Senin, 20 Januari 2014

Kisah Anak Manusia (1)

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh...

Ikhwah sekalian yang dirahmati Allah, alhamdulillah disela kesibukan ingin rasanya kembali menulis, melanjutkan rencana semula, yaitu memberikan ragam informasi seputar sejarah peradaban yang akurat dan bisa menjadi dasar pemahaman dalam memahami kehidupan. Tulisan saya ambil dari berbagai sumbat er yang sudah mashur seperti wikipedia, ensiklopedi dan beberapa literatur lain, yang saya rangkum dalam satu web yang singkat padat dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Mari kita kembali ikuti perjalanan manusia pertama yang baru turun dari "langit" ke planet bumi nan indah...

========================

Adam dan Hawa pun hidup berbahagia. Adam mulai belajar menggembala kambing, bercocok tanam, membuat bangunan. Diantara bangunan pertama yang beliau dirikan adalah pondasi kaabah, sebagai pusat peribadatan. Begitu pula Hawa, yang mulai belajar memasak dan menjahitkan baju, seperti yang pernah mereka lihat sewaktu di syurga dulu.

Hari pun berganti. Tahun berlalu. Alangkah sepi hidup di dunia yang luas hanya berduaan saja. Maka tatkala Adam memohon "teman kesepian", Allah ciptakan dari "saripati tanah" dalam diri Adam menjadi keturunan serupa dengannya. Dan Hawa pun mengandung anak pertama.

Memasuki bulan kesembilan, Hawa pun melahirkan. Dan ternyata anak pertamanya kembar. Laki dan perempuan. Cermin kegagahan Adam dan kecantikan Hawa ada pada kedua anaknya. Dan diberi nama yang laki-laki dengan Qabil atau Kain dan yang perempuan bernama Iqlima atau Qalima.

Setahun kemudian, Hawa pun kembali melahirkan anaknya yang lain. Masih kembar juga. Laki dan perempuan juga. Inilah dia Habil dan Labuda. Mulailah rumah Adam terasa sempit dan hiruk pikuk suara anak-anak tertawa dan kadang menangis. Alangkah indahnya hati Adam dan Hawa. "Akan kudidik mereka menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, sehingga mereka dapat mencicipi syurga seperti yang dulu pernah kurasakan, begitu batin Adam....

Dengan sabar Ayah Adam dan Ibunda Hawa pun merawat putra putrinya. Dikenalkan mereka tentang siapa Tuhannya, dan apa kewajiban hidupnya. Diantara kedua anak laki-laki, adik dan kakak sungguh berbeda wataknya. Qabil yang periang dan agresif. Segala sesuatu selalu ditanyakan pada ayahnya Adam. Dalam hal kecerdasan tampak ia lebih menonjol dibanding yang lainnya. Gerakannya gesit dan lincah. Adam suka dengan anaknya yang sulung ini, walau timbul kekhawatiran bila suatu hari terjadi hal yang tidak memuaskan anaknya, menimbang wataknya yang istimewa. Sementara Habil cenderung pendiam, dan menurut saja apa yang dikatakan kakaknya, maupun kedua orang tuanya. Namun ada suatu hal yang tampak lebih dari yang lain, Habil lebih suka merenung dan tampak ibadahnya lebih rajin. Mulutnya tidak banyak berkata, tapi nampak akalnya cerdas. Tidak ada yang tahu apa yang Habil pikirkan. Hanya senyumnya yang nampak terkembang bila bertemu setiap orang. Ah, Habil memang pemuda yang baik....

Waktu pun terus berjalan. Putra puteri Adam telah tumbuh menjadi dewasa. Qabil telah menjadi lelaki yang tampan dan gagah, sorot matanya tajam menunjukan kecerdasan sempurna dari sosok anak manusia. Sementara Habil pun sudah berubah menjadi sosok yang alim dan cerdas. Tatapannya lembut. Orang selalu tenang hatinya bila bertemu dengannya. Ada satu sosok yang kerap memperhatikan Habil bila sedang sendirian. Sosok nan lembut, berambut panjang, dan teramat cantik.....itulah sosok Iqlima....

Sudah sejak lama Iqlima menaruh hati terhadap Habil yang notabene adiknya sendiri. dari sejak remaja mereka bermain bersama dia lebih senang bermain dengan Habil yang baik. Dibanding saudaranya sendiri, Qabil, yang cenderung congkak, merasa paling gagah dan ganteng, dia lebih memilih bersama Habil. Entah mengapa, apa mungkin karena Habil yang selalu bersikap lembut terhadap semua orang? atau senyum Habil yang sering bikin wanita termenung-menung sepeninggalnya (hehehe...), atau...atau...adakah Habil pernah sesekali berpikir tentang dirinya?? ahh...Iqlima tak mau memikirkan kelanjutannya yang seolah mustahil. Bukankah Habil adalah adiknya sendiri??

Labuda sendiri lebih banyak diamnya, mungkin karena parasnya tidak secantik kakaknya. Atau memang pembawaannya demikian. Dia lebih senang membantu ibunya memasak, atau membersihkan rumah. Dalam hal ini Labuda lebih rajin dari kakak perempuannya, yang cenderung kadang suka berdandan seharian. Labuda lebih senang "isi" dari sekedar polesan. Baginya hakikat segala sesuatu adalah menggapai ridho Allah. Dan ridho Allah bersama ridho kedua orang tuanya.

Keempat putera-puteri Adam kini sudah dewasa. Sudah saatnya memiliki pasangan masing-masing. Namun masalahnya dengan siapa mereka akan dinikahkan?

Maka Allah pun mewahyukan kepada Adam agar menikahkan anak-anaknya secara bersilang. Artinya Qabil menikah dengan kembarannya Habil yaitu Labuda, sementara Habil dengan.....enak saja!! Kontan Qabil pun bersungut-sungut, dan protes seraya beranjak pergi, meninggalkan Adam, Hawa dan semua hadirin yang kebingungan....

Aku harus menikah dengan anak perempuan gendut dan hitam itu? Nanti dulu, pasti ini ada yang salah!! Begitu pikir Qabil sambil duduk termenung di balik batu Jabal Nur.

Kenapa ayah tega melakukan semua ini? Bukankah dia tahu bahwa aku lebih mencintai Iqlima? Ya, hanya Iqlima yang pantas bersaing denganku. Adikku yang satu ini dalam segalanya jauh melebihi gadis kecil tambun, yang jalanpun terkadang susah, hhh...abi..abi...ada-ada saja si abi...." desis Qabil setengah menggerutu....


TO BE CONTINUE ...


1 komentar: