, ia lalu berpidato, setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, ia berkata, ”aku memanggil kalian untuk sesuatu yang kalian akan mendapatkan perhargaan atasnya, yaitu kalian akan membantu untuk memutuskan apa yang benar. Aku tidak akan membuat satupun keputusan tanpa meminta pendapat kalian, atau setidaknya pendapat tersebut yang akan digunakan. Apabila kalian melihat ada yang melampaui batas, atau melihat sebuah ketidakadilan dalam pemerintahan ku yang sampai pada kalian, aku mohon kalian melaporkannya kepadaku.” Mendengar ini mereka menjawab, “semoga Allah memberimu kebaikan”, dan mereka semua bubar.

Sikap Umar ini menumbuhkan citra positif penduduk Madinah terhadap Khalifah Al Walid, dan berterima kasih sudah mengirim Umar untuk mereka. Sikap lembut Umar tidak hanya ditujukan kepada ahlul bait dan penduduk Madinah, tapi juga kepada kaum Syi'ah. Sehingga banyak syi'ah yang berbondong-bondong pindah ke Madinah, karena di Irak mereka mendapat perlakuan kasar dari Hajaj bin Yusuf.

Mengetahui hal tersebut Hajaj bin Yusuf kurang senang dan menghimbau agar khalifah Al Walid segera mengganti Umar bin Abdul Aziz dengan yang lain, karena perilakunya itu dapat melemahkan pemerintahan Bani Umayyah. Dan posisi Hajaj masih istimewa di kalangan istana, pendapatnya lebih didengar, sehingga Umar pun dicopot dan diganti dengan yang lain.

Prestasi Khalifah Al Walid dalam bidang sosial

Selain upaya pengembangan wilayah kaum muslimin, Khalifah Al Walid juga membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Diantaranya adalah pembangunan rumah sakit, panti jompo, rumah penyandang cacat, rumah Alquran. Seluruh pengasuh dan guru-gurunya dibiayai oleh negara. 

Pembangunan jalan-jalan raya megah penghubung antar provinsi pun dibangun. Masjid Nabawi diperluas, areal pelataran Masjid Al Aqsha pun dibangun. Dan beliau membangun salasatu monumen kemegahan Bani Umayah, yaitu Masjid Jami Umawi, di Damaskus, yang menelan hampir 12.000.000 dinar saat proses pembangunannya. Pembangunan maha karya itu ternyata terbukti masjid tersebut hingga sekarang masih megah berdiri.

Kecamuk Perebutan Tahta

Dalam istana sendiri secara diam-diam terjadi konflik perebutan tahta. Sesuai amanat dari sang ayah yaitu Abdul Malik, bahwa setelah Al Walid seharusnya tahta beralih kepada adiknya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Namun ternyata Al Walid tengah mempersiapkan putranya untuk menjadi pewaris sepeninggalnya kelak. Al Walid juga pernah berusaha menjegal status putra mahkota dari Sulaiman. Namun upaya itu gagal karena khalifah keburu meninggal dunia.

Sebetulnya Hajaj bin Yusuf sendiri juga menginginkan tampuk kekuasaan tertinggi itu. Namun bagaimana pun dia hanyalah seorang abdi biasa. Dalam soal perebutan khalifah dia sama sekali tidak berdaya. Selain disana-sini banyak juga yang menginginkan. Belum para panglima yang lain seperti Musa bin Nushair, dan para pejabat di istana Damaskus. 

Sesungguhnya yang lebih dikuatirkan Hajaj adalah naiknya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah. Karena hubungannya dengan Sulaiman kurang begitu baik, dan Sulaiman begitu membencinya. Ternyata takdir berkehendak lain, Hajaj bin Yusuf meninggal dunia sebelum Sulaiman diangkat sebagai khalifah. Dan kematian Hajaj bin Yusuf menimbulkan efek beragam. Namun hampir semuanya merasa gembira lepas dari cengkraman penguasa zalim tersebut (lihat Hajaj bin Yusuf dalam situs ini juga). Meskipun tidak dipungkiri banyak jasanya terhadap kemajuan kaum muslimin.

Khalifah Walid meninggal dunia

Pada masa menjelang wafatnya, Khalifah Al Walid pernah menggeser posisi khalifah dari Sulaiman beralih kepada putranya yakni Abdul Aziz bi Al Walid. Namun belum sempat dibuat pengumuman resmi karena Sulaiman tidak kunjung juga datang ke Damaskus. Sebetulnya itu trik Sulaiman ketika dia sadar rencana keserakahan kakanya, maka dia sengaja menunda-nunda pertemuan yang disinyalir dapat mencabut legalitasnya sebagai putra mahkota pengganti. Dan upayanya tersebut berbuah hasil. Walid meninggal pada tanggal 23 Februari tahun 715 (96 H), sebelum rencananya menggeser putra mahkota itu berhasil.

Dan yang berlaku sebagai pengganti adalah tetap sesuai dengan amanah ayah mereka yakni Abdul Malik bin Marwan, Sulaiman bin Abdul Malik menjadi Khalifah penggantinya.

(bersambung)



Referensi :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/22/lk1jin-daulah-umayyah-walid-bin-abdul-malik-705715-m-penegak-bani-umayyah

https://ganaislamika.com/dinasti-umayyah-15-dinamika-politik-di-masa-al-walid-bin-abdul-malik/

https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Walid_bin_Abdul-Malik











Sejarah Bani Umayyah (Hajaj bin Yusuf)

SEJARAH BANI UMAYAH


HAJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI



Hajaj bukanlah penerus Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tetapi merupakan salasatu pembantu khalifah yang kemudian diangkat sebagai gubernur di wilayah Iraq. Tokoh ini begitu kontroversial sehingga tindak-tanduknya sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Itu sebabnya rasanya kita perlu membahas tokoh yag satu ini secara lebih spesifik, sehingga kita lebih mengenalnya. Sebagian ulama banyak yang mengkafirkan, namun sebagian cukup mengatakan sebagai seorang muslim yang kejam, dan banyak pula jasanya untuk islam.

Mari kita simak kisahnya....

-------------


Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi adalah salah seorang gubernur di Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Seorang yang zhalim, banyak membunuh, dan fasiq. Walaupun demikian, beliau turut memiliki jasa dan kebaikan. Memiliki sumbangan dalam meletakkan baris bacaan Al Qur’an, membantu banyak usaha meluaskan kerajaan Bani Umayyah. Beliau juga termasuk tokoh yang ahli dalam strategi peperangan. Ia berasal dari kabilah Tsaqif.


Kata Imam Al Hafizh Adz Dzahabi rahimahullah (Wafat: 748H) mengenai Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi:


“Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4/343)


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah:


“Dan adapun sang pemusnah adalah Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsqafi ini. Beliau seorang yang amat memusuhi, beliau amat membenci anggota keluarga ‘Ali, ini karena kecenderungannya kepada keluarga Marwan Bani Umayyah. Beliau juga seorang yang angkuh lagi bodoh, berani menumpahkan darah hanya karena kesalahan yang syubhah (samar).


Diriwayatkan dari beliau kata-kata yang sangat buruk, yang zahirnya adalah kufur, sebagaimana yang telah kami kemukakan. Jika beliau bertaubat darinya dan berlepas diri darinya, maka itu yang diharapkan, tetapi jika tidak, maka ia tetap dalam keadaan tersebut. Cuma diragukan bahwa itu adalah kata-kata yang diriwayatkan dari beliau dengan berbagai penambahan, karena golongan Syi’ah sangat membencinya karena beberapa perkara. Jadi, mungkin terjadi mereka mengubah sebagian perkataannya dan menambah padanya sehingga mereka melabelnya sebagai perkataan-perkataan buruk lagi menjijikkan.”


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir lagi:


“Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus dalam urusan kemaluan, walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah. Maka Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui kebenaran dan hakikat-hakikat segala urusan serta rahsia-rahsianya, serta hal-hal yang tersembunyi di dalam dada.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/153)


Dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan riwayat, Hisyam bin Hassan berkata:


“Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), maka jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (Sunan At Tirmidzi, no. 2220. Dinilai hasan oleh At Tirmidzi. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib At Tahdzib, 2/211)


Al Ashma’i rahimahullah berkata:


“Di suatu pagi, Sulaiman bin ‘Abdul Malik membebaskan 81,000 orang tawanan, setelah Al Hajjaj (selepas kematiannya), penjara-penjara diperiksa lalu mereka dapati ada 33,000 orang yang belum dilaksanakan atas mereka pemutusan hukum dan tidak juga penyaliban.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/156)


‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah menyebut namanya dengan sebutan “musuh Allah”. Kata Al Hafizh Ibnu Katsir: Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani berkata, dari ayahnya, dari datuknya, dari ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, beliau berkata:


“Aku tidak sedikitpun merasa iri hati (dengki) terhadap Al Hajjaj si musuh Allah itu, melainkan terhadap sikapnya yang cinta kepada Al Qur’an dan sikap pemurahnya terhadap ahlul Qur’an, serta ucapannya sebelum wafat, “Ya Allah ampunilah aku, sesungguhnya manusia menyangka bahwa Engkau tidak bertindak.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/158)


Sampai-sampai ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz membuat permisalan yang menggambarkan betapa jahat dan berpengaruhnya Al Hajjaj:


“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatanya manakala kita pula datang dengan membawa Al Hajjaj, niscaya kita akan mengalahkan semua penjahat tersebut.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)


Malah terdapat perkataan sebagian salaf yang seakan-akan mengkafirkannya.


Ibnu ‘Asakir meriwayatkan perkataan Asy Sya’bi rahimahullah (Wafat: 104H):


“Al Hajjaj beriman dengan kejahatan dan thaghut, serta kafir terhadap Allah Al ‘Adziim.” (Ibnu ‘Asakir, Tarikh dimasyq, 12/187. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)


Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata:


“Suatu yang ajaib terhadap sahabat-sahabat kita dari ‘Iraq, mereka menamakan Al Hajjaj sebagai orang beriman?!” (Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala’, 5/44. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)


Sebagian Kejahatan dan Nukilan Kekejaman Al Hajjaj


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:


‘Uqbah bin Mukarram Al ‘Ammiy memberitahu kami, katanya Ya’qub iaitu Ibnu Ishaq Al Hadhrami memberitahu kami, katanya Al Aswad bin Syaiban memberitahu kami, dari Abu Naufal, katanya:


Aku melihat (mayat) ‘Abdullah bin Az Zubair (dalam keadaan tergantung) di ‘Aqabah Al Madinah (di Makkah), dan kaum Quraisy serta orang-orang lainnya pergi ke arahnya, termasuklah ‘Abdullah bin ‘Umar, apabila beliau berdiri di hadapannya (mayat Ibn Az Zubair) beliau mengucapkan:


“Wahai Abu Khubaid (‘Abdullah bin Az Zubair), semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau! Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui seseorang yang selalu berpuasa, selalu qiyam (bangun malam untuk beribadah), dan selalu menyambung silaturrahim selain dari engkau. Demi Allah, engkau yang dikatakan sejahat-jahat ummat, sebenarnya adalah sebaik-baiknya.”


‘Abdullah bin ‘Umar pun berlalu pergi. Kata-kata Ibnu ‘Umar telah sampai kepada Al Hajjaj lalu dia mengutus seseorang untuk menurunkan mayat ‘Abdullah bin Az Zubair, kemudian mayat tersebut dicampakkan ke perkuburan Yahudi.


Kemudian Al Hajjaj menghantar utusan kepada Asma’ Binti Abu Bakr agar Asma’ menemuinya, tetapi Asma’ enggan. Utusan tersebut pulang dan kembali membawa pesan Al Hajjaj:


“Engkau mesti datang berjumpa dengan aku atau aku akan hantar seseorang yang akan mengheret engkau sambil menarik rambutmu.”


Asma’ tetap juga enggan.


Katanya, “Aku tidak akan berjumpa dengan engkau hinggalah engkau hantar seseorang yang akan mengheret aku dengan rambutku.”


Al Hajjaj yang mendengarnya (sebagaimana disampaikan oleh utusannya) pun berkata, “Ambilkan alas kakiku”.


Lalu utusannya mengambilkan alas kaki untuknya, dan Al Hajjaj pergi menuju kepada Asma’ dalam keadaan marah, lalu berkata:


“Apa pendapat engkau tentang apa yang aku lakukan terhadap si musuh Allah itu (‘Abdullah bin Az Zubair)?”


Asma’ menjawab: “Aku lihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya, manakala dia pula telah menghancurkan kehidupan akhirat engkau. Aku dengar engkau memanggilnya (sebagai), “Wahai anak Dzat An Nithaqain (pemilik dua tali pinggang).” Sesungguhnya demi Allah, akulah Dzat An Nithaqain; tali pinggang yang pertama aku gunakan untuk menghantar makanan Rasulullah dan Abu Bakr, manakala tali pinggang kedua tidak dapat ditandingi oleh mana-mana wanita pun. Rasulullah pernah memberitahu kami bahwa di Thaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah, si pendusta itu kami telah mengenalinya, manakala si pemusnah pula, aku tidak kenal yang lain melainkan engkau.”


Al Hajjaj lalu bangkit beredar dan tidak membalas kata-kata Asma’. (Shahih Muslim, no. 2545)


Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Perkataan Asma’ mengenai si Pendusta, “kami telah mengenalinya”, yang beliau maksudkan dengannya adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi, dia ini sangat teruk sifat pendustanya, dan antara tuduhannya yang paling buruk ialah Jibril Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang kepadanya. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan si pendusta adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, manakala si pemusnah pula adalah Al Hajjaj bin Yusuf.” (Syarah Shahih Muslim, 16/100)


Imam An Nawawi juga mengatakan: “Dan mazhab Ahlul Haq (pengikut kebenaran) adalah meyakini Ibnu Az Zubair itulah yang dizhalimi, manakala Al Hajjaj dan para pengikutnya pula adalah khawarij (iaitu yang keluar memberontak) terhadap Ibn Az Zubair.” (Syarah Shahih Muslim, 16/99)


Ini karena Al Hajjaj-lah yang sengaja memerangi wilayah dan kekhilafahan ‘Abdullah bin Az Zubair di Hijjaz, Madinah, dan Makkah.


Al Hafizh Ibnu Katsir meriwayatkan perkataan Al Hajjaj:


“Demi Allah, kalau aku memerintahkan kamu semua keluar melalui pintu ini, tetapi kamu semua keluar melaui pintu yang lain, maka halallah darah kamu di sisi aku, dan tidak aku temui seorang lelaki yang membaca (Al Qur’an) mengikut qiraat Ibnu Ummu ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud) melainkan aku akan memancung kepalanya, dan akan aku kikis bacaannya dari mushaf, walaupun dengan tulang rusuk babi.”


Selain itu, Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith):


“‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/149)


Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan: “Dan ini termasuk kemelampauan Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’oud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/149)


Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Demikianlah sifat kejamnya Al Hajjaj, sampai tiada adab dan hormat terhadap orang-orang yang amat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, iaitu para sahabatnya ridhwanullah ‘alaihim ajma’in. Demikian juga sikap beliau terhadap para ulama selain sahabat.


Sampai-sampai sebagian salaf mengatakan tentangnya: “(Seolah-olah) tidak ada satu pun dari larangan Allah ‘Azza wa Jalla melainkan telah dilakukan oleh Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/1153)


Saat Kematian Al Hajjaj


Atas sebab kekejaman dan kekejian Al Hajjaj, kematian beliau dianggap sebagai khabar gembira oleh sebagian salaf. Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) merakamkan: “Lebih dari seorang yang meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Bashri) ketika dikabarkan dengan berita gembira mengenai kematian Al Hajjaj, beliau langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala yang mana sebelumnya beliau bersembunyi, maka setelah itu beliau menonjolkan diri. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, matikanlah dia dan hilangkanlah sunnahnya (kebiasaan-kebiasaannya) dari diri kami.”


Hammad bin Sulaiman berkata, “Apabila aku mengkhabarkan kepada Ibrahim An Nakha’i tentang kematian Al Hajjaj, beliau pun menangis karena gembira.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Abu Khaitsamah berkata: “Ziyad bin Ar-Rabi’ Al Haritsi mengatakan kepada para penghuni penjara, “Al Hajjaj akan mati dalam sakitnya ini di malam sekian.”


Lalu ketika tiba malam tersebut, tidak seorang pun penghuni penjara yang tidur karena sangat gembira. Mereka duduk menunggu hingga mendengar berita kematiannya. Iaitu pada malam 27 Ramadhan.”


Al Hafizh Ibnu Katsir menambah: “Pendapat lain menyebutkan, hal tersebut berlaku pada lima hari terakhir bulan Ramadhan. Pendapat lain lagi, ia berlaku pada bulan Syawal di tahun tersebut. Umurnya ketika itu adalah 55 tahun, karena kelahirannya adalah pada tahun Al Jama’ah (tahun di mana Al Hasan bin ‘Ali menyerahkan kekhalifahan kepada Mua’wiyah – Pent.), tahun 40H. Pendapat lain mengatakan setelah itu. Yang lain lagi mengatakan, setahun setelahnya.


Beliau meninggal di Wasith, dan kuburannya diratakan serta disirami air padanya supaya tidak dibongkar dan dibakar. Wallahu a’lam.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Al Ashma’i berkata: “Yang menakjubkan tentang Al Hajjaj, adalah apa yang beliau tinggalkan hanya 300 dirham.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Kata Al Waqidi, “Bahwa Al Hajjaj meninggal dengan meninggalkan 300 dirham, sebuah mushaf, sebilah pedanh, pelana, sekedup, dan seratus baju besi (armour) yang diwakafkan.” (Tarikh Dimasyq, 12/191. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Syihab bin Khirasy berkata:


“Al Hajjaj mewasiatkan 900 perisai atau baju besi, 600 di antaranya adalah milik orang-orang munafiq warga ‘Iraq yang mereka berperang dengannya, sedangkan 300 lagi adalah milik orang-orang Turki.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Al Hajjaj Adalah Bencana Ke Atas Penduduk ‘Iraq


Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) menyebutkan:


“Al Hasan Al Bashri pernah berkata: “Sesungguhnya kemunculan Al Hajjaj adalah disebabkan dari azab Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman (maksudnya):


“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Surah Al Mukminun, 23: 76)


Thalq bin Habib berkata: “Lindungilah dirimu dari fitnah dengan ketaqwaan.” Maka dikatakan kepadanya, “Simpulkanlah untuk kami apa itu ketaqwaan?” Beliau berkata, “Iaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah dengan berharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan azab Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ad Dunya).” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah An Nabawiyyah, 4/527-531 – Mu’asasah Al Qurthubah)


Demikian jugalah yang diungkapkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah: “Secara umum, bahwa Al Hajjaj adalah bencana yang ditimpakan ke atas penduduk ‘Iraq karena dosa-dosa lalu mereka dan perbuatan khuruj mereka kepada para pemimpin, menghinakan mereka, memaksiati mereka, menyelisihi mereka, dan tidak menghargai mereka.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151)


Al Hafizh dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalan Ya’qub bin Sufyan (berkenaan apa yang pernah berlaku ketika zaman pemerintahan ‘Umar): “Seorang lelaki datang kepada ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu memberitahunya bahwa warga ‘Iraq melempari wakil pemimpin (gubernur) mereka, maka ‘Umar pun keluar (untuk shalat) dalam keadaan marah, lalu beliau mengimami kami suatu shalat, lalu beliau lupa di dalam shalatnya sehingga orang-orang (para makmum) mengatakan, “Subhanallah, Subhanallah…”


Setelah salam, ‘Umar pun menghadap kepada para makmum lalu berkata, “Siapakah di sini dari kalangan penduduk Syam?”


Lalu berdirilah seorang lelaki, kemudian berdiri juga lelaki yang lainnya, kemudian aku (perawi Ya’qub bin Sufyan) juga berdiri sebagai orang ketiga atau keempat. Lalu ‘Umar berkata: “Wahai warga Syam, bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi penduduk ‘Iraq. Karena Syaitan telah bertelur di tengah-tengah mereka dan menebarkan anak-anaknya. Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menyamarkan diri mereka, maka samarkanlah atas mereka, dan segeralah ke atas mereka dengan anak Tsaqif yang memimpin (berhukum) dengan hukum jahiliyyah. Tidak akan diterima kebaikan dari orang baik mereka, dan tidak akan dimaafkan dari orang buruk mereka.”


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir, “Kami juga telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad ‘Umar bin Al Khaththab, dari jalan Abu Azabah Al Himshi dari ‘Umar yang semisal dengannya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151-152)


‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata (berdoa):


“Ya Allah, aku telah memberi mereka amanah tetapi mereka mengkhianatiku, aku telah menasihati mereka tetapi mereka curang padaku. Maka kuasakanlah atas mereka seorang pemuda Tsaqif yang angkuh lagi sombong, yang memakan kesejahteraannya, yang memakai kulitnya, dan menerapkan hukum-hukum jahiliyyah atas mereka.”


Al Hasan berkata, “Pada ketika itu Al Hajjaj belum lahir.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)


Diriwayatkan juga oleh Mu’tamir bin Sulaiman, bahwa ‘Ali berkata: “Pemuda yang angkuh, Amiir (pemimpin) dua kota yang memakai kulitnya dan memakan kesejahteraannya, membunuhi para tokoh penduduknya, menimbulkan perpecahan yang banyak, banyak menimbulkan kegelisahan, dan Allah menguasakannya ke atas kaumnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)


Sikap Para Ulama Di Bawah Kekuasaan Al Hajjaj Sebagai Pemerintah


Zubair bin ‘Adi berkata, kami mendatangi Anas bin Malik mengeluhkan perihal Al Hajjaj. Anas pun menjawab: “Bersabarlah, karena tidaklah datang sebuah zaman kecuali yang setelahnya akan lebih buruk sehingga kamu berjumpa dengan Rabb kamu. Aku mendengarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Shahih Al Bukhari, no. 7068)


Imam Asy Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204H) berkata: “Ibnu ‘Umar (salah seorang sahabat Nabi yang masih hidup) memencilkan diri di Mina pada hari-hari pertempuran (peperangan) antara Ibnu Az Zubair dengan Al Hajjaj, dan beliau (Ibnu ‘Umar) tetap shalat bersama (berjama’ah di belakang) Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Imam Al Bukhari rahimahullah (Wafat: 256H) meriwayatkan: Dari As Sahmi, “Aku mendatangi Aba Amamah, lalu beliau berkata: “Janganlah engkau mencela (mengutuk dan menghina) Al Hajjaj, karena beliau adalah penguasa bagi engkau dan bukan penguasa bagiku.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, no. 83)


Aba Umamah tinggal di Syam, manakala As Sahmi tinggal di Iraq yang mana pemimpin di Iraq ketika itu adalah Al Hajjaj.


Fenomena kekejaman Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dan penentangan terhadapnya banyak dikaitkan dengan salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu bab kewajiban mentaati pemerintah (dalam hal yang bukan maksiat pada Allah). Maka dalam hal ini, antaranya Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Mayoritas ulama Ahli Sunnah dari kalangan fuqaha’ (ahli fiqh), ahli hadits, dan ahli kalam menyatakan bahwa pemimpin tidak dilengsertkan (atau dijatuhkan kepimpinannya) atas sebab kefasikannya, kezhalimannya, dan perbuatannya yang merampas hak-hak umat Islam, dan tidak boleh khuruj (keluar dari ketaatan) kepadanya. Tetapi umat Islam wajib untuk menasihati dan menundukkan hatinya dengan hadits-hadits (yang berbentuk ancaman) berkaitan perkara tersebut.


Al-Qadhi berkata, “Abu Bakar bin Mujahid telah menyatakan adanya ijma’ atas perkara ini, sebagian ulama telah membantah pernyataan tersebut dengan apa yang dilakukan oleh Al Hasan dan Ibnu Az Zubair, serta penduduk Madinah terhadap Bani Umayyah. Juga pertempuran dua kelompok besar dari kalangan tabi’in dan generasi awal dari umat ini terhadap Al Hajjaj bin Yusuf, bukan karena sekadar kefasikan, akan tetapi ketika dia telah mengubah sebagian syari’at dan menampakkan kekafiran.” Al Qadhi berkata lagi, “Perbedaan ini timbul pada awalnya, kemudian terjadi ijma’ (kesepakatan) yang melarang memberontak kepada pemerintah.” Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 12/229)


Sikap Ulama Di Luar Kekuasaan Al Hajjaj


Al Hafizh Ibnu Katsir mencatat, “Berkata At Tsauri dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bahwa dia masuk ke kawasan Al Hajjaj tanpa memberi salam kepadanya dan tidak pula shalat di belakangnya (sebagai makmum).” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Jasa dan Ungkapan Nasihat Al Hajjaj


Imam Asy Sya’bi berkata: “Aku mendengar Al Hajjaj berkata dalam perbicaraannya yang tidak pernah diungkapkan oleh seorangpun sebelumnya. Beliau mengatakan:


“‘Amma ba’d, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan kefanaan (sifat tidak kekal) bagi dunia ini, dan menetapkan keabadian bagi akhirat. Maka tidak ada keabadian bagi yang telah ditetapkan kefanaan baginya. Oleh itu, janganlah keadaan dunia ini memperdayakan kalian dari keghaiban akhirat, dan redamlah panjangnya angan-angan dengan dekatnya ajal.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/142. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/143)


Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) berkata: “Al-Haitsam bin ‘Adi dari Ibn ‘Ayyasy (beliau berkata): ‘Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan pernah mengutus surat kepada Al Hajjaj, “Kirimkan kepadaku kepala Aslam bin ‘Abdul Bakri.”


Setelah surat tersebut sampai kepadanya, Al Hajjaj pun menghadirkan Aslam kepadanya lalu Aslam pun berkata, “Wahai Amir (pemimpin), engkaulah yang menyaksikan, sedangkan Amirul Mukminin tidak menyaksikan. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (Surah Al Hujuraat, 49: 6)


Apa yang sampai kepadanya tentang diriku adalah bathil. Dan sesungguhnya aku menanggung 24 orang wanita, mereka tidak memiliki pendapatan selain dariku, dan mereka sekarang ada di pintu.”


Maka Al Hajjaj pun memerintahkan agar mereka dibawa masuk. Setelah mereka dihadirkan, salah seorang dari mereka berkata, “Aku adalah bibi dari pihak ayahnya.”


Yang lain berkata, “Aku bibi dari pihak ibunya.”


Yang lain berkata, “Aku saudara (adik-beradik) perempuannya.”


Yang lain pula berkata, “Aku anak perempuannya.”


Dan yang lain berkata pula, “Aku isterinya.”


Lalu seorang anak perempuan maju ke depan, ia berumur antara 8 hingga 10 tahun, maka Al Hajjaj pun berkata, “Siapa engkau?”


Anak perempuan tersebut berkata, “Aku anak perempuannya.”


Kemudian anak perempuan itu berkata, “Semoga Allah memperbaiki Amir (pemimpin).” Lalu ia tunduk dan berkata:


“Wahai Hajjaj, tidakkah engkau saksikan kedudukan anak-anaknya, bibi-bibinya yang semuanya memerlukannya setiap malam? Wahai Al Hajjaj, berapa banyak yang telah engkau bunuh bila engkau membunuhnya? Delapan, sepuluh, dua, dan empat? Wahai Al Hajjaj, engkau boleh berlaku baik terhadap kami dengan memberi nikmat, atau engkau bunuh saja kami bersamanya.”


Maka Al Hajjaj pun menangis, dan beliau berkata:


“Demi Allah, aku tidak membantu untuk menyusahkan kalian dan tidak akan menambahkan kelemahan kepada kalian.”


Kemudian Al Hajjaj pun mengutus surat kepada ‘Abdul Malik (khalifah) tentang apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut dan apa yang dikatakan oleh anak perempuannya. Lalu ‘Abdul Malik pun mengutus surat kepada Al Hajjaj yang memerintahkannya supaya membebaskan lelaki tersebut dan menyambung hubungan baik dengannya, serta berbuat baik kepada anak perempuan tersebut dan mengawalnya setiap waktu.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/145-146. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144)


Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Dikatakan bahwa Al Hajjaj pada suatu hari berkhuthbah lalu berkata:


“Wahai manusia, bersabar menahan diri terhadap larangan-larangan Allah adalah lebih mudah berbanding bersabar terhadap azab Allah.”


Lalu seorang lelaki berdiri kepadanya lalu berkata, “Celaka engkau wahai Hajjaj! Betapa buruknya wajah engkau dan betapa sedikitnya rasa malumu. Engkau melakukan apa yang engkau lakukan (dari berbagai jenis keburukan – pent.) lalu sekarang engkau mengatakan perkataan ini? Engkau telah rugi, dan sia-sialah usaha engkau.”


Maka Al Hajjaj mengatakan kepada pengawalnya, “Tangkap dia.”


Setelah dia selesai dari khuthbahnya, dia pun berkata kepada lelaki tersebut, “Apa yang membuat engkau berani terhadapku?”


Lelaki tersebut pun menjawab, “Celaka engkau, wahai Hajjaj, engkau berani terhadap Allah, lalu kenapa aku tidak berani terhadap engkau? Siapakah engkau hingga aku tidak berani terhadapmu, sementara engkau berani terhadap Allah, Rabb sekalian alam?”


Al Hajjaj pun berkata, “Bebaskan dia.”


Lalu ia pun dibebaskan.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144-145)

--------
Demikian sekelumit tentang Hajaj bin Yusuf, Panglima dan Gubernur di masa kekuasaan Khalifah Abdul malik bin Marwan. Selanjutnya mari kita ikuti sejarah kekhalifahan Bani Umayah berikutnya...
(Bersambung)

Referensi :

http://fimadani.com/al-hajjaj-bin-yusuf-kezhaliman-dan-jasanya-bagi-islam/