Senin, 21 Maret 2011

Amanat ti Galunggung

KERAJAAN SAUNGGALAH I (KUNINGAN)

Awal kisah di mulai dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang sebenarnya telah eksis sejak awal abad 8M ; seperti yang terinformasikan dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Rajanya bernama Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M). Ayahnyalah (Rahyang Sempakwaja yaitu Penguasa Galunggung) yang mendudukkannya menjadi raja di Saunggalah I.

Tokoh yang mempunyai gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya dipunyai oleh tiga tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya (Raja di Kendan, 536-568M), Resiguru Demunawan (di Saunggalah I/Kuningan, awal abad 8M) dan Resiguru Niskala Wastu Kancana (Raja di Kawali, 1371-1475M). Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat/menurunkan suatu “AJARAN” (visi hidup, teh way of live) bagi acuan hidup keturunannya (mungkin yang disebut dalam naskah kuna dengan istilah Sanghyang Linggawesi?).

Bila demikian halnya, maka tidak ayal lagi Resiguru Demunawan, tokoh cikal bakal Kerajaan Saunggalah I pun mempunyai atau membuat suatu “AJARAN”. Keyakinan ini dibuktikan oleh seorang keturunannya yang juga menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M) yang memerintah selama 122 tahun (!).

Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (persisnya sekarang di desa Ciherang, Kec. Kadugede, Kab. Kuningan selama beberapa tahun) yang selanjutnya diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana?).

KERAJAAN SAUNGGALAH II (MANGUNREJA - SUKAPURA - TASIKMALAYA)

Kemudian Prabuguru Darmasiksa pindah ke Saunggalah II (sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya), yang nantinya kerajaan diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabuguru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya.

Setelah ditelusuri, ternyata Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang meletakkan dasar-dasar Pandangan Hidu/Visi ajaran hidup secara tertulis berupa nasehat. Naskahnya disebut sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG, disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) atau disebut pula KROPAK No.632, ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar yang terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna.

Dalam naskah Amanat Dari Galunggung diharapkan kita akan dapat menyebutnya sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA” yang hanya terdiri dari 6 lembar daun nipah. Didalam amanat ini tersirat secara lengkap apa visi hidup yang harus dijadikan pegangan masyarakat dan menjadi citra jatidiri kita (khususnya Sukapura/Tasikmalaya), lebih makronya lagi bagi orang Sunda yang kemudian mungkin merupakan kontribusi bagi kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berwawasaan Nusantara.

Di bawah rangkuman amanat-amanat Prabuguru Darmasiksa dari setiap halaman (yang diberi nomor sesuai dengan terjemahan Saleh Danasasmita dkk, 1987).

Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 point:

• Amanat yang bersifat pegangan hidup /cecekelan hirup.
• Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafian “ulah” (jangan).
• Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus).
• Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.

AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

HALAMAN 1
Pegangan Hidup:

Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.
Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

Kandungan Nilai:

Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri.
Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas (SDM) keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

HALAMAN 2
Pegangan Hidup:

Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.
Jangan menikah dengan saudara.
Jangan membunuh yang tidak berdosa.
Jangan merampas hak orang lain.
Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.
Jangan saling mencurigai.

Kandungan Nilai:

Sebagai suatu bangsa (Sunda) harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Sunda direbut/didominasi oleh orang asing.
Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.
Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat.
Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.

HALAMAN 3
Pegangan Hidup:

Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).
Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.
Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.
Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.
Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.
Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

Kandungan Nilai:

Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dikonotasikan sebagai tanah air (lemah cai, ibu pertiwi). Untuk orang Sunda adalah Tatar Sunda-lah tanah yang disucikannya (kabuyutannya). Untuk orang Sukapura/Tasikmalaya ya wilayahnya itulah tanah yang disucikannya.
Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia.
Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing.
Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang (yang berbau busuk) yang tercampak di tempat samah (tempat hina dan berbau busuk), bila anak bangsa tsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya.
Hidup harus mempunyai etika.

HALAMAN 4
Pegangan Hidup:

Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

Kandungan Nilai:

Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral; tahu batas dan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (hawa nafsunya), termasuk orang yang keras kepala.

HALAMAN 5
Pegangan Hidup:

Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.
Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.

Kandungan Nilai:

Manusia harus rendah hati jangan angkuh.
Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan.
Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

HALAMAN 6
Pegangan Hidup:

Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.
Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:
- Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;
- Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.
- Ahli strategi akan unggul perangnya.
- Pertanian akan subur.
- Panjang umur.
SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup.
SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan.
SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berebut kedudukan.
Jangan berebut penghasilan.
Jangan berebut hadiah.

Perilaku Yang Positif:

Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.

Kandungan Nilai:

Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebangagan puteranya/keturunannya.
Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran.
Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.
Hidup jangan serakah.
Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.

HALAMAN 7
Pegangan Hidup:

Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.
Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia.
Itulah manusia yang mulia.
Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan.
Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.
Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya.
Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.

Perilaku Yang Positif:

Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana.
Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.

Kandungan Nilai:

Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang.
Dalam budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya.
Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan.

HALAMAN 8
Pegangan Hidup:

Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.
Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.
Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.
Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku Yang Positif:
Yang disebut berkemampuan itu adalah:

Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, s perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu introspeksi dan retrospeksi.
Jangan menyalahkan orang lain.
Berkerja harus iklas jangan karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya.
Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani.
Manusia yang mulia itu adalah yang mempunyai kualitas SDM prima.

HALAMAN 9
Pegangan Hidup:

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Perilaku Yang Negatif:
Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/babarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan ista.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.
Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.
Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

HALAMAN 10
Pegangan Hidup:

Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.
Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Kandungan Nilai:

Minta dikasihani orang itu adalah tercela.
Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.
Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

HALAMAN 11
Pegangan Hidup:

Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih isteri, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.
Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.
Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.
Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

Kandungan Nilai:

Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik.
Hormatilah dan senangkanlah ahti orang tua.
Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat.
Kesadaran akan waktu dan sejarah.
Kesadaran akan adanya “reward” yang harus diimbangi dengan jasa/kerja.

HALAMAN 12
Pegangan Hidup:

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.
Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.
Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

Kandungan Nilai:

Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya.
Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita.
Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak.
Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

HALAMAN 13
Pegangan Hidup:

Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Perilaku Yang Positif:

Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
Senang akan keelokan/keindahan.
Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

Itulah intisari naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (KROPAK 632), yang disebut dengan AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA.

Referensi :

Drs. H.R. Hidayat Suryalaga
Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa - Parwa 1 Sargha 1-4. Agus Aris Munandar dan Edi S. Ekadjati. Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1991.
Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Drs. Saleh Danasasmita dkk. Pemerintah Propinsi Daerah Tk I. Jawa Barat, 1983-1984.
Sewaka Darma. Sanghiyang Siksa Kandang Karesian - Amanat Gakunggung. Ayatrohaedi dkk. Depdikbud, 1987.

Asal Mula Daerah Panjalu Ciamis

Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di kaki Gunung Sawal, Jawa Barat. Secara geografis pada abad ke-15 Kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kerajaan Talaga, Kerajaan Kuningan, dan Cirebon di sebelah utara. Di sebelah timur Panjalu berbatasan dengan Kerajaan Galuh sementara di selatan juga berbatasan dengan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Galunggung, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Galunggung.

Panjalu berasal dari kata jalu (bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (bhs. Inggeris: petarung, ahli beladiri), dan knight (bhs. Inggeris: kesatria, perwira).

Nama Panjalu mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah pemerintahan Prabu Sanghyang Ranggagumilang; sebelumnya kawasan Panjalu lebih dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal. Istilah Kabuyutan identik dengan daerah Kebataraan yaitu daerah yang memiliki kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan Galunggung.

Kabuyutan adalah suatu tempat atau daerah yang dianggap suci dan biasanya terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs megalitik (batu purba).

Kaitan dengan Kerajaan Panjalu (Kediri atau Daha atau Kahuripan) di Jawa Timur

Pendiri Kerajaan Kahuripan adalah Airlangga atau sering pula disingkat Erlangga, yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.Nama Airlangga berarti air yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).

Menurut prasasti Pucangan, pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari dari Lwaram, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa.

Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibu kota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga.

Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Nama kota ini tercatat dalam prasasti Cane (1021).

Menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang). Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha. Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa.

Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa.

Yang pertama dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa.

Pada tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala.

Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain. - Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036. - Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman. - Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang. - Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan. - Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041. - Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi.

Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan.

Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II.

Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian.

Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1194-1222. Pada akhir pemerintahannya, ia dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel atau Singhasari, yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kadiri.

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama(1365) yang dikarang ratusan tahun setelah zaman Kadiri.

Bukti sejarah keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan ditemukannya prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), dan prasasti Wates Kulon (1205).

Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Dalam Pararaton Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis. Dikisahkan pada akhir pemerintahannya ia menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan Buddha. Tentu saja keinginan itu ditolak, meskipun Dandhang Gendis pamer kesaktian dengan cara duduk di atas sebatang tombak yang berdiri.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dandhang Gendis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri.

Dandhang Gendis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Siwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Perang antara Tumapel dan Kadiri terjadi dekat desa Ganter tahun 1222. Para panglima Kadiri yaitu Mahisa Walungan (adik Dandhang Gendis) dan Gubar Baleman mati di tangan Ken Arok. Dandhang Gendis sendiri melarikan diri dan bersembunyi naik ke kahyangan.

Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam dewalaya (tempat dewa).

Kedua naskah tersebut memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kiranya yang dimaksud adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau mungkin Kertajaya tewas dan menjadi penghuni alam halus (akhirat)

Sejak tahun 1222 Kadiri menjadi daerah bawahan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat Ken Arok sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang. Pada tahun 1292 Jayakatwang memberontak dan mengakhiri riwayat Tumapel.

Berita tersebut tidak sesuai dengan naskah prasasti Mula Malurung (1255), yang mengatakan kalau penguasa Kadiri setelah Kertajaya adalah Bhatara Parameswara putra Bhatara Siwa (alias Ken Arok). Adapun Jayakatwang menurut prasasti Penanggungan adalah bupati Gelang-Gelang yang kemudian menjadi raja Kadiri setelah menghancurkan Tumapel tahun 1292.

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Panjalu Ciamis tidak ada sedikitpun yang menyebutkan secara gamblang hubungannya dengan Kerajaan Panjalu Kediri, akan tetapi kesamaan nama sedikit-banyak menunjukkan adanya benang merah antara dua kerajaan itu, apalagi nama Raja Panjalu Kediri Prabu Kertajaya (1194-1222) juga disebut-sebut dalam Prasasti Galunggung (1194).

Paul Michel Munoz (2006) mengemukakan pendapatnya bahwa sisa-sisa keluarga dan pengikut Prabu Kertajaya (Raja terakhir Dinasti Sanjaya di Jawa Timur) melarikan diri ke daerah Panjalu (Sukapura/Ciamis) pada tahun 1222 untuk menghindari pembantaian Ken Angrok, pendiri Kerajaan Singhasari/Dinasti Rajasa. Prabu Kertajaya sendiri sebagai Raja Kediri terakhir tewas dalam pertempuran di Tumapel melawan pemberontakan Akuwu Tumapel, Ken Angrok.

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Prabu Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (tempat Dewa) atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Prabu Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.


Kekuasaan Kabataraan

Pendiri kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung Sawal. Mengingat gelar Batara yang disandangnya, maka kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan sama halnya dengan Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja.

Daerah Kabataraan adalah tahta suci yang lebih menitikberatkan pada bidang keagamaan atau spiritual, dengan demikian seorang Batara selain berperan sebagai Raja juga berperan sebagai Brahmana atau Resiguru. Seorang Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat penting karena seorang Batara mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mengabhiseka atau mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta Sunda.

Menurut sumber sejarah Kerajaan Galunggung, para Batara yang pernah bertahta di Galunggung adalah Batara Semplak Waja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Berdasarkan keterangan Prasasti Geger Hanjuang, Batari Hyang dinobatkan sebagai penguasa Galunggung pada tanggal 21 Agustus 1111 M atau 13 Bhadrapada 1033 Caka. Kabataraan Galunggung adalah cikal bakal Kerajaan Galunggung yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya).

Besar kemungkinan setelah berakhirnya periode kabataraan di Galunggung itu kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda dipegang oleh Batara Tesnajati dari Karantenan Gunung Sawal Panjalu. Adapun para batara yang pernah bertahta di Karantenan Gunung Sawal adalah Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Pada masa kekuasaan Prabu Sanghyang Rangagumilang, putera Batara Karimun Putih, Panjalu berubah dari kabataraan menjadi sebuah daerah kerajaan.

Diperkirakan kekuasaan kabataraan Sunda kala itu dilanjutkan oleh Prabu Guru Aji Putih di Gunung Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih adalah seorang tokoh yang menjadi perintis Kerajaan Sumedang Larang. Prabu Guru Aji Putih digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Tajimalela, menurut sumber sejarah Sumedang Larang, Prabu Resi Tajimalela hidup sejaman dengan Maharaja Sunda yang bernama Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Prabu Resi Tajimalela digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Lembu Agung, kemudian Prabu Resi Lembu Agung digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Gajah Agung yang berkedudukan di Ciguling. Dibawah pemerintahan Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang bertransisi dari daerah kebataraan menjadi kerajaan.

Kekuasaan kabataraan kemudian dilanjutkan oleh Batara Gunung Picung yang menjadi cikal bakal kerajaan Talaga (Majalengka). Batara Gunung Picung adalah putera Suryadewata, sedangkan Suryadewata adalah putera bungsu dari Maharaja Sunda yang bernama Ajiguna Linggawisesa (1333-1340), Batara Gunung Picung digantikan oleh puteranya yang bernama Pandita Prabu Darmasuci, sedangkan Pandita Prabu Darmasuci kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Begawan Garasiang. Begawan Garasiang digantikan oleh adiknya sebagai Raja Talaga yang bernama Sunan Talaga Manggung dan sejak itu Talaga menjadi sebuah kerajaan.

Ibukota Panjalu

Ibukota atau pusat kerajaan Panjalu berpindah-pindah sesuai dengan perkembangan jaman, beberapah lokasi yang pernah menjadi pusat kerajaan adalah :

Karantenan Gunung Sawal

Karantenan Gunung Sawal menjadi pusat kerajaan semasa Panjalu menjadi daerah Kebataraaan, yaitu semasa kekuasaan Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Di Karantenan Gunung Sawal ini terdapat mata air suci dan sebuah artefak berupa situs megalitik berbentuk batu pipih berukuran kira-kira 1,7 m x 1,5 m. Batu ini kemungkinan digunakan sebagai sarana upacara keagamaan, termasuk penobatan raja-raja Panjalu bahkan mungkin penobatan Maharaja Sunda.

Dayeuhluhur Maparah

Dayeuhluhur menjadi pusat pemerintahan sejak masa Prabu Sanghyang Ranggagumilang sampai dengan Prabu Sanghyang Cakradewa. Tidak jauh dari dayeuhluhur terdapat hutan larangan Cipanjalu yang menjadi tempat bersemadi raja-raja Panjalu. Konon Presiden I RI Soekarno juga pernah berziarah ke tempat ini sewaktu mudanya untuk mencari petunjuk Tuhan dalam rangka perjuangan pergerakan kemerdekaan RI.

Nusa Larang

Prabu Sanghyang Borosngora memindahkan kediaman raja dari Dayeuhluhur ke Nusa Larang. Nusa Larang adalah sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah Situ Lengkong. Dinamai juga Nusa Gede karena pada jaman dulu ada juga pulau yang lebih kecil bernama Nusa Pakel (sekarang sudah tidak ada karena menyatu dengan daratan sehingga menyerupai tanjung). Untuk menyeberangi situ menuju Keraton Nusa Larang dibangun sebuah Cukang Padung (jembatan) yang dijaga oleh Gulang-gulang (penjaga gerbang) bernama Apun Otek. Sementara Nusa Pakel dijadikan Tamansari dan Hujung Winangun dibangun Kepatihan untuk Patih Sanghyang Panji Barani.

Dayeuh Nagasari

Dayeuh Nagasari dijadikan kediaman raja pada masa pemerintahan Prabu Hariang Kancana sampai dengan pemerintahan Bupati Raden Arya Wirabaya.

Dayeuh Panjalu

Raden Tumenggung Wirapraja kemudian memindahkan kediaman bupati ke Dayeuh Panjalu sekarang.

Sementara itu pusat kerajaan Panjalu ditandai dengan sembilan tutunggul gada-gada perjagaan yaitu patok-patok yang menjadi batas pusat kerajaan sekaligus berfungsi sebagai pos penjagaan yang dikenal dengan Batara Salapan, yaitu terdiri dari:

1. Sri Manggelong di Kubang Kelong, Rinduwangi
2. Sri Manggulang di Cipalika, Bahara
3. Kebo Patenggel di Muhara Cilutung, Hujungtiwu
4. Sri Keukeuh Saeukeurweuleuh di Ranca Gaul, Tengger
5. Lembu Dulur di Giut Tenjolaya, Sindangherang
6. Sang Bukas Tangan di Citaman, Citatah
7. Batara Terus Patala di Ganjar Ciroke, Golat
8. Sang Ratu Lahuta di Gajah Agung Cilimus, Banjarangsana
9. Sri Pakuntilan di Curug Goong, Maparah

Hubungan dengan Kemaharajaan Sunda

Panjalu adalah salah satu kerajaan daerah yang termasuk dalam kekuasaan Kemaharajaan Sunda karena wilayah Kemaharajaan Sunda sejak masa Sanjaya (723-732) sampai dengan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) adalah seluruh Jawa Barat termasuk provinsi Banten dan DKI Jakarta serta bagian barat Provinsi Jawa Tengah, yaitu mulai dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Kali Cipamali di sebelah timur. Lokasinya yang berbatasan langsung dengan Kawali dan Galuh juga menunjukkan keterkaitan yang erat dengan Kemaharajaan Sunda karena menurut Ekadjati (93:75) ada empat kawasan yang pernah menjadi ibukota Sunda yaitu: Galuh, Parahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.

Kerajaan-kerajaan lain yang menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda adalah: Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Sukapura, Kidanglamatan, Galuh, Astuna Tajeknasing, Sumedang Larang, Ujung Muhara, Ajong Kidul, Kamuning Gading, Pancakaki, Tanjung Singguru, Nusa Kalapa, Banten Girang dan Ujung Kulon (Hageman,1967:209). Selain itu Sunda juga memiliki daerah-daerah pelabuhan yang dikepalai oleh seorang Syahbandar yaitu Bantam (Banten), Pontang, Chegujde (Cigede), Tanggerang, Kalapa, dan Cimanuk (Armando Cortesao, 1944:196).

Kaitan lain yang menarik antara Kemaharajaan Sunda dengan Kerajaan Panjalu adalah bahwa berdasarkan catatan sejarah Sunda, Hyang Bunisora (1357-1371) digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu Niskala Wastu Kancana (1371-1475) yang setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang, sementara menurut Babad Panjalu tokoh yang dipusarakan di Nusa Larang adalah Prabu Hariang Kancana putera dari Prabu Sanghyang Borosngora.

Sementara sumber lain dari luar mengenai kaitan Panjalu dengan Sunda yakni dari Wawacan Sajarah Galuh memapaparkan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, maka putera-puteri raja dan rakyat Pajajaran itu melarikan diri ke Panjalu, Kawali, dan Kuningan.

[sunting] Masuknya Islam dan Pengaruh Cirebon

Menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, masuknya Islam ke Panjalu dibawa oleh Sanghyang Borosngora yang tertarik menuntut ilmu sampai ke Mekah lalu di-Islamkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. Legenda rakyat ini sangat mirip dengan kisah Pangeran Kian Santang atau Sunan Godog Garut, yaitu ketika Kian Santang atau Raja Sangara (adik Pangeran Cakrabuana Walangsungsang) yang setelah diislamkan oleh Baginda Ali di Mekah kemudian berusaha mengislamkan ayahnya Sang Prabu Siliwangi.

Sementara itu menurut Babad Panjalu: dari Baginda Ali, Sanghyang Borosngora mendapatkan cinderamata berupa air zamzam, pedang, cis (tongkat) dan pakaian kebesaran. Air zamzam tersebut kemudian dijadikan cikal-bakal air Situ Lengkong, sedangkan pusaka-pusaka pemberian Baginda Ali itu sampai sekarang masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan setelah disucikan setiap bulan Maulid dalam upacara Nyangku di Panjalu.

Penyebaran Islam secara serentak dan menyeluruh di tatar Sunda sesungguhnya dimulai sejak Syarif Hidayatullah (1448-1568) diangkat sebagai penguasa Cirebon bergelar Gusti Susuhunan Jati dan menyatakan melepaskan diri dari Kemaharajaan Sunda dengan menghentikan pengiriman upeti pada tahun 1479. Peristiwa ini terjadi ketika wilayah Sunda dipimpin oleh Sang Haliwungan Prabu Susuk Tunggal (1475-1482) di Pakwan dan Ningrat Kancana Prabu Dewa Niskala (1475-1482) di Kawali.

Puteri Prabu Susuk Tunggal yang bernama Nyai Ambet Kasih kemudian dinikahkan dengan putera Prabu Dewa Niskala yang bernama Jayadewata. Jayadewata kemudian dinobatkan sebagai penguasa Pakwan dan Kawali bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, seperti mendiang kakeknya yang bernama Niskala Wastu Kancana ia menyatukan Pakwan (Sunda) dan Kawali (Galuh) dalam satu mahkota Maharaja Sunda.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1481-1521) kerajaan-kerajaan yang masih mengirimkan upetinya ke Pakwan Pajajaran adalah Galunggung, Denuh, Talaga, Geger Bandung, Windu Galuh, Malaka, Mandala, Puma, Lewa dan Kandangwesi (Pleyte, 1911:172). Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama karena satu persatu daerah bawahan Sunda itu ditaklukan Cirebon.

Raja Talaga Sunan Parunggangsa ditaklukkan Cirebon pada tahun 1529 dan kemudian bersama puterinya Ratu Sunyalarang, juga menantunya Ranggamantri Pucuk Umun secara sukarela memeluk Islam. Di Sumedang Larang Ratu Setyasih atau Ratu Inten Dewata atau Ratu Pucuk Umun (1530-1579) mengakui kekuasaan Cirebon dan memeluk Islam. Di Kerajaan Kuningan Ratu Selawati menyerah kepada pasukan Cirebon, salah seorang puterinya kemudian dinikahkan dengan anak angkat Gusti Susuhunan Jati yang bernama Suranggajaya, Suranggajaya kemudian diangkat menjadi Bupati Kuningan bergelar Sang Adipati Kuningan karena Kuningan menjadi bagian dari Cirebon. Di kerajaan Galuh, penguasa Galuh yang bernama Sanghyang di Galuh berusaha mempertahankan wilayahnya dari serbuan pasukan Cirebon, tapi karena kekuatan yang tidak seimbang maka ia bersama puteranya yang bernama Prabu di Galuh Cipta Permana (1610-1618) juga mau tak mau harus mengakui kekuasaan Cirebon serta akhirnya memeluk Islam dengan sukarela. Demikian juga yang terjadi di kerajaan Sindang Kasih. Berdasarkan rentetan peristiwa-peristiwa yang terjadi di kerajaan-kerajaan tetangganya tersebut, maka diperkirakan kerajaan Panjalu juga mengalami keadaan yang sama, menjadi taklukan Cirebon dan menerima penyebaran Islam.

Pengaruh Mataram

Pada tahun 1595, Panembahan Senopati (1586-1601) memperluas wilayah kekuasaan Mataram1570-1649). ke wilayah barat sehingga berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya. Untuk mempererat hubungan Mataram-Cirebon, Senopati menikahkan salah seorang keluarganya bernama Ratu Harisbaya dengan pengusasa Cirebon waktu itu, Panembahan Ratu (

Panembahan Senopati mengangkat putera Prabu di Galuh Cipta Permana yang bernama Adipati Panaekan (1618-1625) sebagai Bupati Galuh karena Galuh bukan lagi sebuah kerajaan melainkan sebuah kabupaten dibawah Mataram. Untuk mengatur daerah-daerah taklukkannya di Parahyangan atau Priangan, Senopati juga mengangkat Adipati Panaekan sebagai Wedana Bupati yang mengepalai Bupati-bupati Priangan.

Peristiwa pendudukan Mataram ini di Panjalu diperkirakan terjadi pada masa pemerintaha Prabu Hariang Kunang Natabaya karena puteranya yaitu Raden Arya Sumalah tidak lagi memakai gelar Prabu seperti ayahnya, hal ini menunjukkan tanda bahwa Panjalu juga sudah menjadi sebuah kabupaten di bawah Mataram.

Pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1645), Arya Suryadiwangsa (1620-1624) diangkat sebagai Bupati Sumedang Larang bergelar Pangeran Rangga Gempol Kusumahdinata sekaligus sebagai Wedana Bupati Priangan. Rangga Gempol kemudian diangkat sebagai panglima pasukan Mataram utuk menaklukkan daerah Sampang, Madura. Oleh karena itu jabatan Bupati Sumedang Larang dan Wedana Bupati Priangan dipegang adik tirinya Pangeran Rangga Gede. Akan tetapi karena Pangeran Rangga Gede tidak mampu mengatasi serangan Banten, maka kedudukan Wedana Bupati Priangan digantikan oleh Adipati Ukur (Bandung) dengan syarat harus mampu merebut Benteng Batavia dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perkumpulan Dagang India Timur) yang dipimpin Gubernur J.P. Coen (1628).

Adipati Ukur juga ternyata tidak berhasil merebut Batavia, dan karena kegagalannya itu Adipati Ukur akan dijatuhi hukuman mati oleh Sultan Agung sehingga ia berbalik memberontak terhadap Mataram (1628-1632).Adipati Ukur akhirnya berhasil ditaklukan Mataram dengan bantuan Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta), Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih).

Atas jasa-jasanya memadamkan pemberontakan Adipati Ukur, Sultan Agung kemudian pada tahun 1633 mengangkat Ki Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura dengan Gelar Tumenggung Wiradadaha, Ki Astamanggala menjadi Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita menjadi Bupati Parakan Muncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya. Sedangkan jabatan Wedana Bupati Priangan dikembalikan kepada Pangeran Rangga Gede sekaligus menjabat sebagai Bupati Sumedang Larang.

Sewaktu tahta Mataram dipegang oleh Sunan Amangkurat I (1645-1677) jabatan Wedana Bupati Priangan dihapuskan dan wilayah Mataram Barat (Priangan) dibagi menjadi 12 Ajeg (daerah setingkat kabupaten) yaitu: Sumedang, Parakan Muncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaya, Sindangkasih, Banyumas, Ayah (Dayeuhluhur), dan Banjar. Pada tahun 1677 Sunan Amangkurat II menyerahkan wilayah Priangan barat dan tengah kepada VOC, menyusul kemudian pada tahun 1705 Cirebon beserta Priangan Timur juga diserahkan Mataram kepada VOC sebagai imbalan atas bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan-pemberontakan di wilayah Mataram.

Dalam masa pendudukan Mataram selama 110 tahun ini (1595-1705), yang menjabat menjadi Bupati Panjalu secara berturut-turut adalah:

1. Raden Arya Sumalah
2. Raden Arya Sacanata alias Pangeran Arya Sacanata
3. Raden Arya Wirabaya
4. Raden Tumenggung Wirapraja


Masa VOC dan Hindia Belanda

Berdasarkan perjanjian VOC dengan Mataram tanggal 5 Oktober 1705, maka seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten jatuh ke tangan Kompeni. Untuk mengawasi dan memimpin bupati-bupati Priangan ini, maka pada tahun 1706 VOC mengangkat Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) sebagai opzigter atau Pemangku Wilayah Priangan.

Pada masa kepemimpinan Pangeran Arya Cirebon ini, Raden Prajasasana (cucu Raden Arya Sacanata) yang menjadi pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon diangkat sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara I menggantikan Raden Tumenggung Wirapraja.

Pada tahun 1819, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Baron Van der Capellen (1816-1836) menggabungkan Kabupaten Panjalu dan Kabupaten Kawali kedalam Kabupaten Galuh. Dengan demikian pada tahun itu Raden Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan sebagai Bupati Panjalu, sementara di kabupaten Galuh, Bupati Wiradikusumah juga digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839). Semenjak itu Panjalu menjadi daerah kademangan di bawah kabupaten Galuh dan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Demang Sumawijaya diangkat sebagai Demang Panjalu (Demang adalah jabatan setingkat Wedana) sedangkan putera ketujuh Cakranagara III yang bernama Raden Arya Cakradikusumah diangkat sebagai Wedana Kawali.

Raden Demang Sumawijaya setelah mangkat digantikan oleh putera tertuanya yang bernama Raden Demang Aldakusumah sebagai Demang Panjalu, semantara putera tertua dari Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah yang bernama Raden Tumenggung Argakusumah diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis dan Panjalu sekarang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis Jawa Barat.

Raden Tumenggung Cakranagara III, Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu, berada satu lokasi dengan pusara Prabu Hariang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.

Dewasa ini Nusa Larang dan Situ Lengkong Panjalu menjadi obyek wisata ziarah utama di Kabupaten Ciamis dan selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari seluruh Indonesia terutama dari Jawa Timur, apalagi setelah Presiden IV RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur diketahui beberapa kali berziarah di Nusa Larang dan mengaku bahwa dirinya juga adalah keturunan Panjalu.


Silsilah Panjalu

Batara Tesnajati

Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri kebataraan Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di Karantenan Gunung Sawal.

Batara Layah

Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.

Batara Karimun Putih

Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Ranggagumilang.

Prabu Sanghyang Ranggagumilang

Prabu Sanghyang Ranggagumilang naik tahta sebagai Raja Panjalu, sejak saat itu periode kebataraan di Panjalu berakhir. Ia membangun keraton di Dayeuh luhur Maparah dan menikah dengan seorang puteri Galuh bernama Ratu Permana Dewi. Dari pernikahannya itu ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I

Sanghyang Lembu Sampulur I naik tahta sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Cakradewa.

Prabu Sanghyang Cakradewa

Sanghyang Cakradewa mempunyai enam orang anak yaitu: 1) Sanghyang Lembu Sampulur II, 2) Sanghyang Borosngora, 3) Sanghyang Panji Barani, 4) Sanghyang Anggarunting, 5) Ratu Mamprang Kancana, dan 6) Ratu Pundut Agung (diperisteri Maharaja Sunda). Petilasan Prabu Sanghyang Cakradewa taerdapat di Cipanjalu.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II

Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa, akan tetapi ia kemudian hijrah dan mendirikan kerajaan baru di Cimalaka Gunung Tampomas (Sumedang).

Prabu Sanghyang Borosngora

Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu: 1) Hariang Kuning dan 2) Hariang Kancana. Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung (Sukabumi), sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).

[sunting] Prabu Hariang Kuning

Hariang Kuning menggantikan Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat kesalahpahaman dengan adiknya yang bernama Hariang Kancana sempat terjadi perseteruan yang akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari Cilimus. Hariang Kuning kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu kepada Hariang Kancana. Hariang Kuning di akhir hayatnya menjadi Raja di Kawasen, jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu.

Prabu Hariang Kancana

Hariang Kancana melanjutkan tahta Panjalu dari kakaknya, ia memindahkan keraton dari Nusa Larang ke Dayeuh Nagasari. Hariang Kancana mempunyai dua orang putera yaitu: 1) Hariang Kuluk Kukunangteko, dan 2) Hariang Ageung. Prabu Hariang Kancana setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong.

Prabu Hariang Kuluk Kukunangteko

Hariang Kuluk Kukunangteko menggantikan Hariang Kancana menduduki tahta Panjalu, ia didampingi oleh adiknya yang bernama Hariang Ageung sebagai Patih Panjalu. Sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Hariang Kanjut Kadali Kancana. Pusara Hariang Kuluk Kukunangteko terletak di Cilanglung, Simpar, Panjalu.

Prabu Hariang Kanjut Kadali Kancana

Hariang Kanjut Kadali Kancana menggantikan ayahnya sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Hariang Kadacayut Martabaya. Kanjut Kadali Kancana setelah mangkat dipusarakan di Sareupeun Hujungtiwu, Panjalu.

Prabu Hariang Kadacayut Martabaya

Hariang Kadacayut Martabaya naik tahta menggantikan ayahnya, ia mempunyai seorang anak bernama Hariang Kunang Natabaya. Kadacayut Martabaya jasadnya dipusarakan di Hujungwinangun, Situ Lengkong Panjalu.

Prabu Hariang Kunang Natabaya

Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia menikah dengan Nyai Apun Emas. Nyai Apun Emas adalah anak dari Nyai Tanduran di Anjung yang menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (1610-1618), jadi Apun Emas adalah saudari dari Adipati Panaekan. Sementara Nyai Tanduran di Anjung adalah puteri Maharaja Kawali. Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Hariang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu : 1) Raden Arya Sumalah, 2) Raden Arya Sacanata, dan Raden Arya Dipanata. Pada masa kekuasaan Prabu Hariang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (1586-1601) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu.

Raden Arya Sumalah

Arya Sumalah naik tahta Panjalu bukan sebagai Raja, tapi sebagai Bupati di bawah kekuasaan Mataram. Ia menikah dengan Ratu Tilarnagara puteri dari Bupati Talaga yang bernama Sunan Ciburuy atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Surawijaya, dari pernikahannya itu Arya Sumalah mempunyai dua orang anak, yaitu: 1) Ratu Latibrang Sari dan 2) Raden Arya Wirabaya.

Arya Sumalah setelah wafat dimakamkan di Buninagara Simpar, Panjalu.

Raden Arya Sacanata bergelar Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan

Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Mataram sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.

Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah. Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.

Dua belas diantara putera-puteri Arya Sacanata itu adalah: 1) Raden Jiwakrama (Cianjur), 2) Raden Ngabehi Suramanggala, 3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu), 4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu), 5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur), 6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor), 7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu), 8) Nyi Raden Lenggang, 9) Nyi Raden Tilar Kancana, 10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi), 11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan 12) Raden Ngabehi Dipanata.

Arya Sacanata menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Nombo Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Raden Arya Wirabaya

Sewaktu Sunan Amangkurat I berkuasa (1645-1677) pada sekitar tahun 1656-1657 wilayah Mataram Barat dibagi menjadi dua belas ajeg (daerah setingkat kabupaten) serta menghapuskan jabatan Wedana Bupati Priangan, keduabelas ajeg itu adalah: Sumedang, Parakan Muncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaya, Sindang Kasih, Banyumas, Ayah (Dayeuhluhur) dan Banjar. Ketika itulah Arya Wirabaya diangkat oleh Sunan Amangkurat I menjadi Bupati Panjalu atau Ajeg Wirabaya menggantikan Arya Sacanata.

Arya Wirabaya mempunyai seorang putera yang bernama Raden Wirapraja, setelah wafat jasad Arya Wirabaya dimakamkan di Cilamping, Panjalu, Ciamis

Raden Tumenggung Wirapraja

Raden Wirapraja menggantikan ayahnya menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Wirapraja. Pada masa pemerintahannya kediaman bupati dipindahkan dari Dayeuh Nagasari ke Dayeuh Panjalu.

Tumenggung Wirapraja setelah mangkat dimakamkan di Kebon Alas Warudoyong, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

[sunting] Raden Tumenggung Cakranagara I

Salah seorang putera Arya Sacanata yang bernama Arya Wiradipa memperisteri Nyi Mas Siti Zulaikha puteri Tandamui dari Cirebon, ia bersama kerabat dan para kawulabaladnya dari keraton Talaga mendirikan pemukiman yang sekarang menjadi Desa Maparah, Panjalu. Dari pernikahannya itu Arya Wiradipa mempunyai empat orang anak, yaitu: 1) Raden Ardinata, 2) Raden Cakradijaya, 3) Raden Prajasasana, dan 4) Nyi Raden Ratna Gapura.

Raden Prajasasana yang setelah dewasa dikenal juga dengan nama Raden Suragostika mengabdi sebagai pamong praja kepada Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) yang menjabat sebagai Opzigter (Pemangku Wilayah) VOC untuk Wilayah Priangan dan karena kinerjanya yang baik, Raden Suragostika kemudian diangkat Pangeran Arya Cirebon menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara I menggantikan Tumenggung Wirapraja.

Tumenggung Cakranagara I memperisteri Nyi Raden Sojanagara puteri Ratu Latibrang Sari (kakak Arya Wirabaya) sebagai garwa padmi (permaisuri) dan menurunkan tiga orang putera, yaitu: 1) Raden Cakranagara II, 2) Raden Suradipraja, dan 3) Raden Martadijaya. Sementara dari garwa ampil (isteri selir) Tumenggung Cakranagara I juga mempunyai empat orang puteri, yaitu: 1) Nyi Raden Panatamantri, 2) Nyi Raden Widaresmi. 3) Nyi Raden Karibaningsih, dan 4) Nyi Raden Ratnaningsih.

Tumenggung Cakranagara I setelah wafat dimakamkan di Cinagara, Desa Simpar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara II

Raden Cakranagara II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara II, sedangkan adiknya yang bernama Raden Suradipraja diangkat menjadi Patih Panjalu dengan gelar Raden Demang Suradipraja.

Tumenggung Cakranagara II mempunyai enam belas orang anak dari garwa padmi dan isteri selirnya, keenambelas putera-puterinya itu adalah: 1) Nyi Raden Wijayapura, 2) Nyi Raden Natakapraja, 3) Nyi Raden Sacadinata, 4) Raden Cakradipraja, 5) Raden Ngabehi Angreh, 6) Raden Dalem Cakranagara III, 7) Nyi Raden Puraresmi, 8) Nyi Raden Adiratna, 9) Nyi Raden Rengganingrum, 10) Nyi Raden Janingrum, 11) Nyi Raden Widayaresmi, 12) Nyi Raden Murdaningsih, 13) Raden Demang Kertanata, 14) Raden Demang Argawijaya, 15) Nyi Raden Adipura, dan 16) Nyi Raden Siti Sarana.

Tumenggung Cakranagara II setelah wafat dimakamkan di Puspaligar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara III

Raden Cakranagara III sebagai putera tertua dari garwa padmi (permaisuri) menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara III.

Pada tahun 1819 Pemerintah Hindia-Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Baron Van der Capellen (1816-1836) mengeluarkan kebijakan untuk menggabungkan Kabupaten Panjalu dan Kabupaten Kawali kedalam Kabupaten Galuh. Berdasarkan hal itu maka Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan dari jabatannya sebagai Bupati Panjalu dan sejak itu Panjalu menjadi kademangan (daerah setingkat wedana) di bawah Kabupaten Galuh.

Pada tahun itu Bupati Galuh Wiradikusumah digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839), sedangkan di Panjalu pada saat yang bersamaan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Sumawijaya diangkat menjadi Demang (Wedana) Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya, sementara itu putera ketujuh Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Cakradikusumah diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah.

Tumenggung Cakranagara III mempunyai dua belas orang putera-puteri, yaitu: 1) Raden Sumawijaya (Demang Panjalu), 2) Raden Prajasasana Kyai Sakti (Nusa Larang, Panjalu), 3) Raden Aldakanata, 4) Raden Wiradipa, 5) Nyi Raden Wijayaningrum, 6) Raden Jibjakusumah, 7) Raden Cakradikusumah (Wedana Kawali), 8) Raden Cakradipraja, 9) Raden Baka, 10) Nyi Raden Kuraesin, 11) Raden Raksadipraja (Kuwu Ciomas, Panjalu), dan 12) Raden Prajadinata (Kuwu Maparah, Panjalu).

Tumenggung Cakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Hariang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.

Raden Demang Sumawijaya

Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya. Ia mempunyai tiga orang anak, yaitu: 1) Raden Aldakusumah, 2) Nyi Raden Asitaningsih, dan 3) Nyi Raden Sumaningsih.

Demang Sumawijaya setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

Raden Demang Aldakusumah

Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Aldakusumah, ia mempunyai empat orang anak, yaitu: 1) Raden Kertadipraja (Rumalega, Panjalu), 2) Nyi Raden Wijayaningsih, 3) Nyi Raden Kasrengga (Rumalega, Panjalu), dan 4) Nyi Raden Sukarsa Karamasasmita (Rumalega, Panjalu).

Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama Raden Kertadipraja tidak lagi menjadi Demang Panjalu karena Panjalu kemudian menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Galuh, sementara ia tidak bersedia diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa ) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.

Referensi

* Argadipraja, R. Duke. (1992). Babad Panjalu Galur Raja-raja Tatar Sunda. Bandung: Mekar Rahayu.
* Babad Tanah Jawi (terj). (2007). Yogyakarta: Narasi
* Ayatrohaedi. (2005). Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah "Panitia Wangsangkerta" dari Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.
* Ekadjati, Edi S. (1977). Wawacan Sajarah Galuh. Bandung: EFEO.
* Ekadjati, Edi S. (2005). Polemik Naskah Pangeran Wangsangkerta. Jakarta: Pustaka Jaya.
* Iskandar, Yoseph (1997). Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Bandung: Geger Sunten.
* Muljana, Slamet. (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
* Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet Pte Ltd
* Suganda, Her. Situ Lengkong dan Nusalarang, Wisata Alam yang Islami. Artikel Harian Kompas, 21 Juni 2003
* Suganda, Her. Naskah Sunda Kuno Antara Sejarah dan Nilai Sakral. Artikel Harian Kompas, 24 Mei 2008
* Sutarwan, Aam Permana. Gus Dur "Merevisi" Sejarah Situ Lengkong Panjalu, Air Situ Lengkong berasal dari Mekah. Artikel Harian Pikiran Rakyat, 10 Juli 2000
* Sumaryadi, Sugeng/Eriez M Rizal. Menengok Rahasia Sukses Warga Panjalu. Artikel Harian Media Indonesia, 13 Maret 2004
* Sumaryadi, Sugeng. Sejarah Panjang yang Terus Dikenang. Artikel Harian Media Indonesia, 13 Maret 2004
* Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972). Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah.

PROSES LAHIRNYA HARI JADI KABUPATEN CIAMIS

PROSES LAHIRNYA HARI JADI KABUPATEN CIAMS, DIAWALI DENGAN KELUARNYA SURAT KEPUTUSAN DEWANPERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CIAMIS TANGGAL 6 OKTOBER 1970 NOMOR: 36/X/KPTS/DPRD/1970 DAN NOMOR : 5/ll/KPTS/DPRD/1971, TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENYUSUNAN SEJARAH GALUH, YANG DALAM PELAKSAANNYA PANITIA TERSEBUT DIDAMPINGI OLEH TIM AHLI SEJARAH IKIP BANDUNG, YANG DIPIMPIN OLEH DRS. RD.H.SAID RAKSANEGARA.

DIBENTUKNYA PANITIA PENYUSUNAN SEJARAH GALUH, DIMAKSUDKAN UNTUK MENELUSURI DAN MENGKAJI SEJARAH GALUH SECARA MENYELURUH, MENGINGAT TERDAPAT BEBERAPA ALTERNATIF DIDALAM MENETAPKAN HARI JADI TERSEBUT, APAKAH AKAN MEMAKA! TITIMANGSA RAHYANGTA DI MEDANGJATI YAITU MULAI BERDIRINYA KERAJAAN GALUH OLEH WRETIKKANDAYUN TANGGAL 23 MARET 612 M ATAU ZAMAN RAKEAN JAMRI YANG JUGA DISEBUT RAIYANG SANJAYA SEBELUM SANG MANARAH BERKUASA, ATAU AKAN MENGAMBIL TANGGAL DAN TAHUN DARI PERISTIWA PERISTIWA, SEBAGAI BERIKUT:
1.DIGANTINYA NAMA KABUPATEN GALUH MENJADI KABUPATEN CIAMIS
OLEH BUPATI RD. TUMENGGUNG SASTRA WINATA PADA TAHUN 1916;
2.PINDAHNYA PUSAT PEMERINTAHAN DARI IMBANAGARA KE CIBATU (CIAMIS) OLEH
BUPATI RD. AA WIRADIKUSUMAH PADATANGGAL 15 JANUARI 1815;
3.ATAU BERPINDAHNYA PUSAT KABUPATEN GALUH DARI GARATENGAH YANG LETAKNYA
DI SEKITAR CINEAM (TASIKMALAYA) KE BARUNAY (IMBANAGARA) PADA TANGAL 12 JUNI 1642.

HASIL KERJA KERAS PANITIA PENYUSUN SE]ARAH GALUH DAN TIM AHLI SEJARAH IKIP BANDUNG, AKHIRNYA MENYIMPULKAN BAHWA HARI JADI KABUPATEN CIAMIS JATUH PADA TANGGAL 12 JUNI 1642, YANG KEMUDIAN DIKUKUHKAN DENGAN SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CIAMIS TANGGAL 17 MEl 1972 NOMOR: 22/V/KPTS/DPRD/ 1972.

DENGAN KEPUTUSAN DPRD TERSEBUT, DIHARAPKAN TEKA -TEKI MENGENAI HARI JADI KABUPATEN CIAMIS TIDAK DIPERTENTANGKAN LAGI DAN JUGA DIHARAPKAN SELURUH MASYARAKAT MENGETAHUI, SEHINGGA AKAN LEBIH BERSEMANGAT UNTUK MEMBANGUN TATAR GALUH INI, SEJALAN DENGAN MOTO JUANG KABUPATEN CIAMIS, YAITU:
PAKENA GAWE RAHAVU PAKEUN HEUBEUL JAYA DINABUANA UNTUK MENGEJAR / MEWUJUDKAN MAHAYUNAN AYUNA KADATUAN.

KATA GALUH BERASAL DARI BAHASA SANSEKERTA, YANG BERARTI BATU PERMATA, KERAJAAN GALUH BERARTI KERAJAAN BATU PERMATA YANG INDAH GEMERLAPAN, SUBUR MAKMUR GEMAH RIPAH LOH JINAWI, AMAN TENTRAM KERTARAHARJA.

DARI SEJARAH TERUNGKAP BAHWA PENDIRI KERAJAAN GALUH ADALAH WRETIKKANDAYUN, IA ADALAH PUTRA BUNGSU DARI KANDIAWAN YANG MEMERINTAH KERAJAAN KENDAN SELAMA 15 TAHUN ( 597 — 612) YANG KEMUDIAN MENJADI PERTAPA DI LAYUNGWATANG (DAERAH KUNINGAN) DAN BERGELAR RAJAWESI DEWARAJA ATAU SANG LAYUNGWATANG.

WRETIKKANDAYUN BERKEDUDUKAN DI MEDANGJATI,TETAPI IA MENDIRIKAN PUSAT PEMERINTAHAN YANG BARU DAN DIBERI NAMA GALUH (YANG LOKASINYA KURANG LEBIH DI DESA KARANGKAMULYAN SEKARANG). IA DINOBATKAN PADA TANGGAL 14 SUKLAPAKSA BULAN CAITRA TAHUN 134 CAKA (KIRA - KIRA 23 MARET 612 MASEHI). TANGGAL TERSEBUT DIPILIHNYA BENAR — BENAR MENURUT TRADISI
TARUMANAGARA, KARENA TIDAK SAJA DILAKUKAN PADA HARI PURNAMA MELAINKAN JUGA PADA TANGGAL ITU MATAHARI TERBIT TEPAT DI TITIK TIMUR.

TUJUAN WRETIKKANDAYUN MEMBANGUN PUSAT PEMERINTAHAN DI DAERAH KARANGKAMULYAN (SEKARANG) ADALAH UNTUK MEMBEBASKAN DIRI DARI TARUMANAGARA, YANG SELAMA ITU MENJADI NEGARA “ADIKUASA”. OLEH KARENA ITU DEMI MEWUJUDKAN OBSESINYA IA MENJALIN HUBUNGAN BAlK DENGAN KERAJAAN KALINGGA DI JAWA TENGAH, BAHKAN PUTRA BUNGSUNYA MANDI MINYAK DI JODOHKAN DENGAN PARWATI PUTRI SULUNG MAHARANISSIMA.

KESEMPATAN. UNTUK MENJADI NEGARA YANG BERDAULAT PENUH, TERJADI PADA TAHUN 669 KETIKA LINGGAWARMAN (666 — 669) RAJA TARUMANAGARA YANG KE 12 WAFAT. IA DIGANTIKAN OLEH MENANTUNYA (SUAMI DWI MANASIH) BERNAMA TERUS BAWA YANG BERASAL DARI KERAJAAN SUNDA SUMBAWA.

TERUS BAWA INILAH YANG PADA SAAT PENOBATANNYA TANGGAL 9 SUKLAPAKSA BULAN YOSTA TAHUN 951 CAKA (KIRA — KIRA 17 MEI 669 MASEHI), IA MENGUBAH KERAJAAN TARUMANAGARA MENJADI NEGARA SUNDA.

MASA KERAJAAN GALUH BERAKHIR KIRA — KIRA TAHUN 1333 MASEHI KETIKA RA]A AJIGUNA LINGGA WISESA ATAU SANG DUMAHING KENDING (1333 — 1340) MULAI BERTAHTA DI KAWALI, SEDANGKAN KAKAKNYA PRABU CITRAGADA ATAU SANG DUMAHING TANJUNG BERTAHTA DI PAKUAN PAJAJARAN.

LINGGA WISESA ADAI..AH KAKEK MAHARAJA LINGGABUANA YANG GUGUR PADA PERANG BUBAT TAHUN 1357, YANG KEMUDIAN DIBERI GELAR PRABU WANGI. IA GUGUR BERSAMA PUTRI SULUNGNYA CITRA RESMI ATAU DIAH PITALOKA. DIAH PITALOKA MEMPUNYAI ADIK LAKI — LAKI YANG BERNAMA WASTU KANCANA DAN DIBERI UMUR PANJANG.

KETIKA PERANG BUBAT BERLANGSUNG, WASTU KANCANA BARU BERUSIA 9 TAHUN DIBAWAH BIMBINGAN PAMANNYA YAITU MANGKUBUMI SURADIPATI ALIAS SANG BUMI SORA ATAU BATARA GURU DI JAMPANG, WASTU KANCANA BERKEMBANG MENJADI SEORANG CALON RAJA YANG SEIMBANG KELUHURAN BUDINYA LAHIR BATHIN, SEPETI TERSEBUT PADA WASIATNYA YANG TERTULIS PADA PRASASTI KAWALI YAITU:
-NEGARA AKAN JAYA DAN UNGGUL PERANG BILA RAKYAT BERADA DALAM KESEJAHTERAAN (KARETA BEBER).
-RAJA HARUS SELALU BERBUAT KEBAJIKAN (PAKENA GAWE RAHAYU).

ITULAH SYARAT YANG MENURUT WASIATNYA UNTUK DAPAT PAKEUN HEUBEUL JAYA DINA BUANA, PAKEUNA NANJEUR NAJURITAN UNTUK MENUJU MAHAYUNAN AYUNA KADATUAN.

PADA MASA PEMERINTAHAN PRABU NISKALA WASTU KANCANA NEGARA DAN RAKYATNYA BERADA DALAM KEADAAN AMAN TENTERAM KERTARAHARJA, PARA ABDI DALEM PATUH DAN TAAT TERHADAP PERATURAN RATU YANG DILANDASI OLEH PURBASTITI DAN PURBAJATI.

WASTU KANCANA MEMPUNYAI DUA ORANG ISTERI, YAITU LARASATI (PUTERI RESI SUSUK LAMPUNG) DAN MAYANGSARI. PUTRA SULUNG DARI LARASATI YANG BERNAMA SANG HALIMUN DIANGKAT MENJADI PENGUASA KERAJAAN SUNDA BERKEDUDUKAN DI PAKUAN PAJAJARAN PADA TAHUN 1382.

DARI MAYANGSARI WASTU KANCANA MEMPUNYAI EMPAT ORANG PUTERA YAITU NINGRAT KENCANA, SURAWIJAYA, GEDENG SINDANGKASIH DAN GEDENG TAPA. NINGRAT KENCANA DIANGKAT MENJADI MANGKUBUMI DI KAWALI DENGAN GELAR SURAWISESA.

WASTU KANCANA WAFAT PADA TAHUN 1475 DAN DIGANTIAN OLEH NINGRAT KENCANA DENGAN GELAR PRABU DEWA NISKALA BERKEDUDUKAN DI KAWALI, YANG HANYA MENGUASAI KERAJAAN GALUH, KARENA KERAJAAN SUNDA DIKUASAI OLEH KAKAKNYA YAITU SANG HALIMUN YANG BERGELAR PRABU SUSUK TUNGGAL. DENGAN WAFATNYA WASTU KANCANA, MAKA BERAKHIRLAH PERIODE KAWALI YANG BERLANGSUNG SELAMA 142 TAHUN (1333 — 1475).

DALAM PERIODE TERSEBUT. KAWALI MENJADI PUSAT PEMERINTAHAN DAN KERATON SURAWISESA MENJADI PERSEMAYAMAN RAJA-RAJANYA TERLEBIH LAGI SRIBADUGA MAHARATU HAJI SEBAGAI PEWARIS TERAKHIR TAHTA KERAJAAN GALUH DARI AYAHNYA DEWA NISKALA YANG PUSAT KERAJAANYA DI KERATON SURAWISESA PINDAH KE PAKUAN PAJAJARAN (BOGOR SEKARANG) UNTUK MERANGKAP JABATAN MENJADI RAJA SUNDA YANG DIANUGERAHKAN DARI MERTUANYA, MAKA SEJAK ITU GALUH SUNDA BERSATU KEMBALI MENJADI PAKUAN PAJAJARAN DIBAWAH KEKUASAAN SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI DI PAKUAN PAJAJARAN SRI SANG RATU DEWATA YANG KINI LAZIM DISEBUT PRABU SILIWANGI.

PENANGGALAN PADA ZAMAN KERAJAAN GALUH BIHARI NAMPAKNYA KURANG TEPAT BILA DIJADIKAN PENANGGALAN HARI JADI KABUPATEN CIAMIS, KARENA LUAS TERITORIALNYA SANGAT JAUH BERBEDA DENGAN KEADAAN KABUPATEN CIAMIS SEKARANG.

NAMA KERAJAAN GALUH BARU MUNCUL TAHUN 1595, YANG SEJAK ITU MULAI MASUK KEKUASAN MATARAM. ADAPUN BATAS-BATAS KEKUASAANNYA SEBAGA! BERIkUT ,:

-DI SEBELAH TIMUR, SUNGAI CITANDUY;
-DI SEBELAH BARAT, GALUNGGUNG SUKAPURA;
-DI SEBELAH UTARA, SUMEDANG DAN CIREBON;
-DI SEBELAH SELATAN, SAMUDERA HINDIA.

DAERAH - DAERAH MAJENANG, DAYEUH LUHUR DAN PAGADINGAN TERMASUK JUGA DAERAH GALUH MASA ITU ( MENURUT DR. F. DEHAAN) DAN TERNYATA DARI SEGI ADAT ISTIADAT DAN BAHASA MASIH BANYAK KESAMAAN DENGAN TATAR PASUNDAN TERUTAMA SEKALI DI DAERAH PEGUNUNGAN.

KERAJAAN GALUH PADA SAAT ITU TERBAGI MENJADI BEBERAPA PUSAT KEKUASAAN YANG DIPIMPIN OLEH RAJA - RAJA KECIL ( KANDAGA LANTE ), YANG KEMUDIAN DIANGGAP SEDERAJAT DENGAN BUPATI YANG ANTARA SATU DENGAN YANG LAINNYA MASIH MEMPUNYAI HUBUNGAN DARAH MEMPUNYAI PERKAWINAN. PUSAT—PUSAT KEKUASAAN TERSEBUT BERADA DI WILAYAH CIBATU, GARATENGAH, IMBANAGARA, PANJALU, KAWALI, UTAMA (CIANCANG), KERTABUMI (BOJONGLOPANG ) DAN KAWASEN (DESA BANJARSARI).

PENGARUH KEKUASAAN MATARAM SEDIKIT BANYAK MEWARNAI TATA CARA PEMERINTAHAN DAN BUDAYA KERAJAAN GALUH DARI TATA CARA BUHUN SEBELUMNYAI PADA ZAMAN ITU MULAI ADA PERGESERAN ANTARA BUPATI YANG SATU DENGAN BUPATI YANG LAINNYA, SEPERTI ADIPATI PANAEKAN PUTRA PRABU GALUH CIPTA PERTAMANA DIANGKAT MENJADI BUPATI WEDANA (SEMACAM GUBERNUR ) DI GALUH OLEH SULTAN AGUNG.

PENGANGKATAN TERSEBUT MENYULUT PERSELISIHAN FAHAM ANTARA DIPATI PANAEKAN DENGAN ADIPATI KERTABUMI YANG BERAKHIR DENGAN TEWASNYA ADIPATI PANAEKAN. JENAZAHNYA DIHANYUTKAN KE SUNGAI CITANDUY DAN DIMAKAMKAN DI PASAREAN KARANGKAMULYAN.

SEBAGAI PENGGANTINYA DITUNJUK ADIPATI IMBANAGARA YANG PADA WAKTU ITU BERKEDUDUKAN DI GARATENGAH (CINEAM - TASIKMALAYA).

USAHA SULTAN AGUNG UNTUK MELENYAPKAN KEKUASAAN VOC DI BATAVIA PADA PENYERANGAN PERTAMA MENDAPAT DUKUNGAN PENUH DARI ADIPATI UKUR, WALAUPUN PADA PENYERANGAN ITU GAGAL.

PADA PENYERANGAN KEDUA KE BATAVIA, DIPATI UKUR MEMPERGUNAKAN KESEMPATAN TERSEBUT UNTUK MEMBEBASKAN DAERAH UKUR DAN SEKITARNYA DARI PENGARUH KEKUASAAN MATARAM. POLITIK DIPATI UKUR TERSEBUT HARUS DIBAYAR MAHAL , YAITU DENGAN TERBUNUHNYA DIPATI IMBANAGARA ( YANG DIANGGAP TIDAK SETIA LAG! KEPADA MATARAM ) OLEH UTUSAN MATARAM YANG DIPENGGAL KEPALANYA DAN DIBAWA KE MATARAM SEBAGA! BARANG BUKTI. SEDANGKAN BADANNYA DIMAKAMKAN DI BOLENGLANG (KERTASARI). TETAPI KEPALA DIPATI IMBANAGARA DAPAT DIREBUT LAGI OLEH PARA PENGIKUTNYA WALAUPUN TERJATUH DI SUNGAT CITANDUY, YANG KEMUDIAN TEMPAT JATUHNYA DISEBUT LEUWI PANTEN.

KEDUDUKAN DIPATI IMBANAGARA SELANJUTNYA DIGANTIKAN OLEH PUTERANYA YANG BERNAMA MAS BONGSAR ATAU RADEN YOGASWARA DAN ATAS JASA-JASANYA DIANUGERAHI GELAR RADEN ADIPATI PANJI JAYANEGARA.

PADA MASA PEMERINTAHAN RADEN ADIPATI PANJI JAYANEGARA, PUSAT KEKUASAAN PEMERINTAHAN DIPINDAHKAN DARI GARATENGAH KE CALINGGING YANG KEMUDIAN DIPINDAHKAN LAG! KE BARUNAY ( IMBANAGARA SEKARANG ), PADA TANGGAL 14 MAULUD ATAU PADA TANGGAL 12 JUNI 1642 M.

PERPINDAHAN PUSAT KABUPATEN GALUH DARI GARATENGAH KE IMBANAGARA, MEMPUNYAI ARTI PENTING DAN MAKNA YANG SANGAT DALAM BAGI PERKEMBANGAN KABUPATEN GALUH BERIKUTNYA DAN MERUPAKAN ERA BARU PEMERINTAHAN GALUH MENUJU TERWUJUDNYA KABUPATEN CIAMIS DIKEMUDIAN HARI, KARENA :
1.PERISTIWA TERSEBUT MEMBAWA AKIBAT YANG POSITIF TERHADAP PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN MAUPUN KEHIDUPAN MASYARAKAT KABUPATEN GALUH YANG MEMPUNYAI BATAS TERITORIAL YANG PASTI DAN TERBENTUKNYA SENTRALISASI PEMERINTAHAN
2 .PERUBAHAN TERSEBUT MEMPUNYAI UNSUR PERJUANGAN DARI PEMEGANG PIMPINAN KEKUASAAN TERHADAP UPAYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYATNYA DAN ADANYA USAHA MEMERDEKAKAN KEBEBASAN RAKYATNYA DARI KEKUASAAN PENJAJAH.
3.KABUPATEN GALUH DIBAWAH PEMERINTAHAN BUPATI RD. ADIPATI ARYA PANJI JAYANEGARA MAMPU MENYATUKAN WILAYAH GALUH YANG MERDEKA DAN BERDAULAT TANPA KEKERASAN.
4.ADANYA PENGAKUAN TERHADAP KEKUASAAN MATARAM DARI KABUPATEN GALUH SEMATA-MATA DALAM UPAYA MEMERANGI PENJAJAH (VOC) DAN HIDUP BERDAMPINGAN SECARA DAMAI.
5.SEJARAH PERKEMBANGAN KABUPATEN GALUH TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI SEJARAH TERBENTUKNYA KABUPATEN CIAMIS ITU SENDIRI. DIRUBAHNYA NAMA KABUPATEN GALUH MENJADI KABUPATEN CIAMIS PADA TAHUN 1916 OLEH BUPATI RD. TUMENGGUNG SATRAWINATA (BUPATI KE 18) SAMPA! SEKARANG BELUM TERUNGKAP ALASANNYA MERUPAKAN FAKTA SEJARAH YANG TIDAK BISA DIPUNGKIRI DAN DIHINDARI.

ATAS PERTIMBANGAN ITULAH DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II CIAMIS DALAM SIDANG PARIPURNA KHUSUS TANGGAL 17 MEl 1972 DENGAN SURAT KEPUTUSANNYA, SEPAKAT UNTUK MENETAPKAN TANGGAL 12 JUNI 1642 SEBAGAI HARI JADI KABUPATEN CIAMIS.

DEMIKIANLAH SEKILAS PINTAS SEJARAH HARI JADI KABUPATEN CIAMIS YANG KITA BANGGAKAN DAN KITA CINTAI MUDAH MUDAHAN “KOMARA” GALUH CIAMIS TERUS CEMERLANG DAN MAKIN GEMERLAP OLEH KELUHURAN BUDI MASYARAKAT DAN APARATUR PEMERINTAHNYA.

SEMOGA RAHMAT, HIDAYAH, INNAYAH SERTA ALLAH SWT SELALU MENYERTAI KITA SEMUA.

Galeuhna Galuh

PURWA WACANA

Semoga Tatar Galuh beserta seluruh para pemimpin dan penduduknya selalu mendapat kesejahteraan seperti yang pernah dialami ketika Sang Prabu Niskala Wastu Kancana (1371- 1475 M) memerintah di negeri Kawali - Galuh.

Untuk memahami seluruh aspek kehidupan Urang Sunda, terutama pada tataran filosofi pandangan hidupnya, tidak akan terlepas dari "lingga-lingga Kasundaan" yang telah dipancangkan para leluhur Galuh - Kawali. Sejak Kerajaan KENDAN yang diawali Sang Manikmaya (536-568M) di kerajaan KENDAN; selanjutnya oleh Sang WRETIKANDAYUN (612-702M) pendiri Kerajaan GALUH sampai dengan SANG PRABU NISKALA WASTU KANCANA (1371-1475 M) dan dilanjutkan oleh cucundanya Sri Baduga Maharaja - Prabu Jayadewata - Prabu Siliwangi - Pamanah Rasa (1482-1521 M).

Di wilayah Tatar Sunda tersebar prasasti-prasasti peninggalan leluhur Sunda. Diantaranya yang sangat menarik minat para peneliti kebudayaan Sunda, adalah prasasti yang ada di Tatar Ciamis, yaitu di Astana Gede - Kawali, Telah banyak pakar filologi, arkeologi dan sejarah yang menekuni situs di Astana Gede, sejak K.F. Holle (1867 M) sampai dengan para sejarawan yang kemudian. Bermacam penafsiran terhadap isi prasasti telah dikemukakan para pakar. Tentu saja apa pun penafsiran yang telah dibuat itu akan berdampak positif bagi keberadaan peradaban masyarakat Tatar Sunda/Jawa Barat.

Penulis berkeinginan benar untuk mencoba menafakuri makna yang terkandung dalam prasasti di Astana Gede ini, khususnya pada prasasti yang pertama dan prasasti kedua (yang baru ditemukan pada bulan Oktober 1996). Asumsi penulis bahwa apa yang ditulis di atas permukaan batu dengan bersusah payah itu, tentulah mengandung maksud dan makna yang sangat dalam. Tentulah berisikan amanat dari para leluhur untuk keturunannya. Apakah esensi nilai-nilai yang hendak diamanatkannya itu? Adapun penafsiran dan pemaknaan yang penulis lakukan berdasarkan kajian "semiotica dan heurmanetica" dalam idiomatik kearfian urang Sunda disebut dengan Panca Curiga (5 senjata untuk memaknai) yaitu analisis berdasarkan Silib sindir, Suluk, Simbul, Siloka dan Sasmita. Oleh karenanya penafsiran bisa sangat subyektif-individual. Walau demikian, semoga saja : "Sasieureun sabeunyeureun aya pimangpaateunana".

Pun
Seja muka nu dituruban ku mandepun,
dibuka bari ngaliwat,
nu menta dilalakonkeun
Pun sapun.

Prasasti batu yang pertama, terdiri dari 10 baris, ditulis dengan aksara Sunda:
(Sumber acuan adalah wacana dalam Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I - Priangan Barat - Priangan Timur - Cirebon. Diperbanyak oleh: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Barat. TT. Hal. 42)

nihan tapa kawa-
li nu sya mulia tapa bha-
gya parebu raja was-
tu mangadeg di kuta kawa-
li nu mahayu na kadatuan
surawisesa nu marigi sa-
kulili(ng) dayeuh nu najur sagala
desa aya ma nu pa(n)deuri pakena
gawe rahayu pakeun heubeul ja-
ya dina buana


"Inilah (tanda peringatan) pertapa Kawali, ialah yang memperoleh kebahagiaan dari bertapa, Prabu Raja Wastu yang berkuasa di kota Kawali; yang memperindah keraton Surawisesa, yang memperkokoh pertahanan sekeliling ibu kota dengan parit, yang memakmurkan segenap daerah; semoga ada yang (berkuasa) kemudian mengikuti kebajikannya, supaya lama hidup di dunia"

Kata yang penulis tebalkan menjadi penanda/kata kunci dalam perbincangan pada forum yang mulia ini, yaitu:


* tapa > bertapa > pertapa = Untuk masyarakat Sunda lama, pengertian TAPA adalah berkarya/bekerja (lihat Kropak 632 - Naskah Ciburuy, yang menuliskan bahwa ...amal itu sama dengan TAPA, buruk amal buruklah TAPA... (Atja & Saleh Danasasmita, 1981:31,38)
* mahayu = memperindah, menyiratkan kesadaran akan lingkungan hidup, tata ruang dan permukiman yang serasi dan indah.
* marigi = membuat parit untuk pertahanan (dan mungkin untuk irigasi, pengairan) sekiling kota. Hal ini pun menyiratkan kesadaran tata ruang dan permukiman serta ketahanan wilayah.
* najur = memakmurkan, mensejahterakan kehidupan penduduk negeri. Hal ini pun berkaitan dengan kesadaran lingkungan hidup.
* aya ma = semoga ada... Frasa wacana ini menyiratkan akan adanya KEKUATAN GAIB yang lebih berkuasa dan menentukan segala sesuatu, dengan penggunaan kata "SEMOGA". Di dalamnya ada kesadaran religius dan persaaan kerendahan hati.
* pa(n)deuri = yang datang kemudian, baik sebagai pemimpin maupun rakyat seluruhnya. Hal ini menyiratkan adanya kesadaran proses regenerasi dan kaderisasi bagi terwujudnya generasi penerus yang lebih unggul.
* gawe rahayu = mengerjakana kebajikan; mengerjakan sesuatu yang baik sampai tuntas.
* heubeul jaya dina buana = supaya lama dikenang di dunia. Hal ini menyiratkan kesadaran bahwa hanya dengan KERJA (TAPA) yang baik sampai tuntaslah yang akan menyebabkan nama kita dikenang selamnya.


Prasasti batu kedua, terdiri dari 2 baris:

iweu ulah botoh
bisi kokoro

"Ingatlah jangan berjudi/serakah, nanti bisa sengasara"


* iweu > ieuh (kata seru, imperatif) = ingat\lah, perhatikanlah
* botoh > bobotoh = 1) berjudi 2) serakah 3) memprovokasi
* kokoro = amat sengsara


Bisa dimaknai bila seseorang serakah, tidak hanya dirinya saja yang sengsara, tetapi masyarakat sekitarnya pun akan terimbas kesengaraan tsb. Misalnya saja keserakahan dalam mengeksploitasi lingkungan alam, akan menyebabkan kesengsaraan bagi masyarakatnya.


PUNGKAS WACANA
Ternyata amanat dari Prabu Niskala Wastu Kancana yang telah bersusah payah ditorehkan di permukaan sekeping batu, merupakan filosofi yang mendasari kesadaran hidup yang demikian bernilai. Kalimat-kalimat pendek, yang substansial dan sangat menghargai kualitas manusia yang manggapulia tersiratkan dengan jelas. Isi (GALEUH) dari prasasti inilah yang menjadi PERMATA (GALUH) filosofi wilayah yang kini dinamai Kabupaten Ciamis.
Bahagialah masyarakat Tatar Galuh dan Tatar Sunda/Jawa Barat/NKRI bila mampu mengaplikasikan dan mengaktualisasikannya dalam perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pun
PAKENA GAWE RAHAYU
PAKEUN HEUBEUL JAYA
DINA BUANA

Bandung, 2004

(Disampaikan pada pertemuan di Ciamis bersama Dinas Tataruang dan Permukiman Provinsi Jawa Barat. 2004.)



Sumber Acuan:
- Kebudayaan Sunda. Edi S. Ekadjati. Pustaka Jaya. 1995.
- Kehidupan Masyarakat Kanekes. Sundanologi. 1986.
- Sejarah Jawa Barat Untuk Pariwisata I. DIPARDA Prop. Jabar TT
- Sejarah Jawa Barat. Jilid 4. Prop. Jabar. 1983-1984.

KARANGKAMULYAN : Napak Tilas Kerajaan Galuh

Karang Kamulyan adalah salah satu cagar budaya yang ada di Kabupaten Ciamis. Cagar budaya yang luasnya hamper 25 Ha ini merupakan peninggalan Kerajaan Galuh. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis.Berbicara mengenai Karang Kamulyan, fikiran kita akan langsung tertuju pada sebuah situs peninggalan sejarah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Jilid III, situs adalah daerah temuan benda-benda purbakala.Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur. Memang sampai sekarang belum ada bukti otentik mengenai apakah di situs ini dulunya merupakan pusat kerajaan Galuh atau bukan, tapi kalau kita kaitkan dengan kepercayaan atau agama yang berkembang saat itu yaitu agama Hindu, daerah ini memang cocok dijadikan pusat kerajaan Galuh karena berada dekat pertemuan dua sungai tersebut.Kosoh S, dalam bukunya yang berjudul Sejarah Daerah Jawa Barat mengemukakan:

“… apabila ditinjau dari sudut pandang keagamaan dalam hal ini agama Hindu, Karang Kamulyan adalah sebuah tempat yang letaknya sangat baik, yaitu pertemuan dua sungai besar, yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy”.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa penduduk setempat dan juga Babad Galuh menganggap bahwa Karang Kamulyan itu juga merupakan pusat Kerajaan Galuh karena dilihat dari arti katanya sendiri, Karang Kamulyan artinya tempat yang mulia atau tempat yang dimuliakan.

Para sejarawan dapat menyimpulkan bahwa agama yang dianut pada masa Kerajaan Galuh adalah agama Hindu karena berdasarkan Carita Parahyangan yang menyebutkan bahwa pemujaan yang umum dilakukan oleh Raja Galuh adalah sewabakti ring batara upati. Upati berasal dari bahasa Sansekerta utpati atau utpata, yaitu nama lain untuk Yama, dewa pencabut nyawa agama Hindu dari mazhab Siwa. (Nugroho Notosusanto ; 1993 : 358)

Berbicara mengenai Karang Kamulyan, kita tidak bisa terlepas dari cerita Ciung Wanara, menurut masyarakat setempat kisah ini memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Masa kecil Ciung Wanara dibesarkan oleh kakeknya Aki Balangantrang. Setelah dewasa, Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan bernama Dewi Kancana Wangi, dan dikaruniai puteri yang bernama Purbasari yang menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung.

Dalam usahanya merebut kerajaan Galuh dari tangan Sang Tamperan, Ciung Wanara dibantu oleh kakeknya yaitu Aki Balangantrang yang mahir dalam urusan peperangan dan kenegaraan bersama pasukan Geger Sunten. Perebutan kerajaan ini konon tidak dilakukan dengan peperangan, tapi melalui permainan sabung ayam yang menjadi kegemaran raja dan masyarakat pada saat itu. Ciung Wanara memenangkan permainan ini dengan mudah.

Ciung Wanara memerintah selama 44 tahun (739-783 Masehi), dengan wilayah dari Banyumas sampai dengan Citarum, selanjutnya setalah Ciung Wanara melakukan manurajasuniya (mengakhiri hidup dengan bertapa), maka selanjutnya kerajaan Galuh dipimpin oleh Sang Manistri atau Lutung Kasarung, menantunya. Ciung Wanara disebut juga Sang Manarah, atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana.

Sekarang kita kembali ke Situs Karang Kamaulyan, AMDG dalam situsnya www.navigasi.net menyebutkan bahwa kawasan ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu.Batu-batu yang ada di lokasi ini memiliki nama dan kisah. Nama-nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh.

Pangcalikan

Situs pertama yang akan kita lewati apabila kita masuk ke Cagar Budaya ini adalah Pelinggihan (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik dan digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Sahyang Bedil

Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6,20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat. Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitikum. Menurut kepercayaan masyarakat, Sanghyang Bedil kadangkala dapat dijadikan sebagai pertanda akan datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi. Di samping itu senjata memiliki arti perlambangan tersendiri yang telah dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Senjata merupakan lambang dari hawa nafsu. Arti filsafatnya adalah bahwa hawa nafsu sering menyeret manusia ke dalam kecelakaan ataupun kemaksiatan.

Penyabungan Ayam

Tempat ini terletak di sebelah selatan Sanghyang Bedil. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Lambang Peribadatan

Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 x 0.6 m. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu. Masyarakat menyebutnya sebagai lambang peribadatan atau lambang keagamaan, karena dilihat dari bentuknya yang mirip dengan stupa.

Panyandaran

Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

Masyarakat mempunyai mitos pada tempat ini. Sebagian masyarakat percaya bahwa kalau ada ibu-ibu yang belum dikaruniai anak dan ingin mempunyai anak, maka harus bersandar di tempat itu.

Cikahuripan

Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Makam Dipati Panaekan

Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga.

Dipati Panaekan adalah putra kedua dari Cipta Permana (Prabu di Galuh) Raja Galuh Gara Tengah, ia wafat karena dibunuh oleh adik iparnya sendiri yang bernama Dipati Kertabumi (Singaperbangsa I) karena perselisihan paham dalam rangka penyerbuan Belanda ke Batavia dimana Panaekan condong ke pendapat Dipati Ukur sedangkan Singaperbangsa condong ke pendapat Rangga Gempol. Setelah dibunuh, jasadnya dihanyutkan ke Cimuntur dan diangkat lagi dipertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy lalu dikuburkan di Karang Kamulyan.

Menurut juru kunci Karangkamulyan, Endan Sumarsana, didaerah karangkamulyan ini juga terdapat sebuah ”highway” Padjajaran atau disebut juga jalan raya yang menghubungkan Padjajaran dengan daerah-daerah disekitarnya. Jalan raya ini dimulai dari pusat kerajaan Padjajaran, kemudian ke Cileungsi, Cibarusa, Warunggede, Tanjung Pura, Karawang, Ciakao, Purwakarta, Sagalaherang, Sumedanglarang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Kawali dan berakhir di Karangkamulyan. Sekarang sisa dari jalan raya ini tidak dapat kita lihat karena sudah berubah menjadi pemukiman penduduk. Sekarang ini, masyarakat disekitar Karangkamulyan mempunyai tradisi yang unik setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan. Mereka menamai tradisi ini dengan istilah ”Mager”. Tradisi ini dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kuncen atau juru kunci Karangkamulyan, setelah itu masyarakat saling bersilaturahmi dan makan bersama di lokasi tersebut. Masyarakat juga membawa bambu dan menggunakan bambu tersebut untuk membuat pagar bambu mengelilingi pancalikan. Kegiatan ini juga mempunyai arti tersendiri yaitu memagari atau membentengi umat muslim yang akan melaksanakan ibadah puasa dari gangguan setan yang akan terus menggangu umat manusia.

DAFTAR REFERENSI

Notosusanto, Nugroho. (1993). Sejarah nasional Indonesia II. Jakarta : Balai Pustaka

S, Kosoh, dkk. (----). Sejarah Daerah Jawa Barat. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Jakarta : CV. Dwi Karya

AMDG. (2006). Cagar Budaya Karang Kamulyan. [online]. Tersedia: http://www.navigasi.net/goarth.php?a=bukmln [9 Oktober 2007]

Marsellia, Mira. (2006). Bojong Galuh Karang Kamulyan Ciung Wanara. [online]. Tersedia: http://www.miramarsellia.wordpress.com/2006/10/09/ bojong-galuh-karang-lkamulyan-ciung-wanara/ [9 Oktober 2007]

Pikiran Rakyat. (2007). [online]. Tersedia: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 0104/25/0801.html [9 Oktober 2007]

SMK Negeri 1 Ciamis. (2005). Karang Kamulyan [online]. Tersedia: http:// www.smkn1-cms.sch.id/ciamis/karangkamulyan.html [9 Oktober 2007]