Senin, 10 Desember 2018

Sejarah Bani Abbasiyah (Abu Ja'far Al Mansyur)

SEJARAH BANI ABBASIYAH


ABU JA'FAR AL MANSYUR



Latar Belakang

Abu Ja'far merupakan adik dari Khalifah Abbasiyah pertama Khalifah Abu Abbas As-Saffah. Lahir sama sama dengan sang kakak di Humaymah, pada tahun 687, selepas keluarga Abbas migrasi dari Hijaz sepeninggal Abdullah bin Abbas, sang datuk, salasatu tokoh imam terkemuka di kota Mekkah, dan termasuk sahabat yang didoakan rasulullah menjadi ahli tafsir.

Abu Ja'far masih berdarah Quraisy murni, Nama aslinya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib. Ketika keluarga Abbas memproklamirkan untuk merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah, Abu Ja'far pun masuk sebagai salasatu tokoh utama. Darah Bani Hasyim deras mengalir dalam tubuhnya. Kecerdasan dan kegagahannya tampak menonjol. Tidak heran bila As-Saffah memilih adiknya tersebut sebagai penggantinya.

Strategi Khalifah

Abu Ja'far dilantik menjadi Khalifah pada tahun 754 setelah wafat saudaranya yakni Abu Abbas AsSaffah. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengatur politik kekuasaan. Abu Ja'far membuat hubungan erat dengan daerah-daerah provinsi. Infrastruktur jalan utama dibangun megah. Jalur-jalurnya ditata dengan rapi. Beliau juga membina hubungan baik dengan para hakim, kepala polisi rahasia, kepala pajak, serta dinas-dinas yang lainnya.

Gerakan ini bukan tanpa sebab, masih ada ganjalan dihati Abu Ja'far bahwa kekuasaannya sebagai khalifah masih dibayang-bayangi beberapa sosok lain. Ada tiga kelompok yang dikuatirkan Abu Ja'far, yaitu :

  1. Abdullah bin Ali; paman beliau sendiri sekaligus jendral besar yang turut berjasa dalam membantu merebut kekuasaan dari Bani Umayyah dan mendirikan Bani Abbasiyah, bahkan dia lah yang berhasil menangkap khalifah Bani Umayah terakhir yakni Marwan bin Muhammad. Kegagahannya sangat kesohor dari Kufah hingga sungai Nil.
  2. Abu Muslim Al Khurasani; dialah panglima besar pasukan Abbasiyah yang pertama kali mengobarkan semangat perlawanan, dan berhasil menghancurleburkan pasukan Bani Umayyah di Irak. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Seluruh pasukan perlawanan bahkan sangat mengagumi dan patuh pada perintahnya.
  3. Pembela Ahlu Bait; yaitu para pendukung keturunan Hasan & Husain bin Ali bin Abu Thalib yang juga mendapat dukungan dan simpati dari rakyat banyak

Ganjalan tersebut ternyata juga dirasakan oleh sang paman, Abdullah bin Ali, yang diam-diam berambisi menjadi Khalifah. Namun harapannya pupus ketika AsSaffah justru mengangkat adiknya sebagai putra mahkota. Karena hubungannya kurang begitu harmonis dengan Abu Ja'far, Abdullah bin Ali pun akhirnya hengkang menjauhkan diri dari Khurasan berpindah ke Yaman.

Melihat arah angin, khlaifah segera menangkap peluang kesempatan tersebut demi melanggengkan kekuasaannya. Dia lalu mengirim Abu Muslim Al Khurasani untuk menangkap Abdullah bin Ali yang dianggap telah melakukan pemberontakan. Maka Abu Muslim pun berangkat dan bertemu Abdullah bin Ali dan pasukannya di Basrah. Setelah terjadi bentrokan, akhirnya pertempuran dimenangkan oleh Abu Muslim dan Abdullah bin Ali pun diseret dan dimasukan ke dalam penjara, hingga wafatnya disana.

Usai menuntaskan tugas dari negara, khalifah pun memanggil Abu Muslim ke dalam kemahnya. Sebagai prajurit setia, Abu Muslim pun patuh menghadap tanpa rasa curiga. Sesampainnya di dalam ternyata sebilah pisah terhunjam telak di dada panglima tersebut hingga menyebabkan kematiannya. 

Selesailah sudah dua ganjalan utama, tinggal satu lagi yang akan menunggu gilirannya.....

Prestasi Khalifah

Khalifah Abu Ja'far Al Mansyur merupakan khalifah yang cerdik dan pandai menata keuangan negara. Terbukti dia mampu mengelola dan menghemat pajak negara, sehingga kekayaan negara pun melimpah. Dengan begitu dia mampu membangun sebuah kota megah di wilayah Irak dan diberi nama Kota Baghdad, sekaligus dijadikan pusat ibukota bagi pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah.

Selain membangun fisik, Abu Ja'far juga memaksimalkan pengembangan ilmu pengetahuan. Seluruh ilmu dari Yunani, Romawi, Persia diterjemahkan seluas-luasnya, sehingga khazanah keilmuan Islam semakin kaya. bahkan di Baghdad subur dengan para pelajar dan banyak tersedia perpustakaan besar. 

Didalam lingkar kekuasaan pun Abu Ja'far turut banyak melibatkan non-arab, seperti Persia, Seljuk, Turki, Romawi. Namun orang-orang Persia lah yang paling banyak memegang peranan. Kelak pengaruh ini mengakibatkan lebih berkembangnya budaya persia daripada budaya arab. Ini berbeda dengan Bani Umayyah yang melarang orang-orang non Arab naik ke pusaran sekitar pemegang kekuasaan.

Sikap Terhadap Ulama

Meskipun dukungan terhadap keilmuan begitu penuh, namun tidak semua para ahli ilmu merasakan perlindungan khalifah. Contoh, di masa Abu Ja'far ada seorang tokoh ahli hadits bernama Malik bin Anas, yang dengan dorongan khalifah telah menyelesaikan sebuah kitab hadits pertama di dunia berjudul AL Muwatha'. Bahkan Abu Ja'far begitu terpesonanya oleh kharisma Imam Malik sampai berkehendak menjadikan Al Muwatha menjadi kitab dasar negara. Namun tidak mendapat izin Imam Malik.

Sikap tragis menimpa Imam Abu Hanifah. Madzhab hanafiah yang ditegakannya begitu memukau banyak pihak di masanya. Maka khalifah Al Manshur pun meminta Abu Hanifah untuk menjadi qadhi (hakim) kerajaan. Namun ternyata Abu Hanifah menolak tegas permintaan tersebut, yang mengakibatkan khalifah marah karena permintaannya ditolak, maka Imam Hanafi pun diseret ke penjara hingga wafatnya disana. 

Tidak hanya Abu Hanifah, penderitaan itu juga dirasakan oleh Imam Sufyan Atssauri dan Abbad bi Katsir, yang hampir juga meninggal di penjara, jika saja ajal tidak keburu menjemput sang khalifah ketika dalam perjalannya ke Mekkah saat ibadah haji. Al Manshur wafat tahun 158 H / 775, pada usia 63 tahun. Dia memerintah selama 22 tahun, dengan berbagai prestasi plus minusnya, dan kemegahan kota Baghdad yang baru di bangunnya.

Selama kekuasaannya Al Manshur juga sempat menyebarkan islam hingga ke Byzantium, Afrika Utara, serta menjalin kerjasama dengan Raja Pepin dari Perancis, dan Andalusia yang waktu itu di bawah kekuasaan Bani Umayyah, Abdurrahman Ad -Dakhili.

(Bersambung)









Selasa, 04 Desember 2018

Sejarah Bani Abbasiah (Abdullah bin Muhammad As-Saffah)

SEJARAH BANI ABBASIYAH


ABDULLAH BIN MUHAMMAD AS-SAFFAH



Latar Belakang

Kemelut yang menerpa Daulah Islamiyah yang saat itu dikuasai oleh Bani Umayyah sudah sampai ke titik nadir. Khilafah Bani Umayyah yang berhasil "mengambil alih" kekhalifahan kaum muslimin dari KhulafauRasyidin terakhir yaitu Ali bin Abu Thalib dan putranya Hasan bin Ali, dengan Muawiyah sebagai pendiri pertama dinastinya, kini mencapai detik penghujungnya, ditangan khalifah terakhir Bani Umayah bernama Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.

Latar belakang sebenarnya adalah bibit-bibit ketidakpuasan yang sudah lama berkembang dari masyarakat terhadap model penguasa. Misalnya ketidakpuasan kelompok pengikut Ali bin Husein bin Ali bin Abu Thalib, karena bani Umayyah sering mendiskreditkan bahkan mencaci maki para ahlul bait nabi.

Selain itu berkembang pula gerakan perlawanan terhadap khalifah Bani Umayyah oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai gerakan Abbasiyah. Kelompok ini segera mendapat dukungan banyak apalagi disaat kondisi pemerintahan Bani Umayyah sedang terjadi kericuhan antar keluarga gara-gara perebutan kekuasaan.

Faktor lain yang membuat gerakan ini begitu massif adalah dengan dibawanya nama Bani Hasyim dalam perjuangan mereka. Karena pemimpin pergerakan memang berasal dari keluarga keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman rasulullah SAW, bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang bergelar Abul Abbas As-Saffah

Menegakkan Kekuasaan Bani Abbasiyah

Ketika Bani Umayyah tampak keletihan menahan serangan perlawanan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib di Irak, Abul Abbas AsSaffah pun serentak mengirim pasukan besar dibawah Jendral nya yang cakap bernama Abu Muslim Al-Khurasani langsung menuju Irak.

Pasukan yang baru saja selesai memenangkan peperangan dengan pasukan Zaid tersebut kontan terkaget-kaget, sehingga pasukan Abu Muslim Al-Khurasani dapat menguasai keadaan. Pasukan Marwan berhasil dilumpuhkan. Marwan sendiri melarikan diri ke Mesir. Namun As-Saffah memerintahkan Jendral Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yaitu pamannya sendiri untuk memburu habis Marwan dan keluarganya. Akhirnya Marwan dapat ditangkap di sungai Nil, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Khurasan, di hadapan Abu Abbas As-Saffah.

Usai kematian Marwan, As-Saffah masih terus melakukan perburuan terhadap seluruh keluarga sisa Bani Umayyah. Tanpa ampun semuanya dihabisi, seolah tidak ingi menyisakan satu pun anggota keluarga Bani Umayyah yang masih hidup dan kelak dapat merongrongnya di kelak kemudian hari.

Aksi tumpas habis dari As-Saffah menandai berakhir dan runtuhnya dinasti bani Umayyah yang telah berkuasa kurang lebih 100 tahun. Meskipun ada satu dari keturunan Bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri dari pembasmian tersebut, bernama Abdurahman Ad-Dakhili, yang berhasil melarikan diri ke wilayah Andalusia, dan kelak mendirikan kekhalifahan disana yang terlepas dari kekuasaan Bani Abbasiah.

Kebijakan Khalifah As-Saffah

Abul Abbas As-Saffah naik tahta mendirikan imperium Bani Abbasiah pada tahun 750 M. Setelah pembersihannya dari unsur-unsur Bani Umayyah, Assaffah memusatkan pemerintahannya di wilayah Khurasan, Iran. Para pendamping istana dan pasukannya diberikan secara merata kepada orang-orang non-Arab, seperti orang Persia, Turki dan Syiah. Proses penyatuan tersebut berhasil dengan munculnya orang-orang kuat disisinya yang akan memuluskan jalan tegaknnya kekuasaan Abbasiyah ditahun mendatang.

Sayang usia Abul Abbas tidak lama. Tahun 754 khalifah meninggal dunia, digantikan oleh saudaranya bernama Abu Ja'far Al Manshur.

(Bersambung)






Kamis, 22 November 2018

Sejarah Bani Umayyah (Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam)

SEJARAH BANI UMAYYAH


MARWAN BIN MUHAMMAD 



Latar Belakang

Marwan bin Muhammad lahir tahun 72 H atau 694 M, ayahnya bernama Muhammad bin Marwan bin Hakam. Sebelumnya dia adalah seorang jendral perang yang dipercaya oleh Walid II untuk menjadi gubernur Armenia. Beberapa kali berperang melawan pasukan Khazar.

Ketika memasuki Damaskus dan menemukannya dalam kondisi kosong, maka Marwan pun segera mencari putra Walid II yang diwasiatkan sebagai calon khalifah penerus. Namun ternyata ditemukan sudah tak bernyawa. Seketika itu semua kebingungan guna memutuskan siapa yang berhak menajdi pengganti khalifah. Konon yang mengusulkan Marwan menjadi khalifah adalah Abu Muhammad As-Sufyani yang bernama asli Ziyad bin Abdullah bin Yazid bin Muawiyah, atas dasar puisi karangan Hakam bin Walid sebelum meninggalnya, untuk menyerahkan urusan kepada Marwan, pamannya.

Maka Marwan pun dilantik sebagai khalifah pada tahun 126 H, dikenal dengan nama Marwan II, untuk membedakan dengan kakeknya yaitu Marwan bin Hakam.

Kebijakan Khalifah Yang Mengagetkan

Setelah diangkat sebagai khalifah Daulah Islam, Marwan ternyata membuat kebijakan yang mengagetkan. Dia menyuruh orang agar menggali kuburan Yazid III yang sudah meninggal 2 bulan sebelumnya, untuk dikeluarkan mayatnya dan disalibkan di gerbang kota Damaskus.

Ini sebagai ganti pembunuhan Yazid III kepada Walid II yang telah memenggal kepala Walid II dan diarak kepalanya di seluruh kota. Kekejian dibalas dengan kekejian, atas nama jabatan khalifah!

Huru-hara Pemberontakan

Hampir sepanjang pemerintahan Marwan dihabiskan untuk memadamkan gejolak pemberontakan dimana-mana. Sulaiman bin Hisyam melakukan penghimpunan massa dan memberontak. Namun dapat dipadamkan, Sulaiman sendiri melarikan diri ke daerah India dan wafat disana.

Kaum Khawarij di Yaman secara terang-terangan melawan khalifah, bahkan Irak, Kufah hingga Mosul sudah dikuasainya dengan pemimpinnya bernama Dahhak bin Qais. Namun khalifah Marwan berhasil menumpasnya, Dahhak sendiri terbunuh dalam peperangan melawan khalifah.

Belum lama berselang Kufah bergolak lagi. Kali ini digerakan oleh Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib dari keluarga Hasyimi. Marwan pun kembali menggempur Kufah, namun pemimpinnya dapat meloloskan diri ke Khurasan. Tiba disana berhadapan dengan Abu Muslim Al Khurasani dan dibunuhnya.

Kelahiran bibit Daulah Abbasiah

Khurasan sendiri mulai bergerak melawan khalifah. Di bawah pimpinan Abu Muslim Al Khurasani dimulailah gerakan daulah Abbasiah. Mereka bergerak dengan pasukan besar meninggalkan Khurasan menuju Irak dan berhadapan dengan pasukan khalifah Marwan II.

Pasukan Marwan hancur lebur, khalifah sendiri melarikan diri ke Suriah, lalu diteruskan ke Mesir. Tapi disana dia tertangkap oleh pasukan Jendral Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib.

Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah

Setelah tertangkap, Marwan bin Muhammad lantas dihukum mati di Mesir. Kepalanya dipancung oleh Panglima Shalih bin Ali, dan diserahkan kepada keponakannya yaitu Abu Abbas As-Shaffah penguasa khalifah di Kufah.

Marwan wafat di Mesir ketika hendak menyebrang sungai Nil, pada tahun 132 H dalam usia 62 tahun. Masa kekuasaannya hanya 5 tahun 10 bulan.

Dengan meninggalnya Marwan II maka tamat sudah khalifah penguasa dari bani umayyah. Selanjutnya digantikan oleh khalifah dari keturunan Bani Abbasiah.

(Tamat)








Sejarah Bani Umayyah (Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


IBRAHIM BIN WALID



Khalifah Pengganti

Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik bin Marwan, adalah adik dari Yazid III yang baru saja mangkat. Naiknya dia menjadi khalifah banyak mengundang tanda tanya, karena Khalifah Yazid III tidak meninggalkan wasiat pewaris. Namun sebagian ahli sejarah menangkap gejala - sejenis pemalsuan dokumen - yang diatasnamakan kepada Yazid III, demikian riwayat Imam Suyuthi dan Imam Thabari.

Diburu Musuh-musuhnya

Ketika naiknya Ibrahim bin Walid diumumkan, banyak orang yang berang dan tidak mengakuinya. Yang terang-terangan menolaknya adalah Gubernur Armenia yakni Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.

Marwan ketika mendengar wafatnya Yazid III lalu berangkat menuju Damaskus dengan membawa pasukan 80.000 orang. Marwan begitu mencintai dan setia kepada Walid II. Dia pun berangkat menuju istana dengan tujuan membela hak anak-anak Walid II yaitu hakam bin Walid dan Utsman bin Walid, untuk diangkat sebagai khalifah. Begitu tiba di Homs, dia melihat Sulaiman bin Hisyam yag sedang mengepung Homs dengan 120.000 tentara karena mereka tidak mau tunduk berbaiat kepada Ibrahim bin Walid.

Melihat hal tersebut kontan Marwan bin Muhammad marah besar, serta merta bentrokan kedua pasukan pun tak terelakkan. Ternyata pasukan Sulaiman kalah telak, mereka kocar-kacir, dan Sulaiman bin Hisyam sendiri melarikan diri ke Damaskus. Pasukan Marwan pun mengejar.

Di Damaskus telah sampai berita kedatangan Marwan dengan ribuan tentaranya. Ibrahin bin Walid menjadi panik. Kedua anak Walid II pun dibunuhnya. DIa sendiri kemudian melarikan diri keluar damaskus.

Istana ditaklukan

Saat istana kosong karena Ibrahim bin Walid dan Sulaiman bin Hisyam melarikan diri ke Tadmur, Suriah Selatan. Marwan pun sepenuhnya menguasai Damaskus dan menaklukan Daulah yang ditinggalkan tersebut.

Tak lama kemudian Ibrahim bin Walid pun pulang dan menyatakan baiatnya kepada Marwan penguasa baru, sehingga dia pun diampuni. Ibrahim bin Walid hanya berkuasa selama 70 hari saja, lebih lama sedikit daripada Muawiyah bin Yazid yang cuma 40 hari..

(Bersambung)

Sejarah Bani Umayyah (Yazid bin Walid bin Abdul Malik)

SEJARAH BANI UMAYYAH


YAZID BIN WALID (YAZID III)



Latar Belakang

Yazid bin Walid bin Abdul Malik bin Marwan, atau Yazid  III, naik tahta pada tahun 126 H atau 744 M, setelah berhasil membunuh sepupunya sendiri yakni Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan atau Walid II, dengan cara mengepung istana Damaskus dan memancung kepalanya.

Kebijakan Khalifah

Kebijakan Yazid III ketika pertama kali naik tahta adalah mengurangi gaji tentara yang sebelumnya telah dilipatgandakan oleh Walid II yang kala itu untuk meraih dukungan loyalitas pasukannya. Kebijakan tersebut memancing keresahan, dan dia dijuluki An-Naqish, si Pengurang.

Hampir sejak awal pemerintahan Yazid III selalu diguncang prahara, pemberontakan Khurasan, juga di Yamamah, bahkan salaseorang Gubernurnya di Armenia bernama Muhamad bin Marwan sempat hendak melakukan kudeta, namun akhirna dapat diselesaikan dengan cara memberikan Gubernur Marwan wilayah kekuasaan yang lebiih luas.

Masalah timbul juga dari sepupunya sendiri, Sulaiman bin Hisyam, yang di masa Walid II dia ditangkap digunduli dan dipenjara, oleh Yazid III dia dibebaskan. Namun setelah bebas, ternyata Sulaiman bin Hisyam juga merasa dia berhak atas tahta warisan ayahnya yang sekarang ditangan Yazid bin Walid. Sulaiman pun menghimpun dukungan. Namun Khalifah Yazid III begitu mengetahui hal tersebut lantas mendekati Sulaiman dan membujuknya agar menghentikan perbuatannya tersebut dan diajak untuk bersama mengelola warisan Bani Umayyah itu secara baik-baik. Sulaiman pun akhirnya mau kembali berbaiat kepada Yazid III.

Wafatnya Sang Khalifah

Khalifah Yazid III sebetulnya bermaksud mengembalikan kemuliaan dan kekuatan Bani Umayyah seperti para pendahulunya. Dia juga seorang yang sholeh dan tidak berambisi akan kekuasaan. Terbukti ketika disaat sakit kritis menjelang wafatnya beliau enggan membuat surat wasiat siapa yang menjadi penerusnya. Namun sebagian orang berpendapat, bahwa kelak Ibrahim bin Yazid putranya berhak atas tahta kekhalifahan.

Khalifah Yazid III hanya menjabat selama 6 bulan saja, dan beliau wafat dalam kondisi tertekan karena permasalahan pelik berkepanjangan. Wallau a'lam.

(Bersambung)