"Ini Jumat pagi. Hari dimana aku diciptakan Tuhanku", Adam membatin sendirian. Dan hari ini adalah hari dimana qurban putera-puteranya akan dinilai langsung oleh Allah. Sejak kemarin dia tidak melihat kedua anak lelakinya. Sejak dia menyampaikan perintah qurban, mereka berdua menghilang entah kemana. Sedang mempersiapkan qurban mungkin, entahlah. Tapi yang jelas, pagi ini seharusnya mereka sudah datang ke atas bukit seberang tempat qurban kedua puteranya dipersembahkan. Begitu wahyu yang dia terima.
Perasaan gamang Adam yang sedang berjalan mondar-mandir di teras rumah mereka, tak luput dari perhatian istrinya, Hawa. Ya, sebagai seorang ibu, rupanya kejadian yang menimpa kedua puteranya itu turut pula membuatnya gelisah. Masih terbayang olehnya bagaimana dia menimang bayi-bayi kembar yang mungil dan indah, itulah saat saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Generasi manusia baru telah dilahirkan. Lahir dari dalam dirinya. Masih teringat betapa bingungnya ia dengan kondisi badannya yang tiba-tiba berubah, membesar. Kalau saja tidak ada malaikat yang datang dan menenangkannya, ingin rasanya menjatuhkan diri dari ketinggian. Masih terasa ketika sakitnya melahirkan, namun semuanya segera tergantikan dengan kehadiran "manusia baru" yang mungil dan cantik. Dan hari ini darah dagingnya akan diuji Allah, betapa tidak gelisah, betapa tidak lunglai, ya Rabb, mereka semua anak-anakku, terimalah qurban mereka!! jerit batin Hawa.
Sampai hari menjelang siang belum kelihatan kehadiran Qabil dan Habil. Perasaan Adam mulai gelisah. Kuatir tidak bisa melaksanakan qurban yang mereka janjikan kepada Allah. Tapi Adam yakin bahwa anak-anaknya bukanlah pengecut. Mereka bukan pribadi yang lari dari pertempuran. Mungkin mereka masih menyiapkan apa yang hendak diqurbankan. Adam pun berusaha untuk bersabar.
Dan tak lama remang-remang nampaklah Habil pulang sendirian. Tidak. Tidak sendirian. ia seperti membawa sesuatu. Ya, sesuatu yang berjalan dibelakangnya, dan besar.
Seekor domba besar. Apakah Habil hendak mengurbankan seekor domba?
"Ayah...ini dia qurbanku. Aku sudah dapat ayah...semoga Allah ridho." ujar Habil berseri.
Adam masih tertegun.
"Ayah....?" Habil mendekat.
"Darimana kau dapat domba ini, Nak?" Adam bertanya, terharu.
"Aku menemukannya di pinggiran hutan, Ayah, tempat yang dulu pernah Ayah tunjukkan padaku."
Itu sangat jauh! Adam berkata dalam hati. Sungguh anakku ini pantas menjadi hamba terbaik-Nya, dia sudah mengerahkan diri mencari yang terbaik untuk berqurban kepada rabb-nya.
"Mana kakakmu, Nak?" tanya Adam heran karena tidak melihat bayangan Qabil.
"Lho...memangnya belum pulang juga, Yah?", jawab Habil terlihat heran juga. "Kami mengambil arah jurusan yang berbeda. Kulihat dia menuju ke selatan."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Saya akan memohon restu ayah dan berangkat saat ini juga menuju bukit tempat persembahan qurban. Takut terlambat, mumpung hari masih terang sebelum matahari tenggelam," jelas Habil mantap.
"Berangkatlah, Nak. Semoga Allah menerima qurbanmu..." Mata Adam berkaca-kaca. Ada sesuatu dalam perasaannya yang tak dapat ia ungkapkan. Kasihan, terharu, bangga bercampur sedih.
"Letakkan ditempat yang seharusnya, lalu cepat pulang karena malam ini Allah akan memilih salahsatu qurban diantara kalian berdua.."
"Baik Ayah...Habil pamit..."
Habil pun berangkat menuju bukit sambil menuntun qurbannya. Sementara itu tiga wanita memandangi dari kejauhan. Ibunda Hawa, Iqlima dan adiknya Labuda saudara Habil. Labuda menatap dengan harapan Allah menerima qurban saudaranya itu. Dia tahu siapa Habil. Baginya kakak kembarnya itu sudah seperti satu dalam dirinya. Seolah apa yang Habil pikirkan, juga yang dia pikirkan. Labuda yakin kakak kembarnya bukan orang yang rakus, apalagi ambisius.
Dari dulu juga tidak begitu. Dia yakin kakaknya cuma sekedar ingin menolong menyelesaikan persoalan diantara mereka, serta membantu ayahnya menuntaskan misi kenabian dalam menjaga kelangsungan keturunan umat manusia.
Labuda sendiri tidak pernah mempermasalahkan Habil menikah dengan siapa. Bahkan sejak awal tidak pernah terbayangkan harus melakukan kawin silang sesama saudara sendiri. Tapi inilah perintah Allah. Dan semua ini kewajiban yang harus dijalankan oleh hamba-hamba-Nya yang ta'at. Bila dulu ayah dan ibu pernah diuji dengan pohon khuldi. Sekarang inilah ujian anak-anaknya. Baginya ketaatan kepada Allah diatas segalanya bahkan sekedar kepentingan pribadi sekalipun.
Seringkali orang tua mereka me-wanti-wanti agar berhati-hati terhadap tipu daya sang musuh, yaitu Iblis dan keturunannya, yang selalu ingin berusaha mencelakakan mereka. Tapi Ayah juga selalu berpesan agar selalu meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah dari segala macam gangguan musuh-Nya.
"Iqlima...kau tahu kemana perginya kakakmu Qabil? Sampai malam begini kok belum pulang juga?" Suara Hawa memecah kesunyian.
Iqlima menggeleng. "Tidak Bu, dia tidak pernah bilang kalau pergi kemana pun."
"Kamu Labuda?"
"Kalau kakak cantik saja tidak....apalagi saya Bu." sahut Labuda sambil mesem sambil melirik Iqlima yang mendelik padanya. Perihal Iqlima yang naksir kakaknya Habil, sebagai sesama perempuan dia tahu betul meski disembunyikan dimana pun. Yang bikin kacau, Qabil ini yang suka ngejar-ngejar Iqlima. Ceilee..kayak gak ada wanita lain saja. Kan masih ada aku. Namun Labuda lebih cenderung pasrah menerima segala ketentuan Allah.
Hari semakin malam. Hujan turun rintik-rintik. Namun seluruh keluarga manusia ini belum ada yang tidur. Semua memikirkan keberadaan Qabil maupun Habil.
"Ayah...Ibu..." terdengar teriakan dari luar rumah. Semua terbangun. Adam yang paling dulukeluar rumah.
"Qabil? kamu darimana? sudah selesai qurbannya?"
Habil nyengir.
"Sudah, tinggal saja kelamaan..."
"Adikmu?"
"Aku juga pulang, Yah..." terdengar suara Habil di belakang kakaknya.
"Alhamdulillah...cepat masuk. Hujan semakin deras." Adam menyuruh keduanya masuk ke dalam rumah.
"Malam ini Allah akan menentukan langsung keputusan pernikahan kalian. Ayah mohon apa pun yang terjadi semuanya harus ikhlas, inilah ketentuan yang telah diatur oleh-Nya."
Semua tertegun.
"Kamu Qabil harus menerima bahwa ini semua bukanlah kemauan Ayah, tapi wahyu dari Allah, Tuhan kita semua, yang Maha Pengatur segalanya. Jadilah hamba yang baik dan bersabarlah. Semoga Allah memberkahi kita semua, aamiin.." Adam menutup penjelasannya.
Malam itu semuanya menunggu apa yang akan terjadi. Dan besok hari akan segera diketahui, apa yang menjadi keputusan Allah....
TO BE CONTINUE...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar