Selasa, 04 Desember 2018

Sejarah Bani Abbasiah (Abdullah bin Muhammad As-Saffah)

SEJARAH BANI ABBASIYAH


ABDULLAH BIN MUHAMMAD AS-SAFFAH



Latar Belakang

Kemelut yang menerpa Daulah Islamiyah yang saat itu dikuasai oleh Bani Umayyah sudah sampai ke titik nadir. Khilafah Bani Umayyah yang berhasil "mengambil alih" kekhalifahan kaum muslimin dari KhulafauRasyidin terakhir yaitu Ali bin Abu Thalib dan putranya Hasan bin Ali, dengan Muawiyah sebagai pendiri pertama dinastinya, kini mencapai detik penghujungnya, ditangan khalifah terakhir Bani Umayah bernama Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.

Latar belakang sebenarnya adalah bibit-bibit ketidakpuasan yang sudah lama berkembang dari masyarakat terhadap model penguasa. Misalnya ketidakpuasan kelompok pengikut Ali bin Husein bin Ali bin Abu Thalib, karena bani Umayyah sering mendiskreditkan bahkan mencaci maki para ahlul bait nabi.

Selain itu berkembang pula gerakan perlawanan terhadap khalifah Bani Umayyah oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai gerakan Abbasiyah. Kelompok ini segera mendapat dukungan banyak apalagi disaat kondisi pemerintahan Bani Umayyah sedang terjadi kericuhan antar keluarga gara-gara perebutan kekuasaan.

Faktor lain yang membuat gerakan ini begitu massif adalah dengan dibawanya nama Bani Hasyim dalam perjuangan mereka. Karena pemimpin pergerakan memang berasal dari keluarga keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman rasulullah SAW, bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang bergelar Abul Abbas As-Saffah

Menegakkan Kekuasaan Bani Abbasiyah

Ketika Bani Umayyah tampak keletihan menahan serangan perlawanan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib di Irak, Abul Abbas AsSaffah pun serentak mengirim pasukan besar dibawah Jendral nya yang cakap bernama Abu Muslim Al-Khurasani langsung menuju Irak.

Pasukan yang baru saja selesai memenangkan peperangan dengan pasukan Zaid tersebut kontan terkaget-kaget, sehingga pasukan Abu Muslim Al-Khurasani dapat menguasai keadaan. Pasukan Marwan berhasil dilumpuhkan. Marwan sendiri melarikan diri ke Mesir. Namun As-Saffah memerintahkan Jendral Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yaitu pamannya sendiri untuk memburu habis Marwan dan keluarganya. Akhirnya Marwan dapat ditangkap di sungai Nil, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Khurasan, di hadapan Abu Abbas As-Saffah.

Usai kematian Marwan, As-Saffah masih terus melakukan perburuan terhadap seluruh keluarga sisa Bani Umayyah. Tanpa ampun semuanya dihabisi, seolah tidak ingi menyisakan satu pun anggota keluarga Bani Umayyah yang masih hidup dan kelak dapat merongrongnya di kelak kemudian hari.

Aksi tumpas habis dari As-Saffah menandai berakhir dan runtuhnya dinasti bani Umayyah yang telah berkuasa kurang lebih 100 tahun. Meskipun ada satu dari keturunan Bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri dari pembasmian tersebut, bernama Abdurahman Ad-Dakhili, yang berhasil melarikan diri ke wilayah Andalusia, dan kelak mendirikan kekhalifahan disana yang terlepas dari kekuasaan Bani Abbasiah.

Kebijakan Khalifah As-Saffah

Abul Abbas As-Saffah naik tahta mendirikan imperium Bani Abbasiah pada tahun 750 M. Setelah pembersihannya dari unsur-unsur Bani Umayyah, Assaffah memusatkan pemerintahannya di wilayah Khurasan, Iran. Para pendamping istana dan pasukannya diberikan secara merata kepada orang-orang non-Arab, seperti orang Persia, Turki dan Syiah. Proses penyatuan tersebut berhasil dengan munculnya orang-orang kuat disisinya yang akan memuluskan jalan tegaknnya kekuasaan Abbasiyah ditahun mendatang.

Sayang usia Abul Abbas tidak lama. Tahun 754 khalifah meninggal dunia, digantikan oleh saudaranya bernama Abu Ja'far Al Manshur.

(Bersambung)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar