Baik, baik, sebelum kita rinci kegunaan sejarah, mari kita simak dulu firman berikut :
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka. Itulah orang-orang yang fasik. (QS.59:18-19)
Yap, jadi mempelajari sejarah hukumnya bisa wajib lho. Allah sendiri yang nyuruh. Makanya orang tua dulu, sering bilang, kita harus mengenal sejarah untuk dijadikan cermin (wah udah kayak kakek-kakek deh ngomongnya).
Memang kenyataannya banyak kok kegunaan kalo kita mengenal sejarah, diantaranya kita akan memiliki pandangan yang luas, tak terbatas ruang dan waktu (weleh..weleh..). Pandangan orang yang mengerti sejarah beda dengan yang polos. Dalam raut mukanya tersirat kebijaksanaan dan waspada. Mungkin pernah dengar bahwa sejarah senantiasa berulang? nah, ahli sejarah sangat memahami hal ini.
Dalam men-tafsir-kan AlQuran pun diperlukan pemahaman sejarah, baik tentang asbab nuzul ayat, maupun tentang kisah-kisah purbakala yang diceritakan AlQuran. Tentu saja ahli sejarah akan memiliki pandangan yang berbeda tentang semuanya, seolah mereka tengah membedah atlas dunia di atas meja makan dan memperhatikan setiap kejadian di setiap wilayah dan setiap waktu, satu demi satu.
Bukan kah ini sangat mengasyikan? seperti menonton film yang tak ada habisnya, atau seperti membaca buku cerita yang tak kunjung habis, dan disetiap akhir kisah selalu membuat penasaran bagaimana kelanjutannya...
Ada satu lagi, seperti yang Allah firmankan di atas, hendaklah kita jadikan sejarah sebagai acuan, untuk melangkah lebih baik di waktu mendatang. Inilah intinya. Meraih kebaikan, menjauhi yang buruk, berdasar pengalaman yang pernah terjadi...
Jadi, bagaimana kita dapat melangkah lebih baik, bila dia tidak mengenal keburukan yang pernah terjadi? Atau jangan-jangan kita sedang mengulangi keburukan yang sama kedua kali? Na'udzubillahi mindzalik..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar