Kamis, 12 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Ali bin Abu Thalib)


ALI BIN ABU THALIB


Profil Sang Jendral Perang Rasul

Beliau adalah salasatu anak dari paman rasulullah SAW yaitu Abu Thalib bin Abdul Muthallib, saudagar kaya dan terpandang di kota Mekkah. Dengan suku dan kabilah yang sama dengan rasulullah, yakni suku Quraisy dari kabilah Bani Hasyim. Sebagai salasatu suku bangsawan dan terkuat yang keturunan demi keturunannya menjadi penjaga Kaabah karena kharisma, kecerdasan dan kekuatan kabilah tersebut menjadikan mereka terpercaya menjadi pimpinan para kabilah yang lain.

Bani Hasyim, adalah kemuliaan bangsa arab, sebelum kedatangan rasulullah apalagi sesudahnya. Putra putri Bani Hasyim begitu dihormati dan disegani oleh kabilah yang lain. Begitulah hingga terbit fajar hidayah Islam. Risalah tidakmemandang kemuliaan seseorang melainkan dari agama dan ketakwaannya.

Ali bin Abu Thalib adalah gambaran pemuda Islam sejati, karena dia dari kecil hidup dan tinggal bersama rasulullah. Tidak ada orang yang paling ia kagumi dalam hidupnya selain rasulullah, bahkan tidak juga bapaknya sendiri. Ketika rasulullah mengajaknya memeluk islam, Ali pun langsung bersyahadat. Ketika rasulullah meminta Ali berkorban menggantikan beliau di tempat tidurnya pada waktu hijrah, tanpa pikir panjang Ali pun menyanggupi. Padahal taruhannya adalahan nyawa pengganti rasul.

Tatkala turun perintah hijrah, Ali adalah orang yang terakhir menyusul rasulullah ke Madinah, lengkap beserta perlengkapan perangnya. Ali merupakan benteng utama dalam Islam. Ali lah yang pertama kali menghadang kaum kafirin pada perang Badar, bersama paman beliau yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, menggempur musuh-musuh Islam yang hendak mengganggu nabi SAW.

Setiap diadakan perang tanding Ali selalu berada di pihak yang unggul. Nama Ali bin Abu Thalib sebagai jago Islam amat diperhitungkan oleh musuh-musuhnya. Karena siapa saja yang berhadapan dengan Ali pasti menderita kekalahan. Ali memiliki kekuatan yang luar biasa dan lebih dari yang lain. Belum ada satu senjata yang mampu menyentuh kulit Ali dalam setiap pertempuran. Namanya adalah jaminan gentar ciut nyali musuh-musuh islam. Peperangan Khaibar mencuatkan nama Ali ketika rasulullah menyerahkan pimpinan pasukan Muslimin.

Selain sepupu dan jendral perang muslimin, Ali bin Abu Thalib juga adalah juga menantu rasul, karena dia menikah dengan putri bungsu rasulullah yaitu Fatimah binti Muhammad SAW. Dari pernikahan itu lahirlah Hasan, Husain dan Zainab. Kelak cucu-cucu rasulullah itulah yang akan meneruskan perjuangan kaum muslimin hingga ke mancanegara.

Naik sebagai Khalifah

Tatkala rasulullah wafat, Ali bin Abu Thalib sibuk mengurus prosesi pemakaman rasul, sehingga beliau termauk orang yang terakhir berbaiat kepada Abu Bakar sebagai khalifah. Enam bulan sepeninggal rasulullah, istri Ali bin Abu Thalib dan putri rasul pun wafat. Ali menikah lagi dengan beberapa wanita yaitu Ummu Banin binti Haram, Laila binti Mas'ud, Asma binti Umais, Haulah binti Ja'far, Ummu Said binti Urwah, dan lainnya.

Pada masa khalifah Abu Bakar, Ali turut membantu memberikan usul dan masukan untuk kemajuan daulah Islam. Begitu pun pada masa Umar. Di masa Utsman terjadi beberapa perbedaan. Dan perbedaan tersebut kian meruncing di masa-masa akhir pemerintahan Utsman bin Affan.

Ketika Khalifah Utsman bin Affan terbunuh, terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Sebagian menuntut agar pembunuh Utsman di usut dan diadili. Sementara sebagian lain minta agar segera dipilih pemimpin kaum muslimin pengganti Utsman agar umat tidak kehilangan pemimpin. Suasana memanas. Ali memilih kelompok kedua, yaitu segera mencari pengganti Utsman bin Affan, sebelum terjadi perpecahan.

Para sahabat besar yang mendampingi rasulullah banyak yang sudah wafat. Sebagian usianya sudah sepuh. Ketika diadakan syura pemilihan khalifah, maka sepakat untuk mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah amirul mukminin pengganti khalifah Utsman bin Affan yang tewas terbunuh.

Perpecahan Umat Islam

Setelah diangkat sebagai khalifah Ali bin Abu Thalib kemudian melakukan pembersihan kepada beberapa unsur yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politik dan pemerintahan. Sayangnya suara-suara sumbang terkait sikap Ali makin banyak bermunculan. Pertama, dari arah Syam, gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan, yang masih merupakan satu kabilah dengan Utsman bin Affan merasa bahwa Ali tidak begitu peduli dengan kasus yang menimpa Utsman, dan meminta kasus tersebut diusut.

Namun ketika Ali bersikap mengabaikan, Muawiyah pun sontak menyatakan bahwa Syam memisahkan diri dari kekhalifahan Ali yang memusatkan pemerintahannya di Kufah.

Tidak hanya Muawiyah di Syam yang memungkiri Ali, pernyataan antipati pun muncul dari keluarga dekat nabi sendiri, yaitu Ummul Mukminin Aisyah ra. Aisyah sepakat dengan Muawiyah untuk mengusut kasus Utsman demi memberi pelajaran kepada kaum munafik. Sikap berani Aisyah ini di dukung oleh dua sahabat besar yang masih tersisa, yaitu Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Sementara Ali tetap tidak setuju, dan menganggap bahwa Muawiyah dan Aisyah telah membangkang terhadap pemerintahan yang sah. Suasana pun kian memanas.

Perang Jamal (Perang Unta)

Asal muasal perang terjadi karena Aisyah merasa menemukan titik terang tentang pembunuh Utsman dan pergerakan kaum munafik. Para pembunuh itu berasal dari Basrah. Dan Aisyah beserta Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah sepakat untuk mengusut dan menanyakan kepada gubernur Basrah yang diangkat Ali, bernama Utsman bin Hunaif. Namun Utsman merasa keberatan dan melarang mereka memasuki Basrah sebelum Ali datang.

Ketika menunggu Ali, terjadi kerusuhan yang disebabkan perbuatan kaum munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Saba gerilya membunuhi para prajurit pengawal Aisyah, dan juga prajurit Utsman bin Hunaif di Basrah. Fitnah pun berkobar. Aisyah menganggap Hunaif dan Ali telah bersekongkol, maka dia pun melancarkan serangan ke Basrah guna menghukum Utsman bin Hunaif. Ali juga berpikir Aisyah telah memberontak. Maka terjadilah peperangan. Karena Aisyah memimpin peperangan tersebut dari atas unta, maka dinamakan perang tersebut Perang Jamal atau Perang Unta.

Perang akibat fitnah ini berkecamuk dahsyat. Puluhan ribu orang menjadi korban. Utsman bin Hunaif sendiri tewas. Termasuk yang gugur juga sahabat besar pembela nabi yaitu Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Peperangan akhirnya dimenangkan  kubu Ali bin Abu Thalib. Aisyah pun tertawan. Namun Ali tidak mengganggunya dan segera mengembalikan Aisyah ke Madinah. Dan peperangan pun berakhir.

Perang Shiffin

Setelah selesai meredakan fitnah di Basrah, Ali bin Abu Thalib segera mengarahkan pandangannya ke Syam. Beliau merasa hawa pemberontakan sedang berkobar disana. Maka Ali segera memberangkatkan 90.000 pasukannya dari Kufah menuju Syam untuk menghentikan propaganda Muawiyah bin Abu Sufyan, yang dianggapnya telah memecah belah umat islam.

Tiba di tepi sungai Eufrat, sudah menunggu 80.000 pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan. Bersiap siaga dengan berbagai macam senjatanya menyambut kedatangan pasukan Ali bin Abu Thalib. Perang pun tak terelakkan. Campur tangan yahudi dan kaum munafik amat kental. Walau pun perang sudah berusaha dicegah, karena mereka memerangi sesama kaum muslimin. Banyak korban 50.000 orang berjatuhan sia-sia. Diantara mereka ada sahabat nabi bernama Amar bin Yasir. Amar adalah salasatu yang pertama masuk islam di Mekkah ketika ayahnya yasir dan ibunya sumayah di siksa oleh majikan mereka di Mekkah (baca : Sejarah nabi Muhammad SAW).

Muawiyah sebetulnya tidak memberontak kekhalifahan Ali, namun sekedar ingin menuntuk qishas pembunuh Utsman. Namun Ali berbeda pandangan. Baginya persatuan umat lebih didahulukan daripada mengurus hukum tuntutan. Perang antara Ali dan Muawiyah di lembah Shiffin dekat sungat Eufrat itu dinamakan Perang Shiffin.

Peperangan ganas itu terhenti ketika dari pasukan Muawiyah ada yang mengangkat Mushaf AlQuran tinggi-tinggi diujung tombak sebagai tanda persatuan muslimin. Akhirnya gejolak pasukan Ali bin Abu Thalib pun mereda. Mereka sepakat untuk mengakhiri peperangan dan melakukan perdamaian.

Terbunuhnya Ali bin Abu Thalib

Setelah usai perang shiffin, banyak kalangan pendukung Ali yang tidak puas dengan keputusan perdamaian tersebut. Mereka itulah yang dinamakan kaum khawarij. Orang-orang islam yang pemberani namun yang pendek akalnya dan kurang dalam ilmunya, sehingga sering kali melakukan tindakan gegabah dan ceroboh yang diatasnamakan agama.

Dendam kaum khawarij ini semakin membara. Dendam yang awalnya tertuju kepada Muawiyah yang telah dianggap pemberontak, oleh mereka kini ditujukan kepada Ali sendiri, yang dianggapnya telah lalai dari tanggungjawabnya sebagai khalifah.

Akhirnya diwaktu subuh salahseorang dari kaum khawarij itu nekat menusuk Ali bin Abu Talib, namanya Abdullah bin Muljam. Seorang muslimin yang sholeh, namun sedikit pemahaman agamanya. Akibat tikaman pisau tersebut Ali bin Abu Thalib menemuni syahid, dan Ibnu Muljam dihukum qishash.

Nasib Khilafah Islam Pasca wafatnya Ali 

Kondisi dilanda prahara kekacauan. Madinah gempar dengan terbunuhnya Ali bin Abu Thalib, sang khalifah, oleh pasukannya sendiri. Mereka gamang tak tahu lagi siapa yang akan dijadikan pemimpin. Sementara seluruh para sahabat besar sudah tiada.

Kaum munafik madinah pun bersorak. Seolah merayakan kemenangan yang mereka tunggu sejak zaman rasulullah berada. Kaum yahudi pun turut bergembira. Akhirnya islam akan segera sirna, begitu pikir mereka.

Setelah diadakan syura' penduduk Madinah sepakat mengangkat Hasan bin Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah pengganti Ali. Hasan berusaha meredakan gejolak. Namun kondisi Madinah semakin membahayakan. Maka dia pun memutuskan untuk meminta bantuan Muawiyah di Syam.

Mendengar kisah yang menimpa Ali Muawiyah turut prihatin. Muawiyah tidak merasa memusuhi Ali karena memang sekedar kesalahpahaman belaka. Ketika mendengar bahaya munafikin mengancam kaum muslimin di Madinah, Muawiyah menyatakan siap membantu Hasan.

Hasan pun membuat langkah yang fenomenal. Dengan ikhlas dia menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan demi kemaslahatan dan kedamaian kaum muslimin. Dengan demikian diharapkan seluruh kaum muslimin dapat bersatu kembali. Namun dengan satu syarat, setelah Muawiyah, maka posisi khalifah harus dikembalikan lagi kepada ahlul bait keturunan Nabi Muhammad SAW.

Muawiyah pun menyanggupi. Namun setelah itu justru dia membuat dinasti sendiri, yang menurunkan kekuasaan khalifah secara turun temurun, bukan berdasar syura' kaum muslimin. Keturunan raja-raja penerus Muawiyah itu dinamakan dengan Dinasti Bani Umayah.

















Rabu, 11 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Utsman bin Affan)


UTSMAN BIN AFFAN


Awal Perjumpaan Dakwah

Utsman bin Affan adalah salahsatu saudagar sukses dalam membangun perusahaan dagang di Mekkah. Beliau masih bersahabat dengan Abu Bakar dan Abdurrahman bin Auf. Ketika Abu Bakar memperkenalkan Islam kepadanya, Utsman langsung merasa tertarik. Karena pribadinya memang berakhlak mulia, santun dan pemalu. Namun kecerdasan Utsman dalam dunia bisnis tampak menonjol. bahkan di usia sangat muda, Utsman sudah banyak berkecimpung dengan urusan perdagangan antar negara (ekspor-impor).

Sejarah Khulafah Rasyidin (Umar bin Khattab)


UMAR BIN KHATTAB


Profil Umar bin Khattab

Berasal dari kabilah Bani Makhzum. Umar berperawakan tinggi besar. Walau berasal dari keluarga kaya dan termasuk disegani di kabilahnya, namun sejak kecil Umar mengalami kehidupannya keras. Didikan orang tuanya menjadikan Umar memiliki watak yang keras. Sikapnya yang main hantam dan berani membuatnya ditakuti orang.

Kamis, 05 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Abu Bakar)


ABU BAKAR AS-SHIDIQ


Diangkat Sebagai Khalifah Rasul

Abu Bakar As-Sidiq yang bernama asli Abdullah bin Abu Quhafah menjadi Khalifah Islam pengganti rasulullah sekitar tahun 632-634 M, adalah salasatu sahabat rasulullah yang pertama kali memeluk agama Islam. Rasulullah amat menyayangi dan mencintai Abu Bakar, karena sahabatnya inilah yang sejak pertama membantu beliau menegakkan agama Islam dengan segenap harta jiwa raganya.

Sejarah Nabi Muhammad SAW (Madinah)



PERIODE MADINAH


Rasulullah SAW Hijrah

Ketika gangguan kaum musyrikin Quraisy semakin hebat, turunlah perintah Allah kepada rasulullah untuk hijrah meninggalkan Mekkah menyusul para sahabat yang telah mendahuluinya ke Madinah.

Ketika itu banyak kaum muslimin yang meninggalkan Mekkah, meninggalkan rumah tempat tinggal dan seluruh harta bendanya begitu saja. Abdurrahman bin Auf bahkan tak membawa harta sepeser pun, dirampas seluruhnya oleh kafir Quraisy. Begitu pula yang lainnya. Bahkan tidak sedikit yang diancam siksa dan kehilangan nyawa, sehingga mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi.

Sejarah Nabi Muhammad SAW (Mekkah)


PERIODE MEKKAH

Asal Usul Yatim

Nabi Muhammad dilahirkan hari senin 12 Rabiul Awwal tahun 571 Masehi di kota Mekkah. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Abdullah putra dari Abdul Muthalib terkenal sebagai kepala kaum Bani Hasyim dari Suku Qurais yang disegani di kota Mekkah, karena mereka termasuk suku para bangsawan Mekkah dan penjaga Bait Suci Kaabah.

Baru dua bulan Muhammad Rasulullah dalam kandungan ibunya Aminah, wafatlah ayahanda beliau yaitu Abdullah. Setelah lahir sebagai yatim dan beliau disusui oleh seorang wanita arab badui dari kampung Bani Sa'ad bernama Halimah As Sa'diyah.