Sudah fitrah manusia selalu ingin tahu segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Yang terlihat, terdengar atau terpikirkan. Semuanya selalu membuatnya penasaran. Melihat langit, apa itu langit, ada apa di langit, terbuat dari apa. Begitu lelah lehernya dia tundukan kepala, tampaklah bumi dengan berbagai hamparannya, sehingga terlompat kata-kata penuh rasa penasaran, "Ini apa?"
Bumi sungguh tempat yang luar biasa, yang tak henti-hentinya manusia dibuat kagum olehnya, sehingga banyak yang terjebak dalam berlebihan mengagungkannya, sehingga munculah istilah dewa-dewa. Ini tak lain karena dinamisnya akal manusia dalam menrespon segala sesuatu. Melihat api, apakah api itu? melihat air, apa itu air, dari mana asalnya? apa molekul dasar penyusunnya, apa itu badai yang membuat rumah runtuh, apakah tanah, apakah ini, apa itu...
Inilah manusia. Makhluk yang tak pernah kehabisan akan rasa penasaran. bahkan selalu bertambah dan bertambah terus. Ibarat air laut, semakin diminum semakin haus ia. Lalu kapan rasapenasaran ini berhenti? Jawabnya ada dua. Pertama ketika ruh-nya sudah meninggalkan jasad alias mati. Kedua ketika diakherat kelak tatkala Sang Pencipta menceritakan hakikat sesungguhnya tentang kejadian segala sesuatu.
Manusia semakin ia mengenal dirinya, akan semakin memperluas ruang "geraknya". Daya jangkau pikir-nya akan semakin lebar sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Karena itulah Allah SWT melebihkan orang yang berilmu dengan orang mu'min biasa.
"Yarfa'illahu lladziina aamanu walladziina uutul'ilma darojah.."
Karena itulah mencari ilmu menjadi wajib 'ain bagi umat islam, sebagaimana yang disabdakan nabi kita tercinta, Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Karena perbedaan derajat inilah. Karena kelebihan yang dimiliki orang berilmu inilah. Karena umur yang pendek dan waktu hidup yang cuma sebentar. Sementara tugas terlalu banyak tidak sebanding dengan waktu yang ada.
Beruntunglah orang yang tidak menyia-nyiakan umurnya dengan kelalaian dan hal tidak berguna. Baginya mengisi ilmu lebih penting dari segalanya, karena ilmu adalah obor penerang. Karena ilmu ibarat GPS bagi orang yang dalam perjalanan ketika dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Karena ilmu adalah jawaban semuanya.
Allah seringkali mengajarkan ilmu dengan berbagai cara. Diantaranya adalah dengan berbagai kejadian serta fenomena alam. Agar manusia memikirkan serta mau menggunakan akalnya. Agar manusia tidak salah dalam melangkah. Beruntung mereka yang mampu menangkap sinyal-sinyal ini. Sehingga ketika berlalu suatu kejadian, maka jadilah ia suatu kisah yang diceritakan, yang kita mengenalnya SEJARAH.
Dengan mengenal sejarah sama artinya kita menimba ilmu-ilmu orang yang telah berlalu sebelum kita. Dengan mengenal sejarah, kita jadi sadar dengan KETIADAAN mereka saat ini, dan sadar dengan dimana KEBERADAAN mereka saat ini. Dengan mengenal sejarah, kita mampu menangkap sinyal yang dimaksudkan Sang Pembuat Sejarah.
Siapa yang mengenal sejarah, maka dia akan mengenal siapa dirinya. Siapa yang mengenal dirinya makan dia akan mengenal siapa Tuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar