Rabu, 20 April 2011

Mengatur Kecepatan Cahaya

Dua fisikawan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Lene Hau dan Walsworth - keduanya melakukan riset yang terpisah, berhasil mengembangkan metode yang dapat mengatur bahkan menghentikan sementara laju cahaya.

Mungkin kita akan terkejut dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin dua fisikawan dapat mengendalikan suatu ‘zat’ yang teramat halus, sangat ringan dan dan selalu melesat dengan kecepatan 300.000 km per detik. Inilah salah satu fakta riset yang dilaporkan Physical Review yang terbit akhir Januari lalu.

Mereka tidak hanya berhasil menjinakkan cahaya untuk mengatur kecepatannya, untuk memperlambat atau mempercepat, tapi juga berhasil melepaskannya kembali pada saat yang dikehendakinya.

Boleh dibilang sampai saat ini saja soal definisi tentang cahaya, para ahli belum ada kesepakatan. Apakah cahaya itu materi atau gelombang?.Atau bersifat dualisme diantara materi dan gelombang?.

Dari segi sifat dan karakteristiknya yang mempunyai panjang gelombang, tidak bermassa dan karenanya tidak mempunyai momentum, cahaya bersifat seperti gelombang.

Namun pada saat yang sama,.ia bisa menyerap dan memancarkan energi. Karena itu, cahaya adakalanya berperilaku layaknya materi yang tidak bermassa.

Bagaimana Lene dan Walsworth bisa menundukkan cahaya?. Ternyata keduanya mengaku hanya memanfaatkan perilaku dasar cahaya dalam medium yang berbeda : cair atau padat.

Dalam kristal, contohnya, cahaya bergerak relatif lebih cepat, dari kecepatan standarnya. Sedang dalam air atau benda padat pada umumnya, kata Hau, cahaya ternyata bergerak melambat.

Lene Hau yang bekerjasama dengan Stephen Harris (Universitas Stanford), menggunakan gumpalan ‘awan’ atom natrium, sekitar satu setengah tahun lalu di laporkan berhasil memperlambat laju cahaya dari 186.000 mil per detik menjadi 38 mil (61 km) per jam saja. Hasil perlambatan ini adalah hasil riset selama 3-4 tahun.

Sementara Walsworth dan koleganya menggunakan medium awan atom rubidium untuk menjinakkan cahaya sampai pada kondisi yang memungkinkan beroperasinya satu model komputer kuantum.

Tahap berikutnya, menurut Walsworth, kita tinggal mengatur berapa tingkat laju cahaya yang diinginkan untuk kebutuhan aplikatif.

Meski demikian, ia sendiri percaya memaksimumkan potensi kecepatan untuk membangun suatu komputer kuantum belum tentu dapat menyamankan pengguna komputer sekarang.

Dan riset ini tentunya tidak hanya menjadi masukan berharga bagi pengembangan teori tentang cahaya, namun juga membuka lebar jalan ke produksi komputer kuantum, demikian komentar Bill Delaney, fisikawan yang menjadi Kepala Biro Pemberitaan di CNN, Boston.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar