UTSMAN BIN AFFAN
Awal Perjumpaan Dakwah
Utsman bin Affan adalah salahsatu saudagar sukses dalam membangun perusahaan dagang di Mekkah. Beliau masih bersahabat dengan Abu Bakar dan Abdurrahman bin Auf. Ketika Abu Bakar memperkenalkan Islam kepadanya, Utsman langsung merasa tertarik. Karena pribadinya memang berakhlak mulia, santun dan pemalu. Namun kecerdasan Utsman dalam dunia bisnis tampak menonjol. bahkan di usia sangat muda, Utsman sudah banyak berkecimpung dengan urusan perdagangan antar negara (ekspor-impor).
Barang-barang yang dia bawa dari Syam selalu laris habis diborong orang. Begitu pula barang dagangan yang dia bawa ke Syam. Utsman banyak dipercaya orang karena kejujuran dan kecerdasannya berbisnis, sehingga banyak orang yang mempercayakan barang dagangan kepadanya.
Sejak dipertemukan dengan rasulullah SAW, Utsman langsung jatuh hati. Baginya inilah ajaran agama yang tepat dan terbaik untuknya, dibanding ajaran pagan yang membudaya di kota Mekkah. Sejak itu Utsman sering berdekatan dengan sang nabi bersama Abu Bakar dan Umar. Seluruh jiwa dan hartanya diserahkan demi kemajuan Islam. Bahkan Utsman menikahi putri nabi yang bernama Ruqayyah. Namun tidak lama, sepulang dari hijrah ke habasyah Ruqayyah menderita sakit dan wafat. Utsman pun menikahi adik iparnya, yaitu adiknya Ruqayyah bernama Ummu Kultsum. Ternyata usia Ummu Kultsum pun tidak lama, menyusul sang kakak. Andai Fatimah belum dinikahi Ali bin Abu Thalib, mungkin akan dinikahi oleh Utsman bin Affan pula. Begitulah rasa cinta Utsman kepada Rasulullah SAW dan keluarganya.
Ketika terjadi Perang Badar Utsman tidak ikut karena sedang merawat istrinya yang sakit. Namun pada Perang Uhud dia berngkat mendampingi rasulullah di garda terdepan. Begitu pula pada tiap peperangan berikutnya Utsman tak pernah ketinggalan bersama rasul. Bahkan ketika terjadi Perang Tabuk, dimana rasulullah meminta kepada seluruh kaum muslimin untuk bersedekah membantu persiapan perang, Utsman bersedekah dengan 950 unta, 70 kuda dan 1000 dirham. Diikuti oleh Abdurahman bin Auf yang juga menyumbang logistik, unta dan kuda serta persenjataan. Umar bin Khattab menhyerahkan separuh hartanya. Dan Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya untuk kepentingan perang. Begitulah para sahabat dalam berlomba-lomba dalam sedekah terbaiknya.
Ketika rasulullah wafat, dalam rasa sedihnya Utsman turut membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah. Dan aktifitasnya dalam membela Islam tetap tidak berubah. Begitu pula ketika Abu Bakar Wafat dan kemudian digantikan Umar bin Khattab, khidmat Utsman adalah Islam, agama yang dibawa oleh Rasulullah Sang Nabi sekaligus mertua beliau.
Menjadi Khalifah
Ketika terjadi peristiwa penusukan Umar bin Khattab di masjid menjelang subuh oleh seorang Majusi Persia, Utsman pun hampir menjadi korban, namun akhirnya pelaku dapat segera dilumpuhkan dan di hukum qishash.
Menjelang wafatnya Umar sempat berpesan agar memilih penggantinya diantara 6 orang yang disebut yaitu Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidilah dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Mereka adalah sisa dari 10 para sahabat besar yang masih hidup yang disebutkan oleh rasulullah dijamin masuk syurga.
Syura' pun akhirnya memutuskan bahwa yang terpilih sebagai khalifah pengganti Umar adalah Utsman bin Affan ra. Waktu dipilih usia Utsman sudah hampir 70 tahun. Namun kegagahan, kecerdasan dan kharismatiknya masih terpancar sehingga kaum muslimin mempercayakan kepemimpinan daulah Islam yang sudah luas tersebut kepadanya.
Meneruskan Perjuangan Islam
Sepeninggal Umar, Khalifah Utsman bin Affan meneruskan jejak khalifah pendahulu. Selain mengelola administrasi negara, berikut seluruh provinsi dari Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir, Utsman juga membuat pengembangan pembangunan insfrastruktur di berbagai kota, termasuk Mekkah dan Madinah. masjid nabawi dan masjid alharam di renovasi. Jalan-jalan utama diperluas, termasuk membuat jalan-jalan infrastruktur yang baru, untuk menghubungkan antar provinsi.
Selain infrastruktur, Utsman juga meneruskan pengembangan wilayah kekuasaan Islam, diantaranya ke wilayah Afrika Utara (Libya, Tunisia, Maroko, Aljazair). Ke utara ditaklukan Azerbaijan, ke timur dimasukan Khurasan (Iran) dalam kekuasaan Islam. Utsman juga membentuk armada laut muslimin yang mampu menaklukan pulau Cyprus dan Kepulauan Rhodes menjadi bagian wilayah kaum muslimin. Bahkan dapat masuk melalui jalur laut ke dekat konstantinopel ibu kota kekaisaran Romawi Timur Byzantium. Namun mendapat perlawanan gigih dari orang-orang turki, sehingga banyak yang syahid, termasuk Abu Ayub Al Anshari, sahabat yang rumahnya pernah disinggahi rasulullah ketika pertama kali beliau hijrah ke Madinah.
Membukukan AlQuran
Jasa terbesar Utsman bin Affan adalah beliau mampu menghimpun dan membukukan Alquran, proyek yang belum bisa diselesaikan di masa Abu Bakar. Dengan ditunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua pelaksananya, dimulai kembali proses pengumpulan Alquran, dari berbagai pelepah kurma, kulit dan tulang binatang maupun batu. Kemudian ditulis ulang dengan khat yang kemudian dikenal dengan Utsmani, disusun lalu dibukukan.
Wilayah Islam yang sudah tersebar luas dengan beragam bahasa dan budaya memerlukan pemersatu. Maka pedoman pemersatu itu adalah AlQuran, dan bahasa pemersatunya adalah bahasa arab. Maka dikirimlah beberapa mushaf dan disebar ke seluruh provinsi wilayah Islam, diiringi oleh para pengajar bahasa arab.
Pada masa utsman juga mulai disusun kaidah nahwu shorof untuk memudahkan orang memahami bahasa arab yang menjadi bahasa AlQuran. Maka berbondong-bondonglah orang belajar bahasa arab. Dan ilmu agama yang hampir padam itu kembali dinyalakan bahkan sinarnya semakin terang benderang. Itulah cahaya hidayah.
Di masa beliau ilmu berkembang pesat. Banyak bermunculan tokoh-tokoh ahli agama, murid dari para sahabat yang dinamakan tabi'in. Metode-metode ilmu pun dibuat. Kondisi islam masih diliputi ketenangan, hingga hadir kaum munafik dan yahudi yang mengaku sebagai muslim, seperti Abdullah bin Saba yang mengusik ketentraman umat islam.
Selain keilmuan, khalifah Utsman juga sering mengganti para pejabat yang kurang cakap demi menjaga stabilitas. Namun rupanya sikapnya tersebut memancing ketidakpuasan dari berbagai pihak yang digantikan. Ditambah lagi dengan angin fitnah yang dihembuskan syaiton dan kaum yahudi yang sejak awal memang menanti-nanti kelengahan umat Islam untuk melampiaskan dendam kesumatnya, sejak diusir dulu dari Madinah dan Khaibar, di masa rasulullah masih hidup.
Fitnah dan akhir hayat sang khalifah
Berawal dari desas-desus tentang sikap Utsman yang lebih mementingkan kaum kabilahnya di banding yang lain, sehingga banyak gubernur dan para pejabat yang diganti. Ditambah isu tentang fitnah perebutan kekuasaan dari rasulullah kepada Abu Bakar, padahal seharusnya jatuh kepada Ali bin Abu Thalib, sepupu terdekat dengan rasulullah. Isu ini dipelopori oleh Abdullah bin Saba, seorang munafik yahudi, yang akhirnya melahirkan gerakan Islam Syi'ah, yaitu gerakan yang amat berlebihan dalam memuja Ali, dan menyalahkan selain Ali.
Awan fitnah semakin tebal menyelimuti kota Madinah. Orang-orang banyak yang termakan fitnah. Hingga terjadi sekumpulan orang yang melakukan demo di depan rumah Khalifah Utsman tentang keadaan yang dianggap tidak beres dan kurang adil. Namun ternyata unjuk rasa itu berubah menjadi pengepungan rumah khalifah, dan berujung dengan peristiwa pembunuhan terhadap Utsman bin Affan. Beliau gugur sebagai syahid dikeroyok orang-orang tak dikenal, hingga tubuhnya terkoyak dan tercabik dengan banyak luka bacokan pedang.
Namun akhir hayat beliau tutup dengan senyum, karena pernah suatu ketika bersama rasulullah, Abu Bakar dan Umar, mereka sedang mendaki bukit Uhud. Ketika tiba-tiba Uhud bergetar gempa, rasulullah bersabda bahwa diatas Uhud ada seorang nabi, seorang siddiq dan dua orang syahid. Artinya rasulullah mengetahui bahwa akhir hayat Umar dan Utsman adalah sebagai syuhada. Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar