Senin, 05 November 2018

Sejarah bani Umayyah (Muawiyah bin Abu Sofyan)


-SEJARAH POLITIK - BANI UMAYYAH


MUAWIYAH BIN ABU SOFYAN


Asal Keturunan

Nama kekhalifahan bani umayyah diambil dari kakek buyut Muawiyah yaitu Umayyah bin Abdi Syams bin Abdul Manaf. Muawiyah adalah anak dari Abu Sofyan, seorang pembesar Quraisy di kota Mekkah yang awalnya sering memusuhi Rasulullah ketika fase dakwah di Mekkah. Dan kemudian masuk islam ketika terjadi peristiwa penaklukan kota Mekkah oleh rasulullah dan kaum muslimin. Anak Abu Sofyan yang bernama Romlah binti Abu Sofyan lebih dulu masuk islam dan kemudian dinikahi oleh rasulullah dan berganti nama menjadi Ummu Habibah.

Selain Ramlah, Abu Sofyan masih memiliki anak, diantaranya Yazid bin Abu Sofyan dan Muawiyah bin Abu Sofyan. Yazid bin Abu Sofyan kakak Muawiyah menjadi salasatu tokoh syuhada heroik bersama Ikrimah putra Abu Jahal yang sudah masuk islam, keduanya berperang melawan kaum kafir Romawi pada perang Yarmuk di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Dan keduanya menemui syahid. Yazid bin Abu Sofyan merupakan salahseorang sahabat yang sholeh dalam bimbingan kakaknya yaitu Ummu Habibah istri rasulullah. Yazid dipercaya sebagai pemimpin dan dicintai orang banyak, namun langkahnya berakhir pada perang Yarmuk. Yazid menghimbau adiknya yaiyu Muawiyah agar menggantikan posisinya untuk berkhidmat kepada Islam.

Ayah mereka pun masih hidup tatkala terjadi perang. Meskipun Abu Sofyan dan Hindun istrinya turut serta dalam perang tersebut namun keduanya selamat dan menyaksikan kemenangan kaum muslimin dalam melapangkan agama Islam ke arah timur dan barat. Mereka masih menyaksikan ketika Persia dan Romawi takluk bertekuk lutut dibawah kekuasaan umat Islam.

Diangkat Menjadi Gubernur Syam (Syiria)

Muawiyah bin Abu Sofyan diangkat menjadi gubernur di wilayah Syam Damaskus, menggantikan penguasa sebelumnya yakni Abu Ubaidillah bin Al Jarrah, yang gugur terserang wabah. Dan kekuasaannya semakin kokoh disana. Ketika terjadi peristiwa huru-hara yang menimpa Utsman, maka yang paling gencar menyuarakan pembalasan qisas Utsman adalah Muawiyah, karena Utsman sendiri masih berasalh dari kabilah Bani Umayah. Apalagi mendapat dukungan pula dari Ummul Mukminin Aisyah.

Ketika dirasa khalifah pengganti kurang tegas menyikapi persoalan, Muawiyah merasa turut memiliki hak untuk menentukan arah dan masa depan kaum muslimin. Apalagi ketika mendengar peristiwa berkobarnya perselisihan antara Khalifah Ali bin Abu Thalib dengan Aisyah, sehingga terjadi Perang Jamal. Muawiyah pun mulai menyusun strategi kekuatan menghadapi pasukan Ali bin Abu Thalib yang sedang bergerak menuju Damaskus, sehingga peperangan dahsyat pun tak lagi bisa terelakan, dan terjadilah apa yang terkenal dengan Perang Shiffin.

Namun Perang Shiffin berujung dengan berdamainya kedua-belah pihak sebagai sesama kaum muslimin, yang  berkitab suci yang sama yaitu Alquran Alkariim. Namun retaknya hubungan kedua kubu ini tetap berbekas. Hingga terjadi peristiwa terbunuhnya Khalifah Ali bin Abu Thalib oleh Abdullah bin Muljam seorang Khawarij. Muawiyah merasakan rasa kehilangan atas gugurnya pahlawan kaum muslimin itu, sosok ksatria yang selalu menemani dan membela rasulullah sejak di Mekkah, dan hampir selalu mengikuti setiap peperangan bersama rasulullah, peperangan Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Tabuk. Dan pahlawan tersebut kini telah tiada..Muawiyah pun turut menangis, meski sempat pernah berseteru dengan Singa Islam Ali bin Abu Thalib.

Hasan bin Ali bin Abu Thalib menjadi Khalifah Kaum Muslimin

Sepeninggal Ali, jabatan Khalifah diserahkan kepada Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah dari Fatimah Az Zahra. Hasan adalah seorang pemuda yang halus budi. Dia lebih mementingkan kemaslahatan umat islam dibanding ambisi pribadinya. Dia tidak menyukai adanya perselisihan sesama kaum muslimin gara-gara kekuasaan yang kini ada dalam genggamannya. Maka dengan tulus hati, Hasan menyatakan untuk menyerahkan tampuk kekuasaan kaum muslimin kepada Muawiyah bin Abu Sofyan, sosok yang saat itu dirasa paling tepat untuk memangku jabatan khalifah, karena para sahabat besar sudah banyak yang meninggal dunia.

Muawiyah Menjadi Khalifah Bani Umayah

Hasan menyerahkan jabatan khalifah dengan satu syarat, yaitu jabatan khalifah ini sekedar pengganti atas wafatnya khalifah sesuai syura'. Bila Muawiyah meninggal, maka jabatan khalifah harus diserahkan kembali kepada kaum muslimin untuk diadakan syuro' kembali. Muawiyah pun menerima kekuasaan tersebut dari Hasan (661 M), dan banyak tokoh politik yang saat itu berdiri dibelakangnya.

Dikemudian hari, Muawiyah ternyata menyalahi janji. Ketika Muawiyah akan meninggal (680), dia mengganti sistem syuro' kaum muslimin menjadi sistem keturunan, dan menyerahkan jabatan khalifah diturunkan kepada putranya yang bernama Yazid bin Muawiyah. Tentu saja hal tersebut memicu kegeraman dikalangan kaum muslimin, sehingga terjadi huru-hara dan pembangkangan di beberapa lokasi.

Ekspansi Politik Muawiyah

Selama memerintah, Muawiyah terus melakukan ekspansi perluasan wilayah islam ke wilayah timur setelah daerah persia, yaitu dengan menaklukan negeri Qaiqan, Khurasan, Afghanistan dibawah panglima Abdullah bin Sawwar Al Abdi. Kemudian dibawah komando Jendral Al Muhallab bi Abu Sufrah, pasukan Islam menyerang negeri Sind, Bannah dan Lahore wilayah Hindustan.

Ekspansi ke utara pun tak ketinggalan. Tidak tanggung langsung menyerbu ke pusat kekuasaan Romawi Timur yaitu Byzantium atau Konstantinopel. Pada tahun 48 H Muawiyah mengerahkan pasukan darat dan laut untuk meruntuhkan benteng Byzantium. Namun rupanya belum saatnya walau jendral penakluk sekelas Al Muhallab pun masih belum bisa menaklukan benteng kokoh Byzantium. Banyak kaum muslimin yang berguguran, diantaranya salaseorang sahabat rasulullah yag dikaruniai panjang usianya, bernama Abu Ayub Al Anshari.

Sementara itu ekspansi ke sebelah barat Muawiyah mengirim seorang jendral perang kawakan Uqbah bin Nafi dengan 10.000 tentara di tahun 50 H, dan berhasil menaklukan hampir seluruh pesisir utara benua Afrika, termasuk Libya, Aljazair, Maroko, Magribi. Hingga pada tahun 60 H (680) Muawiyah pun wafat dan digantikan oleh putranya sendiri yaitu yazid bin Muawiyah

(bersambung)

Kamis, 12 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Ali bin Abu Thalib)


ALI BIN ABU THALIB


Profil Sang Jendral Perang Rasul

Beliau adalah salasatu anak dari paman rasulullah SAW yaitu Abu Thalib bin Abdul Muthallib, saudagar kaya dan terpandang di kota Mekkah. Dengan suku dan kabilah yang sama dengan rasulullah, yakni suku Quraisy dari kabilah Bani Hasyim. Sebagai salasatu suku bangsawan dan terkuat yang keturunan demi keturunannya menjadi penjaga Kaabah karena kharisma, kecerdasan dan kekuatan kabilah tersebut menjadikan mereka terpercaya menjadi pimpinan para kabilah yang lain.

Bani Hasyim, adalah kemuliaan bangsa arab, sebelum kedatangan rasulullah apalagi sesudahnya. Putra putri Bani Hasyim begitu dihormati dan disegani oleh kabilah yang lain. Begitulah hingga terbit fajar hidayah Islam. Risalah tidakmemandang kemuliaan seseorang melainkan dari agama dan ketakwaannya.

Ali bin Abu Thalib adalah gambaran pemuda Islam sejati, karena dia dari kecil hidup dan tinggal bersama rasulullah. Tidak ada orang yang paling ia kagumi dalam hidupnya selain rasulullah, bahkan tidak juga bapaknya sendiri. Ketika rasulullah mengajaknya memeluk islam, Ali pun langsung bersyahadat. Ketika rasulullah meminta Ali berkorban menggantikan beliau di tempat tidurnya pada waktu hijrah, tanpa pikir panjang Ali pun menyanggupi. Padahal taruhannya adalahan nyawa pengganti rasul.

Tatkala turun perintah hijrah, Ali adalah orang yang terakhir menyusul rasulullah ke Madinah, lengkap beserta perlengkapan perangnya. Ali merupakan benteng utama dalam Islam. Ali lah yang pertama kali menghadang kaum kafirin pada perang Badar, bersama paman beliau yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, menggempur musuh-musuh Islam yang hendak mengganggu nabi SAW.

Setiap diadakan perang tanding Ali selalu berada di pihak yang unggul. Nama Ali bin Abu Thalib sebagai jago Islam amat diperhitungkan oleh musuh-musuhnya. Karena siapa saja yang berhadapan dengan Ali pasti menderita kekalahan. Ali memiliki kekuatan yang luar biasa dan lebih dari yang lain. Belum ada satu senjata yang mampu menyentuh kulit Ali dalam setiap pertempuran. Namanya adalah jaminan gentar ciut nyali musuh-musuh islam. Peperangan Khaibar mencuatkan nama Ali ketika rasulullah menyerahkan pimpinan pasukan Muslimin.

Selain sepupu dan jendral perang muslimin, Ali bin Abu Thalib juga adalah juga menantu rasul, karena dia menikah dengan putri bungsu rasulullah yaitu Fatimah binti Muhammad SAW. Dari pernikahan itu lahirlah Hasan, Husain dan Zainab. Kelak cucu-cucu rasulullah itulah yang akan meneruskan perjuangan kaum muslimin hingga ke mancanegara.

Naik sebagai Khalifah

Tatkala rasulullah wafat, Ali bin Abu Thalib sibuk mengurus prosesi pemakaman rasul, sehingga beliau termauk orang yang terakhir berbaiat kepada Abu Bakar sebagai khalifah. Enam bulan sepeninggal rasulullah, istri Ali bin Abu Thalib dan putri rasul pun wafat. Ali menikah lagi dengan beberapa wanita yaitu Ummu Banin binti Haram, Laila binti Mas'ud, Asma binti Umais, Haulah binti Ja'far, Ummu Said binti Urwah, dan lainnya.

Pada masa khalifah Abu Bakar, Ali turut membantu memberikan usul dan masukan untuk kemajuan daulah Islam. Begitu pun pada masa Umar. Di masa Utsman terjadi beberapa perbedaan. Dan perbedaan tersebut kian meruncing di masa-masa akhir pemerintahan Utsman bin Affan.

Ketika Khalifah Utsman bin Affan terbunuh, terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Sebagian menuntut agar pembunuh Utsman di usut dan diadili. Sementara sebagian lain minta agar segera dipilih pemimpin kaum muslimin pengganti Utsman agar umat tidak kehilangan pemimpin. Suasana memanas. Ali memilih kelompok kedua, yaitu segera mencari pengganti Utsman bin Affan, sebelum terjadi perpecahan.

Para sahabat besar yang mendampingi rasulullah banyak yang sudah wafat. Sebagian usianya sudah sepuh. Ketika diadakan syura pemilihan khalifah, maka sepakat untuk mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah amirul mukminin pengganti khalifah Utsman bin Affan yang tewas terbunuh.

Perpecahan Umat Islam

Setelah diangkat sebagai khalifah Ali bin Abu Thalib kemudian melakukan pembersihan kepada beberapa unsur yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politik dan pemerintahan. Sayangnya suara-suara sumbang terkait sikap Ali makin banyak bermunculan. Pertama, dari arah Syam, gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan, yang masih merupakan satu kabilah dengan Utsman bin Affan merasa bahwa Ali tidak begitu peduli dengan kasus yang menimpa Utsman, dan meminta kasus tersebut diusut.

Namun ketika Ali bersikap mengabaikan, Muawiyah pun sontak menyatakan bahwa Syam memisahkan diri dari kekhalifahan Ali yang memusatkan pemerintahannya di Kufah.

Tidak hanya Muawiyah di Syam yang memungkiri Ali, pernyataan antipati pun muncul dari keluarga dekat nabi sendiri, yaitu Ummul Mukminin Aisyah ra. Aisyah sepakat dengan Muawiyah untuk mengusut kasus Utsman demi memberi pelajaran kepada kaum munafik. Sikap berani Aisyah ini di dukung oleh dua sahabat besar yang masih tersisa, yaitu Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Sementara Ali tetap tidak setuju, dan menganggap bahwa Muawiyah dan Aisyah telah membangkang terhadap pemerintahan yang sah. Suasana pun kian memanas.

Perang Jamal (Perang Unta)

Asal muasal perang terjadi karena Aisyah merasa menemukan titik terang tentang pembunuh Utsman dan pergerakan kaum munafik. Para pembunuh itu berasal dari Basrah. Dan Aisyah beserta Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah sepakat untuk mengusut dan menanyakan kepada gubernur Basrah yang diangkat Ali, bernama Utsman bin Hunaif. Namun Utsman merasa keberatan dan melarang mereka memasuki Basrah sebelum Ali datang.

Ketika menunggu Ali, terjadi kerusuhan yang disebabkan perbuatan kaum munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Saba gerilya membunuhi para prajurit pengawal Aisyah, dan juga prajurit Utsman bin Hunaif di Basrah. Fitnah pun berkobar. Aisyah menganggap Hunaif dan Ali telah bersekongkol, maka dia pun melancarkan serangan ke Basrah guna menghukum Utsman bin Hunaif. Ali juga berpikir Aisyah telah memberontak. Maka terjadilah peperangan. Karena Aisyah memimpin peperangan tersebut dari atas unta, maka dinamakan perang tersebut Perang Jamal atau Perang Unta.

Perang akibat fitnah ini berkecamuk dahsyat. Puluhan ribu orang menjadi korban. Utsman bin Hunaif sendiri tewas. Termasuk yang gugur juga sahabat besar pembela nabi yaitu Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Peperangan akhirnya dimenangkan  kubu Ali bin Abu Thalib. Aisyah pun tertawan. Namun Ali tidak mengganggunya dan segera mengembalikan Aisyah ke Madinah. Dan peperangan pun berakhir.

Perang Shiffin

Setelah selesai meredakan fitnah di Basrah, Ali bin Abu Thalib segera mengarahkan pandangannya ke Syam. Beliau merasa hawa pemberontakan sedang berkobar disana. Maka Ali segera memberangkatkan 90.000 pasukannya dari Kufah menuju Syam untuk menghentikan propaganda Muawiyah bin Abu Sufyan, yang dianggapnya telah memecah belah umat islam.

Tiba di tepi sungai Eufrat, sudah menunggu 80.000 pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan. Bersiap siaga dengan berbagai macam senjatanya menyambut kedatangan pasukan Ali bin Abu Thalib. Perang pun tak terelakkan. Campur tangan yahudi dan kaum munafik amat kental. Walau pun perang sudah berusaha dicegah, karena mereka memerangi sesama kaum muslimin. Banyak korban 50.000 orang berjatuhan sia-sia. Diantara mereka ada sahabat nabi bernama Amar bin Yasir. Amar adalah salasatu yang pertama masuk islam di Mekkah ketika ayahnya yasir dan ibunya sumayah di siksa oleh majikan mereka di Mekkah (baca : Sejarah nabi Muhammad SAW).

Muawiyah sebetulnya tidak memberontak kekhalifahan Ali, namun sekedar ingin menuntuk qishas pembunuh Utsman. Namun Ali berbeda pandangan. Baginya persatuan umat lebih didahulukan daripada mengurus hukum tuntutan. Perang antara Ali dan Muawiyah di lembah Shiffin dekat sungat Eufrat itu dinamakan Perang Shiffin.

Peperangan ganas itu terhenti ketika dari pasukan Muawiyah ada yang mengangkat Mushaf AlQuran tinggi-tinggi diujung tombak sebagai tanda persatuan muslimin. Akhirnya gejolak pasukan Ali bin Abu Thalib pun mereda. Mereka sepakat untuk mengakhiri peperangan dan melakukan perdamaian.

Terbunuhnya Ali bin Abu Thalib

Setelah usai perang shiffin, banyak kalangan pendukung Ali yang tidak puas dengan keputusan perdamaian tersebut. Mereka itulah yang dinamakan kaum khawarij. Orang-orang islam yang pemberani namun yang pendek akalnya dan kurang dalam ilmunya, sehingga sering kali melakukan tindakan gegabah dan ceroboh yang diatasnamakan agama.

Dendam kaum khawarij ini semakin membara. Dendam yang awalnya tertuju kepada Muawiyah yang telah dianggap pemberontak, oleh mereka kini ditujukan kepada Ali sendiri, yang dianggapnya telah lalai dari tanggungjawabnya sebagai khalifah.

Akhirnya diwaktu subuh salahseorang dari kaum khawarij itu nekat menusuk Ali bin Abu Talib, namanya Abdullah bin Muljam. Seorang muslimin yang sholeh, namun sedikit pemahaman agamanya. Akibat tikaman pisau tersebut Ali bin Abu Thalib menemuni syahid, dan Ibnu Muljam dihukum qishash.

Nasib Khilafah Islam Pasca wafatnya Ali 

Kondisi dilanda prahara kekacauan. Madinah gempar dengan terbunuhnya Ali bin Abu Thalib, sang khalifah, oleh pasukannya sendiri. Mereka gamang tak tahu lagi siapa yang akan dijadikan pemimpin. Sementara seluruh para sahabat besar sudah tiada.

Kaum munafik madinah pun bersorak. Seolah merayakan kemenangan yang mereka tunggu sejak zaman rasulullah berada. Kaum yahudi pun turut bergembira. Akhirnya islam akan segera sirna, begitu pikir mereka.

Setelah diadakan syura' penduduk Madinah sepakat mengangkat Hasan bin Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah pengganti Ali. Hasan berusaha meredakan gejolak. Namun kondisi Madinah semakin membahayakan. Maka dia pun memutuskan untuk meminta bantuan Muawiyah di Syam.

Mendengar kisah yang menimpa Ali Muawiyah turut prihatin. Muawiyah tidak merasa memusuhi Ali karena memang sekedar kesalahpahaman belaka. Ketika mendengar bahaya munafikin mengancam kaum muslimin di Madinah, Muawiyah menyatakan siap membantu Hasan.

Hasan pun membuat langkah yang fenomenal. Dengan ikhlas dia menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan demi kemaslahatan dan kedamaian kaum muslimin. Dengan demikian diharapkan seluruh kaum muslimin dapat bersatu kembali. Namun dengan satu syarat, setelah Muawiyah, maka posisi khalifah harus dikembalikan lagi kepada ahlul bait keturunan Nabi Muhammad SAW.

Muawiyah pun menyanggupi. Namun setelah itu justru dia membuat dinasti sendiri, yang menurunkan kekuasaan khalifah secara turun temurun, bukan berdasar syura' kaum muslimin. Keturunan raja-raja penerus Muawiyah itu dinamakan dengan Dinasti Bani Umayah.

















Rabu, 11 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Utsman bin Affan)


UTSMAN BIN AFFAN


Awal Perjumpaan Dakwah

Utsman bin Affan adalah salahsatu saudagar sukses dalam membangun perusahaan dagang di Mekkah. Beliau masih bersahabat dengan Abu Bakar dan Abdurrahman bin Auf. Ketika Abu Bakar memperkenalkan Islam kepadanya, Utsman langsung merasa tertarik. Karena pribadinya memang berakhlak mulia, santun dan pemalu. Namun kecerdasan Utsman dalam dunia bisnis tampak menonjol. bahkan di usia sangat muda, Utsman sudah banyak berkecimpung dengan urusan perdagangan antar negara (ekspor-impor).

Sejarah Khulafah Rasyidin (Umar bin Khattab)


UMAR BIN KHATTAB


Profil Umar bin Khattab

Berasal dari kabilah Bani Makhzum. Umar berperawakan tinggi besar. Walau berasal dari keluarga kaya dan termasuk disegani di kabilahnya, namun sejak kecil Umar mengalami kehidupannya keras. Didikan orang tuanya menjadikan Umar memiliki watak yang keras. Sikapnya yang main hantam dan berani membuatnya ditakuti orang.

Kamis, 05 Juli 2018

Sejarah Khulafah Rasyidin (Abu Bakar)


ABU BAKAR AS-SHIDIQ


Diangkat Sebagai Khalifah Rasul

Abu Bakar As-Sidiq yang bernama asli Abdullah bin Abu Quhafah menjadi Khalifah Islam pengganti rasulullah sekitar tahun 632-634 M, adalah salasatu sahabat rasulullah yang pertama kali memeluk agama Islam. Rasulullah amat menyayangi dan mencintai Abu Bakar, karena sahabatnya inilah yang sejak pertama membantu beliau menegakkan agama Islam dengan segenap harta jiwa raganya.