Kamis, 05 Juli 2018

Sejarah Nabi Muhammad SAW (Madinah)



PERIODE MADINAH


Rasulullah SAW Hijrah

Ketika gangguan kaum musyrikin Quraisy semakin hebat, turunlah perintah Allah kepada rasulullah untuk hijrah meninggalkan Mekkah menyusul para sahabat yang telah mendahuluinya ke Madinah.

Ketika itu banyak kaum muslimin yang meninggalkan Mekkah, meninggalkan rumah tempat tinggal dan seluruh harta bendanya begitu saja. Abdurrahman bin Auf bahkan tak membawa harta sepeser pun, dirampas seluruhnya oleh kafir Quraisy. Begitu pula yang lainnya. Bahkan tidak sedikit yang diancam siksa dan kehilangan nyawa, sehingga mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi.



Melihat gelagat kepindahan besar-besaran kaum muslimin, maka para tokoh kafir quraisy menyusun siasat untuk segera membunuh nabi SAW. Jangan sampai Muhammad lolos meninggalkan Mekkah. Disiarkan hadiah besar bagi siapa yang mampu memenggal dan membawa kepala Rasulullah. Abu Jahal menyarankan untuk mengumpulkan para pemuda yang akan mengepung rumah nabi Muhammad, sekaligus siap untuk membantai rasulullah.

Rasulullah pada malam itu menyuruh sepupunya, Ali bin Abu Thalib, untuk tidur di atas tempat tidurnya. Sementara beliau bergerak menuju rumah Abu Bakar untuk mengajaknya berhijrah malam itu juga. Malam kian larut. Di luar sudah banyak berkeliaran para pemuda menghunus pedang, makin banyak merapat mengepung rumah nabi SAW.

Menjelang pagi Rasulullah dan Abu Bakar sudah jauh meninggalkan rumahnya, mengambil jalan berputar melalui selatan dan istrirahat di Gua Tsur hingga pagi.

Betapa terkejut para pemuda quraisy yang mengepung rumah rasulullah ketika mereka masuk menerobos ke kamar rasulullah ternyata yang sedang terbaring adalah Ali bin Abu Thalib. Kegaduhan pun terjadi. Mereka lantas keluar sambil mencari jejak perginya rasulullah. Dan akhirnya sampailah mereka ke sekitar tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar di Gua Tsur.

Abu Bakar yang menemani Rasulullah terlihat gelisah karena para pemuda quraisy yang akan membunuh rasul mulai mendekati mulut gua, namun sekali lagi Allah melindungi dan menyelamatkan rasulNya dan akan menegakkan agama Islam di kota yang baru, yaitu Madinah.

Rasulullah Tiba di Madinah

Hampir seminggu lamanya Rasulullah bersama Abu Bakar mengarungi padang pasir menuju Madinah dengan ditemani penunjuk jalan seorang arab badui. Bahkan sempat terkejar oleh salaseorang pemuda Quraisy yang hendak membunuhnya yang bernama Suraqah bin Malik. Namun akhirnya setelah beberapa kali kudanya terjungkal Suraqah pun menyerah dan masuk Islam.

Akhirnya sampailah Rasulullah di wilayah Quba dekat Yatsrib. Mendengar kedatangan Rasulullah, seluruh warga Arab Yatsrib, baik dari suku Aus dan Khajraj, bersuka cita menjemput dan menyambut beliau. Bahkan salaseorang rahib pemuka yahudi di kota tersebut yang bernama Abdullah bin Salam pun turut pula hadir dan merekam seluruh kejadian pada saat penyambutan tersebut. Thala'al Badru Alaina.....

Di Quba ini beliau membangun masjid pertama kali untuk berkumpul dan shalat berjamaah. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Yatsrib. Banyak orang yang berkeinginan menjamu agar rasulullah tinggal di rumah mereka. Proses pemilihan tempat tinggal beliau terbilang unik, yakni beliau membiarkan untanya si Qushwa sampai berhenti, maka disitulah rasulullah akan tinggal. Dan ternyata rumah yang terpilih itu rumahnya seorang sahabat kaya bernama Abu Ayub Al Anshari.

Sejak kedatangan beliau kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinaturrasul, artinya kota Rasul, dan dikenal dengan nama Madinah. Di tempat baru tersebut Rasulullah mempersaudarakan antara kaum muslimin yang datang dari Mekkah, dikenal dengan istilah Muhajirin (yang berhijrah), dengan kaum muslimin yang tinggal di Madinah baik dari Aus maupun Khajraj, dikenal dengan istilah Anshar (yang menolong). Setiap anshar dengan tulus berbagi dengan saudaranya yang muhajirin dalam hal tempat tinggal maupun harta benda. Allah lah yang telah menyediakan dan menautkan hati-hati mereka bersaudara, subhanallah..

Menata Masyarakat Baru Madinah

Selanjutnya rasulullah membangun Masjid Nabawi untuk keperluan sholat berjamaah, dan tempat musyawarah kaum muslimin. Disamping masjid pun dibangunkan rumah untuk rasulullah dan istri-istrinya.

Kota Madinah berbeda dengan Mekkah. Bila di Mekkah masyarakatnya hanya satu yaitu kaum musrikin Mekkah, dan hampir tidak ada ahlu kitab disana. Sementara di Madinah masyarakatnya terbagi dua kelompok, masyarakat Arab jahiliyah yaitu suku Aus dan Khajraj, dan kaum Yahudi terdiri dari tiga suku, yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir dan Bani Quraidhah.

Sebelum kedatangan rasulullah suku Aus dan Khajraj sering berperang memperebutkan hal sepele tentang siapa paling unggul. Dikompori oleh ketiga yahudi yang memang sering membuat kericuhan. Ketika Aus dan Khajraj disatukan rasulullah dalam naungan Islam dan menjadi kaum Anshar, maka kaum Yahudi kehilangan sekutunya "mainannya".

Kaum yahudi tahu bahwa nabi Muhammad memang betul rasul Allah, sesuai ciri-ciri yang mereka ketahui dalam kitab taurat dan injil. Ketika Abdullah bin Salam melihat pertama kali, beliau pun langsung yakin dan masuk islam. Lain dengan rekannya yaitu Huyay bin Akhtab, dia justru sebaliknya, meskipun tahu dan yakin dengan kebenaran rasulullah sebagai nabi akhir zaman yang di utus Allah sesuai dalam taurat, namun dia malah membenci dan memusuhinya.

Masyarakat Madinah sendiri saat kehadiran Rasulullah terbagi menjadi tiga golongan. Yakni kaum muslimin, ahlul kitab yaitu kaum yahudi, dan orang arab madinah yang "terpaksa" turut islam padahal hatinya membenci Islam karena dianggap telah merebut kepemimpinan mereka di kota Madinah, kelompok ini dipimpin oleh tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Anaknya Abdullah bin Ubay sendiri adalah seorang pemuda yang sholeh dan bagus islamnya.

Membuat Perjanjian Madinah

Rasulullah SAW menghadapi masyarakat Madinah kemudian membuat sebuah kesepakatan yang jadi pedoman atau rujukan undang-undang dasar yang mengatur kemasyarakatan di kota Madinah, yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah. 

Dalam undang-undang dasar tersebut diatur pola hubungan antar golongan, baik muslimin maupun yahudi, untuk saling tolong menolong tanpa saling mengganggu demi terjaganya keamanan dan ketertiban di kota Madinah. Dengan disepakatinya perjanjian tersebut maka posisi kaum muslimin menjadi aman dan bisa lebih fokus memperdalam keislamannya.

Membuat Pasar dan Laskar Pengamanan Madinah

Setelah mengatur kondisi internal Madinah, rasulullah mulai fokus menyampaikan wahyu serta membina keislaman, dan memperkuat keamanan serta kesejahteraan kaum muslimin di Madinah. Membuat dan mengembangkan pasar dan perekonomian. Membuat pos-pos penjagaan di sekitar Madinah untuk menghalau para perampok dan pengganggu dari kaum arab badui padang pasir yang masih banyak di sekelilingnya.

Ditambah lagi upaya kaum kafir quraisy mereka tak henti-hentinya berupaya menghasut kabilah-kabilah arab sekitar madinah untuk turut memusuhi Rasulullah di Madinah dan melakukan serangan-serangan untuk mengganggu dan menghancurkan kaum muslimin.

Adapun kondisi kaum muslimin di Madinah, ketika mereka meninggalkan Mekkah, telah kehilangan harta benda karena dirampas oleh kaum musyrikin Mekkah. Mereka tinggal di Madinah dengan sekedar menumpang saja. Padahal mereka memiliki harta kekayaan di Mekkah. Maka ketika terdengar ada kafilah dagang kafir Quraisy yang dulu telah merampas harta mereka, akan lewat Madinah membawa serta harta benda yang banyak, maka kaum muslimin tergerak untuk mengambil kembali harta mereka yang dirampas di Mekkah.

Namun upaya ini gagal dan kafilah dagang yang dipimpin Abu Sofyan berhasil kabur dan meminta bantuan kepada Abu Jahal di Mekkah untuk segera mengirim pasukan tempur agar menyerang semua pengikut Rasulullah di Madinah.

Rumah Tangga Rasulullah

Setelah ditinggal wafat Khadijah, menjelang Peristiwa Isra Miraj, rasulullah terlihat sering gelisah. Maka sewaktu di Mekkah kaum kerabat pun sepakat mencarikan pendamping untuk beliau. Maka ketika ditawari untuk menikah dengan temannya Khadijah bernama Saudah binti Zam'ah beliau pun turut saja. Sejak itu Saudah pun resmi menjadi pengganti Khadijah melayani kehidupan rumah tangga beliau.

Menjelang peristiwa Hijrah, nabi mendapat wahyu untuk menikahi Aisyah binti Abu Bakar. Maka beliau pun melaksanakan peritah tersebut walau Aisyah kala itu masih kanak-kanak. Beliau dinikahi rasulullah pada usia 9 tahun, namun diajak berkumpul bersama di usia 12 tahun.

Di hari mendatang beliau menikahi beberapa perempuan dalam rangka menolong dan menguatkan umat dengan hadirnya ummahatul mukminin dengan berbagai karakteristiknya untuk menjadi teladan semuanya. Istri beliau setelah Aisyah adalah Zainab binti Jahsyi, masih termasuk famili dengan beliau, dinikahi demi menghapus tradisi jahiliah yang tersebar. Setelah itu beliau menikahi Ummu Salamah, janda dari sahabatnya yang mulia yaitu Abu Salamah. Beliau memuji ketinggian akhlak dan kecerdasan Ummu Salamah. Bahkan kecantikan Ummu Salamah diperebutkan juga oleh Abu Bakar dan Umar bn Khattab.

Setelah itu berturut-turut ada Juwairiyah binti Al Harits, putri kepala kabilah, lalu Shafiyah binti Huyay putri yahudi Bani Nadhir, lalu ada Hafshah binti Umar ahli baca tulis putri Umar bin Khattab, lalu ada Maryam Al Qibthiyah putri mesir, terakhir Maimunah yang menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada rasulullah.

Semua para istri rasul ditempatkan terpisah dan diberikan ruangan masing-masing di area sebelah selatan samping masjid Nabawi. Rasulullah menjalankan tugas sebagai suami dan kepala rumah tangga dengan adil, dan membagi waktu gilir tinggal dan nafkah merata kepada semua istrinya tersebut.

Namun sayangnya, dari semua istrinya beliau tidak memberikan keturunan selain dari Maryam Al Qibtiah yaitu Ibrahim, itupun meninggal sewaktu masih menyusui. Jadi keturunan rasulullah hanya bersumber dari putrinya Fatimah dan Ali bin Abu Thalib, yaitu Hasan, Husein dan Rabiah, sebelum Fatimah binti Muhammad wafat. Keturunan itulah yang kemudian menyebar ke wilayah Yaman dan Mesir. Jadilah terkenal keturunan rasulullah dikenal dengan istilah sayid dan sayidah, atau kalau di indonesia istilah habib habibah. Itulah sekelumit tentang keluarga rasulullah.

Perang Badar Kubra

Selanjutnya kembali ke Madinah, ketika rasulullah mendengar kafilah Abu Sufyan akan melintas ke Madinah. Beliau bersama 300 orang kaum muslimin tiba di Badar untuk mencegat kafilah dagang Abu Sofyan. Namun ternyata yang datang adalah pasukan besar Abu Jahal, lengkap dengan peralatan perang kurang lebih 1000 orang. Mereka benar-benar berniat membumihanguskan kaum muslimin yang sudah hijrah ke Madinah. Bersama mereka dibawa pula patung-patung sesembahan seperti latta uzza hubal manat dan sebagainya. Bahkan iblis pun menyerupakan diri sebagai seorang penasehat Abu Jahal menyemangati dan memimpin peperangan akbar guna menghancurkan dan melenyapkan Rasulullah dan kaum muslimin selamanya.

Adapun Rasulullah, tatkala melihat datangnya pasukan perang Abu Jahal dengan jumlah demikian besar, maka tidak ada tempat sandarannya selain mengadu kepada Allah untuk mempertahankan keselamatan Islam dan kaum muslimin. Dan Allah pun mengabulkan permohonannya untuk memenangkan peperangan akbar tersebut dengan menurunkan malaikat Jibril beserta pasukan perang malaikat lengkap dengan persenjataan dalam membantu kaum muslimin. Yang pertama kali melihat kehadiran Jibril di arena perang adalah Iblis, yang kemudian ketakutan dan hilang melarikan diri.

Perang Badar yang terjadi dengan jumlah tidak seimbang itu berlangsung amat sengit. Setelah didahului duel satu lawan satu, yang dimenangkan oleh kaum muslimin, maka terjadilah kecamuk peperangan dengan amat dahsyatnya. Kaum muslimin dengan senjata alakadarnya melawan kaum musyrikin Mekkah dengan alat perangnya yang lengkap beradu.

Sementara rasulullah terus berdoa memohon keselamatan dan kemenangan. Hingga Allah menurunkan Jibril dan balatentaranya membantu memenangkan rasulNya. Pertempuran berlangsung hebat. Dengan kematian Abu Jahal dan beberapa pemuka kafir quraisy lainnya, perang pun berakhir, dan sisanya lari tunggang langgang meninggalkan Badar kembali ke Mekkah.

Pasca Perang Badar

Beberapa tokoh Quraisy ada yang menjadi tawanan perang Badar. Sebagian dibayar tebusan, dan dikembalikan kepada keluarganya. Sebagian lagi dibunuh karena dianggap penjahat perang dan akan membahayakan kaum muslimin. Dalam perang ini kaum muslimin mendapatkan harta ghanimah yang besar dan cukup untuk kesejahteraan seluruh penduduk madinah.

Berita kekalahan kaum musyrikin Mekkah dan kemenangan kaum muslimin Madinah pada perang badar segera tersebar. Berbagai macam responnya. Penduduk Mekkah yang membenci Rasulullah dan kaum muslimin merasa sedih mendengar kekalahan dan kematian para pemimpin mereka.

Sementara Abu Lahab yang ketinggalan berperang marah luar biasa, tidak ada yang menghentikan kalapnya selain pukulan seorang perempuan tua yang masih familinya yang mengakibatkan kepalanya berdarah. Dan luka kepala itu ternyata tak kunjung sembuh malah menjadi borok dan bernanah, dan membawa kepada ajalnya seminggu kemudian. Mayatnya yang berbau busuk membuat para penduduk enggan menguburkannya, sekedar menggali lobang, lalu mendorong-dorong mayatnya dengan galah sampai masuk lubang, kemudian melemparinya dengan batu, saking tak tahan dengan bau busuknya. Itulah akhir hayat Abu Lahab.

Kaum musyrikin Mekkah semakin terpuruk, sementara kaum muslimin Madinah nampak bersuka cita dengan kemenangan Rasulullah di Badar. Semakin meningkat harga diri mereka dan semakin kokoh kedudukan Rasulullah di Madinah. Sementara itu orang Arab munafik pimpinan Abdullah bin Ubay semakin tidak punya nyali, dan kaum Yahudi tidak berani lagi menyepelekan kekuatan Rasulullah dan kaum muslimin di Madinah.

Para kabilah-kabilah badui sekitar kota madinah yang biasanya sering mengacau ketentraman kota, kini tak berani lagi mengganggu. Peristiwa peperangan Badar telah meninggikan harkat dan martabat kaum muslimin di mata seluruh kalangan, baik di kota Madinah maupun seluruh kabilah yang mengenal mereka.

Gangguan Kaum Yahudi

Setelah menyaksikan kemenangan kaum muslimin pada perang badar, kaum yahudi semakin memendam dengki. Karena rasul itu bukan dari golongan yahudi, bahkan kini Allah telah memberinya kemenangan. Begitulah memang sifat mereka, kecuali yang Allah beri hidayah.

Mereka menyebarkan isu bahwa lawan kaum muslimin itu yakni kaum musyrikin Mekkah adalah orang-orang yang lemah dan bodoh. Pantas saja menang. Andai melawan kaum yahudi pasti yahudi yang menang karena mereka lebih hebat dan lebih cerdas dari orang kafir Mekkah. Begitu propaganda yang disebarkan yahudi guna melemahkan umat Islam Madinah.

Beberapa kali mereka membuat kegaduhan, melakukan adu domba suku Aus dan Khajraj dan menyebarkan desas-desus untuk meresahkan kondisi masyarakat Madinah. Rasulullah menahan diri untuk menanggapi mereka karena diikat oleh Perjanjian Madinah. Namun kaum yahudi itu justru makin merasa besar kepala dan ingin merusak perjanjian, dan menganggap Rasulullah tidak berani bertindak kepada mereka, kaum yang dipilih Tuhan.

Pengusiran Yahudi Bani Qainuqa

Peristiwa bermula dari kelakuan kaum Yahudi, terutama Bani Qainuqa, yang menganggap diri mereka lebih hebat, sehingga berani mengganggu dan melecehkan kaum muslimin. Bahkan membunuh seorang muslim yang sedang membela kehormatan seorang muslimah yang diganggu yahudi.

Perjanjian sudah dilanggar.

Rasulullah pun tidak tinggal diam. Beliau lalu menyiapkan pasukan untuk menuju perkampungan Bani Qainuqa. Mendengar pergerakan pasukan rasulullah nyali kaum yahudi ini pun ciut, mereka lalu bersembunyi dalam benteng yang kokoh. Rasulullah mengepung mereka, sampai akhirnya mereka menyerah.

Rasul pun memerintahkan untuk menghukum bunuh semua para pengkhianat itu. Namun atas pembelaan Abdulah bin Ubay, yang membela sekutunya dulu, maka hukuman bunuh diganti menjadi pengusiran dari Madinah selama-lamanya. Mereka harus meninggalkan Madinah sejauh mungkin, jangan pernah kembali. Akhirnya mereka terdampar di wilayah sekitar Syam. Sebagian besar banyak yang mati.

Pengkhianatan Ka'ab bin Asyraf

Dia adalah salahsatu gembong yahudi Madinah. Dia termasuk salasatu pemimpin Bani Nadhir. Ketika mendengar kemenangan kaum muslimin di badar, Ka'ab ini pun langsung pergi menemui kaum kafir quraisy di mekkah. Dengan berpura-pura menangis menunjukkan bela sungkawa, Ka'ab menyuruh agar kaum quraisy menuntut balas kepada muslimin Madinah.

Pengkhianatan lainnya adalah bahwa dia sering mencemooh nama rasulullah, serta mengejek agama Islam dan merendahkannya. Bahkan dia terang-terangan menantang kaum muslimin dengan mengganggu ketentraman kota Madinah dengan cerita-cerita busuk sehingga membuat keresahan warga.

Akhirnya Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Ka'ab bin Asyraf karena ucapannya sangat membahayakan persatuan dan kesatuan kota Madinah, dan sering kali menjelek-jelekan Allah dan Rasulullah kepada kaum muslimin.

Dengan izin Allah, masalah Ka'ab pun dapat diselesaikan dan dia terbunuh dengan suatu siasat, sehingga tidak menyulut peperangan besar. Ketika kaumnya mengetahui kematian Ka'ab, mereka ketakutan dan terdiam, kembali tunduk pada perjanjian Madinah yang sudah mereka sepakati.

Perang Uhud

Beberapa pengacau di Madinah sudah dapat ditangani. Namun efek perang Badar ternyata belum selesai. Setahun kemudian Mekkah kembali bangkit. Dengan dada berkobar penuh dendam atas kekalahan mereka di perang Badar, para tokoh quraisy seperti Shafwan bin Umayah, Abu Syfyan bin Harb, Ikrimah bin Abu Jahal, dan lain-lain kembali bergerak. Dipimpin Abu Sufyan mereka mengirimkan pasukan sejumlah 3000 orang gabungan quraisy dan kabilah lainnya sekitar Mekkah yang memusuhi nabi, untuk menyerang Madinah.

Rasulullah dan kaum muslimin pun bersiap menanti kedatangan pasukan kafir Quraisy tersebut dan bergerak menghadang di sekitar bukit Uhud. Jumlah pasukan beliau sebanyak 1000 orang, namun ditengah jalan terjadi desersi pembelotan sekitar 300 orang yang terhasut oleh tokoh munafik Abdullah bin Ubay yang balik pulang kembali ke kota Madinah.

Sisa pasukan tetap melanjutkan dan membuat strategi persiapan perlawanan di sekitar kaki Pegunungan Uhud. Rasulullah membuat pos-pos penjagaan strategis, diantaranya membagi pasukan menjadi beberapa kelompok dan menempatkan para pemanah pada sebuah bukit (kelak di kenal sebagai Jabal Rumat) yang dapat melindungi dari berbagai serangan.

Pembawa bendera oleh Mus'ab bin Umair. Di sayap kanan bersiap Zubair bin Awwam, sayap kiri Sa'ad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Jahsy. Barisan pendobrak siap mengamuk Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Dujanah. Di barisan belakang mengawal Rasulullah ada Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Al Jarrah , Sa'ad bin Muadz dan beberapa sahabat anshar lainnya.

Pasukan kafir Quraisy datang dibawah komando Abu Sufyan bin Harb, lengkap dengan peralatan perang. Bahkan tampak para wanita quraisy pun ikut serta dalam rombongan menyemangati semangat berperang. Tampak pasukan besar digerakan di bawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Sementara pasukan berkuda dibawah komando Khalid bin Walid langsung menyerbu ke tengah-tengah penjagaan pasukan kaum muslimin.

Perang pun berkecamuk dahsyat. Masing-masing pasukan berlomba mendahului menghabisi lawan. Perlahan tampak kaum kafir quraisy kewalahan menahan gempuran Hamzah dan Abu Dujanah, serta serbuan heroik kaum muslimin yang laksana air bah. Sementara pasukan berkuda Khalid tak berkutik karena dihujani panah pasukan Abdulah bin Jubair di Jabal Rumat (Bukit Pemanah).

Akhirnya pasukan quraisy pun lari tunggang langgang meninggalkan segala harta bendanya. Hal tersebut menarik perhatian duniawi kaum muslimin, mereka serentak turun memburu ghanimah sebanyak-banyaknya. Dianggap kemenangan sudah di depan mata.

Saat itulah Khalid bin Walid melihat celah kosong yang telah ditinggalkan pasukan pemanah tak lagi terlindungi, lalu pasukannya berbalik memutari bukit dan menghantam kaum muslimin yang sedang berburu ghanimah secara tiba-tiba.

Semua kaget. Pasukan kafir quraisy gembira dan berbalik menyerang, sementara kaum muslimin panik karena terjepit dan dihajar habis. Sebagian melarikan diri dan sebagian lagi terbunuh, diantaranya Hamzahbin Abdul Muthalib, Mus'ab bin Umair, Abdullah bin Jahsy, dan beberapa lainnya. Bahkan tersiar kabar bahwa rasulullah saw telah terbunuh. Dan memang hampir terbunuh, bahkan gigi beliau tanggal dan kepalanya terluka. Tidak ada sahabat yang bisa melindungi beliau selain Thalhah dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Semua sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing.

Rasulullah berteriak menyemangati pasukan yang kocar-kacir, sekaligus menunjukan diri bahwa beliau masih hidup. Serentak berkumpullah di para jendral muslimin di sekitar beliau melindungi dan membawa beliau ke tempat aman yang lebih tinggi di lereng gunung Uhud. Pasukan musyrikin tidak mampu mengejar karena dihujani panah oleh Abu Thalhah dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Akhirnya perang pun berhenti.

Setelah terjadi dialog antara Abu Sufyan dan Umar bin Khattab, pasukan Quraisy pun meninggalkan arena pertempuran Uhud, kembali ke Mekkah. Sementara kaum muslimin mengumpulkan jasad para syuhada.

Banyak jasad yang kondisinya amat menyedihkan, dicincang dipenggal dan disayat tercabik-cabik. Jasad Hamzah sendiri hancur tak karuan disayat dan dicincang Hindun hingga membuat rasulullah menangis. Kaum muslimin lalu mengubur mereka semua bersama di lokasi syahidnya, kemudian mereka pun kembali pulang ke Madinah.

Madinah Berduka

Tiba di Madinah semua warga Madinah berduka mendengar berita peperangan Uhud. Kecuali kaum munafikin Abdullah bin Ubay dan teman-temannya, serta kaum Yahudi. Mereka memang dari semula tidak pernah senang terhadap Islam. Bahkan selalu berusaha mencari cara agar kaum muslimin berada dalam kesulitan. Masih ingat dalam ingatan peristiwa pengkhianatan Bani Qainuqa dan pembelotan Abdullah bin Ubay sewaktu berangkat menuju peperangan Uhud.

Berita kekalahan kaum Muslimin Madinah juga tersiar sampai kepada kabilah-kabilah sekitar dari suku-suku arab badui yang biasa mengganggu dan merampok kafilah. Mereka kembali mulai bertindak berani dan meremehkan umat Islam madinah. Beberapa kali melakukan penyerangan namun dapat dihalau kaum muslimin. Sementara konspirasi kejahatan antara kaum yahudi dan kaum munafikun madinah pun tidak kalah berbahayanya. Dan rasulullah harus segera menuntaskan keduanya.

Tragedi Pengkhianatan di Ar-Raj'i

Pada bulan Shafar beberapa bulan setelah perang Uhud ada dua kabilah arab yaitu Adhal dan Qarah datang kepada rasulullah meminta dikirim para pengajar Islam untuk mengajari mereka tentang Islam di kampungnya. Rasulullah senang mendengarnya dan mengirim 10 orang penghafal Quran dan ahli tentang agama Islam.

Namun sesampai di daerah Ar-Raj'i tiba-tiba dua kabilah Arab tersebut dibantu Bani Lihyan justru malah berkhianat dan menikam para ustadz tersebut. Sebagian di bawa dan di jual kepada kafir quraisy mekkah, diantaranya Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah. Khubaib dibeli Hujair attamimi, kemudian disalib dan dibunuh. Namun sebelum disalib dia sempat melaksanakan sholat dua rakaat. Sementara Zaid dibeli Shafwan bin Umayah, dan dibunuh.

Tragedi Pengkhianatan di Bi'ru Ma'unah

Pada bulan yang sama dengan peristiwa Ar-Raj'i, rasulullah juga mengirim tujuh puluh para pengajar Islam ke wilayah Nejd atas permintaan orang disana. Namun ternyata lagi-lagi terjadi pengkhianatan dari kabilah di Nejd dan Bani Sulaim. Seluruh ustadz yang dikirim semuanya dibunuh. Peristiwa tersebut disaksikan seorang muslimin yang sedang mengembala kambing, dan kemudian dilaporkan kepada Rasulullah di Madinah.

Ada peristiwa ketika penggembala ini mendekati Madinah bertemu dengan dua orang kabilah Arab yang terikat perjanjian damai dengan Rasulullah. Namun penggembala itu langsung membunuh mereka karena mengira dua orang tersebut merupakan musuh Islam.

Ketika sampai di Madinah dan menceritakan peristiwa di Bi'ru Maunah dan pembunuhan dia terhadap kedua arab dekat Madinah, lantas rasulullah sedih bercampur haru. Beliau meminta ampun untuk orang tersebut dan mencarikan diyat pengganti atas kesalahan pembunuhan.

Atas pengkhianatan para kabilah arab tersebut yang telah menghabisi para pengajar islam di Bi'ru Ma'unah dan Di Ar-Raj'i maka rasulullah mendoakan mereka dengan qunut nazilah hampir sebulan lamanya, di setiap waktu sholat.

Perang Bani Nadhir

Berawal dari kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud, sikap kaum yahudi Bani Nadhir semakin kurang ajar. Mereka tidak saja lancang dan mulai berani mengejek umat islam, tapi bahkan mencemooh rasulullah dan para sahabatnya. Di lain hari Bani Nadhir sudah sepakat untuk mencari lengahnya rasulullah dan membunuh beliau dengan segala cara.

Suatu hari Rasulullah datang ke perkampungan Bani Nadhir untuk ikut membantu menyediakan diyat atas kesalahan pembunuhan. Para pemuka Yahudi Bani Nadhir diantaranya Huyay bin Akhtab dan tokoh-tokoh lainnya berpura-pura ramah, kemudian menyuruh rasul duduk di sisi sebuah rumah bertingkat. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah dengan alasan akan menyiapkan  bantuan diyat yang diminta. Padahal mereka menyuruh seseorang untuk menimpakan batu besar dari atas jendela rumah tepat ke atas kepala rasulullah.

Allah Maha Tahu. Jibril pun memberi kabar pengkhianatan yahudi Bani Nadhir ini kepada rasulullah. Hingga tiba-tiba beliau pun bangun dan pergi dari kampung Bani Nadhir tanpa menoleh lagi, sehingga seluruh sahabat yang mengiringinya pun terheran dan beranjak pula pergi. Upaya yahudi jelas gagal total. Kedok mereka telah terbuka, dan siap menerima ganjaran.

Sesampainya di Madinah Rasulullah mengutus Muhammad bin Maslamah membawa pesan kepada Bani Nadhir agar meninggalkan wilayah Madinah sejauh mungkin dalam tempo sepuluh hari. Bila tidak, mereka semua akan diperangi. Yahudi pun panik!

Atas bujukan Abdullah bin Ubay tokoh munafik madinah, kaum yahudi Bani Nadhir pun sepakat untuk melakukan perlawanan kepada kaum muslimin. Rasulullah pun bergerak menuju perkampungan Bani Nadhir yang disambut oleh hujan panah, tombak dan batu dari Bani Nadhir. Kaum muslimin lantas mengepung benteng yahudi tersebut berhari-hari, dan  membakar ladang dan kurma kaum Bani Nadhir untuk menutup pasokan logistik mereka.

Akhirnya Bani Nadhir pun menyerah, dan setuju untuk hengkang keluar dari wilayah Madinah selamanya. Sebagian ada yang pergi ke Syam. Sementara sebagian tokoh mereka seperti Huyay bin Akhtab dan lain-lain pergi menuju benteng Khaibar, untuk kembali menyusun makar terhadap rasulullah dan  kaum muslimin.

Perang Ahzab/Khandaq

Para pemuka yahudi Bani Nadhir yang lari ke Khaibar kembali merencanakan permusuhannya kepada rasulullah. Kali ini mereka mendatangi kaum kafir quraisy mekkah untuk mengajak mereka kembali memerangi rasulullah dan  kaum muslimin di Madinah. Dan mereka pun bersumpah akan membantu keberhasilan rencana penyerangan tersebut. Kaum kafir quraisy pun senang dan menyambut dengan suka cita.

Lalu dihimpunlah pasukan yang banyak terdiri atas beberapa kabilah yang terpencar antara Mekkah dan Madinah. Diantaranya kaum Yahudi juga membujuk kabilah arab Bani Gathafan salasatu suku arab besar di dekat Madinah untuk memerangi Madinah yang pengaruhnya sudah mulai meluas. Dan usaha yahudi ini berhasil. Berhimpunlah beberapa kabilah arab dan quraisy sekaligus dalam satu waktu di tempat yang sama dengan tujuan yang sama yaitu melenyapkan dan membumi hanguskan seluruh  kaum muslimin di Madinah.

Pasukan demi pasukan datang  berbondong-bondong mendekati kota Madinah. Dengan jumlah kisaran 10.000 orang bahkan lebih banyak dari seluruh penduduk madinah walaupun dihitung wanita dan anak-anak kecilnya, masih lebih banyak Pasukan Ahzab. Dinamakan ahzab (bersekutu) karena pasukan itu hasil gabungan persekutuan berbagai kabilah arab hasil upaya kaum yahudi Bani Nadhir sebagaimana yang diceritakan.

Rasulullah ketika mendengar adanya pergerakan penyerangan Madinah secara kolektif massif dan besar-besaran tersebut langsung menyiapkan Madinah. Beliau atas saran dari Salman Al Farisi meminta seluruh kaum muslimin untuk menggali parit besar di gerbang arah madinah untuk menghalangi laju gerak pasukan musuh. Perang parit ini tidak dikenal dalam peperangan orang arab karena biasa dipakai oleh orang persia. Karena adanya parit inilah maka perang ini dinamakan pula Perang Khandaq (parit).

Setelah penggalian selesai, seluruh kaum muslimin di Madinah pun disiapkan. Setiap laki-laki yang bisa angkat senjata diberangkatkan menuju pos pertahanan. Kaum perempuan ditempatkan di sebuah lokasi dikumpulkan jadi satu. Madinah berguncang. Debu mengepul dan Pasukan Ahzab pun tiba di depan gerbang Madinah.

Mereka heran dengan adanya parit yang membentang. Pernah dicoba melompat namun selain tidak sampai juga dihujani anak panah pasukan muslimin. Upaya masuk berkali-kali mengalami kegagalan karena kaum muslimin menutup rapat setiap celah masuk ke kota Madinah. Setiap kali pasukan berkuda Ikrimah bin Abu Jahal mencoba menerobos, disana menghadang Ali bi Abu Thalib, Zubair bin Awwam dan sahabat lainnya menghalau. Perang panah pun terjadi dan salah seorang sahabat dekat anshar rasulullah Sa'ad bin Muadz terluka parah. Setelah berupaya masuk tanpa membuahkan hasil akhirnya pasukan Ahzab mundur dan mengepung kota dari luar Madinah.

Ketika suasana mencekam kaum muslimin berjaga-jaga di gerbang kota Madinah, dari bagian dalam Madinah kaum Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan. Ka'ab bin Asad ketua kabilah Bani Quraidhah terprovokasi oleh Huyay bin Akhtab tokoh pembenci islam dari Bani Nadhir yang telah terusir. Mereka melakukan operasi mata-mata bagian dalam Madinah dan melaporkannya kepada pihak musuh. Lantas bergabung dengan pasukan Ahzab guna menghancurkan kaum muslimin Madinah. Usaha mereka hampir berhasil, namun Allah lah Yang Maha Perkasa. DitanganNya segalanya terjadi. Dan Allah tidak akan membiarkan kecelakaan menimpa rasulNya.

Dengan izin Allah tiba-tiba terjadilah peristiwa yang tak disangka dan tak terpikirkan manusia. Salasatu prajurit pasukan Ahzab datang dan memeluk islam. Dalam suasana perang tersebut rasulullah meminta agar orang tersebut merahasiakan keislamannya dan berbuat siasat untuk menolong Islam. Akhirnya mualaf baru itu kembali kepada kaumnya dan membuat siasat muslihat sehingga terjadi konflik internal antara pasukan ahzab dengan para tokoh yahudi pengkhianat. Masing-masing sudah kehilangan kepercayaan lagi akan jalannya peperangan.

Malam harinya terjadi badai taufan yang memporak-porandakan seluruh kemah dan perlengkapan serta logistik para pasukan ahzab, hingga akhirnya mereka pun menyerah menghentikan pengepungan, dan memilih untuk pulang kembali ke tempat asalnya. Perang pun berakhir.

Perang Bani Quraidhah

Setelah diyakini tidak ada lagi pasukan ahzab yang tinggal di sekitar Madinah, rasulullah dan para sahabat pun kembali pulang melakukan pemeriksaan terhadap seluruh kondisi keluarga dan rumah di dalam kota Madinah. Setelah itu turun perintah Allah agar rasulullah melanjutkan langkahnya untuk emberi hukuman atas pengkhianatan Bani Quraidhah.

Rasulullah pun langsung memberikan instruksi untuk melakukan pengejaran dan pengepungan perkampungan Bani Quraidhah, yang serentak dipatuhi oleh seluruh kaum muslimin. Setelah beberapa waktu Bani Quraidhah pun menyerah. Mereka menyerahkan urusannya kepada Rasulullah.

Rasulullah bermusyawarah dengan para tokoh sepakat bahwa hukuman bagi pengkhianat yang layak adalah hukuman mati. Maka atas usulan dari tokoh suku Aus yaitu Sa'ad bin Muadz yang tengah terluka parah akibat panah sewaktu perang Ahzab, maka diputuskan bahwa hukum mati untuk seluruh laki-laki dan para pendukungnya, sementara anak-anak dan wanitanya dijadikan tawanan perang.

Dalam peristiwa itu matilah beberapa gembong yahudi yang sering merongrong kaum muslimin seperti Huyay bin Akhtab, Ka'ab bin Asad, dan yang lainnya. Seluruh ghanimah baik harta maupun tawanan dikuasai oleh kaum muslimin. Dan berakhirlah kekuasaan Bani Quraidhah di Madinah.

Pembersihan Musuh Kaum Muslimin Sekitar Madinah

Kaum muslimin belum dapat tenang beribadah selama masih diganggu oleh kabilah-kabilah yang memusuhi islam di sekitar Madinah. Oleh karena itu rasulullah pun membentuk pasukan-pasukan khusus untuk menumpas habis para pengganggu sampai ke akar-akarnya dan mereka tidak berani lagi mengganggu kaum muslimin.

Satuan-satuan khusus pun di bentuk. Ada yang dikirim ke sekitar Nejd. Dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah (putra angkat rasulullah) mereka dapat menaklukan perlawanan Bani Bakr dan Bani Sulaim. Setelah itu Zaid pun bergerak ke perkampungan Bani Lihyan yang dulu juga terlibat peristiwa Raj'i dan Bir'u Ma'unah. Bani Lihyan pun akhirnya menyerah sebagian lagi lari tunggang langgang.

Zaid pun melanjutkan pembersihan hingga ke Wadil Qura, namun dia mendapatkan perlawanan sengit, sehingga beberapa diantara mereka pun terbunuh. Namun Zaid dan beberapa rekannya bisa meloloskan diri. Rasulullah mengirimkan bantuan di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Dan Wadil Qura pun akhirnya dapat dituntaskan.

Selanjutnya pasukan menyisir dari Madinah hingga ke tepian pantai, mengamankan dari para pengganggu kaum muslimin. Ketegasan rasulullah kian terdengar ke seluruh penjuru wilayah. Bahkan kaum quraisy pun mulai merasa gentar. Mereka tidak bisa lagi leluasa berdagang ke syam karena jalur menuju sana berada dalam kekuasaan kaum muslimin.

Perang Bani Musthaliq

Diawali dengan rencana penyerangan Bani Musthaliq kepada Madinah, dibawah pimpinan kepala sukunya bernama Harits bin Abu Dhirar. mereka bertekad untuk menghentikan ekspansi Madinah di kawasan arab. Ketika rasulullah mendengar rencana tersebut beliau lalu berangkat bersama Abu Bakar membawa pasukan menuju perkampungan Bani Musthaliq.

Ada yang berbeda, kali ini banyak kaum munafik yang turut serta berangkat menyertai rasulullah termasuk Abdullah bin Ubay. padahal selama ini tidak pernah. Bahkan sewaktu perang Uhud mereka membelot pulang. Tapi kali ini jelas motif mereka adalah ghanimah, karena mendengar kemenangan peperangan kaum muslimin di mana-mana.

Sesampainya disana Rasulullah mengajak Bani Mustaliq memeluk Islam. Namun mereka menolak dan menyerang rasulullah dan kaum muslimin hingga terjadi pertempuran. namun tidak berlangsung lama dan peperangan ini dimenangkan oleh pasukan muslimin, dengan mendapatkan banyak ghanimah. Sementara pihak musuh banyak yang terbunuh, termasuk kepala sukunya yaitu Harits bin Abu Dhirar. Diantara tawanan terdapat Juwairiyah binti Harits, putri kepala suku, dan kemudian dinikahi oleh rasulullah.

Perilaku Kaum Munafik Madinah

Kisah yang akan kita bahas menyangkut perilaku kaum munafik Madinah yang tak henti-henti sejak kedatangan rasulullah ke Madinah begitu membenci kaum muslimin. Mereka berusaha mencari-cara celah untuk bisa menghancurkan kaum muslimin dari dalam.

Berkali-kali mereka membuat konspirasi. Sejak pembelotan perang uhud, pengkhianatan Bani Qainuqa, pengkhianatan Bani Nadhir bahkan yang masih baru mereka turut serta berkomplot dengan pasukan Ahzab memerangi kaum muslimin. Namun mereka tidak bisa diperangi secara langsung karena secara dzahir mereka menampakan dirinya seperti kaum muslimin lainnya. Hanya hati mereka tidak beriman kepada Allah dan rasulNya.

Ketika rasulullah diperintah Allah untuk menikahi Zainab binti Jahsy, yang baru diceraikan oleh anak angkat beliau sendiri yaitu Zaid bin Haritsah, karena didalamnya ada pelajaran bolehnya menikahi mantan istri anak angkat, yang semula dipandang tabu oleh para penduduk Madinah.

Kaum munafik dengan Abdullah bin Ubay sebagai tokoh utamanya begitu gencar mengumbar gossip tentang hubungan Rasulullah dengan Zainab, yang memang berparas cantik. Padahal Zainab sendiri masih merupakan saudara sepupu dengan rasulullah SAW. Namun akhirnya gosip munafikun tersebut dapat diredakan.

Kini sepulangnya dari Perang Bani Mustaliq kembali terjadi kegaduhan akibat perilaku kaum munafik yang tidak senang dengan kekompakan bersatunya kaum muslimin. Mereka ingin membuat perpecahan dengan menyulut rasa fanatisme kesukuan dalam jiwa penduduk Madinah.

Abdullah bin Ubay bahkan menyebar gosip bahwa yang lebih mulia adaah penduduk Madinah daripada penduduk Mekkah (muhajirin) yang hanya menumpang dan dipandang lebih rendah kedudukannya. Bahkan dia mengatakan bahwa penduduk madinah lebih mulia dan pantas untuk mengusir parang pendatang yang lebih hina.

Suasana bergejolak. Namun rasulullah tidak bisa bertindak, meskipun ada beberapa sahabat yang siap untuk memenggal kepala Abdullah bin Ubay. Rasulullah tidak banyak bicara dan segera memerintahkan pasukan untuk mempercepat perjalanan pulang kembali ke Madinah. Bahkan siang malam berjalan tanpa berhenti. Beliau sengaja membuat lelah agar fokus pikiran pasukan segera melupakan ucapan kaum munafik itu.

Peristiwa Hadits Ifki (Berita Bohong)

Dalam setiap peperangan, rasulullah selalu di dampingi salasatu istrinya. Dan pada waktu Perang Bani Mustaliq yang mendapat giliran mendampingi beliau adalah Aisyah binti Abu Bakar.

Dalam perjalanan pulang di tempat penghentian Aisyah merasa kehilangan kalungnya, lalu dia pun mencari kembali kalungnya tersebut. Namun pasukan ternyata sudah terburu-buru kembali berangkat, dan Aisyah pun ketinggalan tunggangan. Para pemikul sekdup unta tidak mengira jika Aisyah tidak berada dalam sukduf yang tertutup itu, dan mereka pun terus berjalan menuju Madinah. Tinggalah Aisyah yang terduduk sedih seorang diri menunggu semoga saja ada yang sadar ketiadaan dia dan akan kembali menjemput dirinya.

Tidak berapa lama lewat seorang pemuda bernama Shafwan bin Muathal, yang sedang menyisir pasukan kalau-kalau ada yang ketinggalan. Begitu melihat Aisyah istri Rasulullah, shafwan pun tanpa berbicara mempersilakan Aisyah menaiki untanya dan menuntunnya pulang ke Madinah.

Begitu memasuki gerbang kota, melihat Aisyah pulang berduaan bersama Shafwan, maka kaum munafik pun merasa mendapat angin untuk menjatuhkan dan merusak nama baik keluarga rasulullah. Dibuatlah kabar bahwa Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan. Madinah pun dibuat gempar dengan desas-desus tersebut.

Rasulullah hanya terdiam mendengar berita itu. Sementara belum ada wahyu turun. Aisyah sama sekali belum tahu tentang gosip yang menimpa dirinya, karena sepulang peperangan itu Aisyah jatuh sakit. Namun ada yang tak biasa kali ini. Rasulullah yang biasanya lembut apalagi sedang sakit, saat itu tampak begitu dingin.

Barulah ketika mendengar tentang gosipnya yang santer beredar, Aisyah pun menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang mampu menghentikan kebusukan kaum munafik atas gosip tersebut. Hingga Allah menurunkan ayat yang menerangkan tentang kesucian Aisyah, dan suasana Madinah pun akhirnya dapat terkendali dalam naungan iman.

Perjanjian Hudaibiyah

Berawal dari Rasulullah bermimpi melaksanakan thawaf dan sa'i di Baitullah dalam kondisi aman dan lapang. Lalu beliau berniat menunaikan umrah, yang lalu dikuti oleh banyak kaum muslimin sehingga jumlahnya kurang lebih 1500 orang.

Setelah mewakilkan kepemimpinan sementara Madinah kepada Zaid bin Haritsah, beliau pun berangkat menuju Mekkah bersama 1500 orang lengkap beserta hewan ternak untuk berqurban.

Namun keberangkatan rombongan besar itu diketahui oleh kaum kafir quraisy di Mekkah dan mereka mencoba menghalangi rasulullah dengan berbagai cara agar tidak bisa sampai ke Baitullah. Rasul menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk berperang melainkan untuk ibadah. Dan rasulullah kembali meneruskan perjalanannya. Namun kembali quraisy merasa panik dan meyiapkan seluruh pasukannya, serta mengirim utusan diantaranya tokoh quraisy bernama Urwah bin Mas'ud, untuk memastikan maksud rasulullah.

Namun meski sudah jelas maksudnya, tetap saja kafir quraisy merasa keberatan. Bahkan ada serombongan pasukan berkuda pimpinan Khalid bin Walid yang mengintai dan siap menghabisi kaum muslimin bila mereka lengah ketika sedang solat. Maka turunlah ayat tentang sholat khauf, sehingga penyerangan pun tidak jadi dilakukan.

Kemudian Rasulullah mengutus Utsman bin Affan kepada kaum quraisy untuk menerangkan maksud kedatangannya tersebut. Namun karena lama Utsman tak kembali dan tersiar kabar sudah terbunuh, maka beliau pun mengambil janji setia (baiat) atas seluruh sahabatnya saat itu, untuk  membela Allah dan RasulNya sampai titik darah terakhir, bila terjadi pertempuran habis-habisan melawan kaum kafir Quraisy di Mekkah. Lokasi baiat tersebut di sebuah tempat di bawah sebuah pohon rindang maka janji setia tersebut dikenal dengan nama Baiat Ridwan. Namun ternyata Utsman selamat dan kembali.

Tak lama Quraisy mengirim seorang utusan yang menjadi juru runding kesepakatan, bernama Suhail bin Amr. Dan hasil kesepakatan itu akhirnya disetujui kedua belah pihak. Perjanjian kesepakatan tersebut dalam sejarah di kenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah,  karena memang kesepakatan tersebut terjadi di sekitar Hudaibiyah.

Diantara isi perjanjian tersebut adalah kesepakatan agar kaum Muslimin tidak memasuki Mekkah pada tahun  ini, namun diperbolehkan pada tahun depan dan waktunya cuma sebentar. Kemudian, berisi tentang gencatan senjata antara kaum muslimin Madinah dengan kaum Quraisy Mekkah dan berjanji untuk tidak saling menyerang selama 10 tahun. Dan masih ada butir-butir lainnya, termasuk diperbolehkannya seseorang untuk menyebrang bergabung ke pihak lain sesuai dengan keinginan hatinya.

Usai menandatangani kesepakatan tersebut. Beliau memerintahkan seluruh kaum muslimin yang ikut pada saat itu untuk mencukur rambut (bertahalul) dan memotong hewan qurban di tempat itu pula. Mulanya kaum muslimin enggan karena belum sampai di tempat penyembelihan hewan qurban (Mekkah). Namun dengan kelembutan dan kebijaksanaan Ummu Salamah sang istri meminta baginda untuk memulai lebih dahulu. Beliau pun keluar tanpa bicara, mencukur rambut hingga gundul, memotong unta hewan qurbannya sendiri, dan berdoa. Serempak kaum muslimin pun mengikuti hingga terjadi hiruk pikuk dan berganti keceriaan. 

Walaupun dari perjanjian Hudaibiyah ada beberapa poin yang dianggap merugikan kaum muslimin, dan membuat banyak sahabat bertanya-tanya, namun Rasulullah menyampaikan bahwa ini sudah kehendak Allah. Dan memang dengan adanya perjanjian Hudaibiyah ini perkembangan Islam justru semakin pesat, karena tidak lagi diganggu oleh kesibukan pengamanan dan peperangan yang mengganggu konsentrasi perkembangan agama Islam.

Ajakan Dakwah Rasulullah Kepada Para Raja

Setelah terjadi gencatan senjata dengan kaum quraisy Mekkah sesuai perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendakwahi para raja-raja sekitar Madinah. Diantara raja-raja itu adalah Raja Persia (Kisra), Raja Romawi (Kaisar), Raja Mesir (Muqauqis), Raja Habasyah. Selain raja-raja besar, beliau juga mengajak para raja arab sekitar untuk memeluk agama Islam. Sebagian mereka ada yang menerima dan sebagian ada yang menolak.

Utusan yang membawa surat kepada Raja Najasy di Habasyah adalah Amr bin Umayyah Ad-Dhamri. Sewaktu menerima dan membaca surat dari Rasulullah, Raja Najasy langsung menciumnya dan menyatakan diri masuk Islam dihadapan Ja'far bin Abu Thalib yang hingga saat itu masih berada disana. Kemudian rasulullah meminta agar Ja'far pulang ke Madinah karena Islam sudah berdiri kuat disana. Raja Najasy pun mengirimkan perlengkapan kepulangan Ja'far dan seluruh rombongan beserta hadiah-hadiah untuk rasulullah.

Utusan yang membawa surat kepada Raja Mesir (Muqauqis) adalah Hathib bin Abu Balta'ah. Ketika sampai di Mesir dan menyerahkan surat kepada Raja Mesir yang bernama Juraij bin Mata. Raja Mesir kemudian membaca surat tersebut yang isinya ajakan untuk masuk Islam. Namun rupanya sang raja masih bimbang terkait keyakinan. Meskipun tidak masuk Islam namun Raja Mesir menerima baik utusan rasulullah, dan mengirimkan hadiah berupa baghal dan dua putri mesir untuk Rasulullah. Diantara putri itu bernama Maria Al Qibtiyah yang akhirnya dinikahi dan menjadi istri rasul, hingga rasul beroleh seorang putra darinya bernama Ibrahim bin Muhammad SAW.

Utusan yang membawa surat kepada Raja Persia (Kisra) adalah Abdullah bin Hudzaifah As-Sahmi. Namun tidak secara langsung karena melalui perwakilan Kisra wilayah arab yaitu Kerajaan Bahrain. Oleh Bahrain surat itu dibawa dan diserahkan langsung kepada Kisra bernama Chosru II di pusat kerajaan Persia. Begitu membaca surat dan tahu siapa pengirimnya, maka kisra itu langsung congkak marah seraya menyobek-nyobek surat Rasulullah. Rasulullah langsung tahu dari wahyu tentang peristiwa suratnya itu, kemudian beliau berkata bahwa kerajaan persia akan tercabik-cabik sebagaimana kisra itu telah mencabik surat beliau. Dan setelah itu memang terjadi pemberontakan di persia, kisra sendiri terbunuh, dan kerajaannya tercabik terpecah.

Utusan yang membawa surat kepada Raja Romawi (Kaisar) adalah Dahiyah bin Khalifah al Kalabi, yang diterima langsung oleh Kaisar Heraklius, penguasa Romawi di wilayah Syam. Membaca surat dari rasulullah Kaisar Romawi itu merasa penasaran dengan agama baru serta nabi baru yang diutus tersebut. Kebetulan Abu Sufyan sedang berada di Syam berniaga. Dipanggilah Abu Sufyan dan diajak berdialog oleh kaisar. Semuanya dijawab apa adanya oleh Abu Sufyan. Dan tahulah kaisar bahwa memang rasulullah itulah nabi akhir zaman. Namun gengsinya sebagai Kaisar kerajaan adidaya menahan dirinya untuk memeluk islam. Kelak romawi akan bertemu dengan pasukan muslimin dan pada peperangan mendatang akan dikalahkan rasulullah, dan di masa Umar Heraklius akan terusir keluar dari Syam yang dikuasai kaum muslimin.

Utusan lainnya ditujukan ke negeri-negeri arab sekitar diantaranya Yaman, Damaskus, Oman, Bahrain dan Yamamah. Namun negeri-negeri tersebut belum bersedia memeluk ajaran Islam. Kelak mereka akan ditundukan dalam ekspedisi kaum muslimin di masa khalifah abu bakar.

Tokoh-tokoh Qurasy Masuk Islam dan bergabung ke Madinah

Di waktu tenang rupanya pikiran jernih mengalir menunjukan kebenaran yang sesungguhnya. Diantara hikmah adanya Perjanjian Hudaibiyah adalah mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok sehingga tersebar luas dengan tenang tanpa gangguan. Orang-orang yang cerdas dan mampu berpikir jernih akhirnya memahami kebenaran Islam dan akhirnya mereka masuk Islam tanpa paksaan.

Selain beberapa kabilah arab ada beberapa kisah unik tentang sadarnya beberapa tokoh penting quraisy seperti Khalid bin Walid, salasatu jendral perang Quraisy yang telah memimpin menyerang pasukan muslimin pada Perang Uhud. Rupanya dia mulai mengerti dimana sebetulnya kebenaran itu berada. Walau rasa egonya cukup besar namun Allah menghendaki Khalid menyerah kepada taufik dan hidayah Allah SWT, sehingga Khalid bin Walid pun berangkat seorang diri menuju pusat Islam yang dulu pernah diperanginya, yaitu Madinah.

Ditengah jalan dia bertemu dengan seorang tokoh quraisy lainnya yang juga termasuk jendral perang dan cerdik pandai bernama Amr bin Ash. Rupanya Amr pun memiliki pemikiran yang sama dengan Khalid. Mereka juga bertemu dengan tokoh pemegang kunci Kaabah bernama Utsman bin Thalhah yang rupanya searah dengan mereka. Akhirnya mereka pun setuju untuk menyerahkan diri masuk Islam dan bergabung dengan Rasulullah di Madinah.

Begitulah Allah menolong nabiNya dan memperkuat kaum muslimin dengan caraNya, sehingga kehadiran Khalid dan Amr semakin memperkuat kokohnya negeri muslimin di Madinah.

Perang Khaibar

Selama ini sejak turunnya risalah Islam musuh kaum muslimin yang paling utama adalah kaum kafir Quraisy di Mekkah. Sejak hijrah bertambah dengan kehadiran kaum munafik Madinah dan kaum Yahudi. Yang tersebut belakangan meskipun sudah rasulullah ikat dalam sebuah perjanjian damai, namun berkali-kali mereka menciderai janji tersebut, sehingga kaum muslimin harus melakukan tindakan tegas.

Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, maka selesailah sementara urusan dengan musuh utama yang paling memerangi Islam dari kafir Quraisy. Islam dapat memiliki waktu untuk berbenah diri, mengembangkan kekuatan dan menyatukan barisan. Namun masih ada satu lagi musuh yang selalu terus-menerus mencari cara untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Mereka adalah kaum Yahudi Khaibar, sekumpulan yahudi yang tersebar dari beberapa kabilah, maupun sisa pelarian yahudi yang terusir dari Madinah.

Sudah saatnya rasulullah membuat perhitungan dengan kaum yahudi yang sering merongrong ketenangan kaum muslimin. Setelah melakukan musyawarah, beliaupun mengirim pasukan 1400 orang untuk menaklukan Khaibar, tanpa menyertakan kaum munafik, karena munafik sering membocorkan rahasia kepada kaum yahudi sekutunya.

Pasukan pun tiba di Khaibar, sebelah selatan Madinah, dibawah pimpinan Rasulullah langsung. Khaibar merupakan perkampungan yang terdiri dari banyak benteng-benteng. Benteng tersebut terbagi 2 bagian, benteng utama bernama Benteng Na'im (tempat para ksatria perang yahudi), Benteng AsSha'b bin Muadz (lumbung makanan logistik, gandum, ternak), Benteng Qaf'ah AzZubair, Benteng Ubay dan Benteng Nizar. Sedang benteng penunjang adalah Benteng AlQamush, Wathih dan Salalim.

Hari pertama perang dimulai diawali serbuan dahsyat kaum muslimin ke Na'im. Perang hebat pun terjadi, dan dimenangkan oleh kaum muslimin. Na'im pun jatuh. Serangan berlanjut ke benteng berikutnya, Asha'b bin Muadz. Setelah cukup lama dilakukan pengepungan serta terjatuh korban dari kedua belah pihak, Assha'b bin Muadz pun jatuh ke tangan kaum muslimin.

Yahudi yang melarikan diri berlindung ke Benteng Qa'fah AzZubair, yang segera disusul kaum muslimin, namun ternyata posisi benteng ini amat strategis untuk yahudi dan merugikan kaum muslimin karena berada di bukit tinggi sehingga mereka leluasa menghujani para pendatang dengan panah, sementara dari arah bawah jaraknya terlalu jauh.

Kaum muslimin pun mengepung benteng tersebut berhari-hari lamanya hingga perbekalan hampir habis. Belum ada strategi yang dijalankan menghadapi musuh yang selalu bersembunyi dari kejauhan. Itulah ciri khas kaum yahudi, bangsa pengecut yang berani berperang dari balik benteng saja atau dinding yang kokoh, pun jarak jauh. Mereka tidak berani berperang dari dekat.

Pertolongan Allah hadir dengan munculnya salahseorang yahudi khaibar sendiri yang mengkhianati teman-temannya dengan membocorkan rahasia kekuatan AzZubair ini, yaitu sebuah mata air dalam benteng, sehingga kaum muslimin harus menguasai mata air tersebut untuk mengalahkan Benteng Qa'fah Zubair ini. Akhirnya pasukan muslimin berhasil menguasai tempat air, mengalahkan kaum yahudi dan menguasai benteng tersebut.

Yahudi yang berhasil kabur lari ke Benteng Ubay, dan dikejar oleh kaum muslimin dan mengepungnya. Setelah terjadi duel yang semuanya dimenangkan oleh kaum muslimin, Abu Dujanah langsung masuk menyerbu ke dalam benteng dan membuat penghuninya kocar-kacir, dan berhamburan kabur menuju benteng Nizar.

Benteng Nizar berada di atas bukit dan merupakan benteng terkuat, sehingga kaum yahudi menempatkan para wanita dan anak-anak di benteng ini. Setiap kaum muslimin mendekat pasti dihujani panah, dan benteng amat kokoh dan tebal. Akhirnya rasulullah menyuruh menyerang dengan manjaniq dengan melempar bola api dan batu akhirnya benteng Nizar pun jebol. Inilah benteng terakhir kekuatan yahudi, dan akhirnya mereka pun menyerah.

Kaum muslimin mendapatkan harta yang amat banyak dari ghanimah khaibar. Bahkan kebun kurma milik yahudi khaibar pun cukup dibagikan ke seluruh muslimin di Madinah. Sementara itu rasulullah memperbolehkankaum yahudi khaibar untuk tetap tinggal disana mengolah khaibar dan menyerahkan separuh kekayaannya kepada kaum muslimin. Usai perang khaibar rasulullah menikahi Shafiyah binti Huyay putri pemimpin Bani Nadhir ketika suaminya yaitu Kinanah terbunuh.

Peristiwa Daging Beracun

Ketika usai mengurus pembagian ghanimah Khaibar rasulullah diberi makanan berupa paha kambing oleh seorang wanita yahudi bernama Zainab bin Harits. Namun baru saja menggigit segera dimuntahkan kembali, ketika Allah mewahyukan bahwa daging tersebut sudah diracuni. Salaseorang sahabatnya yang terlanjur makan langsung meninggal.

Sidang pun digelar. Wanita yahudi pemberi makanan pun disidang dan akhirnya memang mengaku kalau dia yang memberi racun berharap dapat membunuh rasul. Rasulullah berupaya memaafkan, namun keluarga Bisyr (yaitu sahabat yang meninggal akibat memakan daging beracun) menuntut dilaksanakan hukum qishash (balas jiwa) terhadap pembunuh Bisyr. Maka ditegakanlah hukum qishash dengan dihukum matinya wanita yahudi penabur racun tersebut.

Kelak salasatu faktor sakit dan pembawa demam kematian kepada rasulullah diantaranya adalah efek dari racun pada saat di Khaibar tersebut. Wallau'a'lam.

Kembalinya Ja'far bin Abu Thalib dari Habasyah

Usai perang khaibar rasulullah kedatangan rombongan Ja'far bin Abu Thalib dari Habasyah yang datang bersama Abu Musa Al-Asy'ari. Beliau menyambut dengan sukacita dan membagikan hasil ghanimah perang khaibar kepada mereka semuanya. Kehadiran Ja'far makin mengokohkan pasukan muslimin.

Bersama Ja'far datang pula Ramlah binti Abu Sufyan atau dikenal dengan nama Ummu Habibah, dimana rasulullah sudah menikahi Ummu Habibah sewaktu masih di Habasyah dengan wali Raja Najasy ketika mendengar suami Ummu Habibah yang awalnya islam dan sama-sama hijrah bersama istrinya ke Habasyah itu murtad dan meninggal di Habasyah.

Perang Mu'tah

Awal perang dipicu dengan dibunuhnya utusan rasulullah yang membawa surat kepada raja arab di Buhra. Mendengar hal tersebut rasulullah pun demi menjaga martabat kaum muslimin lalu mengirimkan pasukan muslimin yang terbesar yaitu 3000 personil, hampir seluruh Madinah turut berangkat. Sebelumnya rasul berwasiat agar pasukan berada di bawah 3 komandan. Komandan utama Zaid bin Haritsah, berikutnya Ja'far bin Abu Thalib, berikutnya Abdullah bin Rawahah. Maka berangkatlah pasukan muslimin ini di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah menuju Mu'tah.

Disana ternyata sudah menunggu pasukan Romawi sebanyak 100.000 orang ditambah pasukan gabungan arab-romawi 100.000 orang pula, total semuanya 200.000 orang. Jumlah yang sangat fantastis!

Sempat terjadi kebimbangan dari pasukan muslimin untuk meneruskan peperangan mengingat perbedaan jumlah yang begitu jauh ini. Namun akhirnya disepakati untuk terus melanjutkan peperangan demi membela kehormatan agama Islam. maka dibuatlah beberapa sayap pasukan penyerang, dan Zaid bin Haritsah sendiri akan langsung memimpin penyerbuan pertama.

Dalam gema teriakan takbir pasukan muslimin menyerbu pasukan Romawi yang jumlahnya jauh berlipat dari mereka. Namun mereka berperang dengan gagah berani dan tak mundur sejengkal pun. Mereka semangat melihat sang komandan begitu luar biasa membabat pasukan musuh, sehingga semuanya terjun ke dalam kancah pertempuran dengan luar biasa.

Namun ternyata, pasukan musuh terlalu banyak dan datang gelombang demi gelombang seakan tak ada habisnya. Ribuan kuda melompat menginjak, puluhan ribu tombak melayang, dan ratusan ribu panah gelap menghujani kaum muslimin. Akhirnya Zaid bin Haritsah pun gugur sebagai syuhada.

Selanjutnya bendera diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib sebagaimana amanah rasulullah. Dengan gagah berani Ja'far pun masuk ke arena menyerbu musuh sehingga setiap pedangnya berkelebat beberapa musuh terluka dan terlempar. Ketika melihat keperkasaan pemimpin Islam ini pasukan musuh lalu mengepung Ja'far dengan ratusan orang sehingga berhasil menciderai lengan kanannya hingga terputus. Belum menyerah bendera dipindah ke tangan kiri, tangan kiri pun dibabat sampai putus. Dengan sisa kekuatannya bendera pun dijepit tubuhnya hingga data orang-orang romawi yang datang mencincang tubuhnya....

Melihat Ja'far terjatuh, bendera langsung diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Dengan suara lantang Abdullah memberi komando untuk terus lanjutkan perjuangan yakin janji Allah terbaik bagi para mujahid dan syuhadaNya. Dia sendiri pun langsung terjun menuju tengah-tengah pasukan musuh hingga akhirnya meraih syahid.

Setelah Abdullah bin Rawahah gugur, terjadi kegalauan dalam pasukan muslimin karena tidak tahu lagi siapa yang harus dipilih menjadi pemimpin, sehingga saling tunjuk. Namun akhirnya semua sepakat menunjuk Khalid bin Walid menjadi komandan pasukan. Khalid memakai taktik memutar sehingga mampu meloloskan pasukan muslimin, tanpa dapat ditumpas habis oleh musuh-musuhnya. Pasukan Romawi ternyata gentar dengan keberanian pasukan muslimin sehingga tidak mengejar sebagaimana biasanya.

Sisa kaum muslimin yang masih hidup kemudian dikumpulkan setelah terhindar dari kekalahan habis-habisan melawan pasukan romawi yang jauh lebih besar. Khalid lalu menyelamatkan sisa pasukan dan kembali ke Madinah.

Madinah penuh air mata. Namun akhirnya mereka semua ikhlas karena dalam perjuangan membela agama Allah tidak ada balasan kecuali balasan dikekalkan dalam kenikmatan Syurga Allah SWT.

Kehebatan pasukan muslimin yang berjumlah kecil mampu melawan pasukan adikuasa Romawi dengan pasukan militernya yang bak buih dan terlatih,ternyata banyak menimbulkan decak kagum dari para kabilaharab  di sekitarnya. Sehingga beberapa kabilah yang semula berlawanan akhirnya menggabungkan diri bersama kaum muslimin seperti kabilah Ghatafan dan yang lainnya.

Penaklukan Mekkah (Fathu Mekkah)

Dalam Perjanjian Hudaibiyah disebutkan salasatunya kesepakatan untuk tidak saling menyerang antara kubu Madinah dan kubu Mekkah. Banyak hal terjadi selama ikatan perjanjian tersebut. Diantaranya adalah bergabungnya kabilah arab Bani Khuja'ah ke dalam kubu rasulullah dan musuhnya yaitu kabilah Bani Bakr ke dalam kubu Quraisy Mekkah.

Namun ternyata Bani Bakr sebagai bagian dari kubu Mekkah mengkhianati isi perjanjian dan menyerang Bani Khuja'ah dibantu pihak Quraisy. Bani Khuja'ah pun melaporkan kejadian tersebut kepada rasulullah. Semua kaum muslimin gempar. Perjanjian sudah dilanggar. Kaum Quraisy Mekkah pun merasa waswas. maka dikirimlah Abu Sufyan untuk memperbaiki masalah yang terjadi sekaligus memperbaharui kembali perjanjian.

Namun kedatangan Abu Sufyan ke Madinah tidak ditanggapi oleh nabi. Bahkan anaknya sendiri yaitu Ummu Habibah tidak membolehkan ayahnya duduk di tempat duduknya nabi. Kehadiran Abu Sufyan tidak diacuhkan rasulullah. Begitu pula oleh Abu Bakar, Umar dan Ali ketika diajak bicara Abu Sufyan. Dia pun kembali ke Mekkah tanpa hasil.

Tidak berapa lama rasulullah pun menyiapkan pasukan muslimin terbesar yang pernah ada, yaitu 10.000 org. Namun keberangkatan pasukan tersebut serba dirahasiakan agar mampu menyergap kota Mekkah dengan tiba-tiba. Pernah terjadi salasatu sahabat yang mengirim surat pemberitahuan kepada saudaranya di Mekkah karena rasa kuatir. Namun akhirnya bisa digagalkan. Begitulah rasulullah berangkat pada bulan ramadhan menuju Makkah.

Pada tahun 8 H sekitar 10.000 tentara muslimin bagaikan gelombang besar memasuki Kota Mekkah. Didahului pasukan kavaleri dipimpin Khalid bin Walid. Sempat terjadi penghadangan oleh Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayah dan lain-lain. Namun semuanya digasak habis, dan Ikrimah serta shafwan pun lari tunggang langgang. makin memasuki Mekkah semua orang panik. Kemampuan melawan tak ada lagi. Mekkah benar-benar tak berdaya. Sebagian kabur melarikan diri keluar Mekkah, seperti halnya Ikrimah bin Abu Jahal dan kawan-kawannya. Namun pada akhirnya rasulullah memaafkan mereka dan mereka pun masuk Islam. Bahkan Ikrimah bin Abu Jahal bagus keislamannya sehingga banyak turut serta dalam peperangan membantu kaum muslimin.

Abu Sufyan memilih menyerah dan masuk Islam. Mekah bertekuk lutut tanpa tumpah darah setetes pun karena rasulullah mengambil kebijaksanaan, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan atau berlindung di Kaabah atau yang menutup pintu rumahnya maka dia aman. Dan Mekkah pun dapat dikuasai sepenuhnya oleh kaum muslimin.

Rasulullah bersama seluruh pasukan langsung menuju Masjidl Haram.

Masih terbayang olehnya ketika di awal penyampaian risalah beliau seringkali sholat ditempat itu, dihina dicaci maki bahkan ditebarkan duri serta tahi unta. Beliau pun melakukan thawaf di atas unta. Ketika mendekati Hajar Aswad dan menciumnya terbayang tentang kisah perebutan peletakan Hajar Aswad dulu di masa mudanya.

Kini tempat itu dipenuhi oleh lebih dari 300 patung berhala, bahkan sampai ke dalam Kaabah penuh dengan patung. Maka rasulullah pun memerintahkan pembersihan kaabah dari berhala dan menghancurkannya. Kemudian rasulullah menyuruh Bilal untuk naik ke atas Kaabah dan melantunkan Adzan. Kunci Kaabah diserahkan selamanya kepada Utsman bin Thalhah dan keturunannya.

Selanjutnya rasulullah menata keagamaan dan ajaran Islam bagi seluruh penduduk Mekkah yang baru masuk Islam. Diberikan pengajaran tentang keislaman yang benar. Dihapuskannya penyembahan berhala. Dikembalikan hak-hak Allah pada tempatnya. Setelah menyelesaikan urusannya serta memastikan keamanan Mekkah, rasulullah pun kembali ke Madinah bersama para sahabatnya kaum Muhajirin dan Anshar.

Perang Hunain

Ketika mendengar kaum quraisy di Mekkah sudah ditaklukan kaum muslimin ternyata tidak semua kabilah arab bisa menerima. Masih ada beberapa kabilah arab yang memiliki egoisme serta fanatik kesukuan. Diantaranya adalah kabilah Hawazin dan Tsaqif. Mereka inilah yang merencanakan untuk melakukan penyerangan kepada Rasulullah dan pasukan kaum muslimin yang saat itu masih berada di Mekkah.

Ketika berita itu sampai kepada rasul, beliau pun segera menyiapkan pasukannya untuk memberi pelajaran kepada kabilah-kabilah arab tersebut. Setibanya di Hunain, ternyata kabilah Hawazin dan Tsaqif sudah terlebih dahulu tiba dan menempati pos-pos strategis dan mereka menyergap pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 itu dengan tiba-tiba.

Kaum muslimin dihujani panah dari berbagai arah secara serentak dan tiba-tiba tanpa persiapan, akhirnya semua sibuk kocar-kacir melarikan diri mencari selamat. Sementara musuh seolah ada dimana-mana, setiap gang, setiap lobang dan setiap celah. baik hujan panah maupun sabetan pedang tak henti-hentinya mengejar mereka. Benar-benar tak ada waktu untuk mempersiapkan diri.

Rasulullah sendiri ditinggalkan oleh para sahabatnya sendirian hingga akhirnya beliau berteriak memanggil, barulah para sahabat muhajirin dan anshar kembali berkumpul melindungi beliau. Setelah sadar dengan keadaan yang terjadi rasul mulai menjalankan strategi untuk melawan pasukan musuh yang ternyata jumlahnya tidak begitu banyak. Hingga pasukan hawazin pun mundur lari ke Thaif. Kaum muslimin pun tidak berhenti dan langsung menyusul ke Thaif guna menumpas sampai ke akar perlawanan musuh. Perlawanan di Thaif tidak berlangsung lama dan akhirnya mereka pun menyerah.

Ghanimah pada perang hunain amat banyak. Rasulullah banyak membagikan ghanimah dengan pembagian lebih besar kepada kaum quraisy yang waktu itu baru memeluk Islam. Meski sempat timbul perdebatan memanas antara sahabat anshar dan muhajirin, namun rasulullah mampu meredakannya dan membawa ketenangan serta rahmat di kalangan semuanya.

Setelah masalah ghanimah hunain selesai, rasulullah dan kaum muslimin mengambil miqat di Ji'ranah dan menunaikan umrah sunnah sebelum kembali ke Madinah.

Gejolak Rumah Tangga Rasulullah

Tiba di Madinah, rasulullah lalu kembali mengatur pemerintahan baru. Selain mengutus beberapa duta ke tempat-tempat baru, bahkan wilayah nasrani pun beliau kirim duta, hingga salasatu pendeta nasrani terkenal bernama Ady bin hatim akhirnya masuk islam.

Selain mengutus utusan untuk mengajarkan agama, juga mengirim beberapa pasukan guna mengamankan wilayah kekuasaan kaum muslimin yang mulai meluas. Seluruh jazirah arab sudah mulai harus dikontrol. Namun satu hal yang masih bermasalah adalah keberadaan pasukan romawi di wilayah Syam, dan beberapa kabilah arab yang masih sekutu romawi, yang sudah bersiap-siap akan menyerbu kaum muslimin dengan kekuatan yang lebih banyak dari pasukan Mu'tah.

Isu serangan besar-besaran Romawi kepada Madinah sudah jadi perbincangan hangat. Biasanya rasulullah mulai mempersiapkan pasukan. Namun kali ini ada yang ganjil. Rasul tampak sering berdiam diri, kadang menyepi diri sendirian di kamarnya. Bahkan beliau tidak menyentuh istri-istrinya atau menggilirnya seperti yang biasa beliau kerjakan. Hanya beberapa orang yang paham suasana kondisi bahwa rumah tangga beliau sedang bermasalah.

Ternyata seluruh istri-istri rasul bersepakat meminta tambahan ongkos belanja kepada rasulullah. Rasulullah bukan tidak memiliki harta, karena selain dari jizyah bahkan seperlima dari ghaniman adalah bagian rasulullah. Namun beliau memilih jalan untuk membagikan hartanya tersebut dan memilih jalan hidup yang sederhana tidak bermewahan. Hal ini yang belum dipahami seutuhnya oleh para istri beliau. Perbedaan paham inilah yang membuat hati beliau sedih dan memilih berdiam diri. 

Sehingga pada akhirnya Allah menurunkan ayat pilihan bagi istri-istri rasul, apakah memilih dunia atau Allah dan rasulNya. Dan ketika itu pula menangislah seluruh istri beliau, meminta maaf dan memilih untuk tetap menjadi istri beliau apa pun adanya sesuai dengan cara dan pilihan hidup beliau, yaitu mengabdi kepada Allah dengan bersahaja dan menjadi rasul Allah, rasul pilihan Allah.

Perang Tabuk

Setelah kemelut rumah  tangga selesai, rasulullah pun menyiapkan pasukan demi mengatasi dan mengantisipasi serangan yang akan dilakukan pihak romawi kapan saja. Maka sebelum pasukan musuh datang, pasukan muslimin sendiri yang akan mendatangi tempat kabilah arab sekutu romawi di dekat perbatasan Syam.

Beliau SAW mengumumkan secara terbuka rencana persiapan perang melawan romawi. Maka seluruh penduduk Madinah pun berlomba-lomba menginfakan hartanya untuk peperangan tersebut. Abu Bakar menginfakan seluruh hartanya. Umar separuh hartanya. Sementara Utsman menyedekahkan seluruh kafilah dagang beserta ribuan emas kontan. Abdurahman bin Auf tidak ketinggalan menyedekahkan ribuan unta dan kuda. Begitu pula para kaum wanita menyerahkan seluruh perhiasan yang mereka punya untuk keperluan persiapan perang.

Rasulullah menghimpun sebanyak mungkin jumlah pasukan sehingg terkumpulah sebanyak 30.000 orang yang siap berangkat ke medan jihad hingga hidup mulia atau mati syahid. Dan tibalah waktu keberangkatan.

Cuaca saat itu begitu amat panas. Sementara kebun-kebun sedang musimnya berbuah. Hampir seluruh kaum muslimin ikut serta dalam perang. Kecuali Ali bin Abu Thalib, rasulullah meminta Ali untuk menggantikan beliau sementara menjaga Madinah. Sementara kaum munafik dan sebagian kaum muslimin ada yang tidak ikut berangkat, dengan alasan cuaca panas atau sedang repot musim kebun berbuah. Kelak mereka akan ditindak tegas oleh rasulullah.

Pasukan rasulullah berjumlah 30.000 orang itu berangkat menuju Tabuk. Mereka melewati perkampungan bekas kaum Tsamud di Wadil Qura (Petra), dan melarang meminum air serta mempercepat berjalan karena itu daerah yang dikutuk Allah.

Begitu mendengar kedatangan pasukan kaum muslimin berjumlah besar di Tabuk, nyali pasukan romawi meleleh. Dulu saja dengan hanya 3000 orang mampu bertahan melawan mereka, apalagi sekarang jumlahnya sudah 10 kali lipat, begitu pikirnya. Akhirnya memang kaum muslimin tidak bertemu dengan pasukan romawi. Kaisar berpikir dua kali untuk melawan kaum muslimin. Sementara di kalangan sekutunya Bani Ghassan sendiri terjadi perpecahan, karena sebagian sudah turut bergabung ke dalam barisan kaum muslimin.

Setelah menguatkan wilayah perbatasan dan memberi pelajaran kepada suku-suku arab yang membantu romawi menyerang Islam, pasukan ini berkemah selama beberapa hari. Setelah dirasa tidak ada tanda-tanda serangan dari pasukan romawi mereka pun pulang kembali ke Madinah.

Haji Wada'

Sekembalinya ke Madinah, rasulullah menindak kaum muslimin yang tidak turut berangkat ke Tabuk. Ada tiga orang yang secara khusus diboikot karena peristiwa ketinggalan perang tabuk ini, namun akhirnya kembali dimaafkan karena Allah menerima taubat mereka.

Perang tabuk semakin mengokohkan kedudukan kaum muslimin di jazirah arab. Rasulullah dan kaum muslimin makin disegani dan dihormati oleh para kabilah. Kota Madinah kedatangan banyak utusan yang menyatakan diri masuk bergabung dengan barisan kaum muslimin. Sebagian ada yang total masuk Islam, sebagian lagi ada yang tetap dalam agamanya namun mau membayar jizyah sebagai hak perlindungan keselamatan oleh kaum muslimin.

Diantara utusan-utusan tersebut ada beberapa pendeta nasrani dari daerah Najran dekat Yaman. Mereka bahkan sempat berdebat tentang masalah ketuhanan dengan rasulullah. Namun ketika hendak diajak ber-mubahalah, mereka ketakutan dan akhirnya menyerah tunduk kepada kekuasaan Islam.

Tidak semua utusan itu bergabung karena faktor kesadaran akan kebenaran, namun ada yang mempunyai motif lain. Misalnya bernama Musailamah dari Yamamah, yang justru datang ke Madinah menemui rasulullah meminta dunia, bahkan menyatakan dirinya sama sejajar dengan nabi SAW, yaitu sama-sama rasul Allah. Saat itu rasulullah tidak berbuat apa-apa hanya bersikap memperingatkan kaum muslimin agar selalu waspada. Kelak di masa khalifah Abu Bakar Musailamah Al Kadzzab ini berkhianat dan terang-terangan mengaku nabi dan memerangi Madinah. Namun dapat ditumpas oleh Abu Bakar.

Menjelang akhir tahun 10 H pada bulan Dzulqo'dah rasulullah mengumumkan akan melaksanakan ibadah haji. Lalu diikuti oleh hampir seluruh penghuni Madinah. Berita berhaji nya rasulullah terdengar ke seluruh jazirah arab, maka berbondong-bondong pula mereka berangkat haji ingin bertemu dan melihat rasulullah.

Setelah mengambil miqot dan berihram di Dzul Hulayfah, rombongan rasulullah langsung menuju Arafah. Tepat pada tanggal 9 Dzulhijjah rasulullah melakukan wuquf dengan nasehat-nasehat yang dikenang sepanjang masa dan membuat berurai air mata sekitar 100.000 jamaah haji di Arafah hingga matahari terbenam. 

Kemudian berjalan menuju Muzdalifah dan beliau melakukan dzikir dan berdoa di Masy'aril Haram. Setelah sholat subuh pagi-pagi beliau langsung menuju tempat penyembelihan Ismail yaitu Mina. Disana beliau melempar 7 kali batu kerikil ke arah jumrah aqabah, kemudian berangkat menuju Masjidil Haram melakukan thawaf ifadah di Baitullah dan bersa'i. Demikian rangkaian manasik haji rasulullah yang diikuti oleh kaum muslimin hingga akhir jaman.

Selesai berhaji rasulullah kembali ke Madinah. Sejak itu kondisi kesehatan beliau mulai menurun.

Rasulullah Wafat

Menjelang tahun ke-11 rasulullah merasakan demam tinggi serta sakit kepala. Bahkan hampir tak kuat mengimami sholat jamaah. Beliau pun meminta Abu Bakar untuk menggantikannya.

Di hari-hari terakhir beliau banyak menyampaikan wasiat kepada keluarga dan istri-istrinya untuk menjaga agama. Beliau juga menyampaikan tentang tugasnya sebagai rasulullah sudah berakhir. Dan Allah sudah memanggilnya kembali ke haribaan-Nya.

Hari ahad beliau bermalam di rumah Aisyah. Badannya kian menggigil dan Aisyah pun menyelimuti dan menyuapi makanan. Terkadang sakit itu sampai membuat rasulullah tak sadarkan diri. Sementara imam di masjid masih dipimpin Abu Bakar, sahabat sekaligus mertua beliau. Saat isya demamnya agak reda sehingga beliau tertatih hadir di masjid dan tersenyum melihat para jamaah. Semua orang lega melihat kondisi rasulullah tampak pulih. Tidak lama setelah itu beliau kembali masuk ke dalam biliknya, yaitu kamar Aisyah ra.

Menjelang subuh beliau meminta keluarganya berkumpul. Rasul berbisik kepada Fatimah tentang waktu kepergiannya hampir tiba. Fatimah pun menangis. Demam rasulullah kembali meninggi. Kepala baginda berada dalam pelukan Aisyah yang dari tadi senantiasa melantunkan muawidzatain dan bacaan dzikir lainnya.

Rasulullah terus menerus mengabarkan tentang apa yang dilihatnya. Tentang kedatangan Jibril, Mikail dan seluruh malaikat yang sudah siap menyambutnya. Tentang kedatangan Izra'il yang siap menjemputnya. Tentang sakitnya sakarat yang dirasakan, perpisahan ruh dengan badan. Tentang tempat beliau di syurga yang telah dijanjikan Allah, Ar-Rafiqul A'la.

Perlahan mata beliau terpejam. Nafasnya pun terhenti. Dan tubuh mulia itu pun berubah dingin, ditinggalkan ruh yang mulia kembali kepada Sang Maha Pencipta, yang telah mengutusnya sebagai rasul. Dialah Allah, Tuhan Maha Perkasa, yang telah melindungi beliau dari segala marabahaya, dari segala tipu dan kelicikan musuh-musuhnya, menyelamatkan beliau dari berbagai peperangan. 

Namun beliau hanyalah rasulullah, manusia fana, yang hanya penyampai risalah. Dan dunia bukan tempat terbaik untuk nabi Allah yang mulia, namun sudah Allah siapkan kedudukan tertinggi bagi beliau SAW di dalam Syurga tertinggi, Ar-Rafiqul A'la, kenikmatan yang kekal abadi selamanya.

Selamat jalan wahai rasulullah..salam bagimu yaa habiiballah..sampai jumpa kelak di akhirat. Kami umatmu akan meneruskan dakwah yang telah engkau mulai, akan kami junjung dengan jiwa raga sebagai mana kaum anshar telah siap membelamu di Aqabah. Bila tiba waktu kami untuk kembali kepada Allah, doakan agar dosa kami diampuni Allah dan Allah ridha kepada kami...aamiin

Jakarta, 5 Juli 2018
@abdullahmuha

maraji' :
- Sirah Ibnu Hisyam
- ArRahiqil Makhtum, Mubarakfury
- Fiqih Sirah, AlGhazali Muhammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar