Selasa, 05 Juni 2012

Turunnya Adam di Bumi (3)

Masih seputar Adam yang terlunta-lunta di bumi Allah yang baru. Sebagai khalifah, kini ia mulai memahami tugasnya. Ia mulai dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Bahkan seluruh alam tercipta seolah untuk melayaninya. Adam sudah mampu memelihara domba dan menanam pepohonan. Bahkan dia juga mampu menjinakkan kuda untuk tunggangan.

Kita tentu masih ingat, bagaimana kecerdasan Adam ketika di uji Allah bersama para malaikat dan jin, yang akhirnya semua mengakui keunggulannya. Dan dengan kecerdasan yang sama itulah kini dia menaklukan dunia. Jangan pernah terbayang oleh kita bahwa sosok Adam adalah seperti gambaran para pendukung teori evolusi, yaitu kumuh, kucel, telanjang, dan bodoh...

Tidak! Adam adalah sesuatu yang baru, yang sengaja Allah persembahkan untuk mengelola dan memperindah bumi ini. Adam berasal dari tempat yang memiliki peradaban yang sangat maju, yang mengenal berbagai rupa keindahan perhiasan, pakaian, dan sebagaianya. Dan semua terekam dalam ingatannya yang tajam. Rupanya untuk inilah Allah sengaja memberi Adam berbagai pengetahuan selama di sorga, sebagai pengelola dan pengembang alam dunia.

Saya coba mengutip dari wikipedia, tentang gambaran sosok Adam :

-------------

Menurut hadits dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Menurut ajaran Islam, Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian yang menutup aurat, berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah serta syariat khusus untuk manusia saat itu. 

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia adalah makhluk penghuni surga yang penuh peradaban maju. Turun ke muka bumi bisa dikatakan sebagai Manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (Pemimpin) di muka bumi dan ia dikatakan jenis makhluk terbaru di muka bumi yang sebelumnya belum pernah ada.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik (diCiptakan Allah sebagai Mahkluk yang paling Sempurna). Sesuai dengan Surah Al Israa’ 70, yang berbunyi:
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al Israa’ 17:70)
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." ( At Tiin 95:4)
 ------------

Sosok yang luar biasa bukan? Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui yang sesungguhnya.

Sekarang mari kita tinggalkan sejenak Adam yang tengah termangu di pinggir lautan lepas. Kita lihat bagaimana kondisi Hawa, sang istri terkasih yang sedang dilamunkan Adam saat itu.

Tatkala Allah menurunkan mereka berdua ke muka bumi, bukan main sedih perasaan Hawa. Bukan hanya karena diturunkan secara terpisah, akan tetapi yang jadi bahan pikirannya adalah bagaimana nasib suaminya, yaitu Adam.

Ada kisah luar biasa mengenai perjalanan Hawa bertemu Adam. Kutipan berikut saya ambil dari dakwatuna.com :

------------

“Sejak diturunkan ke bumi, Hawa terus memikirkan Nabi Adam. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sanggup hidup sendirian di bumi ini? Hawa bertekad untuk bertemu Nabi Adam. Hawa terus berjalan menyusuri bumi. Sesekali ia beristirahat sambil makan buah-buahan. Ia terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan Nabi Adam. Hawa tiba di sebuah padang pasir dan bukit yang sangat gersang.  Ia sudah sangat kelelahan dan hampir putus asa. Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Rupanya Allah mengabulkan doanya. Hawa melihat sosok yang sangat ia kenali. Ia adalah Nabi Adam. Hawa memanggil Nabi Adam dan Nabi pun memanggil Hawa dengan penuh kerinduan. Inilah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.”

 Itulah sepenggal kisah tentang pertemuan Adam dan Hawa di bumi dalam buku “Ensiklopedia Kisah Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Mungkin kisah ini pun menggambarkan manusia pada umumnya. Tabiat perempuan yang peduli tergambar jelas dalam penggalan cerita di atas. Hawa terus memikirkan Nabi Adam dan ingin segera bertemu dengan Nabi Adam. Apa alasannya? Ternyata, bukan karena sekadar melepas rindu dirinya pada Adam, tapi lebih memikirkan bagaimana keadaan Nabi Adam sekarang? Apakah Adam sanggup hidup sendiri di bumi? Hawa tak memikirkan dirinya sendiri. Itulah sifat dasar perempuan, ketika memutuskan sesuatu ia selalu mempertimbangkan orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.

-----------

Buku ini banyak mengupas tentang perasaan dan pengembaraan Hawa dalam menemukan Adam. Penulis mengibaratkannya seperti tulang rusuk yang menemukan tubuhnya kembali. Yuk kita simak lagi.

----------

Hawa pun terus berusaha menelusuri bumi demi bertemu Adam. Uniknya, di buku ini tak diceritakan bagaimana usaha Adam menemukan Hawa, tapi lebih kepada bagaimana usaha Hawa menemukan Adam. Pastinya tak bisa dipungkiri juga bahwa tentunya Adam pun berusaha keras untuk bertemu dengan Hawa karena di syurga yang penuh kenikmatan saja Adam membutuhkan seorang teman, bagaimana dengan ketika di bumi yang berbeda jauh dari segi kenikmatan di syurga?  Tentu Adam sangat membutuhkan seorang teman terlebih ketika berada di bumi. Dan tentunya ada rasa kehilangan ketika Hawa yang biasanya menemaninya di syurga tak ada di sisinya.
Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam. Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya.

-----------

Kini kita ikuti perjalanan Adam dalam menemukan Hawa. Ada hikmah yang bisa kita ambil dalam kejadian ini, bahwa sesulit apa pun perjalanan atau masalah, pasti ada jalan keluarnya. Asal kita mau selalu berusaha, walau sekedar berjalan keluar atau pun berbicara dengan orang lain. Susah kalau selalu berharap dapat mengatasi masalah dengan hanya berdiam diri saja. Kucing aja harus jalan dulu baru ketemu makanan. Ayam harus mau nyeker ama matok dulu, baru kenyang. Burung pun terbang, dan pulang dengan perut kenyang. Tentu saja tidak perlu kuatir karena Allah SWT telah menjamin untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya. Kalo tidak tercukupi artinya kontrak hidupnya di dunia ini sudah selesai, demikian sodare-sodare...

Begitulah Adam, yang baru saja melewati jembatan alam (konon sih buatan balatentara kera pimpinan Hanoman, prajuritnya Sri Rama, gitu dech...:p) yang kemudian orang menamai dengan namanya yaitu jembatan Adam (Adam Bridge, lihat gambar!).


Jangan bayangkan kondisi bumi waktu itu seperti saat sekarang. Tentu saja bumi yang masih orisinil dengan lembah dan hutan belantara nan seram. Sekali lagi Adam pun teruji dan mampu melaluinya. Langkahnya tersurut menuju arah matahari tenggelam. Setiap malam menjelang, di sela-sela munajat-nya selalu terselip nama Hawa. Semoga Allah segera mempertemukan mereka. Duh....
Konon beberapa riwayat mengabarkan hingga 40 tahun Adam terlunta seorang diri. Mungkin terpikir oleh kita, subhanallah...lama nian! Tapi coba kita bandingkan dengan usia total hidup Adam. Beliau baru mangkat pada usia 950 tahun! Jadi mungkin 40 tahun adalah standar bila melihat jangka waktu untuk beliau. Belum lagi mengingat postur beliau yang "istimewa", ini mungkin sekali....bisa kita bayangkan bagaimana kalau kita olahraga berlari keliling gelora bung karno, mungkin memakan waktu kurang dari setengah jam, tapi bayangkan waktu yang ditempuh oleh seekor semut....eh, paham kan maksud saya?
Sampai suatu ketika, Adam pun terhenyak melihat pandangan di hadapannya. Kali ini lagi-lagi bertemu dengan lautan. Namun bukan berisi air, tapi pasir halus. Selepas mata memandang tak ada yang nampak selain hamparan pasir. Bahkan matahari pun seolah tenggalam dalam gunung-gunung pasir, diselingi angin sepoi-sepoi, dan perlahan gelap pun mulai menyelimuti sekitar....
Ya, Rabbana Dzolamna Anfusana Wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khoosiriin...
Duhai Allah Tuhan Yang Maha Pengasih, kapankah hamba berjumpa istri hamba, sedang apakah ia gerangan? Ya Rabbi, hamba mengakui segala kekhilafan serta dosa-dosa hamba, ampuni hamba dan istri hamba, masukan kami ke dalam golongan hamba-Mu yang taat dan sholeh, amiin...
Genap sudah 40 tahun Adam berpisah dengan Hawa. Selama waktu tersebut telah membuat keduanya lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih dalam lagi bahwa kehendak Allah pasti yang akan terjadi.
Seperti suatu hari, ketika Hawa sedang duduk berteduh di bawah batu tepi gurun pasir nan gersang, tampak olehnya sosok bayangan yang hampir tidak dipercayainya. Walau masih samar-samar, namun sosok itu begitu sangat di kenalinya. Sosok yang sama seperti dirinya. Bukan, bukan tonggak kayu, atau lambaian daun kurma yang seringkali menipu. Bukan pula sosok iblis yang kerap kali mentertawakan penderitaannya. Tidak. Kali ini ia yakin tidak mungkin salah lihat. 
Itu Adam, suamiku...!
Deru batin Hawa setengah menjerit. Ah..betapa lusuh, sosok yang gontai habis menempuh perjalanan jauh. Kasihan, betulkah itu dia? Ataukah ini kelakuan si iblis penipu itu yang kerap memberikan mimpi-mimpi palsu? Tidak..tidak...sejak munajat tadi malam, dia yakin bahwa Allah Maha Pengasih, tidak akan membuatnya terus menerus seperti sekarang ini, seorang diri....
"Adaaam....!" 
Kali ini bukan dalam hati lagi. Sosok itu pun berhenti. Merasa ada yang memanggil namanya, ia pun menoleh, dan...
"Haw..waa...?"
Tak ayal lagi, Hawa pun lantas berlari menghambur ke haribaan sang suami sambil berurai air mata bahagia. Begitu pula sang suami. Genap sudah kerinduannya terbayarkan. Sungguh Allah tidak pernah menyalahi janji. Sungguh Allah mendengar doa-doanya, dan mengabulkannya. Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar....
Tempat pertemuan itu kini di kenal dengan nama Jabal Rahmah, atau Gunung Kasih Sayang, karena kenang-kenangan pertemuan kedua manusia pertama tersebut. Sekitar Arafah, Saudi Arabia. Para jemaah haji biasanya meluangkan waktu mampir ke tempat tersebut disela-sela perjalanan haji mereka.
TO BE CONTINUED ...
  






Senin, 04 Juni 2012

Turunnya Adam di Bumi (2)

Di dalam kisah Adam Sang Khalifah (lihat blog ini kategori Peradaban Manusia), terlihat bagaimana Allah begitu memuliakan Adam di atas makhluknya yang lain baik jin maupun para malaikat yang telah Dia ciptakan lebih dulu. Bahkan puncaknya pada peristiwa sujudnya seluruh makhluk, sebagai pertanda takluk, dan bersedia dibawah Adam. Cuma satu yang tetap berdiri, dengan dagu terangkat, tangan bersilang di depan dada dan kaki mengangkang, dengan mata setengah terpicing, meremehkan, pongah, congkak dan menantang!

Itulah dia Azazil, salah satu golongan jin yang merasa risih harus menghormati makhluk kemarin sore.
"Cuih..baru bisa segitu saja sudah minta disembah, gua aja yang udah beratus tahun berdzikir 'en ruku serta sujud, kagak pernah dibeginikan, cuihh...:." hehehe, begitu kira-kira sodare-sodare dalam hatinye si ibelis, nape ngomongnye jadi betawi bgini ye, emangnye si belis orang betawi? pan ntu kagak betul pan sodare-sodare?

Selanjutnya bisa dibaca di artikel yang lalu. Kpanjangan sih...:p

Sekarang kita lihat bagaimana Adam tengah kebingungan di tengah hutan belantara pas tengah-tengahnya, untungnya bukan pas tengah kuburan yang pas tengahnya bolong pas tengah malam pas....halah, maksudnya apa sih?

Maksudnya mah, ngerti dah gitu, gimana suami yang ditinggal pergi istri trus gak pulang-pulang smaleman, trus anaknya nangis, trus hujan lebat diiringi petir menggelegar, trus gak ada makanan sebutir pun di dapur trus anaknya merintih memelas " kapan emak pulang, Beh..?" hehehe, kbayang kan gimana pusing tujuh  kelilingnya si babeh? Nah apalagi Adam yang berada di tengah hutan sendirian, bingung entah di negeri entah berantah mana lagi...:p

Kondisi Adam mungkin bisa dibayangkan seperti orang kaya yang jatuh pailit, seluruh kekayaannya ludes, yang tersisa cuma baju yang nempel di badan doang, itu pun kalo gak malu dan ada yang mau beli, pasti dijual buat nyambung idup. Besok hari  mah, gimana besok aja katanya, idiiih..kok gitu?

Luar biasanya lagi, Adam yang di syurga mengenakan pakaian mewah, tebal, berkilauan, senantiasa memakai wewangian yang harum baunya, tidur di dipan nan empuk, kalo laper sudah terhidang makanan nan lezat serta minuman yang menggiurkan. Gerah dikit, istri disamping siap melayani, kurang apa lagi?

Itulah anehnya kita yang terkadang selalu mencari-cari yang tidak ada dan melupakan kenikmatan yang ada, kenapa kita tidak belajar bersyukur saja? Jangan sampai penyesalan Adam yang telah kehilangan berbagai kenikmatan tersebut turut menimpa kita pula, gara-gara kita yang tidak pandai bersyukur...nah lo :-O

Kondisi Adam benar-benar memprihatinkan, tubuh yang dahulu putih bersih, kokoh dan gagah, kini tiada lagi, berganti dengan tulang dibalut kulit selembar. Tubuhnya kotor, bau, rambut dan janggutnya kotor seradakan, matanya cekung. Tergambar penderitaan lahir-batin begitu hebatnya. Menghadapi alam yang keras dan liar ini, harus bagaimanakah, sementara dia hanya sendirian, sedang istrinya entah di mana pula...

Namun ternyata tidak semuanya hilang. Dalam dirinya masih bersinar kegagahan ilmu pengetahuan yang sempat mengantarkannya ke puncak kekuasaan, mengalahkan seluruh makhluk lain. Dan terutama adalah ilmu tentang ketuhanan, tentang pengenalan akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah. Diapun teringat dengan misi yang akan Allah bebankan kepada dia dan anak keturunannya. Masih terngiang di telinganya detik-detik sesaat sebelum ia diturunkan ke bumi, Allah SWT berfirman kepadanya :

“Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:36)

“Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS 2:38)

Adam sadar, dalam murkaNya, Allah adalah tetap Sang Maha Pengasih. Sebejat apa pun kelakuannya, tetap dikasih kesempatan kembali, bahkan makhluk sebusuk si iblis, yang sudah nyata-nyata menantang Allah, malah di kasih kelapangan dan panjang umur. Bahkan ketika iblis - makhluk yang diciptakanNya - berpaling tanpa berterima kasih, malah melakukan provokasi dan membuat ultimatum penghancuran kepada Adam beserta seluruh keturunannya, Allah tetap lembut dan mengizinkan sesuai dengan keadilan-Nya yang penuh hikmah.

Mengingat Allah, membuat Adam sadar bahwa saat ini tak ada waktu lagi untuk bersedih terus-menerus mengenang masa lalu. Tiba saatnya bekerja keras, kemudian memohon petunjuk kepada Allah serta dikaruniai termasuk hamba-Nya yang mengikuti petunjuk-Nya.

Demikianlah, mulai saat itu Adam pun sudah kembali bergairah. Pakaian syurga yang dulu hilang diganti dengan dedaunan dan kulit kayu. Dia tidak mengeluh, karena inilah kerja keras. Inilah dunia. Dan ia sudah memahami itu. Dia semakin sadar akan kehebatannya sebagai makhluk Allah yang istimewa, yang memang Alah siapkan segala sesuatunya untuk mengelola dunia, sebagai Khalifah fil Ardh, penguasa di muka bumi, pengganti penguasa-penguasa bumi sebelumnya...

Dan ketika dia menginjakan kakinya di sebuah jembatan purba, melongo menatap hamparan lautan yang luas, diapun sadar bahwa dunia bukan sebatas hutan belantara semata. Mulailah terbersit dalam pikirannya untuk mencari sang istri, mudah-mudahan Allah mengabulkan doanya serta mempertemukan dia dengan istrinya tercinta.....

TO BE CONTINUED....


Turunnya Adam di Bumi (1)

Lama tidak mengupdate blog rasanya kangen juga. Sebetulnya banyak bahan yang hendak dituliskan tetapi belum kesampaian juga, mudah-mudahan meski nyicil tapi tujuan memahami sejarah ini dapat segera diselesaikan. Amiin.

Baiklah, kita lanjutkan kisah perjalanan Adam yang Allah turunkan ke Bumi...eh, Dunia eh..Ardhu...apalah namanya, yang jelas yang di sini ini, tempat kita - anak cucunya - sekarang berada.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana ya cara turunnya Adam dari "Jannatu Adn" ke tempat kita sekarang, terbang kah? pake pesawat atau kayak supermen gitu? atau mungkin pake teknologi teleportasi lewat jalur khusus, sim salabim, sampe deh...:) Wallahi A'lam, itu mah bukan urusan kita, gak tahu juga gak apa-apa, gak dosa. Yang jelas bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Lha.. di jaman nabi Sulaiman saja ada manusia yang seperti itu, mampu membawa singasana Ratu Balqis dalam sekejap mata (yang belum tahu, silakan baca artikel di blog ini mengenai Teknologi Nabi Sulaiman, seru !) Jadi...kenapa musti heran? contoh terupdate teknologi ini kembali muncul di jaman Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dalam peristiwa Isra Mi'raj beliau, sebagai hadiah dari Sang Pangasih untuk yang terkasih, berupa hiburan tamasya terindah yang tiada dua-nya hingga akhir jaman...subhanallah...

Baik, kita lupakan proses perjalanan Adam ke bumi, walau ada sesuatu yang mengganjal. Yaitu bahwa Adam tidak diturunkan berbarengan dengan sang kekasih istri jelita tercinta? tapi dipisah....sekali lagi sodara-sodara..DIPISAH. Dipisah? tapi..kenapa? hukuman untuk keduanya gara-gara melanggar larangan Allah? mungkin. Ataukah untuk membersihkan keduanya? bisa jadi. Yang jelas kabar keterpisahan keduanya adalah sohih. Dan kisah pertemuan keduanya kembali menjadi salahsatu kisah yang paling menghebohkan dalam sejarah, begitulah, setidaknya menurut kesaksian gunung-gunung dan batu serta padang pasir hehehe...itu pun kalo gak ada onta yang lewat saat itu. Kalo kebetulan ada, yah boleh lah si onta ini kita undang seminar kesaksian pertemuan Adam dan Hawa, setidaknya sebagai saksi hidup, dari pada kerikil, pasir atau kurma yang berbuahnya juga jarang-jarang. Setidaknya generasi onta sekarang harusnya tahu atow ngeh kalo nenek buyutnya dolo tlah turut menjadi saksi pertemuan bersejarah tersebut...Huahahahaha.....

Halah...ayo kita kembali lihat ditanah mana Adam diturunkan. Mari kita simak kutipan  berikut :
 ---------

" Di dalam kitab ad-Durrul Mantsur, disebutkan “Maka kami katakan, ‘Turunlah kalian … “, dari Ibnu Abbas, yakni: Adam, Hawa, Iblis, dan ular. Kemudian mereka turun ke bumi di sebuah daerah yang diberi nama “Dujjana”, yang terletak antara Mekah dan Thaif. Ada juga yang berpendapat Adam turun di Shafa, sementara Hawa di Marwah. Telah disebutkan dari Ibnu Abbas juga bahwa Adam turun di tanah India."
 
Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, dia mengatakan, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Jeddah. Kemudian Adam pergi mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jam’an (yaitu Muzdalifah atau al-Masy’ar). Kemudian disusul (izdalafat) oleh Hawa. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Muzdalifah.

Diriwayatkan pula oleh Thabrani dan Nua’im di dalam kitab al-Hilyah, serta Ibnu Asakir dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah saw bersabda: “Adam turun di India.”
Sementara Ibnu Asakir menyebutkan ketika Adam turun ke bumi, dia turun di India.

Di dalam riwayat Thabrani dari Abdullah bin Umar disebutkan :
“Ketika Allah menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India. Kemudian dia mendatangi Mekah, untuk kemudian pergi menuju Syam (Syria) dan meninggal disana.” (HR. Thabrani)

Dari riwayat-riwayat secara global disebutkan bahwa Adam turun ke bumi, dia turun di India (Semenanjung Syrindib, Ceylon/Srilanka) di atas gunung yang bernama Baudza. Di dalam kitab Rihlahnya, Ibnu Batuthah mengatakan: “Sejak sampai di semenanjung ini, tujuanku tidak lain, kecuali mengunjungi al-Qadam al-Karimah (Adam Bridge). Adam datang ketika mereka tengah berada di semenanjung Ceylon”.

Syaikh Abu Abdullah bin Khafif mengatakan: “Dialah orang yang pertama kali membuka jalan untuk mengunjungi al-Qadam.”

--------

Tentang kisah jembatan Nabi Adam ini, terdapat kisah menarik, yaitu adanya mitos seputar jembatan. Para penganut hindu di India beranggapan bahwa jembatan tersebut dibuat oleh seorang ksatria purba bernama Rama Regawa, salah seorang titisan Dewa Wisnu, dengan balatentaranya termasuk ribuan ekor kera yang dikerahkan untuk membuat jalan dalam rangka penyerangan kerajaan purbakala bernama Alengka Dirja (lakadalah...jangan-jangan sudah termakan komik nih...iya deh, baca aja komiknya Ramayana karangan R.A. Kosasih, kira-kira begitulah...)

Kalo dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dengan mitos ini, kalaupun memang raja nan gagah perkasa ini pernah ada, dan memang ditunjukkan dengan bukti peninggalannya berupa puing-puing keraton ayodyapala, maupun lapangan kurusetra, atau sisa radioaktif bekas peperangan nuklir nan hebat dalam peristiwa Bharatayudha yang dapat terdeteksi oleh peralatan modern sekarang. Dan tidak ada salahnya juga kalau kaum ini pernah ada, namun kita pastikan bahwa mereka bukan termasuk golongan MANUSIA. Karena Adam saja baru turun dan dia pun melihat-lihat hasil karya makhluk-makhluk sebelumnya yang luar biasa itu, tatkala pertama kali diturunkan di semenanjung Ceylon. (Untuk mengetahui lebih detail tentang Rama Regawa, atau kebenaran keberadaan kerajaan para wayang itu, silakan lihat artikel di blog ini yang berjudul ...)

TO BE CONTINUED....