Selasa, 05 Juni 2012

Turunnya Adam di Bumi (3)

Masih seputar Adam yang terlunta-lunta di bumi Allah yang baru. Sebagai khalifah, kini ia mulai memahami tugasnya. Ia mulai dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Bahkan seluruh alam tercipta seolah untuk melayaninya. Adam sudah mampu memelihara domba dan menanam pepohonan. Bahkan dia juga mampu menjinakkan kuda untuk tunggangan.

Kita tentu masih ingat, bagaimana kecerdasan Adam ketika di uji Allah bersama para malaikat dan jin, yang akhirnya semua mengakui keunggulannya. Dan dengan kecerdasan yang sama itulah kini dia menaklukan dunia. Jangan pernah terbayang oleh kita bahwa sosok Adam adalah seperti gambaran para pendukung teori evolusi, yaitu kumuh, kucel, telanjang, dan bodoh...

Tidak! Adam adalah sesuatu yang baru, yang sengaja Allah persembahkan untuk mengelola dan memperindah bumi ini. Adam berasal dari tempat yang memiliki peradaban yang sangat maju, yang mengenal berbagai rupa keindahan perhiasan, pakaian, dan sebagaianya. Dan semua terekam dalam ingatannya yang tajam. Rupanya untuk inilah Allah sengaja memberi Adam berbagai pengetahuan selama di sorga, sebagai pengelola dan pengembang alam dunia.

Saya coba mengutip dari wikipedia, tentang gambaran sosok Adam :

-------------

Menurut hadits dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Menurut ajaran Islam, Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian yang menutup aurat, berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah serta syariat khusus untuk manusia saat itu. 

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia adalah makhluk penghuni surga yang penuh peradaban maju. Turun ke muka bumi bisa dikatakan sebagai Manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (Pemimpin) di muka bumi dan ia dikatakan jenis makhluk terbaru di muka bumi yang sebelumnya belum pernah ada.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik (diCiptakan Allah sebagai Mahkluk yang paling Sempurna). Sesuai dengan Surah Al Israa’ 70, yang berbunyi:
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al Israa’ 17:70)
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." ( At Tiin 95:4)
 ------------

Sosok yang luar biasa bukan? Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui yang sesungguhnya.

Sekarang mari kita tinggalkan sejenak Adam yang tengah termangu di pinggir lautan lepas. Kita lihat bagaimana kondisi Hawa, sang istri terkasih yang sedang dilamunkan Adam saat itu.

Tatkala Allah menurunkan mereka berdua ke muka bumi, bukan main sedih perasaan Hawa. Bukan hanya karena diturunkan secara terpisah, akan tetapi yang jadi bahan pikirannya adalah bagaimana nasib suaminya, yaitu Adam.

Ada kisah luar biasa mengenai perjalanan Hawa bertemu Adam. Kutipan berikut saya ambil dari dakwatuna.com :

------------

“Sejak diturunkan ke bumi, Hawa terus memikirkan Nabi Adam. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sanggup hidup sendirian di bumi ini? Hawa bertekad untuk bertemu Nabi Adam. Hawa terus berjalan menyusuri bumi. Sesekali ia beristirahat sambil makan buah-buahan. Ia terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan Nabi Adam. Hawa tiba di sebuah padang pasir dan bukit yang sangat gersang.  Ia sudah sangat kelelahan dan hampir putus asa. Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Rupanya Allah mengabulkan doanya. Hawa melihat sosok yang sangat ia kenali. Ia adalah Nabi Adam. Hawa memanggil Nabi Adam dan Nabi pun memanggil Hawa dengan penuh kerinduan. Inilah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.”

 Itulah sepenggal kisah tentang pertemuan Adam dan Hawa di bumi dalam buku “Ensiklopedia Kisah Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Mungkin kisah ini pun menggambarkan manusia pada umumnya. Tabiat perempuan yang peduli tergambar jelas dalam penggalan cerita di atas. Hawa terus memikirkan Nabi Adam dan ingin segera bertemu dengan Nabi Adam. Apa alasannya? Ternyata, bukan karena sekadar melepas rindu dirinya pada Adam, tapi lebih memikirkan bagaimana keadaan Nabi Adam sekarang? Apakah Adam sanggup hidup sendiri di bumi? Hawa tak memikirkan dirinya sendiri. Itulah sifat dasar perempuan, ketika memutuskan sesuatu ia selalu mempertimbangkan orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.

-----------

Buku ini banyak mengupas tentang perasaan dan pengembaraan Hawa dalam menemukan Adam. Penulis mengibaratkannya seperti tulang rusuk yang menemukan tubuhnya kembali. Yuk kita simak lagi.

----------

Hawa pun terus berusaha menelusuri bumi demi bertemu Adam. Uniknya, di buku ini tak diceritakan bagaimana usaha Adam menemukan Hawa, tapi lebih kepada bagaimana usaha Hawa menemukan Adam. Pastinya tak bisa dipungkiri juga bahwa tentunya Adam pun berusaha keras untuk bertemu dengan Hawa karena di syurga yang penuh kenikmatan saja Adam membutuhkan seorang teman, bagaimana dengan ketika di bumi yang berbeda jauh dari segi kenikmatan di syurga?  Tentu Adam sangat membutuhkan seorang teman terlebih ketika berada di bumi. Dan tentunya ada rasa kehilangan ketika Hawa yang biasanya menemaninya di syurga tak ada di sisinya.
Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam. Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya.

-----------

Kini kita ikuti perjalanan Adam dalam menemukan Hawa. Ada hikmah yang bisa kita ambil dalam kejadian ini, bahwa sesulit apa pun perjalanan atau masalah, pasti ada jalan keluarnya. Asal kita mau selalu berusaha, walau sekedar berjalan keluar atau pun berbicara dengan orang lain. Susah kalau selalu berharap dapat mengatasi masalah dengan hanya berdiam diri saja. Kucing aja harus jalan dulu baru ketemu makanan. Ayam harus mau nyeker ama matok dulu, baru kenyang. Burung pun terbang, dan pulang dengan perut kenyang. Tentu saja tidak perlu kuatir karena Allah SWT telah menjamin untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya. Kalo tidak tercukupi artinya kontrak hidupnya di dunia ini sudah selesai, demikian sodare-sodare...

Begitulah Adam, yang baru saja melewati jembatan alam (konon sih buatan balatentara kera pimpinan Hanoman, prajuritnya Sri Rama, gitu dech...:p) yang kemudian orang menamai dengan namanya yaitu jembatan Adam (Adam Bridge, lihat gambar!).


Jangan bayangkan kondisi bumi waktu itu seperti saat sekarang. Tentu saja bumi yang masih orisinil dengan lembah dan hutan belantara nan seram. Sekali lagi Adam pun teruji dan mampu melaluinya. Langkahnya tersurut menuju arah matahari tenggelam. Setiap malam menjelang, di sela-sela munajat-nya selalu terselip nama Hawa. Semoga Allah segera mempertemukan mereka. Duh....
Konon beberapa riwayat mengabarkan hingga 40 tahun Adam terlunta seorang diri. Mungkin terpikir oleh kita, subhanallah...lama nian! Tapi coba kita bandingkan dengan usia total hidup Adam. Beliau baru mangkat pada usia 950 tahun! Jadi mungkin 40 tahun adalah standar bila melihat jangka waktu untuk beliau. Belum lagi mengingat postur beliau yang "istimewa", ini mungkin sekali....bisa kita bayangkan bagaimana kalau kita olahraga berlari keliling gelora bung karno, mungkin memakan waktu kurang dari setengah jam, tapi bayangkan waktu yang ditempuh oleh seekor semut....eh, paham kan maksud saya?
Sampai suatu ketika, Adam pun terhenyak melihat pandangan di hadapannya. Kali ini lagi-lagi bertemu dengan lautan. Namun bukan berisi air, tapi pasir halus. Selepas mata memandang tak ada yang nampak selain hamparan pasir. Bahkan matahari pun seolah tenggalam dalam gunung-gunung pasir, diselingi angin sepoi-sepoi, dan perlahan gelap pun mulai menyelimuti sekitar....
Ya, Rabbana Dzolamna Anfusana Wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khoosiriin...
Duhai Allah Tuhan Yang Maha Pengasih, kapankah hamba berjumpa istri hamba, sedang apakah ia gerangan? Ya Rabbi, hamba mengakui segala kekhilafan serta dosa-dosa hamba, ampuni hamba dan istri hamba, masukan kami ke dalam golongan hamba-Mu yang taat dan sholeh, amiin...
Genap sudah 40 tahun Adam berpisah dengan Hawa. Selama waktu tersebut telah membuat keduanya lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih dalam lagi bahwa kehendak Allah pasti yang akan terjadi.
Seperti suatu hari, ketika Hawa sedang duduk berteduh di bawah batu tepi gurun pasir nan gersang, tampak olehnya sosok bayangan yang hampir tidak dipercayainya. Walau masih samar-samar, namun sosok itu begitu sangat di kenalinya. Sosok yang sama seperti dirinya. Bukan, bukan tonggak kayu, atau lambaian daun kurma yang seringkali menipu. Bukan pula sosok iblis yang kerap kali mentertawakan penderitaannya. Tidak. Kali ini ia yakin tidak mungkin salah lihat. 
Itu Adam, suamiku...!
Deru batin Hawa setengah menjerit. Ah..betapa lusuh, sosok yang gontai habis menempuh perjalanan jauh. Kasihan, betulkah itu dia? Ataukah ini kelakuan si iblis penipu itu yang kerap memberikan mimpi-mimpi palsu? Tidak..tidak...sejak munajat tadi malam, dia yakin bahwa Allah Maha Pengasih, tidak akan membuatnya terus menerus seperti sekarang ini, seorang diri....
"Adaaam....!" 
Kali ini bukan dalam hati lagi. Sosok itu pun berhenti. Merasa ada yang memanggil namanya, ia pun menoleh, dan...
"Haw..waa...?"
Tak ayal lagi, Hawa pun lantas berlari menghambur ke haribaan sang suami sambil berurai air mata bahagia. Begitu pula sang suami. Genap sudah kerinduannya terbayarkan. Sungguh Allah tidak pernah menyalahi janji. Sungguh Allah mendengar doa-doanya, dan mengabulkannya. Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar....
Tempat pertemuan itu kini di kenal dengan nama Jabal Rahmah, atau Gunung Kasih Sayang, karena kenang-kenangan pertemuan kedua manusia pertama tersebut. Sekitar Arafah, Saudi Arabia. Para jemaah haji biasanya meluangkan waktu mampir ke tempat tersebut disela-sela perjalanan haji mereka.
TO BE CONTINUED ...
  






4 komentar:

  1. kpn posting lg kang? udh lama

    BalasHapus
  2. siap kang...blom sempet terus nih, insya Allah secepatnya...kangen juga udh lama gak nulis. tks ya udah mampir..

    BalasHapus
  3. Saya suka baca artikel di blog Akang, penuh inspirasi dan memberikan tambahan pengetahuan. Diantos postingan berikutnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nuhun kang...boleh juga diliat blog saya lainnya, sandiswastika.blogspot.com, mudah-mudahan cocok ya kang...:)

      Hapus