Rabu, 11 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Umar bin Khattab)


UMAR BIN KHATTAB


Profil Umar bin Khattab

Berasal dari kabilah Bani Makhzum. Umar berperawakan tinggi besar. Walau berasal dari keluarga kaya dan termasuk disegani di kabilahnya, namun sejak kecil Umar mengalami kehidupannya keras. Didikan orang tuanya menjadikan Umar memiliki watak yang keras. Sikapnya yang main hantam dan berani membuatnya ditakuti orang.




Sebelum mengenal Islam Umar termasuk salaseorang yang memusuhi dan ancaman serius bagi kaum muslimin. Namun ketika Allah memberinya hidayah, semuanya bertakbir, dan kehadirannya menguatkan barisan kaum muslimin, berbalik melawan kaum kafir Quraisy. Yang pertama mula mengusulkan dakwah Islam secara terang-terangan terbuka di Mekkah kepada Nabi SAW adalah Umar bin Khattab. Dan ketika turun perintah hijrah ke Madinah, Umar pun turut berhijrah meninggalkan keluarga dan kabilahnya yang sebagian masih kafir.

Pada peperangan Badar Umar berhadapan dengan saudara-saudaranya dai Bani Ady dan Makhzum. Namun demi membela keyakinan dan akidah, Umar tinggalkan semuanya dan mencurahkan seluruh hidupnya membela rasulullah dan agama Islam yang baru berkembang di Madinah. Perhatian Umar amat jeli, terlihat beberapa kali dia mengusulkan untuk menghabisi kaum munafiq Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul, namun selalu dicegah nabi SAW.

Sejak masuk Islam Umar bin Khattab hampir selalu menyertai dan bersama disamping Nabi SAW bersama Abu Bakar, Utsman dan Ali. Umar adalah pemikir yang kritis. Bahkan ketika dirasa Perjanjian Hudaibiyah dianggap merugikan dialah yang banyak bertanya kepada rasul. Bahkan beberapa hukum dalam Alquran turun karena beberapa pertanyaan Umar.

Kecintaannya kepada rasulullah begitu mendalam, sampai ketika terdengar berita mengenai wafatnya Rasulullah, Umar hampir hilang kesadaran, seolah tidak bisa menerima kenyataan. Sampai akhirnya datang Abu Bakar yang membuatnya tersadar bahwa nabi SAW adalah seorang utusan Allah dari manusia biasa yang bisa wafat. Dalam kesedihan memuncak, semakin membenamkan tekadnya untuk terus menjaga warisan Rasulullah sepanjang hidupnya.

Menjadi Khalifah Amirul Mu'minin

Umar bin Khattab menjadi Khalifah setelah wafatnya Abu Bakar As-Shidiq pada tahun 13H atau 635 M. Ketika menjelang wafat Abu Bakar sudah berwasiat dan menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya apabila beliau tidak berumur panjang. Dan begitulah yang terjadi. Madinah pun berkabung dengan meninggalnya Khalifaturrasuul, sahabat dekat sang nabi, yang menemani beliau sejak kecil hingga diangkat menjadi nabi bahkan siap mengorbankan harta dan jiwanya untuk Allah dan rasulNya. Dan tatkala sang rasul kembali kepada Allah, sahabat As-Shiddiq ini pun gigih membela warisan sang nabi yang agama Islam serta terus mempertahankan dan menegakkannya hingga tetap mulia di muka bumi.

Umar bin Khattab sepeninggal Abu Bakar mewarisi kondisi islam yang mulai kokoh. Berita kemenangan demi kemenangan pasukan kaum muslimin yang dikirim Abu Bakar ke semenanjung arab, hingga ke timur masuk wilayah Persia, bahkan tak tanggung-tanggung melabrak pula ke utara wilayah kekuasaan Romawi. Islam secara terbuka menantang kedua negara adidaya itu untuk menerima kebenaran Islam. Abu Bakar seolah ingin mewujudkan apa yang dicita-citakan oleh rasulullah ketika Perang Khadaq bahwa kaum muslimin akan menguasai istana kisra dan kaisar. Bahkan beliau SAW sudah membuktikan cita itu dengan terjadinya Perang Mu'tah dan Perang Tabuk.

Tentu saja Umar bin Khattab juga tidak ingin ketinggalan dalam berlomba membela risalah yang dibawa panutannya yang mulia tersebut. Usai pengangkatannya sebagai Khalifah bergelar Amirul Mukminin, Umar langsung mengumpulkan seluruh sahabat besar rasul, dan mengadakan musyawarah tentang pergerakan daulah Islam selanjutnya.


Musyawarah Para Sahabat Nabi

Dalam musyawarah tersebut dibahas tentang tonggak ekonomi kaum muslimin, pemantapan hukum islam dan peribadahan, dan juga mengenai perluasan wilayah yang sudah dirintis oleh Abu Bakar. Kaum muslimin merasa belum aman bila disana masih ada kerajaan-kerajaan yang bukan Islam yang besar dan dibiarkan bercokol. Hal itu dapat membahayakan keamanan kaum muslimin dalam menjalankan peribadahan dan keamanan agama Islam yang baru tumbuh.

Mau tidak mau, penguasa-penguasa non muslim ini harus diislamkan atau ditaklukan dibawah kekuasaan kaum muslimin. Dan Allah serta agamaNya adalah menjadi yang tertinggi. Maka dimulailah gelora perjuangan suci menegakkan agama Allah memasuki negeri-negeri kafir. Bila mereka mau menerima Islam, maka akan dibiarkan dan dilindungi. Namun bila mereka tidak mau menerima Islam, maka mereka wajib membayar jizyah, sebagai ganti perlindungan keamanan oleh kaum muslimin untuk mereka.

Yang pertama dilirik adalah Persia di sebelah timur. Geografis Persia cenderung lebih dekat dan lebih mudah dijangkau. Pasukan muslimin pimpinan Khalid bin Walid di masa Abu Bakar sudah pernah bentrok dengan Persia dan mengalami kemenangan. Maka mereka pun semakin percaya diri. Saat ini sepeninggal Khalid yang pergi ke Syam, sebagian pasukan masih ada di perbatasan Persia dibawah komando Mutsanna. Sedang Khalid di Syam sedang bersiap-siap menghadapi pasukan romawi yang berjumlah ratusan ribu di sekitar Yarmuk. Suatu peperangan hidup mati dengan pertaruhan kehormatan seluruh kaum muslimin.

Umar segera melakukan strateginya. Setelah mengamati kedua pasukan yang sudah bersiap menunggu instruksi, beliau langsung menurunkan komando untuk segera melakukan pembebasan terhadap Persia dan Romawi. Begitu instruksi disampaikan disambut oleh seluruh kaum muslimin dnegan gelora takbir dan semangat berjihad guna meninggikan agama Allah di muka bumi.

Persiapan Penaklukan

Komandan pasukan untuk Persia semula akan dipimpinnya langsung, namun dicegah oleh para sahabat nabi, karena stabilitas Madinah saaat memerlukan pemimpin yang cakap, setelah peperangan kaum murtad dan pemberontakan nabi palsu, kuatir bila kosong akan terjadi pemberontakan kembali. maka dikirimlah Sa'ad bin Abi Waqqash sebagai Panglima Tertinggi untuk Pembebasan Persia. Dan Sa'ad pun berangkat menuju perbatasan Irak.

Sementara itu ada perubahan strategi Umar pada peperangan menghadapi Romawi. Umar mengganti kepemimpinan Khalid bin Walid dan menyerahkannya kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Dan Khalid pun tunduk terhadap perintah tersebut, meski selanjutnya peperangan menghadapi Romawi tetap Khalid banyak berperan dan akhirnya berhasil memenangkan peperangan berikutnya.

Perang Qaddisiyah

Sa'ad sudah sampai di perbatasan Irak, yang saat itu masih dikuasai Persia. Kaum muslimin pun dengan mantap bergerak menuju titik pusat jantung Persia di Ctesiphon atau Mada'in Shaleh. Namun di tepi sungai Eufrat menghadang pasukan utama Persia yang berjumlah ratusan ribu banyaknya, siap menghadang begitu mendengar kedatangan pasukan dari gurun pasir tersebut tiba. Dan akhirnya kedua pasukan sudah berhadapan di wilayah Qadisiyah, Irak.

Dengan semangat dan gemuruh takbir pasukan Muslimin pun menyerbu langsung ke tengah-tengah lautan tentara persia  dan berusaha memporak-porandakannya. Sa'ad bin Waqash saat itu tidak bisa turun langsung karena sedang sakit, sehingga beliau hanya bisa memberi komando dari atas unta. Sementara panglima Persia bernama Rustum berdiri pongah di atas seekor gajah paling besar memberi komando.

Perang Qadisiya berlangsung amat dahsyat. Kaum muslimin hampir unggul hingga tiba-tiba datang pasukan tentara gajah Persia menyerbu meluluhlantakkan muslimin. Banyak yang syahid berjatuhan terinjak terbanting dan dikeroyok oleh pasukan musuh. Pasukan muslimin belum pernah berhadapan dengan gajah, apalagi gajah perang. Sehingga perlawanannya agak tersendat.

Namun tiba-tiba datang balabantuan dari Syam, atas permintaan Sa'ad kepada Abu Ubaidah Al Jarrah untuk mengirimkan bantuan karena pasukannya sedang terdesak. Dengan kedatangan pasukan dar Syam itu semangat kaum muslimin pun timbul, dan merubah strateginya. Dengan segala cara untuk menakuti hewan garang tersebut, sampai akhirnya mampu memotong belalai mereka sehingga suasana jadi kalangkabut karena berbalik ketakutannya gajah-gajah tersebut bahkan menginjak-injak tentara mereka sendiri. Begitulah Allah memberi kemenangan untuk kaum muslimin, sehingga mereka dapat mengalahkan musuhnya atas pertolongan Allah. Dan panglima Persia, Rustum, akhirnya berhasil dibunuh ditepi sungai Eufrat.

Setelah kemenangan di Qadisiyah, pasukan terus bergerak ke dalam kota menuju pusat pemerintahan Persia di Ctesiphon (Mada'in Shaleh) dan disana ternyata Raja Persia, Yajdegird III pun tidak memberikan perlawanan, bahkan mereka melarikan diri. Sehingga lengkap sudah kemenangan kaum muslimin berhasil menaklukan kerajaan adidaya Persia.

Perang Yarmuk

Tatkala Abu Bakar Siddiq wafat, kondisi kaum muslimin di Syam tepat sedang berhadapan melawan puluhan ribu pasukan Romawi. Ketika Umar meminta Abu Ubaidah Al Jarrah untuk menggantikan pimpinan Khalid bin Walid disana pun tidak ada yang berubah, seluruh pasukan tetap semangat berjuang membela Islam.

Sebelumnya sebetulnya kaum muslimin sudah dapat menguasai Damaskus ibukota Suriah. Namun kehadiran balabantuan pasukan Heraklius yang dua kali lipat banyaknya mampu mendorong mereka keluar kota sampai ke tepi sungai yarmuk. Disini kedua pasukan sudah kembali berhadapan dan akan terjadi perang habis-habisan, dengan hanya menyisakan satu pemenang.

Seiring terbit matahari perang pun dimulai. Suara ringkikan kuda dan kepulan debu disertai gemuruh teriakan takbir menggelora memompa semangat para mujahidin untuk segera mendapatkan syahadah di medan fisabilillah.

Sayap kanan pasukan pendobrak kavaleri dipimpin Khalid bin Walid, sementara dari arah kiri tak kalah hebatnya menyerbu pasukan pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal dan Yazid bin Abu Sofyan. Sementara lini tengah infanteri dipimpin jendral jenius Amr bin Ash, agak ke belakang dipimpin panglima tertinggi yaitu Abu Ubaidah bin Al Jarrah, mengamati sambil bersiaga untuk langsung menghantam pada waktunya. Perang berkecamuk dahsyat. Bahkan memakan waktu hingga beberapa hari. Korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Pasukan Ikrimah dikepung dari berbagai arah oleh musuh yang jumlahnya beribu-ribu menggulung. Sementara suara teriakan takbir tak henti-hentinya bergemuruh menyusul hentakan kaki kuda dan kilatan pedang menyambar siapa pun yang mendekat. Hampir seluruh pasukan muslimin sudah bertekad meraih syahid. Sehingga ribuan hujan panah menghitam, lemparan tombak menusuk, serta bacokan pedang bertubi-tubi seakan tak terasa dan disambut dengan senyum kemenangan. Menang meraih jannah Allah SWT. Begitulah yang terjadi kepada Ikrimah bin Abu Jahal dan kawan-kawannya yang telah berjuang dengan gagah berani tak mundur setapak pun menahan gempuran tentara gabungan Romawi.

Melihat rubuhnya tubuh Ikrimah dan pasukannya, Khalid dan Amr bin Ash langsung mengarahkan pasukannya melabrak para pengeroyok licik itu. Teriakannya mengagetkan para perusuh. Sekali membabatkan pedang tampak beberapa tubuh terpental rubuh. Belum kudanya yang menyepak mengoyak membuat terpental patah tulang di beberapa tempat. Kerumunan pengecut pun kocar-kacir. Dikejar pasukan muslimin yang kembali bergelora menyusul dan membuat musuh terpaksa menyerah. Perang pun berakhir. Pada tahun 635 romawi telah kalah, dan harus menyerahkan Damaskus serta meninggalkan Suriah selamanya. Heraklius melarikan diri kembali ke Byzantium (Konstanstinopel).

Penaklukan Baitul Maqdis

Perang Yarmuk merupakan perang penentuan kemenangan muslimin. Setelah itu satu demi satu kota-kota terdekat dapat dikuasai karena musuh sudah langsung menyerah tanpa perlawanan sejak kepergian tentara romawi dari jazirah Syiria. Satu-satunya yang masih bertahan adalah Yerusalem atau Palestina, dimana didalamnya terdapat Masjid Al Aqsha atau Baitul Maqdis.

Baitul Maqdis merupakan kota benteng. Kuncinya dipegang seorang Uskup bernama Sophronius, seorang pendeta Kristen yang mewakili kekuasaan Romawi di Yerusalem. Yang pertama kali tiba mengepung Yerusalem adalah Khalid bin Walid. Disusul oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Kepungan demi kepungan dilakukan hingga berminggu-minggu. Hingga salaseorang jendral perang terkenal bernama Amr bin Ash dibantu Khalid bin Walid berhasil menerobos benteng dan memaksa penduduk Yerusalem untuk menyerah, Namun Uskup tersebut baru mau menyerahkan kunci Yerusalem langsung kepada pemimpin tertinggi kaum muslimin di Madinah.

Mendengar berita tersebut, berangkatlah Umar bin Khattab dari Madinah ke Palestina, dengan hanya mengendarai unta ditemani seorang pengiringnya.

Tahun 637 M, seiring tibanya Umar bin Khattab di kawasan Masjid Al Aqsha, kunci Yerusalem pun diserahkan kepada Umar sebagai tanda tunduk dan takluknya Palestina yang masih dibawah kekaisaran Romawi kepada kekuasaan kaum muslimin. Umar pun melakukan sholat kemenangan di pelataran Baitul Maqdis. Kelak tempat tersebut di masa Bani Umayah dibangun Masjid Umar atau lebih dikenal dengan nama Dome of The Rock, yang bangunannya masih abadi hingga sekarang.

Setelah penaklukan tersebut, Umar kemudian menata kembali Yerusalem dengan kebijakan baru, yang hingga saat ini masih dikenang tentang toleransi saling menghormati antar umat beragama. Karena di kota ini terdapat 3 agama samawi yang sama-sama merasa memiliki kota tersebut, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Kedamaian dan tidak saling mengganggu adalah asasnya. Hingga jadilah Yerusalem atau Palestina menjadi kota yang tentram dan penuh toleransi di bawah naungan kaum muslimin.

Menaklukan Mesir

Setelah selesai menaklukan Palestina, kaum muslimin terbagi beberapa kelompok. Sebagian menjaga keamanan negeri taklukan yaitu Ardan (Yordania), Syam (Syiria) Damaskus, Palestina dan wilayah utara seperti Homs, dll. Sebagian kembali ditarik pulang ke Madinah. Adapun Amr bin Ash mengusulkan untuk menaklukan Mesir, dengan alasan Mesir merupakan pangkalan armada laut Romawi yang kuat. Bila dibiarkan dapat kembali merongrong ketentraman kaum muslimin. Umar awalnya khawatir dengan keselamatan tentara muslimin yang sudah melakukan perjalanan peperangan sejauh itu. Namun, setelah diyakinkan maka akhirnya Umar pun setuju dan mengirim 4000 personil dibawah pimpinan Amr bin Ash menuju Mesir.

Amr bin Ash sudah pernah ke Mesir, karena dahulu dia adalah salasatu saudagar quraisy yang berniaga ke mesir. Amr tahu persis kondisi kekayaan mesir dan konflik yang terjadi antara kristen koptik mesir dan kristen romawi. Kristen romawi selalu melecehkan dan menghina kristen koptik karena perbedaan keyakinan dalam kekristenan mereka, sehingga kristen koptik mesir seringkali menjadi bulan-bulanan penindasan orang romawi.

Kesempatan inilah yang membuat Amr bin Ash bersemangat, karena rasa dendam orang mesir terhadap romawi dapat dimanfaatkan untuk mengamankan posisi kaum muslimin. Dan memang demikian adanya. Kehadiran tentara muslimin demi membebaskan bumi mesir dari penjajahan roawi begitu dinantikan mereka. Sehingga ketika pasukan muslimin menyerbu benteng-benteng pasukan Romawi sampai pelabuhan terbesar di Iskandariah, terdapat orang mesir yang membantu di belakang mereka.

Heraklius yang mendengar serbuan kaum muslimin ke mesir terkejut dan langsung mengirim 50.000 tentara untuk mengamankan pelabuhan terpenting romawi tersebut. Kedatangan pasukan romawi disambut teriakan takbir pasukan muslimin dibantu penduduk mesir dengan gagah berani. Namun banyaknya pasukan romawi membuat pasukan muslimin terpukul mundur. Amr bin Ash pun mengirim surat kepada Umar di Madinah meminta bala bantuan tambahan.

Umar pun mengirimkan jendral-jendral tangguhnya untuk membantu Amr bin Ash di Mesir. Bersama 5000 tentara dibawah komando Zubair bin Awwam, didampingi Ubadah bin Shamit, Maslamah bin Mukhallad, serta Miqdan bin Aswad. Begitu tiba di Mesir, pasukan kaum muslimin kembali semangatnya dan melaju menembus serta menaklukan benteng-benteng Romawi di sepanjang Sungai Nil sampai Iskandariah. Sementara tersiar kabar meninggalnya Kaisar Heraklius di Konstantinopel membuat hilang semangat para prajurit romawi dan akhirnya dapat digempur serta dikalahkan oleh pasukan muslimin serta memaksa Muqaukis menandatangani perjanjian damai.

Diantara isi perjanjian damai adalah mengusir seluruh orang romawi dari bumi mesir, serta mengajak penduduk mesir untuk masuk Islam, bila tidak mau mereka akan dibiarkan dalam agamanya namun harus membayar jizyah. Usai penaklukan tersebut, terciptalah suasana aman sentosa di bumi Mesir. Amr bin Ash ditunjuk Umar menjadi gubernur Mesir, dan mendirikan pusat pemerintahan di Fustath (Sekarang di tempat ini berdiri megah Mesjid Amr bin Ash).

Menata Pemerintahan Daulah Islamiah

Perluasan wilayah muslimin sudah semakin luas. Bila di masa rasulullah yang ada hanya negara Madinah, di masa Abu Bakar sudah mulai meluas ke Yamamah. maka di masa Umar lah terbuka pintu-pintu sebagaimana yang telah dijanjikan rasulullah SAW saat perang Khandaq dulu, yakni dikuasainya negeri Persia dan Romawi, negara adikuasa yang paling ditakuti dan paling besar saat itu.

Perluasan itu semakin bertambah lagi dengan penaklukan Syam dan Mesir. Maka perlu dipikirkan bagaimana cara menata kekuasaan wilayah taklukan yang baru tersebut. Disinilah kecerdasan dan kreatifitas Umar bin Khattab.

Yang Umar lakukan adalah membagi daerah tersebut ke dalam wilayah-wilayah provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur. Para gubernur itu bertanggung jawab dan harus melaporkan seluruh kondisi kegiatan di wilayahnya kepada khalifah di Madinah.

Para gubernur tersebut adalah :

  1. Wilayah Syam diangkatnya Muawiyah bin Abu Sufyan.
  2. Palestina diangkat Alqamah bin Majaz (Kelak syahid dalam peperangan laut di masa Utsman)
  3. Irak diangkat Sa'ad bin Abi Waqqash, namun lalu diganti oleh Mughirah bin Syu'bah
  4. Mesir diangkat Amr bin 'Ash
  5. Hijaz diangkat Nafi' bin Abu Harits

Selain membagi wilayah dan membentuk gubernur, Umar juga membentuk Qadhi (kehakiman) pengadilan Islam untuk menguatkan syariah Islam. Dan juga menata administrasi kesekertariatan daulah Islam. Sungguh Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang bertakwa.

Akhir hayat Umar

Sebagai manusia biasa Umar akan sampai di penghujung hidupnya. Peristiwa ajal hanyalah Allah yang tahu. Umar wafat sebagai syuhada, ketika menjelang sholat subuh tiba-tiba ada salasatu orang majusi yang berpura-pura ikut sholat menyeruak barisan shaf dan menikam beliau, hingga sampai pada kematian.

Namun di akhir hayatnya, Umar sempat menyampaikan wasiat tentang penggantinya, yaitu agar memilih diantara 6 orang : Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash,  dan Thalhah bin Ubaidillah.

Demikianlah kehidupan Umar Al Faruq yang banyak menorehkan jasa bagi umat Islam. Selanjutnya kekhalifahan setelah syura dipegang oleh Utsman bin Affan yang juga sudah berusia lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar