Kamis, 05 Juli 2018

Sejarah Nabi Muhammad SAW (Mekkah)


PERIODE MEKKAH

Asal Usul Yatim

Nabi Muhammad dilahirkan hari senin 12 Rabiul Awwal tahun 571 Masehi di kota Mekkah. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Abdullah putra dari Abdul Muthalib terkenal sebagai kepala kaum Bani Hasyim dari Suku Qurais yang disegani di kota Mekkah, karena mereka termasuk suku para bangsawan Mekkah dan penjaga Bait Suci Kaabah.

Baru dua bulan Muhammad Rasulullah dalam kandungan ibunya Aminah, wafatlah ayahanda beliau yaitu Abdullah. Setelah lahir sebagai yatim dan beliau disusui oleh seorang wanita arab badui dari kampung Bani Sa'ad bernama Halimah As Sa'diyah.





Pembelahan Dada

Sekitar umur tiga tahun terjadi peristiwa pembelahan dada beliau di kampung Bani Sa'ad, oleh Malaikat Jibril untuk membersihkan hati beliau sebagai persiapan menjadi rasul ketika dewasa kelak. Peristiwa ini membuat Halimah ketakutan dan kuatir akan keselamatan anak susuannya itu. Lalu dia pun segera mengembalikan anak barakah itu ke pangkuan ibunya di Mekkah.

Ibunda Wafat

Pada umur empat tahun Muhammad kecil diajak ziarah ke makam ayahanda beliau di Yatsrib oleh ibunya. Namun sepulangnya dari ziarah sang ibunda yakni Aminah menderita sakit dan wafat dalam perjalanan pulang kembali menuju Mekkah. Jenazah ibunda dikuburkan di Abwa.

Sepeninggal ibunya, Muhammad kecil diasuh dalam kasih sayang kakeknya yaitu Abdul Muthalib sang pemimpin Bani Hasyim. Abdul Muthalib begitu menyayangi beliau bahkan lebih dari anak-anaknya yang lain. Anak Abdul Muthallib cukup banyak yaitu Harits, Abdullah (Ayah Rasulullah), Abu Thalib, Abdul Uzza (Abu Lahab), Shafiyah, Atikah, Hamzah (seumur dengan Rasulullah), Abbas. Namun tidak lama sang kakek penyayang ini pun meninggal dunia. Muhammad kecil selanjutnya diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.

Dalam asuhan sang paman ini beliau turut belajar berdagang. Bahkan pernah diajak bersama kafilah dagang menuju Syam. Namun ternyata ciri kenabian beliau dapat dikenali oleh salaseorang rahib yahudi bernama Buhaira, yang lantas segera menyuruh Abu Thalib untuk mengembalikan Muhammad kecil ini kembali pulang, karena orang yahudi di Syam (Yerussalem) sedang mencari anak itu untuk dibunuh (rahib yahudi mengetahui tanda ciri kerasulan Rasulullah melalui wahyu dan tertera dalam kitab-kitab mereka Taurat Injil dan Shuhuf).

Semakin bertambah usia beliau semakin nampak kecerdasan dan kemuliaan akhlaknya. Bahkan penduduk mekkah begitu menyukai beliau dan memberi julukan Al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Karena sifat Muhammad yang jujur dan amanah serta selalu memenuhi janji dan tugasnya.

Belajar dan Bekerja

Masa muda beliau dihabiskan untuk belajar dan bekerja. Beliau pernah bekerja dengan menggembala kambing. Beliau juga bekerja pada sebuah kafilah niaga milik seorang saudagar kaya bernama Khadijah. Beliau juga aktif dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Penduduk mekkah mengenal pemuda Al-Amin ini sebagai pemuda yang cerdas, tangkas dan bijak.

Bahkan pernah turut serta dalam renovasi Kaabah yang hampir menimbulkan konflik antar kabilah, gara-gara masalah siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad, batu yang dimuliakan itu, kembali ke tempatnya semula. Ketika mereka meminta Muhammad muda untuk memberikan solusi ternyata beliau memiliki kecerdikan dan kebijaksanaan yang lebih dibanding yang lain. Yakni dengan memakai sorbannya dan meminta para kabilah itu menggotong bersama-sama meletakan Hajar Aswad di tempatnya. Akhirnya perselisihan pun dapat dihindarkan.

Ketika terjadi peristiwa Perang Fijjar (perang antar kabilah), Muhammad muda turut aktif ikut serta dalam peperangan tersebut. Dari sana beliau belajar ketangkasan, strategi dan keahlian berperang.
Begitu pula pernah ketika terjadi peristiwa Hilful-Fudul, yaitu kesepakatan untuk saling melindungi yang terzalimi, dan menolong kabilah yang terikat perjanian untuk saling melindungi (memberi suaka). Beliau turut ikut serta dalam sidang dewan para bangsawan Quraisy.

Sebagai seorang pemuda, Muhammad dalam usia 25 tahun sudah termasuk mandiri. Beliau mampu menopang kehidupannya sebagai salasatu pegawai kafilah dagang sukses di kota Mekkah. Bahkan sebagai karyawan pun beliau menuai kegemilangan besar karena kejujuran beliau sehingga banyak orang yang mempercayakan perdagangannya kepada beliau, dan menghasilkan untung yang besar.

Menikah

Kegagahan, ketampanan, kelembutan, kemuliaan akhlak serta ketangkasan beliau ini telah menarik hati seorang janda cantik kaya raya bernama Khadijah, pengusaha besar di kota Mekkah. Dan ketika diutus utusan yang menyatakan niatnya tersebut kepada keluarga besar Muhammad, ternyata gayung bersambut, Muhammad pun menerima niat baik Khadijah tersebut, sehingga dilangsungkan lah pernikahan akbar, demi merayakan pernikahan barakah antara Muhammad Al Amin dan Khadijah At-Thahir.

Dari perkawinan tersebut lahirlah putra-putri beliau yaitu : Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Fatimah, Abdullah. Semuanya wafat sebelum rasulullah, kecuali Fatimah, yang kemudian meninggal enam bulan kemudian setelah rasulullah.

Diangkat sebagai Nabi dan Rasul

Menjelang usia empat puluh tahun, Muhammad lebih sering mereng tentang hakikat dan tujuan kehidupan. Beliau banyak menyaksikan kerusakan serta kebobrokan moral jahiliah yang ada pada kaumnya. Beliau sendiri tidak pernah melakukan apa yang biasa dilakukan oleh kaumnya tersebut. Sejak kecil beliau dijauhkan Allah dari kebiasaan jahiliyah. Bahkan pernah suatu waktu ingin turut menonton pertunjukan, namun Allah berikan kantuk sehingga beliau pun tidak sempat menonton acara tersebut.

Muhammad juga tidak pernah turut dalam ritual penyembahan Latta, Uzza, Hubal, Manaat dan berhala sesembahan kaum jahiliah lainnya. Beliau begitu membenci ajaran tersebut. Beliau lebih cenderung dengan ajaran Hanifiah yaitu sisa peninggalan ajaran Ibrahim di Mekkah, yang mengajarkan tentang kemuliaan serta budi pekerti yang baik. Hingga makin hari beliau makin menjauhkan diri dari kesibukan lingkungan dan  mengasingkan diri dari keramaian.

Akhirnya Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama pada tahun 610 M ketika sedang merenung di Gua Hira. Pembawa wahyu adalah seorang malaikat terkuat lagi amanah bernama Jibril, yang mengajari Rasulullah tentang risalah Islam sebagai agama Allah dan pegangan umat manusia.
Walau sempat kaget dengan pengangkatan beliau sebagai nabi dan rasul, bahkan sempat bertanya kepada sepupu Khadijah yang ahli kitab bernama Waraqah bin Naufal, hingga akhirnya yakinlah beliau bahwa Allah telah menurunkan pedoman terbaik-Nya bagi kemuliaan serta kebahagiaan manusia. Dan kini tugas beliau adalah menyampaikan dan mengajak manusia untuk memeluk risalah baru tersebut.

Dakwah Sembunyi

Yang pertama beliau dakwahi dan memeluk islam adalah istri beliau yaitu Khadijah, Zaid bin Haritsah (anak angkat beliau), Anas bin Malik (pembantu khadijah), Ali bin Abu Thalib (sepupu beliau putra dari Abu Thalib), dan sahabat karib beliau bernama Abdullah bin Abu Quhafah (kelak dikenal dengan nama Abu Bakar).

Mulanya beliau mengajak orang secara sembunyi-sembunyi. Dari rumah ke rumah. Abu bakar berhasil mengislamkan teman-teman bisnisnya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqash, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Arqam bin Abil Arqam. Selanjutnya sering dilakukan pengajian rutin di rumah Al Arqam bin Abil Arqam untuk membahas lebih dalam tentang wahyu-wahyu Allah sebagai ajaran Islam.

Dakwah Terang-terangan

Ketika datang perintah Allah agar mengajak manusia secara terang-terangan, maka beliau tidak lagi bersembunyi dan diam-diam. Beliau lalu mengundang mengumpulkan orang di dekat bukti Shafa, dan naik ke atasnya. Beliau menguji kepercayaan orang mekkah kepadanya dengan suatu kalimat, ternyata mereka masih mempercayainya dan menjuluki beliau Al-Amin. Artinya mereka sepenuhnya yakin dan percaya bahwa rasulullah akan selalu berkata benar tentang apa pun juga.

Namun ketika rasulullah mengajak mereka untuk memeluk Islam, dan mengatakan kebenaran tentang agama Islam, mereka malah berpaling dan mengatakan rasulullah berbohong. Padahal baru saja mereka mengatakan percaya penuh dengan mulutnya. Aneh. Tapi begitulah jika pikiran jahiliyah menyelimuti. Mereka ketakutan kehilangan kedudukan bila agama baru yang dibawa rasulullah itu semakin berkembang. Akhirnya para tokoh kafir quraisy banyak yang merancang makar untuk menghalangi perkembangan Agama Islam.

Sejak rasulullah mengumumkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan, terjadi kemajuan pesat dan banyak orang yang pikirannya terbuka masuk memeluk Islam. Islam menarik karena menghapus perbedaan derajat serta mengajarkan kemuliaan serta mengarahkan cara berpikir yang logis dan jelas. Maka masuk islam lah dari kalangan budak Bilal bin Rabah, Amar bin Yasir, Khabab bin Arats, dan lain-lain. Dari kalangan pembesar quraisy pun banyak yang tertarik sebetulnya dengan ajaran Islam yang begitu indah, seperti halnya walikota Mekkah bernama Al Walid. Akalnya yang cerdas dan bijak mengetahui bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang benar. Namun ternyata nafsunya akan jabatan dan kekuasaan lebih mendominasi sehingga dia mengurungkan niat untuk masuk Islam.

Penindasan Dakwah

Melihat kemajuan Islam para pembesar kafir quraisy semakin resah. Ada beberapa pembesar Quraisy yang memiliki pengaruh di kota Mekkah yang begitu benci terhadap Islam seperti halnya Abu Jahal (nama aslinya Abu Hakam) dan Abu Lahab (nama aslinya Abdul Uzza, paman nabi sendiri, adiknya Abdullah). Setiap kali rasulullah berdakwah mereka selalu merintangi, bahkan terang-terangan sering menyakiti rasulullah. Abu Jahal pernah berniat membunuh rasulullah ketika sedang sholat di Kaabah, namun Allah menolong beliau. Ummu Jamil istri Abu Lahab juga sering mencaci dan suka menebar duri di sepanjang rasulullah menuju kaabah, bahkan pernah berniat menusuk rasulullah ketika mendengar turunnya surat Al-Lahab.

Tidak hanya kepada rasulullah, siksaan pun menimpa para sahabatnya pula. Abdullah bin Abu Quhafah sahabatnya sering kali luka memar dan berdarah kepalanya karena melindungi nabi. Bilal disiksa ditindih batu besar di padang pasir panas, Khabab di setrika punggungnya, bahkan keluarga yasir sampai meninggal gara-gara di siksa habis sampai jasadnya hancur. Begitu perihnya masa-masa awal kehadiran Islam yang akan membebaskan manusia dari kejahiliahan.

Quraisy Membujuk Rasul

Selain makar berupa gangguan dan siksaan, kaum quraisy pernah juga melakukan negosiasi dengan rasulullah tentang dakwahnya tersebut. Mereka membujuk rasulullah untuk menghentikan dakwahnya, dengan mengganti dengan hal-hal duniawi. Bila Muhammad menginginkan harta, maka mereka siap memberi yang banyak, bila ingin jabatan maka mereka siap mengangkatnya menjadi pemimpin, bila ingin wanita maka mereka akan beri beliau para wanita tercantik di Mekkah. Tapi Muhammad Rasulullah tetap tak bergeming dan enggan menghentikan dakwah. Akhirnya kaum quraisy itu menyerah. Bujukan terakhir mereka adalah bersedia mengikuti ajaran Muhammad di satu hari namun Muhammad harus mengikuti ajaran mereka di hari lainnya. Bujukan itu langsung dibalas dengan wahyu turunnya surat Al Kaafiruun.

Pemboikotan

Gagal dengan penyiksaan maupun negosiasi bujukan damai, kaum kafir Quraisy mencoba cara lain. Kali ini mereka bersepakat dengan beberapa kabilah quraisy lainnya untuk memboikot siapa saja orang yang mengikuti ajaran Muhammad. Sedih hati rasulullah. Tidak ada yang melindunginya kecuali Bani Hasyim, tidak termasuk Abu Lahab, karena dia justru yang membenci Islam.

Selanjutnya seluruh kafir Quraisy pun merancang makar dengan membuat sebuah perjanjian yang digantungkan di Kaabah untuk memboikot Bani Hasyim. Artinya tidak boleh memberi sesuatu atau berjual beli maupun berinteraksi sosial dengan mereka. Rasulullah beserta para sahabat pengikut Islam serta Bani Hasyim telah dikucilkan. Bahkan saking hebatnya pengucilan tersebut sampai mereka tidak bisa mendapatkan makanan, kecuali  makan rerumputan dan dedaunan.

Pemboikotan tersebut berlangsung selama hampir dua tahun lebih. Sampai akhirnya lembar perjanjiannya sendiri hancur dimakan rayap. Dan juga masih ada jiwa-jiwa ksatria kaum Quraisy yang merasa tidak tega nuraninya dan menentang tindak kezaliman pemboikotan tersebut. Akhirnya boikot terhadap rasulullah dan pengikutnya serta Bani Hasyim pun diakhiri.

Hijrah Pertama : Habasyah

Merasa khawatir dengan semakin mengganasnya kaum kafir quraisy terhadap kaum muslimin, maka Rasulullah mulai mencari alternatif tempat lain untuk dijadikan tempat aman bagi keberlangsungan dakwah Islam. Ketika mendengar keluhuran budi Raja Habasyah maka beliau pun lantas menyuruh para pengikutnya untuk berhijrah ke Habasyah.

Diantara yang berhijrah adalah Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan lain-lain dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib. Jumlahnya kurang lebih 80 orang. Mereka diterima dengan baik oleh raja Habasyah, meskipun banyak gangguan dari kaum kafir Quraisy yang hendak menghalang-halangi mereka.

Kekuatan Muslimin : Islamnya Hamzah dan Umar

Sepeninggal saudara-saudaranya yang berhijrah ke Habasyah, tinggalah kaum muslimin yang semakin tidak berdaya di tindas oleh kaum Quraisy. Tersebut bahwa Abu Jahal makin sering mencaci maki Rasulullah bahkan menyakitinya. Ketika hal tersebut terdengar oleh Hamzah bin Abdul Muthalib (paman nabi), maka Hamzah pun bergegas memburu Abu jahal dan memukul Abu Jahal, seraya menyatakan tentang keislamannya. Kekuatan dan kehebatan Hamzah dikenal oleh penduduk Mekkah. Dan masuk islamnya Hamzah menggembirakan kaum muslimin.

Adapun Umar bin Khattab, adalah salasatu orang Quraisy yang banyak menyakiti dan menindas kaum muslimin di Mekkah. Mendengar kepergian teman-teman Muhammad ke Habasyah maka Umar pun makin semangat untuk menindas bahkan akan membunuh Rasulullah  yang dianggap biang kerok kericuhan di kota Mekkah.

Namun atas kehendak Allah SWT, sebelum berhasil membunuh nabi, Umar bertemu dengan adiknya yang telah lebih dulu masuk Islam. Dan nuraninya yang jujur mendapatkan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Maka langkah yang awalnya hendak menindas dan membunuh, kemudian berbalik 180 derajat, menjadi pemeluk dan pembela agama Islam.

Setelah masuk Islam, Umar pun mengumumkah keislamannya terang-terangan. Dia juga mengajak Rasulullah dan kaum muslimin untuk tidak lagi merasa ketakutan atau sembunyi-sembunyi dalam ibadah. Sehingga bersama Umar kaum muslimin dapat leluasa menjalankan solat di dalam Kaabah dengan aman, karena kaum kafir Quraisy tidak ada yang berani mengganggu sebab keberadaan Umar disana.

Demikian Allah memperkuat kaum muslimin dengan keislaman orang-orang kuat seperti Hamzah dan Umar bin Khattab.

Tahun Kesedihan

Bertahun-tahun Rasulullah menyampaikan dakwah dalam perlindungan Bani Hasyim. Dan sang pengasuh, yaitu paman beliau Abu Thalib, adalah pilar utama, yang membuat kaum quraisy setengah hati menyakiti beliau, karena mereka merasa segan dan masih menghormati tokoh sesepuh Bani Hasyim itu.

Ketika kaum quraisy meminta Abu Thalib untuk menghentikan dakwah keponakannya itu, maka Rasulullah menjawab bahwa beliau tidak akan menghentikan dakwah walaupun diletakan matahari dan bulan pada dirinya. Sejak itulah Abu Thalib mengerti kesungguhan ajaran Rasulullah. Namun sayang beliau belum mau masuk Islam. Badan Abu Thalib kurus kering dan sering sakit-sakitan semenjak turut serta di boikot. Pada akhirnya tokoh besar Bani Hasyim itu pun meninggal dunia.

Otomatis tidak ada lagi tokoh yang memberi perlindungan lagi kepada beliau. Dan tidak ada lagi yang menghalangi kaum Quraisy untuk semakin menyakiti beliau saat itu. Abu Lahab pamannya sendiri malah turut memusuhi dan mencaci Rasulullah. Alangkah sedihnya beliau, terutama ketika pengikut Islam semakin banyak mengalami penyiksaan disana-sini.

Tiga bulan setelah itu, istri beliau pun meninggal dunia. Semakin bertindih berlapis rasa sedih yang dirasakan. Khadijah, istri yang selalu setia dan bijak, dengan dukungan penuh moril dan materiil, selalu menjadi penopang  utama dakwahnya. Setiap ada keresahan maupun kepedihan yang beliau alami ada yang menghibur dan memberi semangat untuk terus bangkit berjuang.

Tahun tersebut disebut dengan tahun duka cita, karena kedua tempat sandaran beliau telah tiada. Sang Paman, Abu Thalib, dan sang istri tercinta, Khadijah. Ada kisah memilukan bahwa sang paman yang telah mengasuhnya dari kecil dan membelanya dari penindasan kaum musyrikin Quraisy, wafat tanpa sempat memeluk ajaran yang dibawanya, yaitu Islam. Mendung hati rasulullah. Namun Allah menurunkan wahyu, bahwa segala ketetapan itu milik Allah. Rasulullah tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang dikehendakinya, tapi Allah bisa.

Hikmahnya dengan wafatnya dua orang besar ini adalah agar Rasulullah tidak lagi menyandarkan perjuangan kepada manusia, tapi hanya satu yaitu kepada Allah saja.

Mencari Lahan Dakwah di Thaif

Merasa kian sengit permusuhan kaum Quraisy kepada dirinya dan kaum muslimin, Rasulullah pun mulai melirik pengembangan dakwah di tempat lain. Upaya pertamanya adalah Thaif. Thaif merupakan suatu wilayah yang subur di sekitar Mekkah. Besar harapan jika penduduk Thaif mau menerima dakwahnya, maka para pengikut beliau dapat tenang ibadah dan terhindar dari penindasan kaum kafirin Mekkah.

Maka ditemuilah para tokoh pembesar Thaif dan disampaikan tentang ajaran agama yang diterimanya. Dengan tetap senyum mengembang, besar harapan semoga para toho itu tertarik dan mau memeluk agama Islam.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tokoh-tokoh itu naik darah, dengan marah mereka mengusir Rasulullah keluar dari Thaif, dan menyuruh anak-anak kecil untuk melempari beliau dengan batu. Beberapa batu sempat membuat kepala dan kaki beliau berdarah, terlebih Zaid bin Haritsah, anak asuh beliau yang mendampinginya ke Thaif.

Akhirnya dengan tertatih beliau pun berhenti setelah jauh keluar Thaif dengan hati hancur. Namun beliau tetap seorang mulia, ketika salasatu malaikat Allah menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif yang telah menganiaya beliau. Rasulullah justru malah mendoakan orang-orang Thaif. Dan Di masa mendatang banyak penduduk Thaif yang menjadi para pembela dan pejuang Islam.

Mukjizat Isra Mi'raj

Sekitar akhir tahun ketigabelas setelah kenabian, selepas tahun duka cita ditinggal paman dan istrinya, keberanian kaum kafir Quraisy makin memuncak. Selepas upaya membuka jalan di Thaif pun menemui kegagalan, namun rasulullah selalu berupaya terus untuk mengembangkan agama Islam yang kini menjadi tugas utamanya.

Pada suatu malam, Allah memberjalankan beliau dari Masjidil Haram di Kota Mekkah, ke Masjdil Aqsha, di kota Yerusalem. Dipertemukan dengan para nabi pendahulunya. Lalu diberjalankan hingga ke atas langit, untuk diperlihatkan segala kekuasaan ciptaan Allah baik yang dzahir maupun yang ghaib. Saat itulah Allah tunjukan kepada beliau hakikat sebenarnya balasan kehidupan, Syurga dan Neraka. Untuk lebih memantapkan hati beliau bahwa tugas risalah yang diembannya adalah sesuatu yang benar. Bahwa agama sesungguhnya yang betul-betul petunjuk kebenaran adalah agama yang dibawanya yaitu agama Islam.

Ketika pagi harinya rasulullah menyampaikan tentang kisah perjalanannya tersebut, banyak yang tidak percaya. Bahkan cemoohan langsung keluar dari mulut kaum kafir Quraisy dan ejekean pun semakin menjadi bahwa Muhammad sudah makin stress akibat tekanan yang dideritanya dan mulai menjadi gila!

Hanya satu orang yang tetap tegar dan selalu berdiri tegak disampingnya, dan selalu membenarkan setiap perkataannya. Dialah Abu Bakar sang sahabat karib beliau. Maka beliau pun memberi gelar kepada Abu Bakar dengan As-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan dan berbuat benar.

Perkenalan Rasulullah dengan Kabilah dari Yatsrib

Ketika musim haji telah tiba, banyak berbagai kabilah berdatangan mengunjungi Kaabah untuk menunaikan ibadah haji. Selain itu mereka musim itu juga musim ramai perdagangan dan banyak menarik para pengusaha dari luar kota Mekkah.

Rasulullah pun tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berdakwah. Kepada setiap kabilah yang beliau temui selalu beliau sampaikan tentang ajaran Islam. Ada beberapa yang tertarik. namun kebanyakan mereka mengabaikan dan  meninggalkan beliau seorang diri. Apalagi disaat itu Abu Lahab pun gencar pula menghalangi dan mengatakan  bahwa Muhammad itu tukang bohong dan orang gila di Mekkah. Semakin menjauhlah orang-orang haji itu dari beliau.

Ketika tiba di Kabilah Khajraj, Rasulullah pun mengajarkan hal yang sama. Kali ini Suku Khajraj merespon lain. Karena di Yatsrib terdapat beberapa suku Yahudi ahli kitab dan sering mengulang-ulang tentang akan datangnya seorang nabi dengan tanda-tandanya, yang persis mereka dapati pada diri Rasulullah. Mereka pun menjadi tertarik dengan ajaran rasulullah. Semakin disimak, nyata bahwa selain makin mirip dengan perkataan para yahudi di Yatsrib, juga isi ajaran tersebut begitu indah, logis dan menenangkan. Besar harapan ajaran tersebut bisa mendamaikan peperangan yang selalu mereka alami di Yatsrib.

Maka, beberapa orang dari kabilah Khajraj itu pun masuk Islam. Kemudian setelah itu pulang kembali ke Yatsrib dan berjanji untuk bertemu Rasulullah kembali di tahun mendatang.

Duta Besar Islam

Rasulullah gembira dengan respon kabilah Khajraj dari Yatsrib itu. Sepeninggal mereka rasulullah mengirim Mus'ab bin Umair untuk memberikan pelajaran tentang Islam kepada penduduk Yatsrib. Mus'ab bin Umair adalah pemuda yang tampan dan rapi wangi. Kehadirannya di Yatsrib menarik perhatian penduduk Aus dan Khajraj. Maka dengan cepat islam pun tersiar di Yatsrib, dan kabilah Aus dan Khajraj berbondong-bondong masuk Islam.

Perjanjian Aqabah

Alangkah senang hati Rasulullah mendengar kabar kegemilangan dakwah Mus'ab bin Umair di Yatsrib. Ditambah kedatangan mereka bersama Mus'ab bin Umair untuk melakukan Baiat, janji setia membela Rasulullah SAW dengan jiwa raga mereka. Yang hadir pada waktu baiat pertama adalah sebanyak dua belas orang bertempat di Aqabah. Dikenal dengan nama Baiatul Aqobah Pertama.

Tahun haji berikutnya data lagi 80 orang penduduk Yatsrib untuk melakukan baiat kepada Rasulullah SAW siap menjalankan perintah Allah, menegakkan agama Islam serta menjamin keselamatan Rasulullah dengan jiwa raga mereka. Dikenal dengan peritiwa Baiatul Aqabah Kedua.

Hijrah Kedua : Madinah

Rasulullah sudah memiliki ketetapan untuk memindahkan para pengikutnya kaum muslimin ke wilayah Yatsrib (kelak diganti namanya oleh rasulullah menjadi Madinaturrasuul atau Madinah), karena semakin hari semakin menjadi penyiksaan kaum kafir Quraisy kepada mereka.

Maka diumumkanlah kepada kaum muslimin untuk meninggalkan rumah mereka di Mekkah menuju tempat baru yang lumayan jauh di Madinah. Kaum kafir Quraisy tentu saja menghalangi kepindahan tersebut. Mereka membolehkan kaum muslimin berpindah asal tidak membawa harta benda mereka alias harta dan rumah  mereka dirampas untuk diambil oleh kaum musyrikin di Mekkah.

Kaum muslimin pun berbekal gelora dan semangat hijrah demi menyelamatkan agama mereka tinggalkan harta benda menuju tempat hijrah sesuai perintah Allah dan rasulNya.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar