Senin, 12 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


WALID BIN ABDUL MALIK



Kelahiran

Al Walid lahir pada tahun 48 H, merupakan anak tertua Abdul Malik bin Marwan. Masa kecilnya dihabiskan di istana bersama para adik-adiknya yang lain. Mereka pun mewarisi kecerdasan dan ketangkasan ayahnya dalam menata pemerintahan. Sehingga ketika Abdul Malik wafat, Walid pun tanpa perlu susah menggantikan, karena memang Abdul Malik telah mempersiapkan putra-putranya dengan pendidikan dan ilmu yang cukup untuk menjadi penggantinya.

Naik menjadi Khalifah

Khalifah Al Walid bin Abdul Malik naik ketika Bani Umayah dalam puncak kesuksesan tahun 86 H (705M). Suhu politik sangat stabil, ekonomi berkembang pesat. Ditambah para pembantu yang kuat dan mumpuni. Al Walid mempunyai para gubernur yang cakap. Di timur ada Hajaj bin Yusuf, gubernur Irak. Di Barat Afrika ada Musa bin Nushair, penguasa Mesir dan Afrika Utara. Di Hijaz ada Umar bin Abdul Aziz, gubernur Madinah.

Kebijakan Khalifah dan Perluasan Wilayah Islam

Al Walid meneruskan kebijakan ayahnya dalam memberi keleluasaan kepada Hajaj di Irak, sehingga Hajaj mampu mengembangkan wilayahnya dengan menunjuk beberapa panglima diantaranya Muhamad bin Qasim, untuk menaklukan Sind (Pakistan), Punjab dan Nepal di wilayah Hindustan tahun 711.

Selain mengutus Muhammad bin Qasim untuk menaklukan Hindustan, Hajaj juga mengangkat panglima Qutaibah bin Muslim sebagai gubernur Khurasan. Kelak Qutaibah bin Muslim ini yang langsung memimpin komando melakukan serangkaian penaklukan ke wilayah utara, turki, samarkand, khawarizm, mongol hingga timur jauh menembus kashgar dan kashan benteng cina tiongkok.

Di Barat, tampil Gubernur Musa bin Nushair, yang mengerahkan hampir 12.000 pasukan dibawah pimpinan maula nya bernama Thariq bin Ziyad, menyebrangi lautan lepas, dan mendarat di daratan tak dikenal, yang dikenal dengan Isbahania (Espanyola). Daratan itu dikuasai sebuah bangsa barbar bernama bangsa Visigoth, dipimpin rajanya yang zalim bernama Raja Roderick.

Bukit tempat berlabuhnya kapal Thariq dinamakan Bukit Thariq (Jabal Thariq=Gibraltar). Ketika  berlabuh, Panglima Thariq bin Ziyad langsung membakar kapal-kapal mereka sambil mengumandangkan seruan syahadah-nya yang terkenal dalam sejarah, bahwa tiada lagi kesempatan mundur karena kapal sudah dibakar, selain maju dan menang...!!

Dan dengan semangat syahid, juga balabantuan penduduk setempat yang memang sudah lama tidak menyukai kepemimpinan zalim Roderick ini turut membantu Thariq bin Ziyad meraih kemenangan di berbagai pertempuran di semenanjung Spanyol, yang kemudian berganti nama menjadi Andalusia.

Masuknya islam ke benua Eropa melalui Andalusia seolah menyibak kegelapan yang menyelimuti Eropa yang terbelenggu dalam dogma gereja dan berhala dan khurafat kemusyrikan. Ilmu keislaman dan budaya berkembang pesat di darata Andalusia sehingga melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Ibnu Al Arabi, Ibnu Rusyd, Ibnu SIna, dll

Sementara itu Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, masih merupakan sepupu Al Walid yang merupakan putra dari Abdul Aziz bin Marwan, adik dari Abdul Malik bin Marwan (seharusnya yang naik menggantikan Abdul Malik sebagai khalifah adalah adiknya yakni Abdul Aziz, namun karena Abdul Aziz meninggal lebih dulu maka akhirnya jabatan khalifah diturunkan kepada putranya), memiliki tugas yang tak kalah besarnya dengan timur dan barat.

Tugasnya adalah menetralisir kondisi Hijaz, kekakauan politik setelah tumbangnya pemerintahan Abdullah bin Zubair. Disana terdapat banyak luka yang menganga. Banyak hati para sahabat nabi yang tercabik. Membutuhkan tangan lembut untuk mengobatinya. Dan Umar bin Abdul Aziz adalah tangan yang tepat.

Tatkala diangkat oleh Al Walid sebagai gubernur Madinah di usia 25 tahun, Umar langsung membentuk dewan syuro Madinah dengan mengundang tokoh berpengaruh keturunan para sahabat Anshar dan Muhajirin di Madinah berkumpul untuk membicarakan perbaikan selanjutnya. Tokoh-tokoh yang termasuk dewan syuro Madinah itu adalah : Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Bakar bin Sulaiman, Salim bin Abdullah bin Umar, Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yassar, Abdullah bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Amin bin Rabi'ah, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah.

Maka hadirlah kesepuluh orang tersebut di hadapan Umar bin Abdul Aziz. Setelah Umar mempersilahkan mereka duduk, ia lalu berpidato, setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, ia berkata, ”aku memanggil kalian untuk sesuatu yang kalian akan mendapatkan perhargaan atasnya, yaitu kalian akan membantu untuk memutuskan apa yang benar. Aku tidak akan membuat satupun keputusan tanpa meminta pendapat kalian, atau setidaknya pendapat tersebut yang akan digunakan. Apabila kalian melihat ada yang melampaui batas, atau melihat sebuah ketidakadilan dalam pemerintahan ku yang sampai pada kalian, aku mohon kalian melaporkannya kepadaku.” Mendengar ini mereka menjawab, “semoga Allah memberimu kebaikan”, dan mereka semua bubar.

Sikap Umar ini menumbuhkan citra positif penduduk Madinah terhadap Khalifah Al Walid, dan berterima kasih sudah mengirim Umar untuk mereka. Sikap lembut Umar tidak hanya ditujukan kepada ahlul bait dan penduduk Madinah, tapi juga kepada kaum Syi'ah. Sehingga banyak syi'ah yang berbondong-bondong pindah ke Madinah, karena di Irak mereka mendapat perlakuan kasar dari Hajaj bin Yusuf.

Mengetahui hal tersebut Hajaj bin Yusuf kurang senang dan menghimbau agar khalifah Al Walid segera mengganti Umar bin Abdul Aziz dengan yang lain, karena perilakunya itu dapat melemahkan pemerintahan Bani Umayyah. Dan posisi Hajaj masih istimewa di kalangan istana, pendapatnya lebih didengar, sehingga Umar pun dicopot dan diganti dengan yang lain.

Prestasi Khalifah Al Walid dalam bidang sosial

Selain upaya pengembangan wilayah kaum muslimin, Khalifah Al Walid juga membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Diantaranya adalah pembangunan rumah sakit, panti jompo, rumah penyandang cacat, rumah Alquran. Seluruh pengasuh dan guru-gurunya dibiayai oleh negara. 

Pembangunan jalan-jalan raya megah penghubung antar provinsi pun dibangun. Masjid Nabawi diperluas, areal pelataran Masjid Al Aqsha pun dibangun. Dan beliau membangun salasatu monumen kemegahan Bani Umayah, yaitu Masjid Jami Umawi, di Damaskus, yang menelan hampir 12.000.000 dinar saat proses pembangunannya. Pembangunan maha karya itu ternyata terbukti masjid tersebut hingga sekarang masih megah berdiri.

Kecamuk Perebutan Tahta

Dalam istana sendiri secara diam-diam terjadi konflik perebutan tahta. Sesuai amanat dari sang ayah yaitu Abdul Malik, bahwa setelah Al Walid seharusnya tahta beralih kepada adiknya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Namun ternyata Al Walid tengah mempersiapkan putranya untuk menjadi pewaris sepeninggalnya kelak. Al Walid juga pernah berusaha menjegal status putra mahkota dari Sulaiman. Namun upaya itu gagal karena khalifah keburu meninggal dunia.

Sebetulnya Hajaj bin Yusuf sendiri juga menginginkan tampuk kekuasaan tertinggi itu. Namun bagaimana pun dia hanyalah seorang abdi biasa. Dalam soal perebutan khalifah dia sama sekali tidak berdaya. Selain disana-sini banyak juga yang menginginkan. Belum para panglima yang lain seperti Musa bin Nushair, dan para pejabat di istana Damaskus. 

Sesungguhnya yang lebih dikuatirkan Hajaj adalah naiknya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah. Karena hubungannya dengan Sulaiman kurang begitu baik, dan Sulaiman begitu membencinya. Ternyata takdir berkehendak lain, Hajaj bin Yusuf meninggal dunia sebelum Sulaiman diangkat sebagai khalifah. Dan kematian Hajaj bin Yusuf menimbulkan efek beragam. Namun hampir semuanya merasa gembira lepas dari cengkraman penguasa zalim tersebut (lihat Hajaj bin Yusuf dalam situs ini juga). Meskipun tidak dipungkiri banyak jasanya terhadap kemajuan kaum muslimin.

Khalifah Walid meninggal dunia

Pada masa menjelang wafatnya, Khalifah Al Walid pernah menggeser posisi khalifah dari Sulaiman beralih kepada putranya yakni Abdul Aziz bi Al Walid. Namun belum sempat dibuat pengumuman resmi karena Sulaiman tidak kunjung juga datang ke Damaskus. Sebetulnya itu trik Sulaiman ketika dia sadar rencana keserakahan kakanya, maka dia sengaja menunda-nunda pertemuan yang disinyalir dapat mencabut legalitasnya sebagai putra mahkota pengganti. Dan upayanya tersebut berbuah hasil. Walid meninggal pada tanggal 23 Februari tahun 715 (96 H), sebelum rencananya menggeser putra mahkota itu berhasil.

Dan yang berlaku sebagai pengganti adalah tetap sesuai dengan amanah ayah mereka yakni Abdul Malik bin Marwan, Sulaiman bin Abdul Malik menjadi Khalifah penggantinya.

(bersambung)



Referensi :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/22/lk1jin-daulah-umayyah-walid-bin-abdul-malik-705715-m-penegak-bani-umayyah

https://ganaislamika.com/dinasti-umayyah-15-dinamika-politik-di-masa-al-walid-bin-abdul-malik/

https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Walid_bin_Abdul-Malik











Sejarah Bani Umayyah (Hajaj bin Yusuf)

SEJARAH BANI UMAYAH


HAJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI



Hajaj bukanlah penerus Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tetapi merupakan salasatu pembantu khalifah yang kemudian diangkat sebagai gubernur di wilayah Iraq. Tokoh ini begitu kontroversial sehingga tindak-tanduknya sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Itu sebabnya rasanya kita perlu membahas tokoh yag satu ini secara lebih spesifik, sehingga kita lebih mengenalnya. Sebagian ulama banyak yang mengkafirkan, namun sebagian cukup mengatakan sebagai seorang muslim yang kejam, dan banyak pula jasanya untuk islam.

Mari kita simak kisahnya....

-------------


Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi adalah salah seorang gubernur di Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik bin Marwan. Seorang yang zhalim, banyak membunuh, dan fasiq. Walaupun demikian, beliau turut memiliki jasa dan kebaikan. Memiliki sumbangan dalam meletakkan baris bacaan Al Qur’an, membantu banyak usaha meluaskan kerajaan Bani Umayyah. Beliau juga termasuk tokoh yang ahli dalam strategi peperangan. Ia berasal dari kabilah Tsaqif.


Kata Imam Al Hafizh Adz Dzahabi rahimahullah (Wafat: 748H) mengenai Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi:


“Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4/343)


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah:


“Dan adapun sang pemusnah adalah Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsqafi ini. Beliau seorang yang amat memusuhi, beliau amat membenci anggota keluarga ‘Ali, ini karena kecenderungannya kepada keluarga Marwan Bani Umayyah. Beliau juga seorang yang angkuh lagi bodoh, berani menumpahkan darah hanya karena kesalahan yang syubhah (samar).


Diriwayatkan dari beliau kata-kata yang sangat buruk, yang zahirnya adalah kufur, sebagaimana yang telah kami kemukakan. Jika beliau bertaubat darinya dan berlepas diri darinya, maka itu yang diharapkan, tetapi jika tidak, maka ia tetap dalam keadaan tersebut. Cuma diragukan bahwa itu adalah kata-kata yang diriwayatkan dari beliau dengan berbagai penambahan, karena golongan Syi’ah sangat membencinya karena beberapa perkara. Jadi, mungkin terjadi mereka mengubah sebagian perkataannya dan menambah padanya sehingga mereka melabelnya sebagai perkataan-perkataan buruk lagi menjijikkan.”


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir lagi:


“Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca Al Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus dalam urusan kemaluan, walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah. Maka Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui kebenaran dan hakikat-hakikat segala urusan serta rahsia-rahsianya, serta hal-hal yang tersembunyi di dalam dada.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/153)


Dalam Sunan At Tirmidzi disebutkan riwayat, Hisyam bin Hassan berkata:


“Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh Al Hajjaj secara zhalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum), maka jumlahnya mencapai sebanyak 120.000 orang manusia.” (Sunan At Tirmidzi, no. 2220. Dinilai hasan oleh At Tirmidzi. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib At Tahdzib, 2/211)


Al Ashma’i rahimahullah berkata:


“Di suatu pagi, Sulaiman bin ‘Abdul Malik membebaskan 81,000 orang tawanan, setelah Al Hajjaj (selepas kematiannya), penjara-penjara diperiksa lalu mereka dapati ada 33,000 orang yang belum dilaksanakan atas mereka pemutusan hukum dan tidak juga penyaliban.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/156)


‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah menyebut namanya dengan sebutan “musuh Allah”. Kata Al Hafizh Ibnu Katsir: Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani berkata, dari ayahnya, dari datuknya, dari ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, beliau berkata:


“Aku tidak sedikitpun merasa iri hati (dengki) terhadap Al Hajjaj si musuh Allah itu, melainkan terhadap sikapnya yang cinta kepada Al Qur’an dan sikap pemurahnya terhadap ahlul Qur’an, serta ucapannya sebelum wafat, “Ya Allah ampunilah aku, sesungguhnya manusia menyangka bahwa Engkau tidak bertindak.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/158)


Sampai-sampai ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz membuat permisalan yang menggambarkan betapa jahat dan berpengaruhnya Al Hajjaj:


“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatanya manakala kita pula datang dengan membawa Al Hajjaj, niscaya kita akan mengalahkan semua penjahat tersebut.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)


Malah terdapat perkataan sebagian salaf yang seakan-akan mengkafirkannya.


Ibnu ‘Asakir meriwayatkan perkataan Asy Sya’bi rahimahullah (Wafat: 104H):


“Al Hajjaj beriman dengan kejahatan dan thaghut, serta kafir terhadap Allah Al ‘Adziim.” (Ibnu ‘Asakir, Tarikh dimasyq, 12/187. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)


Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata:


“Suatu yang ajaib terhadap sahabat-sahabat kita dari ‘Iraq, mereka menamakan Al Hajjaj sebagai orang beriman?!” (Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala’, 5/44. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/157)


Sebagian Kejahatan dan Nukilan Kekejaman Al Hajjaj


Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:


‘Uqbah bin Mukarram Al ‘Ammiy memberitahu kami, katanya Ya’qub iaitu Ibnu Ishaq Al Hadhrami memberitahu kami, katanya Al Aswad bin Syaiban memberitahu kami, dari Abu Naufal, katanya:


Aku melihat (mayat) ‘Abdullah bin Az Zubair (dalam keadaan tergantung) di ‘Aqabah Al Madinah (di Makkah), dan kaum Quraisy serta orang-orang lainnya pergi ke arahnya, termasuklah ‘Abdullah bin ‘Umar, apabila beliau berdiri di hadapannya (mayat Ibn Az Zubair) beliau mengucapkan:


“Wahai Abu Khubaid (‘Abdullah bin Az Zubair), semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau, semoga keselamatan ke atas engkau! Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini, Demi Allah, aku telah melarang engkau dari perkara ini. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui seseorang yang selalu berpuasa, selalu qiyam (bangun malam untuk beribadah), dan selalu menyambung silaturrahim selain dari engkau. Demi Allah, engkau yang dikatakan sejahat-jahat ummat, sebenarnya adalah sebaik-baiknya.”


‘Abdullah bin ‘Umar pun berlalu pergi. Kata-kata Ibnu ‘Umar telah sampai kepada Al Hajjaj lalu dia mengutus seseorang untuk menurunkan mayat ‘Abdullah bin Az Zubair, kemudian mayat tersebut dicampakkan ke perkuburan Yahudi.


Kemudian Al Hajjaj menghantar utusan kepada Asma’ Binti Abu Bakr agar Asma’ menemuinya, tetapi Asma’ enggan. Utusan tersebut pulang dan kembali membawa pesan Al Hajjaj:


“Engkau mesti datang berjumpa dengan aku atau aku akan hantar seseorang yang akan mengheret engkau sambil menarik rambutmu.”


Asma’ tetap juga enggan.


Katanya, “Aku tidak akan berjumpa dengan engkau hinggalah engkau hantar seseorang yang akan mengheret aku dengan rambutku.”


Al Hajjaj yang mendengarnya (sebagaimana disampaikan oleh utusannya) pun berkata, “Ambilkan alas kakiku”.


Lalu utusannya mengambilkan alas kaki untuknya, dan Al Hajjaj pergi menuju kepada Asma’ dalam keadaan marah, lalu berkata:


“Apa pendapat engkau tentang apa yang aku lakukan terhadap si musuh Allah itu (‘Abdullah bin Az Zubair)?”


Asma’ menjawab: “Aku lihat engkau telah menghancurkan kehidupan dunianya, manakala dia pula telah menghancurkan kehidupan akhirat engkau. Aku dengar engkau memanggilnya (sebagai), “Wahai anak Dzat An Nithaqain (pemilik dua tali pinggang).” Sesungguhnya demi Allah, akulah Dzat An Nithaqain; tali pinggang yang pertama aku gunakan untuk menghantar makanan Rasulullah dan Abu Bakr, manakala tali pinggang kedua tidak dapat ditandingi oleh mana-mana wanita pun. Rasulullah pernah memberitahu kami bahwa di Thaqif nanti ada seorang pendusta dan seorang pemusnah, si pendusta itu kami telah mengenalinya, manakala si pemusnah pula, aku tidak kenal yang lain melainkan engkau.”


Al Hajjaj lalu bangkit beredar dan tidak membalas kata-kata Asma’. (Shahih Muslim, no. 2545)


Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Perkataan Asma’ mengenai si Pendusta, “kami telah mengenalinya”, yang beliau maksudkan dengannya adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafi, dia ini sangat teruk sifat pendustanya, dan antara tuduhannya yang paling buruk ialah Jibril Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang kepadanya. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan si pendusta adalah Al Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, manakala si pemusnah pula adalah Al Hajjaj bin Yusuf.” (Syarah Shahih Muslim, 16/100)


Imam An Nawawi juga mengatakan: “Dan mazhab Ahlul Haq (pengikut kebenaran) adalah meyakini Ibnu Az Zubair itulah yang dizhalimi, manakala Al Hajjaj dan para pengikutnya pula adalah khawarij (iaitu yang keluar memberontak) terhadap Ibn Az Zubair.” (Syarah Shahih Muslim, 16/99)


Ini karena Al Hajjaj-lah yang sengaja memerangi wilayah dan kekhilafahan ‘Abdullah bin Az Zubair di Hijjaz, Madinah, dan Makkah.


Al Hafizh Ibnu Katsir meriwayatkan perkataan Al Hajjaj:


“Demi Allah, kalau aku memerintahkan kamu semua keluar melalui pintu ini, tetapi kamu semua keluar melaui pintu yang lain, maka halallah darah kamu di sisi aku, dan tidak aku temui seorang lelaki yang membaca (Al Qur’an) mengikut qiraat Ibnu Ummu ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud) melainkan aku akan memancung kepalanya, dan akan aku kikis bacaannya dari mushaf, walaupun dengan tulang rusuk babi.”


Selain itu, Al Hajjaj pernah berkata di mimbar Wasith (di kota Wasith):


“‘Abdullah bin Mas’ud adalah pemimpin golongan munafiq. Kalau aku menemuinya aku akan basahkan muka bumi dengan darahnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/149)


Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan: “Dan ini termasuk kemelampauan Al Hajjaj, semoga Allah memburukkannya, dan termasuk kelancangannya mengungkapkan perkataan yang buruk, serta menumpahkan darah tanpa haq. Beliau dengki dengan qira’ah (bacaan) Ibnu Mas’oud radhiyallahu ‘anhu karena menyelisihi qira’ah pada mushaf induk yang dihimpunkan manusia pasa masa ‘Utsman.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/149)


Al Qa’qa’ bin Ash Shalt berkata: “Al Hajjaj pernah berkhuthbah lalu beliau mengatakan dalam khuthbahnya, “Sesungguhnya Ibnu Az Zubair mengubah Kitab Allah.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Demikianlah sifat kejamnya Al Hajjaj, sampai tiada adab dan hormat terhadap orang-orang yang amat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, iaitu para sahabatnya ridhwanullah ‘alaihim ajma’in. Demikian juga sikap beliau terhadap para ulama selain sahabat.


Sampai-sampai sebagian salaf mengatakan tentangnya: “(Seolah-olah) tidak ada satu pun dari larangan Allah ‘Azza wa Jalla melainkan telah dilakukan oleh Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/1153)


Saat Kematian Al Hajjaj


Atas sebab kekejaman dan kekejian Al Hajjaj, kematian beliau dianggap sebagai khabar gembira oleh sebagian salaf. Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) merakamkan: “Lebih dari seorang yang meriwayatkan bahwa Al Hasan (Al Bashri) ketika dikabarkan dengan berita gembira mengenai kematian Al Hajjaj, beliau langsung melakukan sujud syukur kepada Allah Ta’ala yang mana sebelumnya beliau bersembunyi, maka setelah itu beliau menonjolkan diri. Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, matikanlah dia dan hilangkanlah sunnahnya (kebiasaan-kebiasaannya) dari diri kami.”


Hammad bin Sulaiman berkata, “Apabila aku mengkhabarkan kepada Ibrahim An Nakha’i tentang kematian Al Hajjaj, beliau pun menangis karena gembira.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Abu Khaitsamah berkata: “Ziyad bin Ar-Rabi’ Al Haritsi mengatakan kepada para penghuni penjara, “Al Hajjaj akan mati dalam sakitnya ini di malam sekian.”


Lalu ketika tiba malam tersebut, tidak seorang pun penghuni penjara yang tidur karena sangat gembira. Mereka duduk menunggu hingga mendengar berita kematiannya. Iaitu pada malam 27 Ramadhan.”


Al Hafizh Ibnu Katsir menambah: “Pendapat lain menyebutkan, hal tersebut berlaku pada lima hari terakhir bulan Ramadhan. Pendapat lain lagi, ia berlaku pada bulan Syawal di tahun tersebut. Umurnya ketika itu adalah 55 tahun, karena kelahirannya adalah pada tahun Al Jama’ah (tahun di mana Al Hasan bin ‘Ali menyerahkan kekhalifahan kepada Mua’wiyah – Pent.), tahun 40H. Pendapat lain mengatakan setelah itu. Yang lain lagi mengatakan, setahun setelahnya.


Beliau meninggal di Wasith, dan kuburannya diratakan serta disirami air padanya supaya tidak dibongkar dan dibakar. Wallahu a’lam.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Al Ashma’i berkata: “Yang menakjubkan tentang Al Hajjaj, adalah apa yang beliau tinggalkan hanya 300 dirham.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Kata Al Waqidi, “Bahwa Al Hajjaj meninggal dengan meninggalkan 300 dirham, sebuah mushaf, sebilah pedanh, pelana, sekedup, dan seratus baju besi (armour) yang diwakafkan.” (Tarikh Dimasyq, 12/191. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Syihab bin Khirasy berkata:


“Al Hajjaj mewasiatkan 900 perisai atau baju besi, 600 di antaranya adalah milik orang-orang munafiq warga ‘Iraq yang mereka berperang dengannya, sedangkan 300 lagi adalah milik orang-orang Turki.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/159)


Al Hajjaj Adalah Bencana Ke Atas Penduduk ‘Iraq


Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) menyebutkan:


“Al Hasan Al Bashri pernah berkata: “Sesungguhnya kemunculan Al Hajjaj adalah disebabkan dari azab Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman (maksudnya):


“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Surah Al Mukminun, 23: 76)


Thalq bin Habib berkata: “Lindungilah dirimu dari fitnah dengan ketaqwaan.” Maka dikatakan kepadanya, “Simpulkanlah untuk kami apa itu ketaqwaan?” Beliau berkata, “Iaitu engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah dengan berharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan azab Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Ad Dunya).” (Ibnu Taimiyyah, Minhajus Sunnah An Nabawiyyah, 4/527-531 – Mu’asasah Al Qurthubah)


Demikian jugalah yang diungkapkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah: “Secara umum, bahwa Al Hajjaj adalah bencana yang ditimpakan ke atas penduduk ‘Iraq karena dosa-dosa lalu mereka dan perbuatan khuruj mereka kepada para pemimpin, menghinakan mereka, memaksiati mereka, menyelisihi mereka, dan tidak menghargai mereka.” (Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151)


Al Hafizh dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalan Ya’qub bin Sufyan (berkenaan apa yang pernah berlaku ketika zaman pemerintahan ‘Umar): “Seorang lelaki datang kepada ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu memberitahunya bahwa warga ‘Iraq melempari wakil pemimpin (gubernur) mereka, maka ‘Umar pun keluar (untuk shalat) dalam keadaan marah, lalu beliau mengimami kami suatu shalat, lalu beliau lupa di dalam shalatnya sehingga orang-orang (para makmum) mengatakan, “Subhanallah, Subhanallah…”


Setelah salam, ‘Umar pun menghadap kepada para makmum lalu berkata, “Siapakah di sini dari kalangan penduduk Syam?”


Lalu berdirilah seorang lelaki, kemudian berdiri juga lelaki yang lainnya, kemudian aku (perawi Ya’qub bin Sufyan) juga berdiri sebagai orang ketiga atau keempat. Lalu ‘Umar berkata: “Wahai warga Syam, bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi penduduk ‘Iraq. Karena Syaitan telah bertelur di tengah-tengah mereka dan menebarkan anak-anaknya. Ya Allah, sesungguhnya mereka telah menyamarkan diri mereka, maka samarkanlah atas mereka, dan segeralah ke atas mereka dengan anak Tsaqif yang memimpin (berhukum) dengan hukum jahiliyyah. Tidak akan diterima kebaikan dari orang baik mereka, dan tidak akan dimaafkan dari orang buruk mereka.”


Kata Al Hafizh Ibnu Katsir, “Kami juga telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad ‘Umar bin Al Khaththab, dari jalan Abu Azabah Al Himshi dari ‘Umar yang semisal dengannya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151-152)


‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata (berdoa):


“Ya Allah, aku telah memberi mereka amanah tetapi mereka mengkhianatiku, aku telah menasihati mereka tetapi mereka curang padaku. Maka kuasakanlah atas mereka seorang pemuda Tsaqif yang angkuh lagi sombong, yang memakan kesejahteraannya, yang memakai kulitnya, dan menerapkan hukum-hukum jahiliyyah atas mereka.”


Al Hasan berkata, “Pada ketika itu Al Hajjaj belum lahir.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)


Diriwayatkan juga oleh Mu’tamir bin Sulaiman, bahwa ‘Ali berkata: “Pemuda yang angkuh, Amiir (pemimpin) dua kota yang memakai kulitnya dan memakan kesejahteraannya, membunuhi para tokoh penduduknya, menimbulkan perpecahan yang banyak, banyak menimbulkan kegelisahan, dan Allah menguasakannya ke atas kaumnya.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/152. Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/169)


Sikap Para Ulama Di Bawah Kekuasaan Al Hajjaj Sebagai Pemerintah


Zubair bin ‘Adi berkata, kami mendatangi Anas bin Malik mengeluhkan perihal Al Hajjaj. Anas pun menjawab: “Bersabarlah, karena tidaklah datang sebuah zaman kecuali yang setelahnya akan lebih buruk sehingga kamu berjumpa dengan Rabb kamu. Aku mendengarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Shahih Al Bukhari, no. 7068)


Imam Asy Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204H) berkata: “Ibnu ‘Umar (salah seorang sahabat Nabi yang masih hidup) memencilkan diri di Mina pada hari-hari pertempuran (peperangan) antara Ibnu Az Zubair dengan Al Hajjaj, dan beliau (Ibnu ‘Umar) tetap shalat bersama (berjama’ah di belakang) Al Hajjaj.” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Imam Al Bukhari rahimahullah (Wafat: 256H) meriwayatkan: Dari As Sahmi, “Aku mendatangi Aba Amamah, lalu beliau berkata: “Janganlah engkau mencela (mengutuk dan menghina) Al Hajjaj, karena beliau adalah penguasa bagi engkau dan bukan penguasa bagiku.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, no. 83)


Aba Umamah tinggal di Syam, manakala As Sahmi tinggal di Iraq yang mana pemimpin di Iraq ketika itu adalah Al Hajjaj.


Fenomena kekejaman Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dan penentangan terhadapnya banyak dikaitkan dengan salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu bab kewajiban mentaati pemerintah (dalam hal yang bukan maksiat pada Allah). Maka dalam hal ini, antaranya Imam An Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan: “Mayoritas ulama Ahli Sunnah dari kalangan fuqaha’ (ahli fiqh), ahli hadits, dan ahli kalam menyatakan bahwa pemimpin tidak dilengsertkan (atau dijatuhkan kepimpinannya) atas sebab kefasikannya, kezhalimannya, dan perbuatannya yang merampas hak-hak umat Islam, dan tidak boleh khuruj (keluar dari ketaatan) kepadanya. Tetapi umat Islam wajib untuk menasihati dan menundukkan hatinya dengan hadits-hadits (yang berbentuk ancaman) berkaitan perkara tersebut.


Al-Qadhi berkata, “Abu Bakar bin Mujahid telah menyatakan adanya ijma’ atas perkara ini, sebagian ulama telah membantah pernyataan tersebut dengan apa yang dilakukan oleh Al Hasan dan Ibnu Az Zubair, serta penduduk Madinah terhadap Bani Umayyah. Juga pertempuran dua kelompok besar dari kalangan tabi’in dan generasi awal dari umat ini terhadap Al Hajjaj bin Yusuf, bukan karena sekadar kefasikan, akan tetapi ketika dia telah mengubah sebagian syari’at dan menampakkan kekafiran.” Al Qadhi berkata lagi, “Perbedaan ini timbul pada awalnya, kemudian terjadi ijma’ (kesepakatan) yang melarang memberontak kepada pemerintah.” Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 12/229)


Sikap Ulama Di Luar Kekuasaan Al Hajjaj


Al Hafizh Ibnu Katsir mencatat, “Berkata At Tsauri dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bahwa dia masuk ke kawasan Al Hajjaj tanpa memberi salam kepadanya dan tidak pula shalat di belakangnya (sebagai makmum).” (Al-Bidayah wa An Nihayah, 9/140)


Jasa dan Ungkapan Nasihat Al Hajjaj


Imam Asy Sya’bi berkata: “Aku mendengar Al Hajjaj berkata dalam perbicaraannya yang tidak pernah diungkapkan oleh seorangpun sebelumnya. Beliau mengatakan:


“‘Amma ba’d, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan kefanaan (sifat tidak kekal) bagi dunia ini, dan menetapkan keabadian bagi akhirat. Maka tidak ada keabadian bagi yang telah ditetapkan kefanaan baginya. Oleh itu, janganlah keadaan dunia ini memperdayakan kalian dari keghaiban akhirat, dan redamlah panjangnya angan-angan dengan dekatnya ajal.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/142. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/143)


Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) berkata: “Al-Haitsam bin ‘Adi dari Ibn ‘Ayyasy (beliau berkata): ‘Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan pernah mengutus surat kepada Al Hajjaj, “Kirimkan kepadaku kepala Aslam bin ‘Abdul Bakri.”


Setelah surat tersebut sampai kepadanya, Al Hajjaj pun menghadirkan Aslam kepadanya lalu Aslam pun berkata, “Wahai Amir (pemimpin), engkaulah yang menyaksikan, sedangkan Amirul Mukminin tidak menyaksikan. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (Surah Al Hujuraat, 49: 6)


Apa yang sampai kepadanya tentang diriku adalah bathil. Dan sesungguhnya aku menanggung 24 orang wanita, mereka tidak memiliki pendapatan selain dariku, dan mereka sekarang ada di pintu.”


Maka Al Hajjaj pun memerintahkan agar mereka dibawa masuk. Setelah mereka dihadirkan, salah seorang dari mereka berkata, “Aku adalah bibi dari pihak ayahnya.”


Yang lain berkata, “Aku bibi dari pihak ibunya.”


Yang lain berkata, “Aku saudara (adik-beradik) perempuannya.”


Yang lain pula berkata, “Aku anak perempuannya.”


Dan yang lain berkata pula, “Aku isterinya.”


Lalu seorang anak perempuan maju ke depan, ia berumur antara 8 hingga 10 tahun, maka Al Hajjaj pun berkata, “Siapa engkau?”


Anak perempuan tersebut berkata, “Aku anak perempuannya.”


Kemudian anak perempuan itu berkata, “Semoga Allah memperbaiki Amir (pemimpin).” Lalu ia tunduk dan berkata:


“Wahai Hajjaj, tidakkah engkau saksikan kedudukan anak-anaknya, bibi-bibinya yang semuanya memerlukannya setiap malam? Wahai Al Hajjaj, berapa banyak yang telah engkau bunuh bila engkau membunuhnya? Delapan, sepuluh, dua, dan empat? Wahai Al Hajjaj, engkau boleh berlaku baik terhadap kami dengan memberi nikmat, atau engkau bunuh saja kami bersamanya.”


Maka Al Hajjaj pun menangis, dan beliau berkata:


“Demi Allah, aku tidak membantu untuk menyusahkan kalian dan tidak akan menambahkan kelemahan kepada kalian.”


Kemudian Al Hajjaj pun mengutus surat kepada ‘Abdul Malik (khalifah) tentang apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut dan apa yang dikatakan oleh anak perempuannya. Lalu ‘Abdul Malik pun mengutus surat kepada Al Hajjaj yang memerintahkannya supaya membebaskan lelaki tersebut dan menyambung hubungan baik dengannya, serta berbuat baik kepada anak perempuan tersebut dan mengawalnya setiap waktu.” (Ibn ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, 12/145-146. Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144)


Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Dikatakan bahwa Al Hajjaj pada suatu hari berkhuthbah lalu berkata:


“Wahai manusia, bersabar menahan diri terhadap larangan-larangan Allah adalah lebih mudah berbanding bersabar terhadap azab Allah.”


Lalu seorang lelaki berdiri kepadanya lalu berkata, “Celaka engkau wahai Hajjaj! Betapa buruknya wajah engkau dan betapa sedikitnya rasa malumu. Engkau melakukan apa yang engkau lakukan (dari berbagai jenis keburukan – pent.) lalu sekarang engkau mengatakan perkataan ini? Engkau telah rugi, dan sia-sialah usaha engkau.”


Maka Al Hajjaj mengatakan kepada pengawalnya, “Tangkap dia.”


Setelah dia selesai dari khuthbahnya, dia pun berkata kepada lelaki tersebut, “Apa yang membuat engkau berani terhadapku?”


Lelaki tersebut pun menjawab, “Celaka engkau, wahai Hajjaj, engkau berani terhadap Allah, lalu kenapa aku tidak berani terhadap engkau? Siapakah engkau hingga aku tidak berani terhadapmu, sementara engkau berani terhadap Allah, Rabb sekalian alam?”


Al Hajjaj pun berkata, “Bebaskan dia.”


Lalu ia pun dibebaskan.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/144-145)

--------
Demikian sekelumit tentang Hajaj bin Yusuf, Panglima dan Gubernur di masa kekuasaan Khalifah Abdul malik bin Marwan. Selanjutnya mari kita ikuti sejarah kekhalifahan Bani Umayah berikutnya...
(Bersambung)

Referensi :

http://fimadani.com/al-hajjaj-bin-yusuf-kezhaliman-dan-jasanya-bagi-islam/

Jumat, 09 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Abdul Malik bin Marwan)

SEJARAH BANI UMAYYAH


ABDUL MALIK BIN MARWAN


Latar Belakang

Abdul Malik bin Marwan merupakan putra dari Gubernur Madinah Marwan bin Hakam, lahir pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, tahun 23 H (685 M). Sejak kecil Abdul Malik gemar mencari ilmu, bergaul dengan putra-putri kaum muhajrin dan anshar Madinah. Tidak heran bila sejak kecil Abdul Malik terkenal seorang ahli ilmu shalih dan zuhud.

Tinggal di kota Madinah, dimana para sahabat rasul masih hidup merupakan syurga dan pusat ilmu pengetahuan keislaman. Abdul Malik bahkan sempat berguru kepada beberapa sahabat terkemuka seperti Abdullah bin Umar, Abu Hurairah dan Abu Sa'id al Khudri.

Teman-teman dekatnya merupakan putra keturunan sahabat besar, bahkan seringkali Abdul Malik bercengkrama dengan para sahabatnya itu di sekitar Kaabah, seperti Abdullah bin Zubair, Mush'ab bin Zubair dan Urwah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam, putra bibi rasulullah Shafiyah binti Abdul Muthalib.

Menjadi ahli ilmu yang faqih dan zuhud

Di masa remajanya Abdul Malik sudah menuai pujian dari para tokoh ulama Madinah. Ke-faqihan ilmu agamanya membuat banyak orang yang mendengar dan menukil riwayat darinya, diantaranya Urwah bin Zubair, Amr bin Al Harits dan Az-Zuhri.

Abdullah bin Umar pernah berkata tentang Abdul Malik : "Sesungguhnya Marwan (bin Hakam, gubernur Madinah waktu itu) memiliki seorang anak (Abdul Malik) maka tanyakanlah segala persoalan kalian kepadanya." Ini menunjukan tingkat kepercayaan Abdullah bin Umar terhadap keilmuan Abdul Malik bin Marwan

Abu Zinad pernah juga berkata :"Para pemuka ulama di Madinah (saat itu) adalah Said bin Musayab, Abdul Malik bin Marwan, Urwah bin Zubair dan Qubaisyah bin Dzuaib"

Nafi' berkata pula :"Aku melihat Abdul Malik di Madinah, saat itu tidak pernah aku melihat seorang remaja yang lebih dermawan, lebih faqih dan lebih banyak ibadahnya  serta lebih baik dalam membaca kitabullah daripada Abdul Malik bin Marwan."

Tampaklah bahwa selain keturunan bangsawan, putra gubernur Madinah, beliau juga merupakan tokoh agama yang diakui ilmunya, dan disegani ibadahnya. Tidak salah jika warga Madinah sepakat ketika Abdul Malik diangkat menjadi gubernur di usia 16 tahun, menggantikan bapaknya, Marwan bin Hakam, yang diangkat sebagai sekertaris negara oleh Khalifah Utsman bin Affan. Disaat itulah Abdul Malik belajar tata cara mengelola pemerintahan.

Diangkat menjadi Khalifah

Pada tahun 65 H, bertepatan dengan usianya 39 tahun, ditahun yang sama dengan wafatnya Marwan bin Hakam ayahnya, Abdul Malik bin Marwan pun diangkat menjadi Khalifah di Masjid Damaskus. Pada saat penobatan dia sempat berpidato yang terkenal dalam sejarah :"Aku bukan khalifah yang suka menyerah dan lemah, bukan juga seorang khalifah yang suka berunding, bukan juga seorang khalifah yang berakhlak rendah. Siapa yang nanti berkata begini dengan kepalanya, akan kujawab begini dengan pedangku."

Tugas Khalifah Abdul Malik cukup berat, karena waktu itu kaum muslimin sudah terpecah belah. Damaskus sendiri cuma bisa mengontrol Mesir dan Suriah. Hijaz dibawah kontrol Abdullah bin Zubair, sahabat muda-nya dulu sewaktu di Madinah. Sementara Yaman selatan dibawah komando sisa-sisa Kaum Khawarij yang dulu menolak Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah. Sedangkan Khurasan-Basrah-Kufah dibayang-bayangi oleh kaum Syi'ah yang mencoba mengambil alih kekuasaan.

Apa yang akan dilakukan khalifah untuk menjalankan kekuasaanya?

Strategi membungkam lawan demi menyatukan kaum muslimin

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menghentikan pergerakan Abdullah bin Zubair, sehingga kaum muslimin dapat disatukan. Perlawanan Abdullah bin Zubair penguasa Hijaz belum terselesaikan sejak masa Yazid bin Muawiyah dan ayahnya Marwan bin Hakam, kini menjadi tugas dia untuk dapat menuntaskannya.

Setelah bermusyawarah, Abdul Malik bin Marwan pun mengangkat Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi sebagai pemimpin dalam menumpas gerakan perlawanan Abdullah bin Zubair dan mengembalikan seluruh kekuasaannya untuk tunduk kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan di Damaskus. Titah sudah dikeluarkan, dan harus dituntaskan, dengan berbagai cara...

Sementara itu kedudukan Abdullah bin Zubair kian lama semakin menguat. Abdullah berhasil menguasai Irak, Kufah, Basrah dan Khurasan dari tangan kaum Syi'ah, dan juga menuntaskan permasalahan kaum khawarij di Yaman Selatan. Lalu menempatkan saudaranya Mus'ab bin Zubair sebagai gubernur wilayah Irak.

Ketika sedang mulai menata pemerintahannya, datang kabar tentang serangan pasukan Damaskus ke wilayah Irak. Abdul Malik mengirim pasukan dibawah Hajaj bin Yusuf memang tidak langsung melakukan penyerbuan ke pusat pemerintahan di Hijaz, melainkan memangkas dulu penopang dan sumber dana Abdullah bin Zubair. Itu sebabnya dia memulai dengan berputar menyerang Iran, Bukhara, Khurasan, Basrah dan Kufah.

Setelah berjuang habis-habisan mempertahankan Irak, pasukan Mush'ab bin Zubair tidak mampu menahan serangan tentara Damaskus yang sebagian sudah terlatih sebagai prajurit Romawi. Hajaj akhirnya mampu menguasai Irak, dan Mush'ab bin Zubair pun dihukum mati. Penggantinya diangkat Bashir bin Marwan, saudara Abdul Malik bin Marwan yang masih muda belia. Abdul Malik memberi Bashir pendamping  seorang penasehat ulung : Musa bin Nushair.

Usai menaklukan Irak dan sekitarnya, Abdul Malik menyuruh 3000 pasukannya untuk menuju Thaif. Hal yang tak pernah disangka Abdullah bin Zubair. Karena pasukan yang dipersiapkan Abdullah kebanyakan dikirim ke utara Madinah, mengantisipasi serangan dari Damaskus.

Begitu Hajaj tiba di Thaif, dengan mudah dapat dilumpuhkan, sehingga Abdullah bin Zubair segera menarik pasukannya di utara Madinah dikerahkan seluruhnya ke Thaif. Perang pun berkecamuk hebat. Kerugian menimpa kedua belah pihak. Pasukan Abdullah bin Zubair terdesak. Akhirnya Hajaj berhasil mengejar sisa-sisa pasukan Abdullah bin Zubair yang tersisa yang mundur ke kota Mekkah.

Hajaj bin Yusuf meminta tambahan bantuan ke Damaskus. Abdul Malik mengirim 5000 personil ditambah trebuchet (katepel romawi) untuk membantu Hajaj menuntaskan perang. Hajaj betul-betul tidak peduli lagi dengan kesucian Mekkah. Dia langsung mengepung kota Mekkah dan melepaskan panah berapi. Manjaniq (trebuchet) romawi dia kerahkan untuk membombardir seluruh Mekkah, yang mengakibatkan sebagian dinding bangunan Kaabah roboh.

Pasukan berkuda pun masuk kota mencari keberadaan Abdullah bin Zubair. Semua yang mendukung Abdullah bin Zubair ditigas tanpa ampun. Hajaj menemukan Abdullah bin Zubair di pelataran Kaabah. Penguasa Hijaz yang gagah perkasa - cucu Abu Bakar itu - masih gigih melawan sampai detik terakhir, sebelum pedang Hajaj menusuk dan membabat lehernya...!

Kematian Abdullah bin Zubair disaksikan oleh sang ibu yang sudah renta, Asma binti Abu Bakar. "Dialah ksatria pemberani dan perkasa, Ibu...sayang dia pemberontak!" kata Hajaj di depan Asma. Abdullah bin Zubair, bayi perrtama sejak rasulullah hijrah ke madinah, cucu Abu Bakar, penguasa Hijaz hampir 9 tahun lamanya itu, gugur pada tahun 73 H. Hajaj memenggal leher Abdullah bin Zubair, dan ditusuk tombak dipancang di dekat Kaabah sebulan lamanya, sebagai peringatan buat mereka yang berani melawan Khalifah di Damaskus. Selesailah sudah perlawanan Hijaz.

Pengembangan Wilayah Kaum Muslimin

Setelah berhasil menghentikan perlawanan Abdullah bin Zubair, tidak ada lagi yang mengganggu kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Dia kini sepenuhnya menguasai wilayah islam mulai dari Bukhara, Khurasan, Iran, Irak, Basrah, Kufah, Hijaz, Yaman, Suriah, Mesir hingga sebagian Afrika Utara. Stabilisasi politik pun dilakukan. Sehingga umat islam kembali kompak dibawah satu naungan pemimpin.

Selanjutnya Abdul Malik memfokuskan pengembangan wilayah kaum muslimin ke luar. Dimulai dengan mengirim pasukan ke bagian utara. Pada tahun 77 H Abdul Malik bin Marwan menyerang Romawi, dipimpin oleh Abdullah bin Abdul Malik bin Marwan, dan berhasil merebut Asia kecil dan Armenia.

Bersamaan dengan itu, khalifah juga mengirim 40.000 pasukan berkuda ke wilayah Afrika Utara dipimpin oleh Hasan bin Nu'man. Dengan bantuan Mesir dan Libya, pasukan Hasan bin Nu'man dapat mengalahkan romawi dan menduduki benteng Kartago. Tidak cukup sampai sana, serangan kembali dilanjutkan menghalau suku barbar pimpinan Ratu Khina di Aljazair. Suku buas dan barbar itu dapat dikalahkan dan Ratu Khina di hukum mati.

Pada tahun 81 H, pasukan laut muslimin sudah disiapkan di pesisir pantai Tunisia. Rangkaian kemenangan demi kemenangan diperoleh. Namun tidak lama sampai berita dari Damaskus tentang wafatnya Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Prestasi Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik bin Marwan banyak melakukan terobosan prestasi dalam kemajuan dunia Islam. Diantaranya adalah membangun Mahkamah Tinggi untuk mengadili para pejabat yang menyeleweng atau bertindak semena-mena terhadap rakyat.

Selain itu Abdul Malik juga berprestasi menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara, berlaku di seluruh wilayah khilafah islam, menggantikan bahasa romawi dan persia. Para pegawai pemerintahan wajib menguasai bahasa Arab untuk bisa bekerja di pemerintahan, menyebabkan mau tidak mau seluruh penduduk wajib bisa berbahasa arab. Konsep bahasa pun dibuat, dan banyak diajarkan di seluruh madrasah. Keilmuan pun berkembang subur dan mendapat dukungan dari pemerintah.

Prestasi lainnya Abdul Malik juga membangun pabrik gudang senjata dan kapal perang yang pangkalannya dipusatkan di Tunisia. Beliau juga yang membangun Masjid Umar atau Qubatus Sakra di Yerussalem. Dan di masa Abdul Malik dilakukan perbaikan dan perluasan area Masjidil Haram. Selain itu, Abdul Malik juga membuat mata uang resmi negara bernama dinar dan dirham, dari logam emas dan perak murni.

Wafatnya Abdul Malik bin Marwan

Abdul Malik dalam sejarah dikenal juga dengan nama Abul Muluk, karena keempat putranya yakni Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam, semuanya menjadi raja-raja Bani Umayah.

Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istana…”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ “Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini,
إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ
Jika engkau menyidangku wahai Rabb-ku, maka persidangan-Mu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi
أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ
Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha Memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”
(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)
Begitulah akhir seorang pemuda sholih, ahli ilmu, yang naik menjadi khalifah, dan sukses besar dalam kepemimpinannya. Namun sunatullah, setiap yang berjiwa pasti akan sampai ke titik akhirnya. Abdul Malik meninggal pada bulan Syawwal tahun 86 H pada usia 60 tahun.

Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi

Dalam mengembangkan pemerintahannya, Abdul Malik bin Marwan dibantu oleh panglimanya yang telah banyak berjasa mengatasi kestabilan pemerintahan. Dialah Hajaj bin Yusuf AtsTsaqafi. Dunia sejarah tak bisa mengabaikan perannya dalam perkembangan pemerintahan. ide dan gagasannya brilian. Hajaj adalah seorang penghafal quran dan pecinta Alquran. Kecintaannya terhadap ilmu melahirkan kefasihannya berbahasa. Bahkan orang menilai fasihnya Hajaj disejajarkan dengan ulama tabi'in terkenal Hasan AlBasri.

Namun perilakunya seringkali kontradiktif.

Dia terkenal dengan dan mudah menumpahkan darah. Bahkan terhadap ulama sekali pun, yang bertentangan dengannya.

Imam Adz Dzahabi pernah menyebutkan tentang Al Hajjaj bin Yusuf, “Al Hajjaj, Allah memusnahkannya di bulan Ramadhan tahun 95 Hijrah dalam keadaan tua, dan beliau adalah seorang yang zhalim, bengis, naashibi (pembenci Ahlul Bait), keji, suka menumpahkan darah, memiliki keberanian, kelancangan, tipu daya, dan kelicikan, kefasihan, ahli bahasa, dan kecintaan terhadap Al Quran. Aku (Imam Adz Dzahabi) telah menulis tentang sejarah hidupnya yang buruk dalam kitabku At Tarikh Al Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibnu Az Zubair dan Ka’bah, serta perbuatannya melempar Ka’bah dengan manjaniq, penghinaannya terhadap penduduk Al Haramain (dua tanah haram), penguasaannya terhadap ‘Iraq dan wilayah timur, semuanya selama 20 tahun. Juga peperangannya dengan Ibnul Asy’ats, sikapnya melambat-lambat (melalaikan) shalat sehinggalah Allah mematikannya, maka kami mencelanya, dan kami tidak mencintainya, sebaliknya kami membencinya karena Allah.” (Siyar A’lam An Nubala’, 4: 343)

Ketika selesai dengan urusan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik meminta Hajaj mengurus stabilitas politik di wilayah irak. Dan ketika gubernur Bisyir bin Marwan saudara khalifah wafat, Abdul Malik mengangkat Hajaj bin Yusuf menjadi gubernur wilayah Irak dan sekitarnya.

Setelah menjadi gubernur perilaku kejam Hajaj semakin menjadi dan ini sesuai dengan iklim irak yang kurang kondusif. Dengan sikap Hajaj yang keras, maka politik pun stabil, semua merasa takut.

Hajaj adalah tokoh kontroversial. Dengan segala kekurangannya dia pun banyak menyumbangkan pemikiran dan ide-ide demi perkembangan islam, seperti pembuatan titik dan harakat dalam Alquran, termasuk ide pengembangan wilayah islam ke wilayah India, yang kelak akan melahirkan dinasti Islam disana yang disebut Dinasti Mughal.

(bersambung)














Rabu, 07 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Marwan bin Hakam)

SEJARAH BANI UMAYYAH

MARWAN BIN HAKAM



Latar Belakang

Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, penggantinya adalah putranya bernama Muawiyah bin Yazid, atau terkenal dengan nama Muawiyah II. Namun Muawiyah bin Yazid bukan seorang yang gemar politik dan kekuasaan. Sehingga banyak pihak menilainya kurang cakap sebagai khalifah pengganti ayahnya. Alih-alih menyusun strategi perjuangan ayahnya, Muawiyah II malah berpaling menjauhkan diri dari dunia politik. Hal itu tentu saja menimbulkan kecemasan di kalangan penguasa saat itu.

Demi kestabilan politik kekuasaan, maka diangkatlah Marwan bin Hakam, salah seorang penasehat cerdik pandai dan tokoh terkemuka di istana untuk menjadi penerus khalifah yang ditinggalkan oleh Muawiyah II.

Marwan bin Hakam bukan merupakan keturunan dari Abu Sofyan, namun dia masih keturunan dari Bani Umayyah. karena Hakam ayahnya masih sepupu dari Utsman bin Affan. Marwan memerintah hanya setahun yaitu tahun 63 - 64 H (684 - 685 M).

Pada masa Utsman, Marwan bin Hakam diangkat sebagai gubernur madinah karena dianggap cakap dan piawai dalam soal tata kelola pemerintahan. Putranya sendiri Abdul Malik bin Marwan termasuk salaseorang pemuda yang taat dan zuhud serta salasatu tokoh rujukan ilmu, karena banyak berguru kepada para sahabat terkemuka yang masih banyak terdapat di Madinah. Tak heran bila di usia yang masih muda Abdul Malik mampu menggantikan ayahnya sebagai gubernur Madinah, ketika ayahnya diminta menjadi sekertaris negara oleh Utsman bin Affan.

Prestasi Marwan bin Hakam

Ketika terjadi pergolakan fitnah sehingga membuat terbunuhnya Utsman, Marwan termasuk salasatu pihak tertuduh ikut mendompleng dan memanfaatkan pemerintahan Utsman, sehingga khalifah terbunuh. Pada masa kisruh, khalifah Ali bin Abu Thalib, memberhentikan Marwan dari jabatannya.

Baru pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan berkuasa, Marwan kembali diangkat menjadi penasehat khalifah. Hingga wafatnya Muawiyah dan digantikan anaknya Yazid bin Muawiyah, Marwan masih memiliki pengaruh yang besar dikalangan istana Damaskus. Hampir seluruh kebijakan Yazid adalah kebijakannya. Marwan setia mengawal pemerintahan Bani Umayah sampai Yazid wafat.

Sekarang ketika anak Yazid, yakni Muawiyah bin Yazid tidak mampu memegang kekuasaan, istana tak memeiliki pengganti dan meminta Marwan untuk menyelamatkan kursi khalifah, tampil ke panggung politik. Meski dalam kenaikannya dan pemerintahannya itu terjadi banyak intrik internal, namun Marwan berhasil menyelesaikannya.

Selama pemerintahannya, banyak terjadi perang saudara. Diantaranya meneruskan penumpasan perlawanan Abdullah bin Zubair yang sudah menguasai Hijaz, Irak, Mesir dan sebagian Suriah.

Perlawanan Abdullah belum dapat dipadamkan sepenuhnya namun Irak dan Mesir dapat kembali direbut dari tangan Abdullah bin Zubair. Sampai wafatnya dia belum berhasil menaklukan Abdullah bin Zubair yang kian lama posisinya semakin kuat dan dukungan terhadapnya pun semakin meluas.

Gejolak Politik Internal

Selain politik eksternal, Marwan juga melakukan politik internal, yakni meredam perlawanan sesama Bani Umayah yang sama-sama berambisi ingin meraih kekuasaan Bani Umayah, dan merebut dari tangannya. Politik tersebut dimenangkan oleh Marwan. Terbukti ketika dia menunjuk Khalifah penggantinya yaitu anaknya sendiri bernama Abdul Malik bin Marwan. Dan kelak gerakan Abdul Malik ini dapat mengukuhkan kedudukannya dan menumpas seluruh penghalang kekuasaanya sebagai khalif seluruh kaum muslimin, walau harus menempuh dengan segala cara...

(bersambung)


Sejarah Bani Umayah (Yazid bin Muawiyah)

SEJARAH BANI UMAYYAH


YAZID BIN MUAWIYAH



Kelahirannya

Yazid bin Muawiyah lahir di Damaskus, di dalam istana yang megah mewah, disaat ayahnya Muawiyah menjabat sebagai gubernur Syam (41-60 H). Ibunya bernama Maisun seorang arab badui yang diangkat keistana karena dinikahi Muawiyah. Sejak kecil dididik dalam kemewahan istana, sehingga jiwanya kurang kuat dan sensistif terhadap kritik. Karakternya selalu ingin dilayani dan senang berpesta pora. Namun begitu Yazid adalah seorang muslim, putra dari seorang muslim yakni Muawiyah bin Abu Sofyan, adik ipar Rasulullah SAW.

Diangkat sebagai Khalifah

Yazid bin Muawiyah naik tahta sebagai khalifah setelah ayahnya, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, meninggal dunia. Proses perpindahan khalifah dari Muawiyah ke tangan Yazid menuai banyak protes dikalangan kaum muslimin, karena perjanjian sebelumnya dari Hasan bin Ali bahwa Muawiyah akan kembali menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada kaum muslimin sepeninggalnya kelak,  untuk dilakukan pemilihan atau syuro kembali.

Rupanya Yazid tetap kukuh menegakkan diri sebagai khalifah. Ditambah dukungan dari wilayah suriah, palestina, mesir dan afrika utara, mengangkat dirinya menjadi pengganti khalifah. Namun wilayah timur, Hijaz (Mekkah-Madinah), Irak, Iran hampir sebagian besar menolaknya dan meminta Yazid agar mengembalikan kekuasaan kepada tangan kaum muslimin.

Konfrontasi Pergerakan Politik

Ketika masing-masing pihak merasa benar, dan keduanya saling berlomba mencari dukungan, suasana pun kian memanas.

Pihak-pihak yang kontra dengan kepemimpinan Yazid sebagian besar terdapat di Hijaz, karena disana masih banyak anak cucu keturunan kaum Anshar dan Muhajirin. Diantaranya ada 4 orang yang terkemuka, yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Umar bin Khattab, Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Zubair.

Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal sebelum Yazid naik menjadi khalifah. Sementara Abdullah bin Umar adalah seorang ahli hadits dan mujtahid pusat rujukan keilmuan di Madinah, disamping Abdullah bin Abbas di Mekkah dan Abdullah bin Mas'ud di Irak. Abdullah bin Umar bersikap mengikuti umat, bila umat menerima maka dia akan menerima Yazid sebagai khalifah. Sementara sikap Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair sama-sama menentang keras kepemimpinan Yazid dan meminta untuk dikembalikan kepada kaum muslimin sesuai perjanjian awal.

Gerakan paling masif adalah para pendukung Husain bin Ali bin Abu Thalib, karena beliau masih ahlul bait Rasulullah SAW, dan semua merasa tidak ada yang paling pantas memimpin umat Islam selain cucu dari sang nabi sendiri. Maka dimulailah gerakan dukungan itu oleh para penduduk hijaz dan Irak, dimana disana banyak para pendukung kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.

Gerakan dimulai ketika para penduduk Kufah meminta Husain bin Ali agar datang ke Kufah dan mereka siap untuk melakukan bai'at. Husain pun mengutus saudara sepupunya nya Muslim bin Uqail bin Abu Thalib untuk mewakilinya berangkat ke Kufah. Dan dan ternyata Muslim bin Uqail pun berhasil membai'at hampir 30.000 orang penduduk Kufah untuk mengangkat Husain bin Ali menjadi Khalifah.

Strategi Yazid menghentikan pergerakan Husain

Mendengar peristiwa baiat penduduk Kufah kepada Husain, Yazid pun murka. Dia memecat gubernur Kufah (Irak) Nu'man bin Basyir, dan segera menggabungkan wilayah tersebut di bawah kekuasaan Abdullah bin Ziyad gubernur Basrah (Iran) yang berhasil mengambil bai'at penduduknya mendukung Khalifah Yazid bin Muawiyah. Lalu menyuruh Abdullah bin Ziyad untuk segera menangani masalah "pemberontakan" penduduk Kufah.

Sementara itu Husain bin Ali, setelah mendengar kesuksesan saudaranya membaiat penduduk Kufah, ia pun bergerak membawa satu rombongan besar berikut anak istrinya menuju Kufah. Kepergian Husain ini sampai hingga ke Damaskus, Yazid pun memerintahkan agar Abdullah bin Ziyad menghadang Husain agar tidak sampai ke Kufah.

Abdullah bin Ziyad pun menjalankan titah tersebut. Pertama dia bergerak mengepung Kufah dan akhirnya dapat dikuasainya. Muslim bin Uqail bin Abu Thalib ditangkap dan dihukum mati. Seluruh penduduk Kufah dipaksa untuk melakukan bai'at kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah, yang tidak taat akan dieksekusi dan dianggap pemberontak.

Selanjutnya Abdullah bin Ziyad menyusun persiapan guna menghadang kedatangan Husain. Sekitar 2000 pasukan berkuda disiapkan, dan mengirim seorang panglima perang bernama Alhur bin Yazid at Tamimi untuk mengejar keberadaan rombongan Husain bin Ali.

Sementara itu rombongan Husain juga sudah mendengar apa yang terjadi dengan penduduk Kufah, dan akhirnya terjadi perbedaan pendapat. Sebagian meminta untuk pulang kembali ke Mekkah, namun sebagian lagi tetap meneruskan ke Kufah. Husain pun mengijinkan mereka yang hendak kembali ke Mekkah untuk pergi meninggalkan rombongan. Tinggallah sebagian kecil yang masih bertahan dan mengantar Husain sampai tiba di Kufah. Husain sendiri merasa yakin bahwa penduduk Kufah masih setia kepadanya, sehingga tekadnya pun bulat untuk bertemu langsung.

Ditengah perjalanan sekitar padang gersang bernama Karbala, rombongan kecil Husain bertemu dengan pasukan jendral Alhur bin Yazid at Tamimi. Sang jendral heran dengan rombongan Husain yang kecil, sehingga bertindak bertahan. Namun datang instruksi dari Abdullah bin Ziyad agar pasukannya langsung bertindak menyelesaikan urusan rombongan kecil tersebut. Akhirnya pasukan berkuda itu pun tanpa ampun menghajar habis rombongan kecil yang terdiri dari sebagian kecil laki-laki tak terlatih militer, wanita dan anak-anak, termasuk di dalamnya terdapat Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, dan adik perempuan Husain yaitu Zainab bin Ali bin Abu Thalib.

Pertempuran tak seimbang itu pun berlangsung singkat. Berakhir ketika tubuh Husain terjatuh bersimbah darah, disusul dengan melesatnya sebuah tombak menghajar mulutnya. Sebelum tubuhnya terjerembab ke tanah, sebilah pedang menebas lehernya.....!

Berakhirlah perjuangan Husain. Tubuh tanpa kepala itu pun ditinggalkan begitu saja di Padang Karbala, sementara kepalanya bersama seluruh tawanan wanita dan anak-anak dibawa pasukan kepada Abdullah bin Ziyad. Kemudian oleh Abdullah semuanya dikirim kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah di Damaskus.

Sikap Yazid setelah terbunuhnya Husain

Tatkala rombongan tiba di Istana Damaskus, Yazid pun tertegun menerima kepala Husain. Air matanya berlinang atas kejadian yang menimpa cucu rasulullah tersebut. Bagaimana pun dia tidak meminta Husain dibunuh, namun cukup dihentikan saja pergerakan politiknya. Agar tidak mengganggu dan merongrong kekuasaannya.

Rasa kemanusiaan dan keislaman Yazid rupanya masih tersisa. Terbukti bahwa dia masih bersikap baik terhadap seluruh tawanan Husain bin Ali, dan dengan santun mengantarkan mereka semuanya untuk kembali ke Madinah lengkap dengan segenap perbekalannya sebagai ungkapan permintaan maaf bagi ahlul bait dan kaum muslimin.

Reaksi kaum muslimin atas kematian Husain

Begitu mendengar terbunuhnya Husain bin Ali di Padang Karbala, Kufah oleh pasukan Abdullah bin Ziyad, seluruh emosi kaum muslimin tersulut amarah. Isu bahwa cucu rasulullah SAW telah dibunuh dan dibantai dengan sangat kejam segera tersebar. Kontan antipati terhadap Yazid pun semakin meluas, dan dianggap musuh keluarga rasulullah artinya memusuhi Islam itu sendiri.

Dukungan anti Khalifah pun meluas di daerah Hijaz, Yaman dan Arabia Selatan. Mereka kemudian mencabut baiat atas Yazid, dan memproklamirkan Abdullah bin Zubair sebagai Khalifah kaum muslimin. Abdullah bin Zubair bukan orang biasa. Ayahnya yaitu Zubair bin Awwam masih termasuk keluarga rasulullah dari Bani Hasyim dan termasuk 10 orang yang dijamin masuk syurga, sedang ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, putri sahabat terdekat rasulullah, putri mertua rasulullah, kakaknya Ummul Mukminin Aisyah, dan putri dari Khalifah Khulafaurrasyidin pertama setelah rasulullah SAW wafat.

Abdullah bin Zubair adalah seorang yang cerdas tangkas dan berambisi mulia, yaitu menegakkan keadilan kembali ke engah kaum muslimin seperti yang dia saksikan di masa rasulullah SAW. Abdullah bin Zubair seorang pembelajar dari  generasi khulafaurrasyidin sebelumnya, karena beliau menyaksikan langsung sepak terjang ayahnya dalam menegakkan islam di masa kakeknya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Semangat inilah yang kemudian memberinya kekuatan menggebu untuk membentuk kembali kekhalifahan muslimin kembali sesuai syariat.

Ibahat, taktik keji membungkam perlawanan Hijaz

Namun, ketika mendengar pembangkangan Abdullah bin Zubair di Hijaz, Yazid bin Muawiyah pun berang. Dia kemudian mengirimkan pasukan besar di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah untuk menyerang Hijaz. Ultimatumnya amat terkenal dan diabadikan dalam sejarah :

"Pergilah ke Madinah, jika mereka melakukan perlawanan, perangi!! Jika engkau menang, izinkan tentaramu berbuat sekehendak hati selama tiga hari. Setelah itu pergilah ke Mekkah, dan perangi Abdullah bin Zubair....!"

Dalam tradisi romawi (sebagian besar tentara dari Damaskus merupakan eks militer tentara Romawi) jika memenangkan peperangan maka diperbolehkan melakukan ibahat, yaitu berbuat sesuka hati sebagai tanda kemenangan dan penguasaan terhadap wilayah, harta dan orangnya...

Dan begitulah yang menimpa penduduk Madinah, kota rasulullah, tempat tinggal kaum Muhajirin dan Anshar, kota perjuangan pertahanan Islam, yang berpuluh bahkan beratus kali diguncang serangan demi serangan...

Dahulu dari serangan kaum kafir Quraisy Mekkah, kemudian di kepung oleh seluruh kabilah di jazirah Arab, lalu diserang oleh kaum Yahudi, dikhianati oleh kaum munafik Madinah sendiri, bahkan para kabilah yang murtad dan senantiasa menyimpan dendam kesumat dan terakhir menjadi incaran negara adidaya Romawi dan Persia, yang akhirnya mereka dapat ditumbangkan di masa khalifah Umar bin Khattab..

Dan sekarang, khalifahnya sendiri yang justru memerintahkan penyerbuan dan penodaan atas kesucian kota nabi. Serbuan pasukan Muslim bin Uqbah atas kota Madinah tak tertahankan. Lebih beringas daripada pasukan kafir Quraisy, lebih licik dari kaum Yahudi, dan lebih bejat daripada kaum Munafik yang seringkali berkhianat. Kali ini mereka terang-terangan menunjukan kecongkakan dan penyerangan habis seolah menumpahkan dendam kesumat atas kota Madinah. Dan walaupun Madinah tidak melakukan perlawanan yang berarti, namun tetap saja mereka bersuka ria melakukan ibahat. Jangan bayangkan apa yang terjadi selama tiga hari. Yang pasti seluruh kebanggaan, kesucian dan kehormatan Madinah semuanya direnggut. Perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi dimana-mana. Mereka tak ubahnya setan gentayangan yang siap merenggut setiap nyawa di tiap lorong kota Madinah...

Akibat peristiwa itu banyak berguguran para pemuka Madinah seperti Zubair bin Abdurrahman bin Auf, Fudhail bin Abbas bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Nufail bin Harits bin Abdul Muthalib. Peristiwa mengerikan itu terjadi pada tanggal 27 Dzulhijjah 63 H.

Setelah selesai melakukan ibahat, pasukan Muslim bin Uqbah melanjutkan penyerangan ke kota Mekkah, dimana Abdullah bin Zubair berada.

Pengepungan Kota Mekkah

Pasukan bergerak menuju Mekkah dengan maksud menghancurkan Abdullah bin Zubair dan seisinya. Namun ditengah perjalanan tiba-tiba Muslim bin Uqbah menderita sakit keras, dan akhirnya meninggal di jalan. Sebelum meninggalnya, dia menunjuk Husain bin Numair sebagai penggantinya untuk melanjutkan menyerang kota Mekkah. Muslim sendiri akhirnya dikuburkan di Abwa.

Husain bin Numair benar-benar menjalankan pesan Muslim bin Uqbah. Dia memimpin penyerangan dengan kejam dan membabi buta. Pasukannya tiba di Mekkah tanggal 24 Muharram 64 H (menurut al waqidi), dan langsung mengunci Abdullah bin Zubair di dalam kota Mekkah. Mereka menghujani seisi kota Mekkah dengan panah berapi dan catapult katepel berapi teknologi pasukan romawi jika hendak melakukan penyerbuan kota. Akibatnya tidak hanya rumah-rumah penduduk, bahkan Kaabah pun ikut terbakar, dan sebagian dindingnya hancur. Peristiwa terbakarnya Kaabah terjadi pada tanggal 03 Rabiul Awwal 64 H.

Sementara itu Abdullah bin Zubair dan pasukan perlawanan Mekkah berjuang gigih selama hampir 60 hari di bawah gempuran pasukan Damaskus. Gelombang demi gelombang bala bantuan terus didatangkan oleh khalifah di damaskus agar pertempuran bisa segera diselesaikan. Perang berkecamuk sengit. Hingga tiba-tiba datang kabar yang memberitakan tentang kematian Khalifah Yazid bin Muawiah di Damaskus. Pertempuran pun dihentikan. Dan pasukan pengepung pun segera ditarik mundur kembali ke Damaskus.

Kematian Yazid bin Muawiyah

Kabar tentang kematian sang khalifah di tengah peperangan berkecamuk tentu menimbulkan tanda tanya besar. Beberapa riwayat menyampaikan bahwa Yazid bin Muawiyah meninggal pada usia 38 tahun, ketika itu sedang berkuda terjatuh, dan lehernya patah. Wallahu a'lam. Namun yang jelas dengan meninggalnya Yazid bin Muawiyah,  memaksa Husain bin Numair menghentikan peperangan yang telah dimulainya itu dan menarik seluruh pasukan kembali pulang ke Damaskus.

Tinggallah puing-puing kota Mekkah yang hancur ditinggalkan bekas arena perang saudara. Tapi meski begitu, Mekkah belum sepenuhnya menyerah....

(bersambung)



Pustaka :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/21/ljzikd-daulah-umayyah-yazid-bin-muawiyah-680683-m-tak-lepas-dari-karbala

https://ganaislamika.com/dinasti-umayyah-10-pemberontakan-abdullah-bin-zubair-dan-wafatnya-yazid-bin-muawiyah/

https://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/15/majmu-fatawa-sikap-ahlus-sunnah-terhadap-yazid-bin-muawiyah/

wikipedia