Jumat, 24 Januari 2014

Kisah Anak Manusia (3)

"Ini Jumat pagi. Hari dimana aku diciptakan Tuhanku", Adam membatin sendirian. Dan hari ini adalah hari dimana qurban putera-puteranya akan dinilai langsung oleh Allah. Sejak kemarin dia tidak melihat kedua anak lelakinya. Sejak dia menyampaikan perintah qurban, mereka berdua menghilang entah kemana. Sedang mempersiapkan qurban mungkin, entahlah. Tapi yang jelas, pagi ini seharusnya mereka sudah datang ke atas bukit seberang tempat qurban kedua puteranya dipersembahkan. Begitu wahyu yang dia terima.

Perasaan gamang Adam yang sedang berjalan mondar-mandir di teras rumah mereka, tak luput dari perhatian istrinya, Hawa. Ya, sebagai seorang ibu, rupanya kejadian yang menimpa kedua puteranya itu turut pula membuatnya gelisah. Masih terbayang olehnya bagaimana dia menimang bayi-bayi kembar yang mungil dan indah, itulah saat saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Generasi manusia baru telah dilahirkan. Lahir dari dalam dirinya. Masih teringat betapa bingungnya ia dengan kondisi badannya yang tiba-tiba berubah, membesar. Kalau saja tidak ada malaikat yang datang dan menenangkannya, ingin rasanya menjatuhkan diri dari ketinggian. Masih terasa ketika sakitnya melahirkan, namun semuanya segera tergantikan dengan kehadiran "manusia baru" yang mungil dan cantik. Dan hari ini darah dagingnya akan diuji Allah, betapa tidak gelisah, betapa tidak lunglai, ya Rabb, mereka semua anak-anakku, terimalah qurban mereka!! jerit batin Hawa.

Sampai hari menjelang siang belum kelihatan kehadiran Qabil dan Habil. Perasaan Adam mulai gelisah. Kuatir tidak bisa melaksanakan qurban yang mereka janjikan kepada Allah. Tapi Adam yakin bahwa anak-anaknya bukanlah pengecut. Mereka bukan pribadi yang lari dari pertempuran. Mungkin mereka masih menyiapkan apa yang hendak diqurbankan. Adam pun berusaha untuk bersabar.

Dan tak lama remang-remang nampaklah Habil pulang sendirian. Tidak. Tidak sendirian. ia seperti membawa sesuatu. Ya, sesuatu yang berjalan dibelakangnya, dan besar.

Seekor domba besar. Apakah Habil hendak mengurbankan seekor domba?

"Ayah...ini dia qurbanku. Aku sudah dapat ayah...semoga Allah ridho." ujar Habil berseri.
Adam masih tertegun.
"Ayah....?" Habil mendekat.
"Darimana kau dapat domba ini, Nak?" Adam bertanya, terharu.
"Aku menemukannya di pinggiran hutan, Ayah, tempat yang dulu pernah Ayah tunjukkan padaku."
Itu sangat jauh! Adam berkata dalam hati. Sungguh anakku ini pantas menjadi hamba terbaik-Nya, dia sudah mengerahkan diri mencari yang terbaik untuk berqurban kepada rabb-nya.

"Mana kakakmu, Nak?" tanya Adam heran karena tidak melihat bayangan Qabil.
"Lho...memangnya belum pulang juga, Yah?", jawab Habil terlihat heran juga. "Kami mengambil arah jurusan yang berbeda. Kulihat dia menuju ke selatan."

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Saya akan memohon restu ayah dan berangkat saat ini juga menuju bukit tempat persembahan qurban. Takut terlambat, mumpung hari masih terang sebelum matahari tenggelam," jelas Habil mantap.

"Berangkatlah, Nak. Semoga Allah menerima qurbanmu..." Mata Adam berkaca-kaca. Ada sesuatu dalam perasaannya yang tak dapat ia ungkapkan. Kasihan, terharu, bangga bercampur sedih.
"Letakkan ditempat yang seharusnya, lalu cepat pulang karena malam ini Allah akan memilih salahsatu qurban diantara kalian berdua.."
"Baik Ayah...Habil pamit..."

Habil pun berangkat menuju bukit sambil menuntun qurbannya. Sementara itu tiga wanita memandangi dari kejauhan. Ibunda Hawa, Iqlima dan adiknya Labuda saudara Habil. Labuda menatap dengan harapan Allah menerima qurban saudaranya itu. Dia tahu siapa Habil. Baginya kakak kembarnya itu sudah seperti satu dalam dirinya. Seolah apa yang Habil pikirkan, juga yang dia pikirkan. Labuda yakin kakak kembarnya bukan orang yang rakus, apalagi ambisius.

Dari dulu juga tidak begitu. Dia yakin kakaknya cuma sekedar ingin menolong menyelesaikan persoalan diantara mereka, serta membantu ayahnya menuntaskan misi kenabian dalam menjaga kelangsungan keturunan umat manusia.

Labuda sendiri tidak pernah mempermasalahkan Habil menikah dengan siapa. Bahkan sejak awal tidak pernah terbayangkan harus melakukan kawin silang sesama saudara sendiri. Tapi inilah perintah Allah. Dan semua ini kewajiban yang harus dijalankan oleh hamba-hamba-Nya yang ta'at. Bila dulu ayah dan ibu pernah diuji dengan pohon khuldi. Sekarang inilah ujian anak-anaknya. Baginya ketaatan kepada Allah diatas segalanya bahkan sekedar kepentingan pribadi sekalipun.

Seringkali orang tua mereka me-wanti-wanti agar berhati-hati terhadap tipu daya sang musuh, yaitu Iblis dan keturunannya, yang selalu ingin berusaha mencelakakan mereka. Tapi Ayah juga selalu berpesan agar selalu meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah dari segala macam gangguan musuh-Nya.

"Iqlima...kau tahu kemana perginya kakakmu Qabil? Sampai malam begini kok belum pulang juga?" Suara Hawa memecah kesunyian.
Iqlima menggeleng. "Tidak Bu, dia tidak pernah bilang kalau pergi kemana pun."
"Kamu Labuda?"
"Kalau kakak cantik saja tidak....apalagi saya Bu." sahut Labuda sambil mesem sambil melirik Iqlima yang mendelik padanya. Perihal Iqlima yang naksir kakaknya Habil, sebagai sesama perempuan dia tahu betul meski disembunyikan dimana pun. Yang bikin kacau, Qabil ini yang suka ngejar-ngejar Iqlima. Ceilee..kayak gak ada wanita lain saja. Kan masih ada aku. Namun Labuda lebih cenderung pasrah menerima segala ketentuan Allah.

Hari semakin malam. Hujan turun rintik-rintik. Namun seluruh keluarga manusia ini belum ada yang tidur. Semua memikirkan keberadaan Qabil maupun Habil.

"Ayah...Ibu..." terdengar teriakan dari luar rumah. Semua terbangun. Adam yang paling dulukeluar rumah.

"Qabil? kamu darimana? sudah selesai qurbannya?"
Habil nyengir.
"Sudah, tinggal saja kelamaan..."
"Adikmu?"
"Aku juga pulang, Yah..." terdengar suara Habil di belakang kakaknya.

"Alhamdulillah...cepat masuk. Hujan semakin deras." Adam menyuruh keduanya masuk ke dalam rumah.
"Malam ini Allah akan menentukan langsung keputusan pernikahan kalian. Ayah mohon apa pun yang terjadi semuanya harus ikhlas, inilah ketentuan yang telah diatur oleh-Nya."

Semua tertegun.

"Kamu Qabil harus menerima bahwa ini semua bukanlah kemauan Ayah, tapi wahyu dari Allah, Tuhan kita semua, yang Maha Pengatur segalanya. Jadilah hamba yang baik dan bersabarlah. Semoga Allah memberkahi kita semua, aamiin.." Adam menutup penjelasannya.

Malam itu semuanya menunggu apa yang akan terjadi. Dan besok hari akan segera diketahui, apa yang menjadi keputusan Allah....


TO BE CONTINUE...

Senin, 20 Januari 2014

Kisah Anak Manusia (2)

Kita tinggalkan Qabil yang sedang menggerutu sendiri.....

Kembali kita lihat bagaimana perasaan Adam tatkala ditinggal putranya yang dia banggakan, penerus cita-cita perjuangan hidup. Qabil merupakan bayangan dirinya sewaktu dulu masih muda. Masih terbayang di pelupuk matanya bahwa seusia Qabil itulah dia berdiri tegak di Syurga, berpakaian gemilau, menyebutkan nama-nama terindah, mengalahkan semua penantangnya, yang akhirnya membuat seluruh malaikat pun bersujud di hadapannya.

Tidak. Tidak semuanya.

Ada sosok yang sejak awal memang suka nyeleneh dan congkak, selalu membuang muka bila bertemu dirinya. Adam tidak begitu kenal sosok ini, yang dia kenal cuma namanya saja, Azazil. Yang konon kesaktiannya melebihi para malaikat. Tapi buktinya dalam pertandingan ini, tidak bisa apa-apa, tetap dia - Adam - yang muda, gagah, tampan dan cerdas, mampu mengalahkan mereka semua.

Terbayang olehnya bagaimana Azazil meludah kepadanya dan tak mau mengikuti perintah Allah untuk bersujud mengakui kekalahannya dari Adam. Masih terngiang olehnya bagaimana sumpah serapah makhluk itu tatkala Allah melaknat dia dan keturunannya sampai kiamat dan dimasukan Neraka. Anehnya, Azazil bukannya minta ampun kepada Allah, malah dengan mata merah...marah! Meminta perpanjangan waktu, tidak ada esok, tidak ada sakit...dan tidak ada kematian baginya. Dan hebatnya Allah pun mengabulkan permintaannya yang spesial itu, yaitu si Azazil ini tidak akan menemui kematian hingga hari kiamat!

Dan di usirlah makhluk sombong itu dari Jannah. Allah pun merubah bentuknya menjadi lebih buruk dari semula, dan lebih menjijikan...sesuai dengan keadaan batinnya yang kafir dan menentang Allah....dan digelari dengan nama Iblis, artinya makhluk yang terputus dari rahmat Allah...

Ahh...." Adam pun mengusap wajahnya. Itu masa lalu, bisiknya lirih...
Dalam hatinya terbersit rasa kuatir akan kebencian Iblis terhadap dirinya, dan ini senantiasa mengganggunya. Seperti apa yang menimpa mereka berdua, tatkala tengah mereguk kebahagiaan dan kenikmatan Syurga, ternyata kedengkian Iblis melebihi segalanya. Hingga akhirnya mereka berdua - Adam dan Hawa - tertipu oleh janji palsu dan sejuta kebohongan si Iblis Laknatullah...

"....Aku bersumpah dihadapan Engkau, Wahai Tuhanku, akan aku sesatkan Adam beserta keturunannya, dan akan Kau dapati mereka orang-orang yang kufur...!"

Bagai kilat menyambar kepala Adam saat teringat sumpah si Iblis di hadapan Allah kala itu. Ya, kenapa dia tak ingat hal ini saat mendekati buah khuldi? Dan sekarang, takkan kubiarkan makhluk keparat itu mengganggu anak-anakku, tidak...tidak akan!!!

Maka Adam pun bergegas mengumpulkan putra putrinya, memberikan wejangan tentang keutamaan menghamba kepada Allah, menjauhi syirik. Dan selalu berhati-hati terhadap musuh utama kedua ibu bapak mereka yang telah bersumpah untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Semua manggut-manggut paham. Adam pun menatap puas, sampai terhenti matanya pada sebuah kursi yang sejak awal kosong. Itulah kursinya Qabil. Ya, sejak peristiwa kemarin, Qabil minggat dan hingga sekarang belum juga pulang. Adam sangat mengkuatirkan puteranya yang satu itu. Maka dia pun meminta Habil untuk bergegas mencari keberadaan kakaknya. Dan Habil pun tanpa menunggu lama langsung beranjak pergi.

Namun tak lama Habil kembali lagi membuat semua yang duduk terheran-heran.

"Ada apak Habil? bukankah ayah menyuruhmu untuk mencari kakakmu? Sudahkah kau temukan dia?"
"Aku sudah ketemu ayah.." Jawab Habil mantap.
"Lalu..dimana dia? Kenapa tak kau ajak kemari" Tanya Adam heran
"Aku sudah mengajaknya, namun dia tidak mau sebelum ayah putuskan tentang urusan pernikahan. Menurutku sudah nikahkan saja dia dengan kakak Iqlima ayah, selesai masalah.", Habil menjawab tenang.

Adam paham dengan sifat anaknya satu ini yang memang suka berkorban dan berbudi luhur. Dengan terharu Adam pun berkata, "Tidak Habil, ketentuan itu bukan dari ayah, tapi wahyu yang ayah terima dari tuhan kita, Allah SWT, kita diperintahkan untuk menjalankan segala apa yang Dia Titahkan, itu saja. segala sesuatu berasal dariNya, dan harus kembali kepada-Nya. Baiklah, ayah akan berdoa memohon petunjuk kepada Allah bagaimana cara mengatasi persoalan ini..."

Berhari-hari Adam berdoa memohon ampunan dan petunjuk Allah tentang apa yang harus dia lakukan terkait dengan pernikahan putra putrinya. Hingga suatu pagi, dengan wajah ceria Adam memanggil Habil dan berkata, " Habil....panggil segera kakakmu, ayah sudah mendapat wahyu dari Allah tentang urusan pernikahan kalian....!"

Tak lama Qabil pun datang diiringi Habil dibelakangnya.

"Bagaimana ayah, sudah ada keputusan? Jadi ayah akan menikahkanku dengan Iqlima kan?"

"Weee..." Terdengar suara seperti mau muntah. Semuanya melirik, itu suara Iqlima.
"Kamu sakit anakku?" Tanya Adam kuatir.
"Tidak ayah, dia cuma senang akan segera bersanding denganku hehe..., ya kan adikku yang cantik??" Qabil melirik adiknya, genit.

Yang dilirik mendelik sewot. Sebal hatinya dengan kelakuan kakaknya yang selalu bikin masalah. Sebenarnya ketika kakaknya menghilang rumah sedikit tenang, dan dia bisa lebih leluasa berduaan dengan Habil. Ketika mendengar bahwa Allah telah menjodohkannya dengan Habil, sungguh dia merasa Allah mendengar doa-doanya, Habil...Habil...Habil...suamiku, Ya Allah...Engkau sungguh Maha Tahu perasaan hamba...

Ya, bahkan dari kedua orang tuanya pun perasaan itu selalu dia sembunyikan. Perannya tampil sebagai kakak perempuan yang perhatian terhadap adik-adiknya, dia jalankan dengan sempurna. Dan ketenangannya itu berbuah dengan Allah memilihkan seorang suami terbaik baginya...Habil.

Sungguh, betapa bingung hatinya ketika ayahnya menyampaikan kabar wahyu terbaru tentang rencana pernikahannya dengan Habil. Apakah ayahnya akan memutuskannya menikah dengan kakak kembarnya sendiri, Qabil? Sungguh ini hal yang paling tidak dia harapkan. bahkan membayangkannya saja sudah membuatnya mual. makanya tatkala Qabil datang tiba-tiba terasa perutnya eneg...dan...

"Allah memutuskan kalian berdua, Qabil, dan kamu Habil, untuk mempersembahkan Qurban. Barangsiapa yang Allah terima Qurbannya, maka dialah yang berhak menikahi Iqlima, demikian wahyu Allah Tuhanmu, telah aku sampaikan..." Adam menyampaikan wahyu dengan jelas.

Habil segera berkata,"Baik ayah, akan segera kupenuhi perintah Allah"
Kemudian ia pun pergi.

Sementara Qabil terdiam. Apa yang akan dilakukannya? Kenapa harus Qurban? buat apa?
Ini pasti sekedar akal-akalan ayah saja, untuk menunda perkawinanku dengan iqlima. Tapi kenapa? Memang apa yang diinginkan Tuhan? Sapi? kambing? rumput?

Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepala Qabil. Sampai semuanya pergi, dia masih tercenung
memikirkan apa yang akan dia persiapkan untuk qurbannya esok hari.


TO BE CONTINUED...


Kisah Anak Manusia (1)

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh...

Ikhwah sekalian yang dirahmati Allah, alhamdulillah disela kesibukan ingin rasanya kembali menulis, melanjutkan rencana semula, yaitu memberikan ragam informasi seputar sejarah peradaban yang akurat dan bisa menjadi dasar pemahaman dalam memahami kehidupan. Tulisan saya ambil dari berbagai sumbat er yang sudah mashur seperti wikipedia, ensiklopedi dan beberapa literatur lain, yang saya rangkum dalam satu web yang singkat padat dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Mari kita kembali ikuti perjalanan manusia pertama yang baru turun dari "langit" ke planet bumi nan indah...

========================

Adam dan Hawa pun hidup berbahagia. Adam mulai belajar menggembala kambing, bercocok tanam, membuat bangunan. Diantara bangunan pertama yang beliau dirikan adalah pondasi kaabah, sebagai pusat peribadatan. Begitu pula Hawa, yang mulai belajar memasak dan menjahitkan baju, seperti yang pernah mereka lihat sewaktu di syurga dulu.

Hari pun berganti. Tahun berlalu. Alangkah sepi hidup di dunia yang luas hanya berduaan saja. Maka tatkala Adam memohon "teman kesepian", Allah ciptakan dari "saripati tanah" dalam diri Adam menjadi keturunan serupa dengannya. Dan Hawa pun mengandung anak pertama.

Memasuki bulan kesembilan, Hawa pun melahirkan. Dan ternyata anak pertamanya kembar. Laki dan perempuan. Cermin kegagahan Adam dan kecantikan Hawa ada pada kedua anaknya. Dan diberi nama yang laki-laki dengan Qabil atau Kain dan yang perempuan bernama Iqlima atau Qalima.

Setahun kemudian, Hawa pun kembali melahirkan anaknya yang lain. Masih kembar juga. Laki dan perempuan juga. Inilah dia Habil dan Labuda. Mulailah rumah Adam terasa sempit dan hiruk pikuk suara anak-anak tertawa dan kadang menangis. Alangkah indahnya hati Adam dan Hawa. "Akan kudidik mereka menjadi hamba Allah yang sesungguhnya, sehingga mereka dapat mencicipi syurga seperti yang dulu pernah kurasakan, begitu batin Adam....

Dengan sabar Ayah Adam dan Ibunda Hawa pun merawat putra putrinya. Dikenalkan mereka tentang siapa Tuhannya, dan apa kewajiban hidupnya. Diantara kedua anak laki-laki, adik dan kakak sungguh berbeda wataknya. Qabil yang periang dan agresif. Segala sesuatu selalu ditanyakan pada ayahnya Adam. Dalam hal kecerdasan tampak ia lebih menonjol dibanding yang lainnya. Gerakannya gesit dan lincah. Adam suka dengan anaknya yang sulung ini, walau timbul kekhawatiran bila suatu hari terjadi hal yang tidak memuaskan anaknya, menimbang wataknya yang istimewa. Sementara Habil cenderung pendiam, dan menurut saja apa yang dikatakan kakaknya, maupun kedua orang tuanya. Namun ada suatu hal yang tampak lebih dari yang lain, Habil lebih suka merenung dan tampak ibadahnya lebih rajin. Mulutnya tidak banyak berkata, tapi nampak akalnya cerdas. Tidak ada yang tahu apa yang Habil pikirkan. Hanya senyumnya yang nampak terkembang bila bertemu setiap orang. Ah, Habil memang pemuda yang baik....

Waktu pun terus berjalan. Putra puteri Adam telah tumbuh menjadi dewasa. Qabil telah menjadi lelaki yang tampan dan gagah, sorot matanya tajam menunjukan kecerdasan sempurna dari sosok anak manusia. Sementara Habil pun sudah berubah menjadi sosok yang alim dan cerdas. Tatapannya lembut. Orang selalu tenang hatinya bila bertemu dengannya. Ada satu sosok yang kerap memperhatikan Habil bila sedang sendirian. Sosok nan lembut, berambut panjang, dan teramat cantik.....itulah sosok Iqlima....

Sudah sejak lama Iqlima menaruh hati terhadap Habil yang notabene adiknya sendiri. dari sejak remaja mereka bermain bersama dia lebih senang bermain dengan Habil yang baik. Dibanding saudaranya sendiri, Qabil, yang cenderung congkak, merasa paling gagah dan ganteng, dia lebih memilih bersama Habil. Entah mengapa, apa mungkin karena Habil yang selalu bersikap lembut terhadap semua orang? atau senyum Habil yang sering bikin wanita termenung-menung sepeninggalnya (hehehe...), atau...atau...adakah Habil pernah sesekali berpikir tentang dirinya?? ahh...Iqlima tak mau memikirkan kelanjutannya yang seolah mustahil. Bukankah Habil adalah adiknya sendiri??

Labuda sendiri lebih banyak diamnya, mungkin karena parasnya tidak secantik kakaknya. Atau memang pembawaannya demikian. Dia lebih senang membantu ibunya memasak, atau membersihkan rumah. Dalam hal ini Labuda lebih rajin dari kakak perempuannya, yang cenderung kadang suka berdandan seharian. Labuda lebih senang "isi" dari sekedar polesan. Baginya hakikat segala sesuatu adalah menggapai ridho Allah. Dan ridho Allah bersama ridho kedua orang tuanya.

Keempat putera-puteri Adam kini sudah dewasa. Sudah saatnya memiliki pasangan masing-masing. Namun masalahnya dengan siapa mereka akan dinikahkan?

Maka Allah pun mewahyukan kepada Adam agar menikahkan anak-anaknya secara bersilang. Artinya Qabil menikah dengan kembarannya Habil yaitu Labuda, sementara Habil dengan.....enak saja!! Kontan Qabil pun bersungut-sungut, dan protes seraya beranjak pergi, meninggalkan Adam, Hawa dan semua hadirin yang kebingungan....

Aku harus menikah dengan anak perempuan gendut dan hitam itu? Nanti dulu, pasti ini ada yang salah!! Begitu pikir Qabil sambil duduk termenung di balik batu Jabal Nur.

Kenapa ayah tega melakukan semua ini? Bukankah dia tahu bahwa aku lebih mencintai Iqlima? Ya, hanya Iqlima yang pantas bersaing denganku. Adikku yang satu ini dalam segalanya jauh melebihi gadis kecil tambun, yang jalanpun terkadang susah, hhh...abi..abi...ada-ada saja si abi...." desis Qabil setengah menggerutu....


TO BE CONTINUE ...