Senin, 20 Januari 2014

Kisah Anak Manusia (2)

Kita tinggalkan Qabil yang sedang menggerutu sendiri.....

Kembali kita lihat bagaimana perasaan Adam tatkala ditinggal putranya yang dia banggakan, penerus cita-cita perjuangan hidup. Qabil merupakan bayangan dirinya sewaktu dulu masih muda. Masih terbayang di pelupuk matanya bahwa seusia Qabil itulah dia berdiri tegak di Syurga, berpakaian gemilau, menyebutkan nama-nama terindah, mengalahkan semua penantangnya, yang akhirnya membuat seluruh malaikat pun bersujud di hadapannya.

Tidak. Tidak semuanya.

Ada sosok yang sejak awal memang suka nyeleneh dan congkak, selalu membuang muka bila bertemu dirinya. Adam tidak begitu kenal sosok ini, yang dia kenal cuma namanya saja, Azazil. Yang konon kesaktiannya melebihi para malaikat. Tapi buktinya dalam pertandingan ini, tidak bisa apa-apa, tetap dia - Adam - yang muda, gagah, tampan dan cerdas, mampu mengalahkan mereka semua.

Terbayang olehnya bagaimana Azazil meludah kepadanya dan tak mau mengikuti perintah Allah untuk bersujud mengakui kekalahannya dari Adam. Masih terngiang olehnya bagaimana sumpah serapah makhluk itu tatkala Allah melaknat dia dan keturunannya sampai kiamat dan dimasukan Neraka. Anehnya, Azazil bukannya minta ampun kepada Allah, malah dengan mata merah...marah! Meminta perpanjangan waktu, tidak ada esok, tidak ada sakit...dan tidak ada kematian baginya. Dan hebatnya Allah pun mengabulkan permintaannya yang spesial itu, yaitu si Azazil ini tidak akan menemui kematian hingga hari kiamat!

Dan di usirlah makhluk sombong itu dari Jannah. Allah pun merubah bentuknya menjadi lebih buruk dari semula, dan lebih menjijikan...sesuai dengan keadaan batinnya yang kafir dan menentang Allah....dan digelari dengan nama Iblis, artinya makhluk yang terputus dari rahmat Allah...

Ahh...." Adam pun mengusap wajahnya. Itu masa lalu, bisiknya lirih...
Dalam hatinya terbersit rasa kuatir akan kebencian Iblis terhadap dirinya, dan ini senantiasa mengganggunya. Seperti apa yang menimpa mereka berdua, tatkala tengah mereguk kebahagiaan dan kenikmatan Syurga, ternyata kedengkian Iblis melebihi segalanya. Hingga akhirnya mereka berdua - Adam dan Hawa - tertipu oleh janji palsu dan sejuta kebohongan si Iblis Laknatullah...

"....Aku bersumpah dihadapan Engkau, Wahai Tuhanku, akan aku sesatkan Adam beserta keturunannya, dan akan Kau dapati mereka orang-orang yang kufur...!"

Bagai kilat menyambar kepala Adam saat teringat sumpah si Iblis di hadapan Allah kala itu. Ya, kenapa dia tak ingat hal ini saat mendekati buah khuldi? Dan sekarang, takkan kubiarkan makhluk keparat itu mengganggu anak-anakku, tidak...tidak akan!!!

Maka Adam pun bergegas mengumpulkan putra putrinya, memberikan wejangan tentang keutamaan menghamba kepada Allah, menjauhi syirik. Dan selalu berhati-hati terhadap musuh utama kedua ibu bapak mereka yang telah bersumpah untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Semua manggut-manggut paham. Adam pun menatap puas, sampai terhenti matanya pada sebuah kursi yang sejak awal kosong. Itulah kursinya Qabil. Ya, sejak peristiwa kemarin, Qabil minggat dan hingga sekarang belum juga pulang. Adam sangat mengkuatirkan puteranya yang satu itu. Maka dia pun meminta Habil untuk bergegas mencari keberadaan kakaknya. Dan Habil pun tanpa menunggu lama langsung beranjak pergi.

Namun tak lama Habil kembali lagi membuat semua yang duduk terheran-heran.

"Ada apak Habil? bukankah ayah menyuruhmu untuk mencari kakakmu? Sudahkah kau temukan dia?"
"Aku sudah ketemu ayah.." Jawab Habil mantap.
"Lalu..dimana dia? Kenapa tak kau ajak kemari" Tanya Adam heran
"Aku sudah mengajaknya, namun dia tidak mau sebelum ayah putuskan tentang urusan pernikahan. Menurutku sudah nikahkan saja dia dengan kakak Iqlima ayah, selesai masalah.", Habil menjawab tenang.

Adam paham dengan sifat anaknya satu ini yang memang suka berkorban dan berbudi luhur. Dengan terharu Adam pun berkata, "Tidak Habil, ketentuan itu bukan dari ayah, tapi wahyu yang ayah terima dari tuhan kita, Allah SWT, kita diperintahkan untuk menjalankan segala apa yang Dia Titahkan, itu saja. segala sesuatu berasal dariNya, dan harus kembali kepada-Nya. Baiklah, ayah akan berdoa memohon petunjuk kepada Allah bagaimana cara mengatasi persoalan ini..."

Berhari-hari Adam berdoa memohon ampunan dan petunjuk Allah tentang apa yang harus dia lakukan terkait dengan pernikahan putra putrinya. Hingga suatu pagi, dengan wajah ceria Adam memanggil Habil dan berkata, " Habil....panggil segera kakakmu, ayah sudah mendapat wahyu dari Allah tentang urusan pernikahan kalian....!"

Tak lama Qabil pun datang diiringi Habil dibelakangnya.

"Bagaimana ayah, sudah ada keputusan? Jadi ayah akan menikahkanku dengan Iqlima kan?"

"Weee..." Terdengar suara seperti mau muntah. Semuanya melirik, itu suara Iqlima.
"Kamu sakit anakku?" Tanya Adam kuatir.
"Tidak ayah, dia cuma senang akan segera bersanding denganku hehe..., ya kan adikku yang cantik??" Qabil melirik adiknya, genit.

Yang dilirik mendelik sewot. Sebal hatinya dengan kelakuan kakaknya yang selalu bikin masalah. Sebenarnya ketika kakaknya menghilang rumah sedikit tenang, dan dia bisa lebih leluasa berduaan dengan Habil. Ketika mendengar bahwa Allah telah menjodohkannya dengan Habil, sungguh dia merasa Allah mendengar doa-doanya, Habil...Habil...Habil...suamiku, Ya Allah...Engkau sungguh Maha Tahu perasaan hamba...

Ya, bahkan dari kedua orang tuanya pun perasaan itu selalu dia sembunyikan. Perannya tampil sebagai kakak perempuan yang perhatian terhadap adik-adiknya, dia jalankan dengan sempurna. Dan ketenangannya itu berbuah dengan Allah memilihkan seorang suami terbaik baginya...Habil.

Sungguh, betapa bingung hatinya ketika ayahnya menyampaikan kabar wahyu terbaru tentang rencana pernikahannya dengan Habil. Apakah ayahnya akan memutuskannya menikah dengan kakak kembarnya sendiri, Qabil? Sungguh ini hal yang paling tidak dia harapkan. bahkan membayangkannya saja sudah membuatnya mual. makanya tatkala Qabil datang tiba-tiba terasa perutnya eneg...dan...

"Allah memutuskan kalian berdua, Qabil, dan kamu Habil, untuk mempersembahkan Qurban. Barangsiapa yang Allah terima Qurbannya, maka dialah yang berhak menikahi Iqlima, demikian wahyu Allah Tuhanmu, telah aku sampaikan..." Adam menyampaikan wahyu dengan jelas.

Habil segera berkata,"Baik ayah, akan segera kupenuhi perintah Allah"
Kemudian ia pun pergi.

Sementara Qabil terdiam. Apa yang akan dilakukannya? Kenapa harus Qurban? buat apa?
Ini pasti sekedar akal-akalan ayah saja, untuk menunda perkawinanku dengan iqlima. Tapi kenapa? Memang apa yang diinginkan Tuhan? Sapi? kambing? rumput?

Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepala Qabil. Sampai semuanya pergi, dia masih tercenung
memikirkan apa yang akan dia persiapkan untuk qurbannya esok hari.


TO BE CONTINUED...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar